Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
TERAPI ARGA


__ADS_3

Setelah lelah bermain seharian kemaren dengan Daddy dan Bunda. Hari ini Arga akan kembali melakukan terapinya dengan dokter Rani. Arga selalu bersemangat untuk melakukan berbagai macam terapi yang diberikan oleh dokter Rani kepada Arga.


"Sayang, apakah kamu sudah siap?" tanya Gina kepada Arga yang ternyata sedang dipakaikan sepatu oleh susternya.


Arga menggeleng kepada Bundanya. Bunda tersenyum karena paham kalau Arga sedang dipakaikan sepatu oleh suster.


"Oke sayang, Bunda akan tunggu Arga di sini ya." ujar Gina sambil duduk di sofa yang ada di kamar Arga.


Setelah suster selesai memakaian sepatunya, Arga menyandang tas ransel yang berisi buku dan pensil. Arga berjalan menuju Gina.


"Ma" panggil Arga sambil menarik tangan Gina agar segera berdiri.


"Udah siap. Oke sekarang kita berangkat. Tapi Arga baca doa dulu biar kita selamat dalam perjalanan." perintah Gina kepada Arga.


Arga mengangkat kedua tangannya ke depan muka. Gina membaca doa untuk selamat selama perjalanan. Selesai berdoa Arga mengusapkan kedua tangannya ke wajah.


"Min" ujar Arga sambil tersenyum.


Gina membimbing tangan Arga, mereka berdua berjalan menuju tempat mobil yang di parkir oleh Gina. Saat Gina dan Arga sampai di lantai satu rumah, Gina melihat Mami yang sedang duduk manis di sofa ruang tamu sambil memakan buah potong yang disiapkan oleh Gina untuk dimakan Arga saat pulang dari terapi.


"Waduh ternyata nikmat juga ya buah yang dibeli dengan uang menantu yang tidak tau diuntung." ujar Gina menyindir Mami.


Mami yang mendengar jelas semuanya langsung berlari menuju wastafel yang ada di dapur. Mami memuntahkan semua buah yang dimakannya tadi. Mami sampai mengorek ngorek kerongkongannya agar semua buah yang terlanjur masuk ke dalam lambungnya bisa keluar.


"Hahahahahahaha. Makanya mau makan jangan main enak aja. Nampak buah udah di potong langsung dimakan. Gunanya mulut ya untuk bertanya. Bukan hanya untuk memaki orang saja." ujar Gina sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Mami yang masih sibuk mengorek mulutnya itu.


Gina dan Arga tidak menghiraukan Mami lagi. Gina sudah puas membuat mertuanya memuntahkan semua isi perutnya.


"Sekali sekali mertua kayak gitu perlu juga diberi pelajaran." ujar Gina sesaat setelah memasang seltbelt dan memastikan Arga aman serta nyaman di tempat duduknya.


Gina melajukan mobilnya menuju klinik tempat praktek Anggel. Semenjak Anggel ikut dalam menterapi Arga, semua terapi untuk Arga baik dari Anggel atau Rani dilakukan semuanya di tempat praktek Anggel.


"Ma M M" ujar Arga saat melihat warung kecil penjual makanan ringan.


"M M?" tanya Gina yang tidak paham dengan maksud kata M M yang dikatakan oleh Arga.


"Lamak" ucap Arga sekali lagi sambil memasukkan tangan ke dalam mulutnya.


"Arga mau beli itu?" tanya Gina balik.


Arga mengangguk dengan antusias.


"M M li M M" ucap Arga yang kesenangan karena Bundanya paham dengan apa yang dimintanya.


Gina memutar kembali arah mobilnya. Warung yang ditunjuk Arga tadi sudah tertinggal di belakang. Setelah sampai depan warung, Gina memberhentikan mobilnya. Dia mengajak Arga untuk turun dari mobil.


Pemilik warung yang melihat ada mobil mewah berhenti di depan warungnya langsung keluar untuk menyapa pembeli.


"Mau beli apa buk?" ujar pemilik warung.


"Arga mau beli apa?" tanya balik Gina kepada Arga.


"Mimik M M" jawab Arga.


"Arga ambil sendiri ya. Ambil seberapa Arga mau." ujar Gina yang tidak akan paham apa yang dimau oleh Arga nantinga.


Makanya Gina meminta Arga sendiri yang mengambil semua yang diinginkannya.


Arga mengambil minuman bersoda warna merah sebanyak empat. Minuman soda bening sebanyak empat botol. Serta berbagai macam makanan ringan. Pemilik warung sangat senang melihat Arga belanja cukup banyak tanpa dilarang oleh orang tuanya.


Setelah puas memilih semua belanjaannya. Arga berdiri di sebelah Gina sambil memegang tangan Gina.


"Hitung Pak berapa semua belanjaan anak saya." pinta Gina kepada pemilik warung.

__ADS_1


Pemilik warung menghitung semua belanjaan Arga. Tanpa melewatkan apa yang diambil oleh Arga tadi.


"Semuanya lima puluh lima ribu rupiah Bu." jawab Bapak pemilik warung.


Gina mengeluarkan uang seratus ribu.


"Bentar Bu saya tukarkan dulu kembaliannya." ujar Bapak tersebut.


"Nggak usah Pak. Buat Bapak saja kembaliannya. Terimakasih karena sudah melayani anak saya." ujar Gina sambil mengambil kantong kresek tempat belanjaan Arga.


Gina dan Arga kembali naik ke atas mobil, mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat praktek Anggel. Mereka akan telat selama lima belas menit menurut perkiraan Gina. Belum lagi drama Arga nanti saat sampai di klinik.


"Kita sampai Arga. Ayok kita belajar." ujar Gina sambil membukakan selt belt yang dipasangkan untuk keamanan Arga.


"Pi pi pi" ujar Argas sambil memegang celananya.


"Jangan mulai dramasnya sayang." ujar Gina sambil memegang tangan Arga.


"Pi pi" ujar Arga kembali.


Gina membawa Argas ke toilet yang ada di klinik. Arga menurunkan celananya. Dia terlihat sangat berusaha untuk mengeluarkan pipisnya. Askhirnya akibat usaha Arga yang tanpa batas pipis yang dipaksa oleh Arga akhirnya keluar juga.


" Pi pi" ujar Arga kepada Gina sambil menunjuk air pipisnya yang ada di lantai kamar mandi.


"Iya Pi pi" jawab Gina.


Gina memasangkan kembali celana Arga. Mereka kemudian bergandengan tangan masuk ke dalam tempat praktek Anggel.


Arga berjalan dengan sangat pelan. Setiap ruangan yang pintunya di tutup selalu di buka oleh Arga. Gina harus berkali kali meminta maaf kepada setiap pemilik ruangan. Untung saja setiap pemilik ruangan paham dengan kondisi Arga. Gina yang mulai repot lebih memilih untuk menggendong Arga agar tidak banyak membuang waktu mereka.


Gina berjalan dengan cepat. Arga selalu saja mengoceh tidak jelas sepanjang jalan.


"Nyenyek" ujar Arga saat melihat seorang wanita tua yang sedang berjalan menuju tempat praktek dokternya.


"Oom" tunjuk Arga kepada seorang laki laki dewasa.


"Bener lagi itu namanya oom" ujar Gina kembali setuju dengan kata kata yang diucapkan Arga.


Tak terasa mereka akhirnya sampai juga di depan pintu ruangan Anggel. Gina membuka pintu tersebut, ternyata dua dokter cantik itu sedang terlihat mengobro santai di sofa ruangan.


"Hai Arga" panggil Rani.


Arga langsung berlari menuju dokter Rani. Dia langaung duduk di pangkuan dokter yang sekaligus terapisnya itu.


"Maaf telat. Banyak drama di sepanjang jalan. Ini aja cepat satu jam supaya nggak telat. Eee tetap telat." kata Gina menjelaskan kenapa bisa mereka telat lima belas menit dari janji yang sudah disepakati.


"Hahahaha. Udah kami bayangkan. Kami tadi cerita itu. Pasti Arga bikin drama makanya jadi telat sampai." jawab Anggel yang memaklumi keterlambatan Gina dan Arga.


"Sekarang kita keluar yuk Gin. Terapi hari ini Arga dengan Rani saja. Kita duduk duduk di luar saja." ujar Anggel sambil membawa Gina menuju kursi tunggu di depan ruangan prakteknya.


"Arga. Sebelum belajar kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa mulai." ujar Rani.


Arga mengakat kedua tangannya. Rani memimpin membaca doa mulai belajar. Arga menyimak Rani membaca doa dengan khusuk. Dia sama sekali tidak melakukan pergerakan apapun selama berdoa.


"Miin" ujar Arga mengakhiri doa mulai belajar.


Rani mengambil baby oil yang sudah disiapkannya. Hari ini dia akan masase sekitar mulut dan rahang Arga. Rani akan memberikan pijitan lembut di titik titik syaraf Arga yang masih kaku.


" Arga sini." panggil Rani.


Arga berjalan menuju Rani.


"Arga bobok sini. Kakak akan pijet wajah Arga. Kakak janji nggak akan membuat Arga sakit." ujar Rani kepada Arga.

__ADS_1


Arga tidur di tempat yang ditunjuk oleh Rani. Setelah yakin Arga menempati posisi yang nyaman Rani mulai memijit mulut dan rahang Arga. Arga menikmati setiap pijitan yang diberikan oleh dokter Rani. Arga sama sekali tidak meringis menahan sakit. Dia bersikap santai saja.


Selesai memijit Arga selama lima belas menit barulah Rani memilau terapi hari ini. Arga mulai diperkenalkan Rani dengan beberapa warna yang menjadi warna primer. Seperti merah, biru, kuning.


Rani memakai benda benda antariksa dengan memakai warna wara. Rani memperkenalkan kepada Arga mulai dari warna merah, kuning, hijau dan putih. Arga menyimak dengan teliti. Kedua tangan Arga tetap terlipat di atas meja. Dia bersungguh sungguh menyimak apa yang dikatakan oleh Rani.


"Nah apakah Arga pagam?" tanya Rani.


Arga mengangguk dengan sangat antusias.


"Baiklah kalau Arga memang paham kakak akan mencoba mentes kemampuan Arga. Silahkan ambil warna kuning." ucap Rani.


Arga mengambil satu persatu barang antariksa yang berwarna kuning. Arga melakukannya dengan benar. Tidak ada benda yang berwarna kuning yang masih berada di atas meja. Semua sudah berpindah ke dalam kotak yang juga berwarna kuning.


"Arga pinter. Beri tepukan untuk Arga." ujar Rani yang selalu memuji setiap kepintaran yang berhasil dilakukan oleh Arga.


Arga dan Rani bertepuk tangan atas keberhasilan Arga. Rani terus mengulang ulang empat warna yang diajarkan kepada Arga. Akhirnya dalam waktu satu jam Arga sudah tau dengan sangat yakin keempat warna yang diajarkan Rani.


Selesai belajar menentukan warna. Arga diberikan jeda untuk beristirahat sebentar oleh Rani. Rani membiarkan Arga bermain. Tapi Arga bermain tetap sambil belajar.


"Angkag mobil warna biru Arga." perintah dokter Rani.


Arga mengambil sebuah mobil yang berwarna biru.


"Yup Arga pintar. Silahkan main lagi."


Setelah dirasa istirahat Arga sudah cukup. Rani kembali memanggil Arga. Arga duduk kembali di kursinya dan kembali melipat kedua tangannya di atas meja.


"Nah sekarang Arga harus menyebutkan kembali bunyi huruf yang akan kakak sebutkan. Arga paham?"


Arga mengangguk kembali.


"A" ujar Rani


"Aaaaaa" Arga menyebutkan huruf A dengan sangat panjang.


"Bukan gitu Arga. Tetapi A." ulang Rani.


"A a" ujar Arga kembali.


"Kak Rani ulang. A. " ujar Rani kembali menyebutkan huruf A dengan benar.


"A" jawab Arga sambil tersenyum kepada Rani.


"A" Rani kembali mencoba menyebutkannya.


"A" ujar Arga.


"Yes adik dokter Rani udah pinter. Udah bisa nyebut huruf A. Kamu memang tampan." ujar Rani sambil mengacak rambut Arga.


Arga manyun karena menurut Arga, ketampanannya akan hilang karena rambutnya yang tidak rapi.


Rani kembali mengajarkan huruf vokal. Huruf A, I dan U dihajar oleh Arga. Sedangkan O dan E, Arga masih susah menyebutkannya. Tetapi Rani yakin besok Arga pasti bisa menyebutkan guruf E dan O.


Akhirnya terapi selama tiga jam itu selesai sudah. Gina dan Anggel kembali masuk ke daalm ruangan. Mereka bertiga duduk di sofa, sedangkan Arga duduk di ruangan bermain yang disiapkan oleh Afdhal untuk kenyamanan keponakannya itu.


"Gimana Ran?" tanya Gina.


"Keren kak. Dia cepat paham. Tetapi kontak mata masih kurang. Besok akan kita buat dia semakin fokus. Kalau untuk materi dia usah tau warna merah, kuning, biru dan putih. Untuk huruf sudah bisa menyebutkan vokal A, I dan U. Besok kalau Arga bisa E dan O, maka aku akan memperkenalkan bentuk huruf huruf itu." Rani menjelaskan semuanya kepada Gina.


"Kemajuan yang luar biasa." kata Anggel yang menatap kagum ke arah Arga.


"Aamiin" jawab Gina yang sangat senang mendengar perkembangan anaknya itu.

__ADS_1


Setelah bercengkrama mereka semua akhirnya membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing masing.


__ADS_2