
"Kita mau kemana lagi?" tanya Aries kepada semua anggota keluarganya
"Makan" jawab Argha dengan sangat bersemangat.
Argha memang sudah sangat lapar sekali, biasanya kalau tidak ada pertemuan keluarga seperti sekarang ini, Argha sudah menikmati cemilan buah yang selalu ada di dalam lemari pendingin yang ada di dalam ruang kerjanya itu. Tetapi karena hari ini mereka sudah harus berkumpul di rumah sakit pukul sembilan pagi, membuat Argha tidak bisa mengemil buah sebelum jadwal makan siang masuk.
"Jadi gimana? Apa kita akan makan siang di luar atau di mansion?" tanya Aries kepada semua anggota keluarganya itu
"Tanya Frenya aja Daddy, Frenya mau makan siang dimana, kita akan ikuti apa yang ingin di makan Frenya siang siang begini" ujar Ghina memberikan saran kepada mereka semua untuk mengikuti apa yang ingin dimakan oleh Frenya siang siang begini.
"Oke, Frenya mau makan siang dimana?" tanya Aries kepada Frenya
"Bebek betutu Daddy. Rasanya makan bebek betutu di tepi sawah enak juga" ujar Frenya yang membayangkan dirinya sedang makan masakan bebek betutu di tepi sawah.
"Nah ini masalahnya, kalau bebek betutu saja ada di mana mana, tetapi yang viewnya sawah ini yang susah" ujar Argha saat mendengar apa yang diinginkan oleh Frenya untuk makan siang.
Semua anggota keluarga terdiam mendengar apa yang ingin dimakan oleh Frenya, untuk menu memang bebek betutu banyak di ibu kota, tetapi untuk viewnya sawah ini yang susah, kemana mereka akan mencari yang viewnya sawah di ibu kota seramai ini.
"Tadi katanya tanya aku, sekarang udah aku jawab, malah banyak alasan" ujar Frenya yang kesal mendengar analisa dari Argha tadi
Frenya mendadak menangis, air mata sudah menganak sungai di mata cantiknya itu. Dia sudah langsung menjadi sedih saat mendengar analisa yang diajukan oleh Argha kepada semua anggota keluarga yang hadir.
" Nah kan, Uni nangis" kata Argha saat melihat Frenya sudah mengusap air matanya
"Ya udah kita akan cari bagaimana caranya untuk makan bebek bututu di tepi sawah" Kata Aries.
"Hendri" panggil Juan kepada asisten Frenya.
"Siap Tuan muda" jawab Hendri yang sudah langsung ada di sebelah Juan.
"Cari dimana ada sawah. Kami akan makan siang di sana" kata Juan memberikan perintahnya kepada Hendri.
"Siap Tuan Muda" jawab Hendri tanpa sempat berpikir dimana dirinya harus mencari sawah di tengah tengah ibu kota yang padat merayap.
"Dengar Hendri, saya tidak Terima kegagalan" kata Juan menekankan sekali lagi dengan Hendri, bahwasanya perintah ini sudah sangat jelas.
__ADS_1
"Serahkan kepada saya dan anggota kami yang lainnya Tuan muda" jawab Hendri.
"Berapa lama Hendri?" tanya Juan
"Lima belas menit Tuan muda" jawab Hendri dengan yakin.
"Lewat tewas" kata Juan.
Hendri berlalu dari hadapan Juan. Sedangkan Ghina dan Aries saling menatap satu sama lain. Aries serasa seperti melihat Ghina di dalam diri Juan. Begitu juga dengan Ghina, dirinya serasa seperti melihat Aries dalam diri Juan.
"Oke Daddy kita tinggal tunggu info dari Hendri" jawab Juan.
"Bagaimana kalau ke kantin dulu. Aku haus" ujar Frenya yang merasa sangat haus sekali sekarang, dia dari tadi belum ada minum.
Pengawal Juan sudah berlari pergi membeli air minum untuk Frenya.
Saat mereka belum sampai di lobby rumah sakit Hendri sudah datang menemui Juan.
"bagaimana Hendri?" tanya Juan
"Yang ada sawah atau bagaimana?" tanya Juan tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Hendri kepada dirinya.
"Siap, Warung di tepi sawah yang menyediakan bebek betutu" jawab Hendri dengan semangat
"Serius ada?" tanya Frenya sangat senang mendengar berita yang disampaikan oleh Hendri.
"Kita ke sana. Kamu berkendara paling depan" ujar Juan.
"Siap" jawab Hendri.
Semua anggota keluarga bergerak dengan cepat menuju tempat yang dikatakan oleh Hendri tadi. Mereka tidak sabaran lagi ingin melihat tempat yang sangat asing tetapi ada di ibu kota.
"Hendri kamu yakin ada tempat seperti itu di sini?" tanya Frenya saat mereka sudah berada di dalam limousine.
"Yakin Nona, saya sudah meminta para pengawal untuk memastikan ke lokasi" jawab Hendri.
__ADS_1
"Oh Oke. kalau memang ada saya sangat bahagia sekali mendengarnya. saya berharap itu memang ada" lanjut Frenya yang masih kurang yakin dengan tempat yang dikatakan oleh Hendri.
"Jangan ragukan tim saya Nona, saat mereka mengatakan ada berarti mereka sudah tau dengan resiko yang harus mereka hadapi saat barang itu tidak ada" jawab Hendri yang setengah kesal karena Frenya meragukan timnya saat bekerja seperti sekarang ini.
"Maafkan saya Hendri. Bukan maksud saya meragukan keahlian kamu dan tim" kata Frenya.
Frenya bisa memahami kemarahan tersirat dari apa yang dikatakan oleh Hendri sebentar ini kepada dirinya. Hendri sedang dalam keadaan marah saat Frenya mengatakan semoga ada tempat yang dikatakan ada oleh Hendri tadi.
"Tidak masalah Nona, kami maklum." jawab Hendri.
Frenya melihat kearah Ghina. Ghina memberikan senyumannya kepada Frenya untuk menguatkan Frenya kalau apa yang dikatakan oleh Hendri jangan dipikirkan.
Iring iringan mobil keluarga Soepomo masih terus membelah jalanan ibu kota. Sampai pada sebuah simpang mobil yang dikemudika oleh Hendri berbelok masuk ke dalam mulut gank itu. Semua mobil mengikuti mobil Hendri.
"Uda, loe serius di sini ada tempat makan yang dikatakan Hendri?" tanya Argha kepada Juan.
"ya, di sini pasti ada warung yang diinginkan oleh Frenya." jawab Juan dengan yakin
"Oh baiklah"
Tidak berapa jauh dari mulut gank, terlihatlah hamparan sawah dan perkebunan buah buahan.
"Nona kita hampir sampai" kata Hendri dengan bangga kepada Frenya.
Hendri layak berbangga hati mengatakan hal itu karena tadi Frenya sempat meremehkan dirinya akan berita yang dibawa oleh anggota Hendri yang mencari tempat makan seperti yang dikatakan oleh Frenya.
"Dimana rumah makannya Hendri?" kali ini Ghina yang bertanya kepada Hendri.
"Di sana Nyonya besar" kata Hendri menjawab pertanyaan dari Ghina.
Tidak beberapa jauh dari sawah sawah yang tadi di lihat oleh Frenya, akhirnya Hendri memberhentikan mobil yang dikemudikan oleh dirinya di tempat parkir yang sangat luas. Terlihat di parkiran yang sangat luas itu hanya terparkir dua mobil saja
"Kenapa tidak ada orang yang datang?" tanya Frenya menatap ke arah parkiran yang sepi tersebut
"Apa warungnya sudah tutup?" lanjut Frenya yang cemas kalau warung yang akan mereka datangi itu sudah tutup dan tidak ada lagi makanan yang bisa mereka makan di sana.
__ADS_1
"Bukan tutup Nona, warung ini sengaja dikosongkan karena Nona dan keluarga Nona akan datang" jawab Hendri