Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Sari Bangun


__ADS_3

" Mereka semua sudah berada di rumah sakit Ris." ujar Bayu sambil membaca chat yang di kirim di gurb chat keluarga.


"Oke" jawab Aris.


Aris menambah dalam menekan pedal gas mobil, dia melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Aris juga tidak ingin melewatkan moment bersejarah itu. Moment dimana orang yang paling ditunggu kehadirannya kembali di tengah tengah keluarga Seopomod dan Wijaya.


Dua mobil terlihat masuk dari arah yang berlawanan ke dalam perkarangan rumah sakit. Mobil Aris dan mobil Papi sama sama datang bersamaan. Mereka berdua memarkir mobil tidak pada tempatnya, hal ini membuat satpam sedikit emosi, tapi saat melihat siapa yang turun satpam tidak jadi meneriaki orang tersebut.


Aris dan Papi melemparkan kunci mobil mereka kepada satpam yang berdiri di depan pintu masuk lobby rumah sakit. Satpam menangkap kunci mobil itu. Papi, Ayah Hans, Aris dan Bayu terlihat berlari menuju lift khusus yang bisa mereka gunakan untuk langsung menuju ruangan VIP tempat Sari di rawat.


Aris mengeluarkan kartu ruangan VIP miliknya, dia menscan kartu itu ke lift. Lift langsung menuju ruangan VIP. Pintu lift terbuka saat sudah sampai di lantai VIP. Semua yang berada di dalam lift langsung berlari masuk kedalam ruangan VIP. Mereka benar benar terlihat tidak ingin ketinggalan sesuatu apapun.


Para pengawal yang sudah terbiasa melihat para anggota keluarga masuk dengan tergesa gesa, membiarkan mereka masuk kedalam ruangan Sari tanpa menyapa, tetapi mereka semua tetap mengangguk saat melihat para anggota keluarga yang berdatangan. Aris dan yang lain masuk ke dalam ruangan rawat Sari. Mereka melihat semua anggota keluarga sudah berada di sana.


Ayah Hans duduk di seberang Bram. Mereka berdua memegang tangan Sari. Mereka berdua sama sama berdoa supaya Sari cepat bangun dari tidur panjangnya.


Frenya dan Arga masuk terakhir, Argha mendekat ke arah Sari yang masih setia tertidur di kasurnya, walaupun dokter mengatakan kalau Sari akan bangun saat ini, tetapi mereka tidak tahu pasti kapan Sari akan terbangun.


"Sayang, kamu kangen dengan Mamim kan?" tanya Ghina sambil mensejajarkan dirinya dengan Argha.


"Kangen banget Bunda." jawab Argha.


"Kalau Argha kangen, Argha bisa bantu Mamim nggak, agar Mamim bangun kembali?" ujar Ghina yang merasa kalau dengan bantuan Argha, Sari akan cepat bangun dari tidurnya.


Argha mengangguk setuju dengan permintaan Ghina.


"Apa yang harus Argha lakukan untuk Mamim?" tanya Argha dengan semangatnya. Dia sangat ingin melihat Mamimnya kembali bangun.


Ghina menerangkan apa yang harus dilakukan oleh anaknya itu. Argha memandang dan memfokuskan dirinya mendengar apa yang dikatakan oleh Ghina.


"Apa Argha paham sayang?" tanya Ghina.


"Paham Bunda. Akan Argha lakukan." ujar Argha.


"Atuk, Papi, bisa Argha duduk di dekat Mamim?" tanya Argha kepada Ayah Hans dan Bram.


Ayah Hans dan Bram kemudian berjalan menjauh dari ranjang Sari. Mereka membiarkan apa yang akan dilakukan oleh Argha. Tumpuan terakhir mereka untuk membuat Sari terbangun dari tidur panjangnya ini. Mereka memang berharap Argha bisa membuat Sari membuka matanya. Mereka semua tau bagaimana rasa sayang Sari kepada Argha selama ini. Mulai dari Argha di dalam kandungan sampai dengan kelahiran Argha, Sarilah yang selalu mendampingi Ghina.


Argha duduk di atas ranjang Sari. Dia memegang wajah Sari dengan tangannya yang masih belum besar, anak usia sembilan tahun yang menatap Sari dengan wajah tersenyum. Argha menyerap semua aura Sari dan menyimpannya di dalam ingatan kuat Argha. Bagi Argha Sari adalah bunda kedua setelah Ghina. Argha tau bagaimana perjuangan Sari saat kedua orang tuanya sepakat untuk berpisah sementara waktu. Argha tau semua ceritanya dari Frenya, Daniel dan Ghina sendiri.


"Mamim, ini Argha" ujar Argha.


"Mamim, apa Mamim nggak capek tidur terus, apa mata Mamim nggak merah kalau tidur terus? Argha aja yang tidur siang tiga udah merah matanya, apalagi Mamim tidur berbulan bulan, nanti Mamim buta jadinya" ujar Argha yang mulai berbicara dengan Sari mencomot kata kata yang masih berantakan dan tidak beraturan itu.

__ADS_1


"Mamim bangun, Mamim" ujar Argha.


"Mamin janji sama Argha akan pergi raun raun, Mamim juga janji sama Argha akan membawa Argha pergi ikut bulan madu Mamim dengan Papi. Argha udah nyusun semua pakaian Argha kedalam tas dari beberapa bulan yang lalu. Mamim boong ya sama Argha." lanjut Argha


"Tau dak Mamim, kalau Argha udah cari cari tempat untuk kita pergi bertiga. Mamim janjikan ya waktu itu. Ayolah Mamim, bentar lagi Argha ujian, siap ujian kita pergi ya Mamim." lanjut Argha.


Argha kemudian mengecup pipi Sari.


"Mamim, Mamim ingatkan janji Mamim saat Argha masih dalam perut Bunda, Mamim janji akan menjaga Argha, akan menjadi sahabat Argha, akan ada disetiap kegiatan Argha. Tapi ternyata Mamim tukang boong, Mamim nggak ada udah berbulan bulan, Mamim juga melewati acara spesial Argha." ujar Argha mulai mencerococ tidak jelas.


"Mamim, Mamim nggak maukan dikatakan sebagai Mamim tukang boong. Ayolah Mamim bangun. Argha kangen main dengan Mamim" lanjut Argha.


Argha kembali mengecup kedua pipi Sari bergantian. Argha yang baru kali ini bisa menjenguk Sari mengeluarkan semua rasa rindunya kepada Sari. Sari yang dari dulu ada selalu buat Argha.


"Mamim, Argha mohon bangun ya, main sama Argha lagi. Argha janji nggak akan bandel lagi, Argha janji nggak akan mengerjai Mamim lagi." ujar Argha.


"Argha juga janji nggak akan menyumpetin barang barang Mamim lagi. Argha memang jahil sama Mamim, karena nggak mungkin Argha menjahili Daddy atau yang lainnya. Mereka semua pemarah, hanya Mamim yang ngerti dengan jahilnya Argha." lanjut Argha.


"Mamim, kalau Mamim nggak mau bangun, Argha akan benci selamanya sama Mamim, Argha akan kembali e negara U, Argha nggak mau lagi tinggal dengan Mamim di sini." ujar Argha mulai mengeluarkan ancaman dan ultimatumnya kepada Sari.


Sari masih tidak juga membuka matanya. Argha sudah kehabisan akal, sebenarnya Argha ingin menangis, tetapi dia ingat Sari akan marah besar kepada dirinya kalau dia menangis.


"Oke Mamim, Mamim silahkan tidak usah bangun bangun lagi. Kalau perlu Mamim pergi selama lamanya. Mamim nggak sayang sama kami, hanya kami saja yang sayang sama Mamim, capek tau Mamim kalau kita sayang tetapi Mamim tidak sayang sama kami. Apa gunanya Mamim, nggak ada gunanya." teriak Argha mulai marah dan kesal dengan Sari yang sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakannya dari tadi.


"Mamim dengar apa yang akan Argha katakan, Argha tidak lagi perduli dengan Mamim, Argha benci dengan semua ini, Argha kesal dengan Mamim, Mamim nggak peduli sama Argha sama sekali. Argha benci Mamim. Argha benar benar benci Mamim" ujar Argha sambil mulai menangis.


Argha memeluk Ghina. Dia menangis sejadi jadinya dalam pelukan Ghina.


"Sudah sayang, kamu sudah berusaha dengan maksimal" ujar Ghina


"Tapi Mamim nggak mau dengerin Argha Bunda. Argha benci sama Mamim" ujar Argha.


"Uni kita pulang, Argha nggak mau di sini lagi. Argha benci sama Mamim" kata Argha sambil menarik tangan Frenya.


Frenya menatap Ghina, Ghina mengangguk tanda setuju untuk Frenya dan Argha pergi meninggalkan ruangan Sari.


"Mamim, sekali Argha katakan, Argha akan pergi dan nggak akan lagi kenal dengan Mamim, walaupun kita serumah nanti saat Mamim kembali sehat." ujar Argha kembali mengeluarkan ancamannya.


Argha berjalan menuju keluar dari ruangan Sari.


"Argha" ujar Sari dengan pelan.


Sari mengangkat tangannya, dia terlihat menahan Argha untuk tidak pergi dari kamarnya.

__ADS_1


"Argha, Mamim sayang Argha" ujar Sari.


Argha berlari kembali ke ranjang Sari. Dia memeluk Sari dengan kuat. Semua anggota keluar sujud syukur dengan sadarnya Sari. Bram dan Ayah Hans memeluk Sari dan Argha.


"Argha sayang Mamim, kami semua sayang Mamim" ujar Argha membalas ucapan Sari.


Ketiga dokter melangkah mendekat ke arah Sari.


"Tuan, bisa kami memeriksa keadaan Nyonya terlebih dahulu?" ujar salah satu dokter.


Bram dan Ayah Hans berdiri, mereka melepaskan pelukan dari Sari. Tetapi Argha tetap memeluk Sari.


"Argha, Mamim diperiksa dokter dulu ya." ujar Bram.


"Nggak, nanti mereka bikin Mamim tidur lagi." ujar Argha menolak melepaskan pelukannya dari Sari.


"Argha, Mamim di periksa dokter dulu ya." ujar Sari.


"Tapi Argha dekat Mamim ya." ujar Argha memberikan penawaran.


"Oke, Argha dekat Mamim." ujar Sari.


Argha berdiri di dekat kepala Sari. Dia sama sekali tidak mau beranjak dari sana. Ketiga dokter mulai memeriksa keadaan Sari. Memeriksa seluruhnya dengan saksama. Mereka tidak ingin salah dalam mendiagnosa Sari.


"Tuan dan Nyonya, Nyonya Sari sudah kembali pulih, Nyonya hanya butuh beristirahat di rumah selama seminggu. Kami akan mengizinkan Nyonya untuk beristirahat di rumah saja, tetapi kami mohon agar Nyonya Sari tidak dulu melakukan pekerjaan berat." ujar salah satu dokter.


"Kami akan pastikan hal itu." jawab Papi.


"Kami permisi dulu Tuan, Nyonya. Selamat Nyonya Sari, Anda sudah sembuh" ujar kepala tim dokter yang menangani Sari.


"Kami akan menyiapkan obat untuk dibawa dan diminum di rumah" ujar salah satu dokter


Ketiga dokter dan perawat meninggalkan ruangan Sari. Mereka menuju ruangan sebelah, mereka akan berkemas kemas dan kembali keruangan masing masing, pekerjaan berat mereka telah usai.


Anggota keluarga bergantian memeluk Sari. Mereka sangat bahagia salah satu anggota keluarga mereka sudah kembali sehat.


"Gue akan tagih janji kalian berdua untuk pergi ke pesisir serta ke mall" ujar Sari kepada Ghina dan Mira.


"Oke. Sip. Sekarang loe harus pulih dulu, kita akan jalan jalan" ujar Ghina


"Argha ikut" jawab Argha


"Kita akan pergi semua" ujar Papi yang tidak bisa dibantah siapapun lagi. Keinginan tiga sahabat itu untuk pergi bertiga batal sudah. Kepala keluarga Soepomo menyatakan mereka pergi semua.

__ADS_1


Hari makin sore, semua anggota keluarga masih di sana, Bram tadi memutuskan untuk membawa Sari pulang esok hari. Mereka semua malam ini menginap di rumah sakit, kecuali Rani yang harus pulang menjaga bayinya. Mereka berdiskusi dengan apa akan pergi ke pesisir, daerah yang akan mereka kunjungi untuk berlibur.


__ADS_2