Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Terapi 1


__ADS_3

"Sayang yang semangat terapinya ya sayang.Kalian berdua harus bisa." kata Mami memberikan semangat kepada Aris dan Gina.


"Oke Mi" jawab Aris.


Sedangkan Gina hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja. Gina masih ragu dengan terapi kali ini. Dia masih memiliki rasa gamang di hatinya.


Aris, Gina dan Bram yang kali ini menjadi sopir untuk sepasang suami istri itu, naik ke atas mobil. Bran dan Aris duduk di depan. Sedangkan Gina duduk di kursi belakang. Gina terus meremas jari jari tangannya. Hal ini tak luput dari penglihatan Aris.


"Sayang kalau kamu gugup dan tidak merasa nyaman. Kita bisa memundurkan jadwal terapinya sahang. Tidak perlu sekarang." kata Aris yang tidak tega melihat Gina yang merasa tidak nyaman.


"Nggak apa apa sekarang saja." jawan Gina yang berusaha meredakan kegugupan di dalam hatinya.


Bram melajukan mobilnya dengan konsentrasi penuh. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai di tempat praktek Anggel. Tempat praktek yang begitu terasa nyaman, tidak seperti tempat praktek dokter lainnya.


Mereka bertiga turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju ruangan praktek Anggel. Tiga perbedaan signifikan nampak dari cara mereka melangkahkan kaki. Aris berjalan dengan langkah lebar dan tegas. Bram hampir sama dengan Aris. Mereka berdua sangat optimis kalau terapi kali ini akan berhasil seperti terapi terapi yang dilakukan Gina sebelumnya. Sedangkan Gina sungguh berbeda dengan Aris, langkah kaki Gina tidak semantao biasanya, dia menyimoan keraguan dalam hatinya.


Mereka bertiga sampai di depan pintu ruangan Anggel. Aris mengetuk pintu tersebut. Anggel yang memang sudah menanti pasangan tersebut langsung membuka pintu ruangannya saat mendengar ketukan dari luar.


"Mari masuk Aris, Gina" kata Anggel yang melihat Gina sedikit tidak bersemangat.


Anggel yakin Gina sedikit mengalami penurunan rasa percaya diri kembali. Tapi Anggel mengalihkan pikirannya. Dia hanya mau beranggapan kalau Gina sedang merasa kurang nyaman saja.


"Kak Bram, maaf Anggel ya, Kakak nggak bisa masuk kak. Ini terapi khusus, jadi Kakak nunggu di luar aja ya Kak." kata Anggel saat melihat Bram juga melangkah masuk.


"Maaf Nggel lupa. Kalau boleh tau berapa lama Nggel?" tanya Bram yang sedikit malu karena dirinya juga mau masuk ke ruangan terapi.


"Sekitar dua jam kak" jawab Anggel yang sebenarnya ragu, apakah Gina masih mampu melakukan terapi atau tidak.

__ADS_1


"Oke. Nunggu di mobil aja Nggel. Kakak agak ragu dengan kondisi Gina" kata Bram mengatakan apa yang dirasakannya.


"Itu lebih baik, jadi nanti kalau Gina tidak sanggup lagi, mereka bisa langsung pulang tidak perlu menunggu Kakak datang lagi." kata Gina yang setuju dengan yang dikatakan Bram


Bram kemudian kembali ke mobil. Dia berenxcana mau menghubungi Sari kekasihnya. Mereka sehari ini belum saling mendengar suara karena kesibukan masing masing. Anggel yang melihat Bram sudah berjalan kembali ke mobil, langsung masuk kembali ke ruangan terapi.


"Baiklah pertama Aku mau ngomong kalau terapi ini akan berhasil apabila kedua pihak sama sama merasa rela melakukan terapi. Salah satu saja merasa enggan untuk melakukan terapi maka terapi ini akan gagal. Jadi aku mohon kalian berdua sama sekali tidak merasa keberatan." Anggel menjelaskan bagaimana prosedur melakukan terapi berpasangan.


"Jadi aku akan bertanya kepada pribadi masing masing apakah siap atau tidak untuk melakukan terapi ini." lanjut Anggel


"Oke Kak. Untuk kak Aris ini adalah terapi perdana Kakak. Sedangkan untuk Gina ini adalah tahapan terapi terakhir. Kenapa saya katakan tahapan, karena saya tidak tau apakah akan membutuhkan waktu berapa lama saya tidak bisa mengatakan. Semua ini tergantung kekompokan kakak dan Gina." jelas Anggel kepada Aris dan Gina.


"Sekarang saya mau tanya kepada Kakak. Apakah Kakak merasa terpaksa atau bagaimana saat mau mengikuti terapi ini." Anggel bertanya kepada Aris.


Aris terdiam sesaat, dia harus memilih kata kata yang tepat.


"Terimakasih Kak. Sekarang kamu Gina. Pertanyaan aku sama dengan pertanyaan ke kak Aris. Apakah kamu terpaksa atau merasa terbebani dengan kita melakukan terapi berpasangan ini?" tanya Anggel sambil menatap ke Gina.


"Jujur saya sedikit merasa ragu." jawab Gina sambil menunduk.


Aris menatap Gina dengab tatapan tidak percaya, padahal Gina sendiri yang meminta untuk dilakukan terapi berpasangan. Anggel yang melihat tatapan Aris mulai tidak bersahabat dengan Gina, menegur Aris dengan memberikan kode.


"Sayang, kalau kamu tidak sanggup untuk terapi sekarang, kita bisa pulang. Kita akan cari waktu kapan kamu siap." kata Aris yang tidak ingin Gina merasa terbebani karena terapi ini.


"Gin, denger aku. Apa yang kamu takutkan untuk melakukan terapi ini?" tanya Anggel.


"Anggel, bisa kak Aris keluar dulu? Nanti baru aku jawab" kata Gina sambil menatap ke Aris sekilas.

__ADS_1


"Baiklah Anggel, saya akan menunggu di luar. Saya yakin Gina akan membicarakan hal pribadi dengan kamu." kata Aris sambil beranjak dari kursinya. Dia langsung melangkahkan kakinya kembali ke luar ruangan Anggel. Aris akan menunggu di depan pintu.


"Nanti akan aku panggil lagi kak." kata Anggel.


Anggel kemudian duduk kembali di kursinya. Dia melihat ke arah Gina. Anggel menangkap gelagat yang tidak baik. Anggel hanya diam saja, dia tidak mau memaksa Gina untuk berbicara terlebih dahulu.


"Gin" panggil Anggel. Gina sama sekali belum terlihat ingin berbicara.


"Anggel, aku sebenarnya bukan ragu tapi sedikit memiliki rasa takut dalam hati. Takut untuk memulai kembali. Takut untuk dipegang kembali." kata Gina.


"Gin, kamu nggak usah takut Gin, semuanya akan berada di dalam kendali. Aku berharap kamu bisa untuk melakukan terapi ini. Kemaren kemaren kemajuan kamu sudah cukup pesat. Kenapa sekarang harus mundur lagi Gina" kata Anggel.


"Kamu harus kembali semangat dan yakinlah semua terapi ini bisa kamu jalani kembali. Kamu harus yakin bahwasanya terapi terakhir yang akan kamu jalani ini berhasil." lanjut Anggel memberikan semangat kepada Gina.


"Anggel, aku takut semuanya tidak berjalan dengan baik Anggel. Aku takut semua orang sudah berharap penuh kepada aku." lanjut Gina mengutarakan semua isi hatinya.


"Gina. Gini aja kalau kamu tidak mau sekarang, maka kita tidak akan lanjut terapi berpasangannya. Kita hentikan terapinya. Kamu udah sembuh untuk diri kamu sendiri. Kita nggak bisa lanjut ke terapi pasangan kalau kamu seperti ini."


"Gin, satuhal kalau kamu tidak mau melakukan terapi berpasangan ini, maka semuanya sia sia Gin." tutur Anggel mengatakan semua yang harus diketahuu oleh Gina.


"Aku butuh waktu sebentar Nggel. Aku mau melakukannya. Tetapi beri aku waktu untuk menenangkan diriku dulu." kata Gina.


"Baiklah, kamu bisa memakai ruangan ini untuk menenangkan diri. Saat kamu sudah merasa oke, panggila aku keluar." kata Anggel sambil berjalan keluar.


Gina menenangkan dirinya sendirian. Dia menguatkan hati dan pikirannya untuk bisa melakukan terapi ini. Sedangkan Anggel duduk di sebelah Aris.


"Gimana Nggel?" kata Aris menatap penuh harap kepada Anggel.

__ADS_1


"Dia butuh waktu. Aku yakin dia pasti mau. Dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan dirinya kembali." kata Anggel sambil tersenyum meyakinkan kepada Aris.


__ADS_2