
Hubungan Aris dan Gina selalu saja romantis. Mereka terus menjaga komunikasi untuk mempererat tali hubungan yang sudah ada. Hari itu Gina sedang terkendala dalam skripsinya. Gina sangat panik, Gina tidak tau lagi mau minta tolong sama siapa lagi. Akhirnya Gina menghubungi Aris yang sedang berada di Negara F.
Gina meraih ponselnya yang terletak di samping laptopnya. Gina langsung mencari nama Aris di ponselnya. Nama yang tertulis disana adalah CEOku. Gina kemudian menelpon Aris. Pada panggilan kelima saat Gina sudah mulai frustasi menghubungi Aris, barulah Aris mengangkat telpon dari Gina.
"Assalamualaikum Hon." kata Gina.
"Walaukumsalam Sun. Ada apa telpon tengah malam begini?" kata Aris yang melihat jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul satu tengah malam.
"Maafkan aku Hon. Aku sedang panik kali hon." kata Gina, nada bicara Gina benar benar terdengar dalam keadaan panik.
Aris yang mendengar nada suara Gina langsung duduk dari tidurnya. Rasa kantuknya langsung lenyap seketika.
"Ada apa Hon?" tanya Aris tidak sabar.
"Udah tiga sketsa yang aku ajuin ke dosen pembimbing Hon. Masih tetap dikatakan tidak sempurna. Aku udah buntu otak Hon. Bagaimana lagi ini Hon. Aku nggak mau nambah satu semester lagi Hon." Gina mulai terisak.
"Sun, sabar ya. Besok aku pulang. Aku akan bantu kamu membuat sketsa yang baru. Sabar ya, pagi pagi sekali aku akan terbang dan akan sampai malam siang besok satu lagi di negara kita. Kamu sabar ya Sun." Aris menenangkan Gina.
"Tapi apa pekerjaan Hon disana udah selesai?"
"Udah sun tenang saja. Aku sengaja nggak ngomong akan pulang besok agar menjadi kejutan. Eee kiranya kamu yang ngasih kejutan ke aku Hon, dengan tangis manjamu itu."
"Pastikan Sun. Kamu pulang besok?"
"Iya sayang aku akan terbang besok habis sholat subuh. Kamu jangan khawatir ya. Sekarang mumpung disana masih sore kamu pergi jalan jalan, atau nengok kebun bunga Nana. Aku mau tidur dulu Sun, ngantuk."
"Oke sip Hon. Tidur yang nyenyak. Terimakasih atas bantuannya Hon. Aku mandi dulu, siap itu pergi ke tamab. Selamat malam Hon. Assalamualaikum"
"Waalikumsalam. Selamat tidur juga Sun. Untuk nanti malam." kata Aris.
Gina kemudian menutup panggilannya dengan Aris. Gina kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Aris kembali tertidur. Dia harus bangun tiga jam lagi.
Aris terbangun tepat saat azand subuh berkumandang. Aris mengambil handuknya dan kemudian masuk kedalam kamar mandi. Aris mandi membersihkan tubuhnya lalu dia melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat subuh Aris menuju kamar Bram. Bram ternyata sudah menunggu Aris di meja makan. Mereka sarapan ringan terlebih dahulu sebelum terbang
"Bram, loe kenal siapa dosen pembimbing Gina nggak Bram?"
"Nggak Ris. Emang kenapa?"
"Gina udah tiga bikin sketsa kafe dengan tema remaja zaman sekarang, tetapi tak satupun yang diterima pembimbingnya. Padahal kita taukan bagaimana sketsa Gina. Kita aja udah make untuk empat restoran kita. Semuanya hasil survey menyatakan bagus. Nggak habis pikir gue sama tu dosen."
"Gue cari tau bentar Bram. Gina kuliag dikampus kita. Jadi gampang itu mencari tau siapa dosennya."
"Sip. Gue serahin ke elo. Kita sampe kan siang di negara kita. Loe langsung ke kampus sedangkan gue ke rumah Gina. Oke."
"Dasar bucin baru juga seminggu nggak ketemu udah gini. Apalagi setahun. Nggak kebayang gue." Bram geleng geleng kepala tidak yakin dengan perubahan Aris.
"Makanya pacaran, biar tau rasanya gimana. Ini nggak udah karatan jomblo pulak lagi" ejek Aris kepada Bram.
Mereka berdua selesai sarapan. Aris dan Bram langsung diantar sopir menuju bandara, pesawat sudah stanbay di runway menunggu kedatangan mereka berdua.
__ADS_1
Saat baru saja pesawat mengudara dengan stabil. Aris kemudian masuk kedalam kamar yang tersedia di pesawat. Aris kemudian tertidur sangat lama. Begitu juga dengan Bram. Mereka tertidur sampai pesawat sudah mendarat di bandara negara K untuk pengisian bahan bakar. Aris tidak pergi kemana mana. Mereka istirahat hanya sekitar dua jam paling lama. Semua kru pesawat saat pesawat melakukan pengisian bahan bakar mereka menyantap makanan di dalam pesawat. Sedangkan Aris dan Bram hanya duduk memainkan ponsel mereka. Aris gatal ingin mengirim pesan kepada Gina. Tetapi Aris berpikir di negara I pasti sedang tengah malam, Aris tidak mau mengganggu tidur Gina. Aris akhirnya kembali tidur di kursi pesawat. Bram ternyata sudah tidur dari tadi. Perjalanan dilanjutkan oleh pilot saat semua sudah siap. Perjalanan lebih kurang tujuh jam akan kembali mereka tempuh. Aris ditengah perjalanan terbangun karena getaran ponselnya. Aris mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Terlihat sebuah notifikasi pesan.
βοΈ Gina
Hon, jadi pulang?
βοΈAris
Jadi sun. Ini udah diatas samudra. πππ
βοΈ Gina
Jadi udah separo jalan. Bener Hon?
βοΈ Aris
Hm. Ngapain boong.
βοΈ Gina
π₯°π₯°ππ. Aku mandi dulu Hon mau kampus. Semoga aja tu dosen menerima sketsa yang ini.
βοΈ Aris
Semangat sayang. Aku kerja bentar ya.
βοΈ Gina
βοΈ Aris
Nuach. Yup
Gina kemudian pergi membersihkan badannya. Gina akan melihatkan sketsa terakhir yang mampu dibuatnya., kalau masih tidak diterima maka Gina akan meminta Aris membuat sketsa sedangkan dia yang akan memberikan idenya. Gina mandi sambil bersenandung kecil, Gina sangat bahagia karena Aris sudah pulang.
Aris melanjutkan memeriksa laporan bembangunan perusahaannya yang baru di negara F. Sebenarnya Aris belum bisa pulang, tetapi karena calon Ibu Negara sedang panik, makanya Aris memaksa untuk pulang. Bram yang juga sudah bosan berada dinegara F setuju saja untuk pulang. Lagian pekerjaan di situ tinggal memeriksa laporan pembangunan, yang bisa dikerjakan Aris dan Bram di negara I. Seandainya ada ketidaksesuaian antara laporan dan pembangunan maka Aris akan melakukan rapat virtual dengan mereka yang bertanggung jawab. Selama enam jam Aris dan Bram memeriksa laporan pembangunan serta memperhatikan setiap sudut bangunan kantor itu mereka tidak menemukan hal hal yang mencurigakan.
"Gimana Bram?"
"Suai Ris. Nggak nyesal kita pulang cepat. Ternyata syok terapi yang kemaren berhasil membuat semua karyawan berbuat jujur tanpa ada yang menyelewengkan anggaran."
"Yup. Gue setuju dengan loe."
Mereka kemudiab berbincang bincang ringan, tiba-tiba ponsel Bram berdering tanda panggilan masuk. Bram langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
"Hallo Assalamualaikum wr wb."
"Waalaikumsalam." jawab Bram.
"Tuan Bram. Ini saya Dion, direktur di Negara F."
__ADS_1
"Yup, ada apa Dion?" kata Bram.
Bram kemudian melirik kearah Aris. Aris meminta memakai loadspeakers. Bram mengaktifkan spekear ponselnya.
"Begini Tuan Bram. Sebelumnya saya meminta maaf telah mengganggu penerbangan tuan Bram. Saya mau konsultasi tentang kerjasama yang ditawarkan oleh perusahaan Z. Saya tau kalau saya pengambil keputusan." Dion terdiam.
"Lanjut" perintah Bram.
"Setelah saya membaca isi proposal kerja sama yang diajukan saya melihat di dalamnya ada beberapa keanehan Tuan Bram. Saya agak ragu mengambil keputusan. Takutnya apa yang saya cemaskan itu terjadi. Bagaimana menurut Tuan Bram?"
"Begini saja Dion. Kamu kirimkan proposal kerjasama itu je email saya. Nanti sampai di negara I akan saya pelajari dulu motif mereka mengajukan kerjasama dengan kita. Kamu tenang saja jangan takut. Kalau mereka datang kamu katakan saja sedang dianalisa dulu."
"Baiklah tuan Bram. Terimakasih atas saran dan bantuannya. Sebantar lagi akan saya kirimkan file kerjasamanya dengan kita."
Bram kemudian mematikan sambungan telponnya dengan Dion. Bram tidak menyangka perusahaan Z telah dengan berani mengusik perusahaan mereka.
"Gimana Bram?" tanya Aris
"Seperti yang loe dengar Ris. Menurut loe bagaimana?" tanya Bram. Bram tau Aris pasti meminta dia membuka peluang kerjasama itu. Aris adalah tipe petarung dalam berbisnis.
"Gue baca dulu Ris proposalnya. Setelah itu kita akan mengambil tindakan yang paling tepat. Kita lihat sejauh mana dia akan mengganggu perusahaan. Baru setelahnya kita balas." mata Bram terlihat sangat dingin dan kejam.
"Orang bilang gue yang kejam dan tidak punya hati. Padahal sebenarnya itu cocok untuk loe Bram. Hahahahahha"
"Ye"
"Bram yang meriksa proposal kerjasama loe ya. Gue mau ke kampus Gina langsung saat mendarat. Jadi loe minta Roy menyediakan dua mobil untuk kita. Atau kalau loe malas nelpon Roy, loe naik taksi aja ke kantor atau ke rumah utama." Aris melirik Bram. Aris tau Bram sangat membenci Roy, tapi karena kinerja Roy mantap akhirnya Bram berdamai dengan rasa tidak sukanya.
"Ya udah gue naik taksi online aja. Malez gue nelpon tu makhluk." Bram terlihat kesal.
"Bram kejadian itu udah lama banget. Napa loe nggak bisa maafin dia. Lagian sukur juga kali Bram, Roy nikung elo. Kalau ndak loe akan kena tipu seperti Roy. Mau loe berada diposisi Roy?" tanya Aris.
Bram langsung menggeleng. "Mana mau gue. Dari super kaya jadi nggak punya apa apa karena cinta. Capek deh." kata Bram.
"Makanya damai tuh dengan Roy."
"Gue pikir dulu." jawab Bram.
Tak terasa pesawatpun sudah landing. Mereka sampai juga akhirnya di negara I. Pramugari membuka pintunkeluar pesawat. Terlihat di depab tangga pesawat dua mobil mewah sudah parkir. Bram pun kaget. Dia tidak ada menghubungi Roy. Bram melihat Aris. Aris pun mengangguk.
"Loe kira gue tega nengok loe harus naik taksi online. Mana ada gue tega."
"Loe terbaik." Bram kemudian membuka pintu mobilnya.
Aris juga membuka pintu mobilnya.
"Jadi ke kampus?" tanya Bram.
"Yup. Sampai jumpa di rumah. Besok aja baca proposal sialan itu. Mending sampe rumah loe istirahat."
__ADS_1
"Tumben baik. Hahahahahaa"
Dua mobil mewah itu pergi meninggalkan bandara menuju tujuan mereka masing masing. Aris ke kampus menemui Gina. Sedangkan Bram tidak jadi langsung ke rumah utama, tetapi dia ke kantor terlebih dahulu untuk memeriksa beberapa laporan yang terbengkalai karena mereka harus mengurus perusahaan di negara F.