
Gina terbangun lebih pagi dari pada biasanya. Dia merasakan badannya seperti ringan tak ada beban. Dia membersihkan mukanya terlebih dahulu.
"Wah sepertinya bikin sarapan pasti menyenangkan." ucap Gina.
Gina kemudian turun menuju dapur. Dia akan memasak sarapan untuk hari ini. Gina mengeluarkan semua bahan yang akan di olahnya. Hari ini dia berencana membuat nasi uduk lengkap dengan goreng ayam, tahu bacem dan telur balado tak lupa bihun gorengnya. Gina mengolah semua itu dengan cekatan. Dia memasak sambil bersenandung. Sudah sangat lama dia tidak memasak. Gina menikmati semua kegiatannya.
Gina menggoreng telur yang sudah di rebusnya. Satu masakan lagi maka semuanya selesai. Dalam waktu dua jam semua masakan Gina selesai. Gina menata semua masakan di atas meja makan.
Setelah selesai menata meja makan, Gina kembali ke kamar. Dia harus membersihkan dirinya. Gina melihat Aris sedang berdoa. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Aris yang tau Giba sedang membersihkan dirinya, dia mengambilkan pakaian untuk Gina. Hari ini Aris tidak ada rencana mau pergi kemana mana.
Selesai membersihkan dirinya, Gina menuju kamar, dia melihat di atas ranjang sudah ada pakaian dalam dan juga dress yang akan di pakainya. Gina tersenyum senang.
"Makasi sayang, kamu sangat tau warna apa yang ingin aku pakai hari ini." ujar Gina.
Aris menunggu Gina selesai merapikan dirinya di sofa sambil membaca koran pagi. Gina yang sudah selesai bersiap siap pergi menghampiri Aris.
"Ayuk sarapan. Aku laper." kata Gina sambil menggamit tangan Aris.
Mereka berdua kemudian turun ke meja makan. Semua keluarga sudah berkumpul di sana.
"Nah ini ini, pasangan yang udah jarang makan bersama." kata Bram sambil melihat ke arah Aris dan Gina.
Aris dan Gina hanga senyum saja mendengar apa yang dikatakan oleh Bram. Apa yang dikatakan oleh Bram memang benar sudah beberapa hari ini Aris dan Gina jarang makan bersama dengan keluarganya. Aris dan Gina duduk di kursi biasanya mereka duduki.
"Niel gimana dengan kerjaan di rumah sakit?" tanya Aris kepada Daniel.
"Sejauh ini aman Dad." jawab Daniel.
Gina mengambilkan Aris sarapannya. Mami juga mengambilkan untuk Bram dan Daniel. Setelah semua mendapatkan sarapan, Daniel memimpin membaca doa. Setelah itu mereka menikmati sarapan yang menggugah selera itu.
"Enak banget ini. Siapa yang masak?" tanya Papi kepada Mami.
"Siapa lagi Pi kalau bukan Gina." jawab Mami sambil menatap ke arah Gina.
Gina tersenyum sambil mengangguk ke arah Papi.
Saat mereka sedang sarapan, terdengar bunyi bel rumah. Seorang maid langsung berjalan menuju pintu utama dan membukakan pintu untuk tamu yang datang.
"Eh Tuan Bayu dan Nona Mira. Silahkan masuk, anggota keluarga sedang sarapan." kata Main.
__ADS_1
"Makasih maid. Kami langsung ke ruang makan aja." jawab Mira.
Bayu dan Mira menuju ruang makan. Mereka melihat keluarga besar Soepomo sedang sarapan. Bayu dan Mira masuk ke dalam ruang makan.
"Wow Bay, ada angin apa pagi pagi loe udah ke sini?" tanya Bram yang heran Bayu datang pagi tanpa mengabari siapapun.
"Gue mau numpang sarapan. Bolehkan Mi?" tanya Bayu kepada Mami.
"Untuk kamu apa yang nggak Bay." jawab Mami.
Bayu dan Mira duduk di kursi yang kosong. Mira mengambilkam sarapan untuk Bayu dan juga untuk dirinya.
Mereka semua melanjutkan sarapan. Semua menu yang di atas meja langsung hilang berpindah ke perut anggota keluarga Soepomo.
"Papi, apa Papi sibuk pagi ini?" tanya Bayu kepada Papi.
"Nggak, jadwal Papi hari ini kosong." jawab Papi.
"Ada apa Bay?" tanya Papi.
Bayu terdiam lama, dia ragu untuk menyampaikan kepada Papi. Tetapi kalau tidak ke Papi kepada siapa lagi dia harus meminta pertolongan.
"Kak Bayu ada apa?" tanya Gina.
Bayu menatap Mira. Mira mangangguk menyetujui dan memberikan Bayu kekuatan.
"Tunggu, loe berdua pandang pandang. Jangan ngomong delapan bulan lagi gue jadi Papi ke tiga. Kalau iya gue bunuh loe Bay." kata Bram menatap tajam Papi.
Mira yang mendengar langsung menendang kaki Bram dari bawah meja. Bram sontak berdiri dari duduknya. Kakinya yabg ditendang oleh Mira terasa sangat sakit.
"Sakit Mir." teriak Bram.
"Salah sendiri mikir sembarangan aja." jawab Mira.
"Jadi ada apa Bay?" tanya Papi dengan mimik wajah yang serius.
"Gini Pi. Aku berencana mau minta tolong sama Papi dan Mami untuk" Bayu kembali terdiam.
"Untuk melamar Mira menjadi istri Bayu." sambung Daniel.
__ADS_1
Gina yang mendengar Daniel nyambung aja menatap tajam Daniel. Daniel langsung menunduk. Dia tau dia telah salah karena menyambung apa yang mau dikatakan oleh Bayu.
"Bener Pi, apa yang dikatakan Daniel itu bener. Aku mau Papi dan Mami menolong aku untuk melamar Mira ke orang tuanya Pi." kata Bayu kepada Mami dan Papi.
Tiba tiba Aris tertawa keras. Semua orang melihat ke arah Aris. Begitu juga dengan Gina yang heran kenapa Aris tiba tiba tertawa keras.
"Maaf Pi. Kemaren adalah orang mengatakan akan melamar kekasihnya lebih dulu dari Bayu. Ternyata dia ditikung Bayu Pi, karena itu aku tertawa." kata Aris sambil menggaruk kepalanya.
"Ada ada aja kamu Ris."
"Jadi bener kamu mau ngelamar Mira, Bay?" tanya Mami
Bayu menganggukkan kepalanya tanda bener apa yang sudah dikatakannya tadi. Dia sudah bertekad akan memperistri Mira dalam waktu dekat ini. Dia sudah sangat yakin dengan pilihannya. Bayu sudah tidak mau mengulur ngulur waktu lagi.
"Oalah Bay Bay. Itu aja pake lama pula drama ngomongnya." kata Papi.
"Kami semua akan berangkat ke Padang untuk melamar Mira." kata Papi.
"Tapi Pi, Gina mana bisa ke Padang Pi." kata Aris mengingatkan Papi soal kehamilan Gina yang sudah besar dan tidak mungkin pergi perjalanan jauh.
"Gini ajalah, kita buat acara lamarannya di hotel milik kita aja Pi. Semua keluarga Mira kita boyong ke sini. Jadi Gina masih bisa ikut. Gimana menurut Bayu dan Mira?" tanya Mami menatap bergantian Bayu dan Mira.
"Baiklah Mi, Pi, Mira akan menceritakan kepada Ayah dan Ibu di kampung. Mira akan meyakinkan mereka terlebih dahulu." kata Mira kepada Mami.
"Mami akan ikut kamu ke Padang. Jadi Mami juga bisa meyakinkan kedua orang tua mu sayang." kata Mami.
"Makasih Mami. Kami sangat senang Mami dan Papi serta yang lainnya mau membantu." kata Bayu.
Bayu memeluk Papi dan Mami bergantian. Semenjak kematian orang tuanya dalam kecelakaan pesawat, Bayu selalu di bantu oleh keluarga Soepomo. Bedanya Bayu dan Bram, Bram dari keluarga tidak mampu, makanya dia diangkat menjadi anak oleh keluarga Soepomo. Sedangkan Bayu dia dari keluarga kaya dan masih bisa hidup dan melanjutkan perusahaan milim ayahnya.
"Jadi kapan kita akan ke Padang?" tanya Mami kepada Mira.
"Bagaimana kalau besok Mi? Besok Papi akan ikut dengan Mami. Kita pakai jat saja. Jadi semua bisa berjalan cepat. Nanti lamarannya baru di sini. Papi juha mau meyakinkan keluarga Mira bahwa anak laki laki kita yang satu ini adalah tangkapan kakap yang bagus." kata Papi.
"Baiklah besok kita berangkat. Kalian berdua harus siap siap. Kita berangkat besok pagi. Jadi bisa langsung ke rumah Mira." kata Papi.
"Baiklah Papi, nanti Mira akan menghubungi Ayah untuk mengatakan kedatangan Papi dan Mami." ujar Mira.
"Baiklah sayang lakukanlah." kata Mami.
__ADS_1
Mereka kemudian berbincang bincang. Setelah siang hari, Papi dan Bram pamit untuk ke perusahaan. Mereka harus mengerjakan semua pekerjaan. Mereka akan melalui hari hari super sibuk. Mulai dari lamaran Bayu dan Mira sampai dengan menunggu kelahiran penerus keluarga Soepomo dan Wijaya.