
Aris dan Bram yang telah sampai di Perusahaan Bramantya Grup memarkir mobilnya ditempat khusus untuk Gina memarkir mobil. Mereka berdua turun dari mobil, bersamaan dengan itu mobil Bayu juga parkir di tempat parkir khusus tamu utama presiden direktur. Bayu dan Mira turun dari mobil. Mira membawa dua kantong minuman sedangkan Bayu membawa tiga kantong yang berisi makanan.
"Kalain beli makanan juga?" tanya Aris yang melihat Bayu dan Mira membawa kantong kantong makanan.
"Lah mana mau kami makan gratis aja. Ya nggak lah. Makanya kami bawa juga." kata Bayu sambil mengangkat makanan yang dibawanya
"Hahahahaha. Dari kafenya sendiri ternyata." kata Bram sambil tertawa ngakak melihat kantong makanan yang dibawa oleh Bayu.
"Apa bedanya dengan tentengan lo kunyuk. Juga dari restoran sendiripun." balas Bayu.
Aris dan Mira berjalan meninggalkan dua sahabat yang heboh hanya gara gara dari mana mereka membawa makanan. Hal yang sangat tidak perlu di pusingkan.
Aris menuju ruangan Gina. Tetapi saat Aris membuka pintu ruangan, dia tidak melihat Gina berada di meja kerjanya.
"Maaf Tuan. Nona Gina sudah menuju ruangan presdir." kata seorang teman bagian Gina.
"Oh makasi kalau begitu." kata Aris sambil berbalik dan menuju ruangan Afdhal.
Aris membuka pintu ruangan di situ sudah ada Afdhal dan juga Anggel. Tanpa adanya Gina.
"Loh istri gue mana?" tanya Aris kepada Afdhal.
"Jemput Sari ke bagiannya." jawab Afdhal.
Aris kemudian duduk di sofanya. Dia menerima telpon dari Papi.
Gina menuju ruangan Sari. Dia sengaja menjemput Sari agar Sari tidak menolak ajakannya makan siang di ruangan Afdhal.
"Sar." panggil Gina.
"Elo Gin. Kebetulan makan luar yuk. Gue udah laper." kata Sari mengajak Gina untuk makan siang di luar.
"Gue memang ngajak loe makan siang, tapi di ruangan Uda. Kita makan rame rame." jawab Gina kepada Sari.
"Lah kok di ruangan presdir?" tanya Sari yang terlihat tidak mau untuk makan di sana.
"Santai aja, situasinya bukan antara presdir dengan bawahan. Kita makan siang persahabatan. Mira, Anggel dan Bayu juga ada." Gina menjelaskan kepada Sari, siapa saja yang akan ikut makan siang di ruangan Afdhal.
__ADS_1
"Oh baiklah. Gue ikut. Kita ke atas sekarang?" tanya Sari yang akhirnya setuju.
"Yup." jawab Gina.
"Kita pantry dulu ya. Narok gelas kotor gue." Sari mengangkat gelas habis dipakainya tadi.
Mereka berdua berjalan menuju pantry. Terlihat beberapa karyawan wanita sedang asik mebgobrol.
"Tau nggak, warung ayam geprek di simoang lampu merah tinju di gusur." kata seorang karyawan kepada temannya.
"Kok bisa? Padahal ayamnya enak, harganya ramah di kantong kita." timpal karyawan lain.
"Kata pemilik warung itu, pelayannya tidak sengaja menumpahkan teh panas ke baju orang kaya. Nah orang kaya itu marah marah, eeeee malahan dia minta ganti rugi biaya pengobatan. Pemilik warung tidak mau. Akhirnya datang orang orang pengusaha itu merobohkan warungnya." kata karyawan yang membawa cerita tidak benar itu dari luar.
Sari yang mendengar ingin rasanya mencabik mulut karyawan tersebut, tetapi di tahan oleh Gina.
"Susah ya kalau jadi orang kaya. Main libas orang miskin aja. Gue kalau ketemu sama orang kaya itu, gue akan siram dia dengan air teh panas juga." kata karyawan yang lainnya.
Gina yang mendengar langsung mendidih. Dia berbalik dak berlari menuju ruangan Afdhal. Mira yang melihat mengejar Gina begitu juga dengan Sari.
"Ada apa Sar?" tanya Mira yang penasaran melihat Gina lari dengan cepat, untung aja Gina memakai flatshoes.
Gina membuka pintu ruangan Afdhal dengan sangat kuat.
"Uda, aku mau kamu pecat tiga orang karyawati yang sedang bergosip di pantry." kata Gina dengan penuh emosi.
"Sayang, tenang dulu. Ceritain apa yang kamu dengar dengan perlahan sayang." kata Aris.
Gina yang melihat Aris langsung menggenggam tangan Aris. Dia ingin menyerap semua ketenangan yang dimiliki Aris. Anggel yang melihat langsung tersenyum bahagia.
'Pantesan nggak ke tempat gue lagi. Ternyata ini yang terjadi.' kata Anggel di dalam hatinya.
Gina menarik napas dalam dalam. Dia mencoba untuk tenang. Dia menenangkan kemarahannya.
"Sari aja yang cerita Uda. Aku takut emosi lagi nanti." kata Gina.
Sari kemudian menceritakan semua yang dikatakan oleh para wanita bagian pemasaran yang sibuk bergosip di pantry tanpa memperhatikan ekspresi Gina.
__ADS_1
"Jadi mereka mengatakan kalau kami tidak punya otak?" kata Aris dengan emosi.
"Kejadian sebenarnya gimana Ris?" tanya Afdhal yang tidak paham dengan apa yang terjadi.
Aris kemudian menceritakan semua yang terjadi. Bram juga menambahkan apa yang terjadi hari berikutnya, serta rencana pembangunan taman dan memberikan tempat yang layak bagi penjual keliling yang biasa mangkal di sana.
"Uda, aku nggak mau tau, uda harus pecat mereka semua uda." kata Gina dengan geramnya.
Gina sangat marah, mereka tidak tau apa yang terjadi tetapi sudah menghakimi dirinya dengan segitu kejamnya.
"Sayang, aku nggak mau penjual ayam geprek itu berada di taman yang kita bangun. Mereka seenaknya memutar balikan semua kejadian. Aku yang pertamanya simpati jadi maaf buat lebih kejam kepada mereka." kata Gina yang sudah sangat kesal.
"Oke sayang. Sekarang kita makan siang. Aku siap ini mau ke kantor Papi. Kamu mau ikut nanti siap makan?" tanya Aris.
"Nggak ah. Aku masih ada kerja. Lagian taman itu aku yang desain. Nggak boleh karyawan kamu." kata Gina sambil bergelayut manja dilengan Aris.
Mereka semua akhirnya makan siang dengan berbagai obrolan ringan. Emoat orang wanita karier itu sibuk bercerita tentang kegiatan nongkrong mereka hari minggu. Sedangkan empat pria pebisnis berencana akan melakukan kerjasama. Mereka berencana akan membangun sebuah villa mewah di pulau B.
"Sayang nanti aku jemput pulangnya." kata Aris.
"Tentu iya. Mana mau aku naik angkot lagi hamil gini sayang." jawab Gina.
"Sayang, ada pembicaraan apa sama Papi?" tanya Gina yang mulai kepo dengan urusan Aris.
Gina perlahan lahan sudah kembali seperti Gina yang dulu lagi. Aris senang dengan semua perubahan Gina kepada dirinya.
"Kurang jelas hmjuga sayang. Sepertinya sesuatu yang penting." jawab Aris sambil menatap Gina dengan tatapan memuja.
"Kak Bram juga diundang Papi?" tanya Gina lebih lanjut.
"Iya sayang." jawab Aris.
Gina mengantarkan Aris ke lobby kantor.
"Sayang, nanti sebelum ke sini beli es krim kemaren ya sayang. Aku mau es itu lagi." kata Gina tiba tiba sebelum Aris masuk ke mobil.
"Kita cari saat pulang aja ya. Nanti encer kalau aku yang bawa dari luar." jawab Aris.
__ADS_1
"Siplah kalau gitu" jawab Gina yang setuju dengan usul Aris.
Selesai makan mereka semua kembali ke pekerjaan masing masing dan kembali ke kantor masing masing. Begitu juga dengan Gina yang langsung mendesain taman bermain yang dibangun Aris.