Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Hadiah untuk BM


__ADS_3

Aris dan Gina yang pulang tidak sama dengan Mami dan keluarga yang lainnya, mereka memiliki sebuah acara sendiri yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Bahkan Gina sendiri tidak mengetahui ada acara apa yang membuat Aria harus pergi hanya berdua saja dengan dirinya.


"Kita kemana sayang? Sampai sampai kamu nggak mau ngajak kak Bram untuk ikut dengan kita." Tanya Gina kepada Aris sambil menatap Aris dengan lekat.


Aris menatap Gina "Kita mau pergi ke suatu tempat untuk memberikan kejutan kepada Bayu dan Mira." jawab Aris.


"Oh baiklah. Aku sangat penasaran dengan benda apa itu."


Aris melajukan mobilnya memutar mutar ibu kota. Tetapi betapa terkejutnya Gina saat Aris membelokan mobilnya masuk ke dalam gerbang rumah keluarga Soepomo.


"Sayang tapi kita mau melihat kejutan untuk Bayu dan Mira. Ini kenapa harus pulang, capek keliling keliling ujungnya pulang juga." Jawab Gina sambil menggerutu.


"Lah kita memang harus masuk ke dalam gerbang utama rumah sayang, kalau nggak mana bisa kita melihat kejutan itu." jawab Aris sambil meremas tangan Gina.


"Oh. Terus kenapa nggak langsung ke rumah aja. Kenapa pake acara muter muter selama sejam?"


"Kalau tadi kita langsung balek, maka Bayu dan Mira akan curiga kenapa kita nggak masuk ke dalam rumah. Mau diintai Bayu dan Mira?" tanya balik Aris sambil menatap jahil Gina.


"Sayang aku nggak pernah lo sampe ke dalam sini selama tinggal di sini." kata Gina kepada Aris.


Aris tersenyum kepada Gina. Aris tidan pernah membawa Gina sampai ke sini. Aris hanya membawa Gina sampai rumah yang seharusnya mereka tempati.


Pada komplek perumahan Soepomo terdapat beberapa rumah besar. Pertama dari gerbang tentu saja rumah utama keluarga Soepomo. Rumah nomor dua seharusnya ditempati oleh Aris dab Gina, itu adalah hadiah pernikahan mereka dari Papi dan Mami. Sedangkan sebelah rumah Aris dan Gina ada tanah kosong yang sangat luas.


"Sayang itu kenapa kosong?" tanya Gina menunjuk lahan kosong sebelah rumah mereka.


"Itu untuk Bram. Papi sengaja membiarkan tanah itu kosong dulu. Nanti setelah ini akan ada pembangunannya. Sepertinya Bram sudah sangat serius dengan Sari." jawab Aris.


Aris memberhentikan mobilnya tepat di tanah kosong. Aris dan Gina turun dari mobil. Betapa terkejutnya Gina saat sebuah rumah megah dan mewah sudah berdiri kokoh di depan matanya.


"Sayang ini rumah siapa?" tanya Gina sambil menatap kagum ke arah rumah yang berada di depannya.


"Ini hadiah dari kita untuk Bayu dan Mira. Terserah mereka mau tinggal di sini atau tidak. Tetapi rumah ini tetap milik mereka." kata Aris.


"Kamu mau lihat ke dalam sayang?" ajak Aris kepada Gina.


"Mau sayang. Aku penasaran dengan desain di dalamnya," jawab Gina.


Naluri arsitek Gina mendadak muncul saat melihat rumah mewah nan elegan di depan matanya ini.


Aris dan Gina bergandengan tangan masuk ke dalam rumah itu. Gina begitu kagum melihat desainnya.


"Sayang, ini adalah desain rumah idaman Mira. Aku yakin Mira pasti lebih memilih tinggal di sini dari pada di rumah Bayu yang tangganya menyeramkan itu." ucap Gina sambil tidak lepas matanya melihat setiap sudut rumah yang akan menjadi kado untuk pernikahan Bayu dan Mira.

__ADS_1


"Sayang yang jadi pertanyaan aku sekarang. Kapan coba tukang kerja di sini. Aku kok nggak pernah lihat ada proyek di sini." tanya Gina menatap ke arah suaminya.


"Sebenarnya udah lama. Cuma karena kamu sibuk dan lagian rumah utama kita masuk pula ke dalam. Makanya mobil mobil kontruksi masuk tidak satupun kita yang dengar." jawab Aris.


"Bener sayang, kadang ya aku mikir rumah utama sejauh itu dari gerbang depan. Kalau aku siap melahirkan dan pengen diet aku bisa lari lari dari gerbang utama sampe rumah utama." kata Gina sambil menahan senyumnya.


"Aku tau apa yang mau kamu omongin sayang. Pake ngeles diet segala." kata Aris ke Gina.


"Hahahaha." Gina tertawa renyah.


Mereka berdua kembali ke lantai satu rumah tersebut. Gina kembali membayangkan beberapa perabotan yang dulu sering mereka lihat waktu di kos.


"Sayang, boleh aku mengisi beberapa perabotan untuk rumah ini? Aku juga ingin ngasih mereka hadiah dari uang pribadiku sayang." ujar Gina sambil menatap memohon kepada Aris.


"Biasa aja tatapannya sayang. Bolehlah, tau nggak kamu apa perkataan Bayu nanti saat melihat rumah ini?" ujar Aris.


"Nggak lah. Aku baru kenal Bayu karena nikah sama kamu." jawab Gina sambil menatap penuh keingin tahuan ke arah Aris.


"Bayu ngomongnya gini. Kalau tau hadiahnya sebesar ini, dari maren maren gue nikah. Sambil tu matanya berbintang bintang. Tau nggak Bayu itu paling matre sedunia." kata Aris kepada Gina.


"Berarti kak Bayu menang banyak ya sayang."


"Menang banyak banget. Pulang yuk, besok aku temani belanja untuk isi rumah ini. Kamu bayangin aja dulu mau beli apa aja." kata Aris kepada Gina.


"Dasar ibu ibu, berapa duit di keluarin pasti dipikirin." sindir Aris kepada Gina.


"Sayang bukan dipikirin, tapi dihitung hitung. Hahahahaha." Gina berjalan sambil menggandeng tangan Aris.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka menuju rumah utama. Aris dan Gina melihat begitu banyak mobil parkir di halaman rumah.


"Siapa sayang?" tanya Gina kepada Aris.


Gina nggak satupun mengenali mobil yang parkir di depan rumah.


"Mana tau sayang. Aku juga nggak kenal. Palingan tamu Mami." jawab Aris.


Aris dan Gina masuk ke dalam rumah. Ternyata di ruang tamu ada empat orang yang wajahnya sudah sangat familiar bagi Gina. Seorang perancang busana terkenal, seorang chef dari hotel milik Soepomo dan seorang penata rias artis yang juga terkenal. Sedangkan satu lagi adalah fhotografer yang sudah tidak usah diragukan lagi keahliannya.


"Sayang, kalian berdua capek?" tanya Mami menatap bergantian Aris dan Gina.


"Nggak Mi, ada apa?" tanya Gina sambil mencubit tangan Aris agar setuju dengan yang dikatakan oleh dirinya.


Mereka berdua duduk di dekat Mami. Mami memperkenalkan satu persatu dari tamu yang datang. Arias dan Gina hanya mengangguk anggukan kepala saja.

__ADS_1


"Nyonya, apa saya bisa permisi pulang? Saya akan ke sini lagi nanti malam, saat Tuan Bayu dan Nona Mira sudah ada di sini." ujar fhotografer kepada Mami.


"Silahkan. Nanti akan saya kirim pesan jam berapa mereka sudah ada di sini." jawab Mami.


"Nah chef menu apa yang akan anda presentasikan kepada kami?" tanya Mami kepada Chef.


"Nyonya kalau boleh saya usul. Saya ingin anda dan keluarga mencoba masakan yang saya rekomendasikan untuk acara pernikahan itu. Kalau sekarang saya hanya bisa memberikan nama saja." kata chef kepada Mami.


"Boleh, gimana kalau besok malam Anda kembali kesini dan membawa apa apa yang akan anda masak. Kami akan mencobanya." jawab Mami.


Chef kemudian parmisi untuk pulang dan kembali lagi besok malam.


Gina menatap Aris. Aria hanya menatap Gina dengan menaikan alis matanya tanda tidak paham dan ikuti saja alurnya.


"Gin, Mami yakin Bram nggak akan mau pas acara pernikahan memakai jas yang dibuat oleh tante yang tadi. Makanya sekarang Mami memanggil salah satu sahabat Mami ini." kata Mami kepada Gina.


"Nah tunjukkan desain untuk yang laki laki dan baru untuk saya dan menantu saya serta satu lagi calon menantu saya." ujar Mami kepada desainer yang juga teman lama Mami yang sudah mengeluarkan banyak model baju yang best seller.


"Mau bikin jas seperti apa Ris?" tanya Mami kepada Aris.


"Seperti yang sudah sudah aja Mi. Sederhana yang penting elegan." kata Aris kepada Mami.


"Berarti seperti yang ini kan Tuan Muda?" tanya desaigner sambil memperlihatkan contoh sebuah desain jas kepada Aris.


Aris dan Gina melihat model jas yang diberikan oleh desaigner.


"Gimana?" tanya Aris


"Setuju. Manis dan keren." kata Gina.


"Seperti ini saja. Warnanya grey." kata Aris langsung memilih warna yang dikehendakinya untuk acara resepsi.


"Untuk Nyonya dan Nyonya muda mau yang seperti apa?" tanya dasaigner.


Desaigner memberikan rancangan gaun untuk Mami. Mami melihat dan memperhatikan rancangan tersebut. Gina juga melihat rancangan untuk dirinya dan Sari.


"Gimana Nyonya?" tanya desaigner.


"Saya suka dan setuju." jawab Mami.


"Saya juga oke." jawab Gina.


Akhirnya semua urusan hari itu selesai. Gina merasakan kram di perutnya akibat kelelahan. Dia memilih untuk beristirahat saja hari ini di kamar menghabiskan sisa sisa hari. Begitu juga dengan Aris, karena Gina memilih berdiam dan beristirahat di kamar dia melakukan hal yang sama. Dia tidak ingin meninggalkan Gina.

__ADS_1


__ADS_2