
Nana, Freya dan Rani naik ke atas mobil yang di kemudikan oleh Juan. Sedangkan Daddy, Daniel naik ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Argus. Dua mobil hitam mewah di tambah dengan dua mobil pengawal bergerak meninggalkan mansion utama keluarga Soepomo.
"Gila Uda Juan ngebut banget bawa mobil. Sampai sampai dia motong pengawal" ujar Argha sambil menatap tidak percaya ke arah mobil yang dibawa oleh Juan.
Mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Juan benar benar mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. Juan sudah tidak sabar lagi ingin cepat sampai di rumah sakit.
Daddy yang melihat cara Juan membawa mobil langsung mengambil ponsel miliknya. Daddy menghubungi Juan saat itu juga.
Juan yang merasa ponselnya bergetar mengambil ponsel tersebut dari dalam saku celana miliknya. Juan mengangkat panggilan itu.
"Hallo Daddy? Ada apa?" tanya Juan saat dia mengangkat panggilan telpon dari Daddynya.
Juan memasang ponselnya yang langsung tersambung dengan speaker mobil.
"Juan, kamu bawa mobil tolong lebih pelan. Daddy tidak mau kehilangan Nana kamu Juan. Ada dengar Juan" ujar Daddy yang langsung saja menghubungi Juan.
"Maaf Daddy, aku akan pelan pelan" ujar Juan yang kaget dapat teguran keras dari Ayahnya.
"Sekali lagi mengebut. Daddy akan langsung menggantikan kamu membawa mobil" ujar Daddy mengeluarkan ancamannya kepada Juan.
"Siap tidak Daddy. Aku akan membawa mobil dalam kecepatan pelan" ujar Juan yang langsung memelankan laju mobilnya.
Argha menatap tidak percaya ke arah Daddy nya itu. Aris langsung menghubungi Juan saat nyawa Ghina, istri tercintanya itu terancam karena Juan membawa mobil dalam kecepatan tinggi.
"Daddy daddy kok langsung nelpon ke Uda Juan coba. Uda Juan pasti sudah mempertimbangkan kecepatan dan juga efeknya ke dia dan semua orang yang ada di dalam mobil daddy" ujar Argha kepada Daddy nya yang super protektif kalau sudah berurusan dengan Ghina istri yang paling disayanginya itu.
__ADS_1
"Kamu belum merasakan bagaimana punya istri. Tanya Uda Daniel kalau kamu mau tau. Daniel sebenarnya udah dari tadi mau nelpon Juan. Tetapi dia segan, kecemasan Daniel sama dengan kecemasan Daddy" ujar Aris menjawab pertanyaan dari Argha anak bontot nya yang belum menikah itu.
"Bener Gha. Saat kamu mempunyai seseorang yang harus kamu jaga dan lindungi, kamu akan berubah menjadi seorang pria yang overprotective sangat. Jangankan untuk membiarkan dia naik mobil dengan sangat ngebut seperti tadi. Digigit semut aja kamu akan sangat marah" ujar Daniel menambahkan pernyataan yang diberikan oleh Daddy mereka.
"Ntah kapan Uda. Semua wanita yang dekat dengan Argha tujuan mereka hanya satu. Harta dan juga di jaga pengawal kemana mana biar keren" ujar Argha sambil menatap ke arah Daniel yang duduk di sebelahnya saat ini.
"Sabar. Uda dulu juga begitu, akhirnya saat Uni Rani mentrapi kamu, uda bertemu dengan dia. Akhirnya ya seperti sekarang ini. Jodoh, maut, rezeki tidak ada yang tau Argha" ujar Daniel yang mengingat bagaimana dia bisa bertemu dengan Rani yang sekarang menjadi istrinya dan juga sudah memberikan dia anak satu.
"Daddy yakin akan ada seorang wanita yang sangat baik dan mencintai kamu untuk mendampingi kamu ke depannya" ujar Aris memberikan motivasi kepada anaknya itu.
Akhirnya keempat mobil sudah masuk ke dalam komplek rumah sakit harapan kita yang dimiliki oleh GA Grub. Keempat mobil berhenti di depan lobby rumah sakit. Beberapa orang dokter sudah menunggu kedatangan keluarga besar pemilik rumah sakit tersebut.
"Maaf Nyonya besar, siapa yang sakit?" tanya seorang dokter yang bertugas sebagai dokter jaga pada malam itu.
"Sudah dokter, kedua dokter sudah berada di dalam ruangan mereka" jawab dokter jaga memberitahukan kepada Daniel kalau kedua dokter yang dihubungi oleh Daniel tadi sudah berada di ruangan mereka.
"Nana, ayo kita langsung saja ke sana Nana. Kita akan memastikan apakah hasil tes itu benar" ujar Daniel membawa Daddy, Nana dan semua keluarganya menuju ruangan dokter kandungan yang tadi sudah di hubungi oleh Daniel.
Semua keluarga besar Bramantya berjalan menuju ruangan dokter kandungan dengan mengikuti Daniel dari belakang.
"Uni, apa bener aku hamil ya? Kalau nggak, betapa malu dan sedihnya aku nanti" ujar Frenya yang sangat takut kalau hasil dari pemeriksaan dengan dokter kandungan berbeda dengan hasil tes yang dilakukan oleh Frenya dan Rani tadi di mansion utama.
"Tenang aja Nya. Biasanya kalau tes yang dilakukan malam hari itu positif, sangat jarang hasilnya berbeda dengan kita tes bersama dokter." ujar Rani berusaha menenangkan perasaan Frenya dari rasa paranoid.
"Kamu yakin Uni?" tanya Frenya sekali lagi kepada Rani.
__ADS_1
"Yakin. Kamu tenang aja, hasilnya akan sesuai dengan yang kamu harapkan" ujar Rani lebih meyakinkan Frenya lagi.
"Baiklah aku akan mengurangi rasa takut da cemas aku" ujar Frenya sambil berjalan dengan santai di sebelah Rani.
Sedangkan Juan menatap ke arah Frenya. Juan sangat bahagia kalau memang benar istrinya itu hamil. Buah dari usaha mereka selama dua tahun walaupun dengan curi curi kesempatan disaat senggang. Juan dan Frenya sudah sangat lama merindukan hal ini. Merindukan kehadiran Bayi yang menangis di tengah tengah keluarga kecil mereka.
"Uni, kalau uni hamil dan ada keponakan aku di sana. Maka, aku akan menggantikan tugas uni memimpin semua perusahaan kita. Uni silahkan tidur tidur aja di mansion." ujar Argha berkata sambil berjalan dengan santainya menuju ruangan dokter kandungan.
"Yakin kamu Gha, kalau Uni hamil kamu akan menggantikan semua pekerjaan uni?" tanya Ghina kepada Argha.
Ghina da Aris sudah sangat lama ingin memberikan beberapa perusahaan kepada Argha. Tetapi, Argha selalu berdalih kalau dia masih kuliah. Makanya terpaksa Frenya yang menghandle semua perusahaan. Padahal seharusnya sudah Argha yang mengurus.
"Yakin Nana. Apapun demi Uni dan Uda, Argha pasti akan siap membantu mereka. Apalagi Uni sudah sangat lama menunggu hal ini terwujud jadi Argha siap menggantikan posisi Uni di perusahaan. " ujar Argha yang memang sudah saatnya mengambil alih perusahaan itu.
"Bagaimana Uni?" tanya Ghina kepada Frenya yang berjalan bergandengan dengan Rani
"Setuju sangat Nana. Kalau memang aku positif, maka aku sangat senang Argha bisa memimpin perusahaan. Jadi, aku bisa beristirahat sebentar dari dunia bisnis yang bener bener menguras tenaga dan pikiran. Aku mau fokus ke dia dulu kalau dia memang ada di dalam sini" ujar Frenya sambil mengusap perutnya itu.
Frenya sungguh berharap, apa yang diinginkan dia, Juan dan semua anggota keluarganya benar benar terkabul dan memang ada di dalam sana.
"oke Gha. Uni setuju. Jadi, nanti akan kita dengar dulu apa hasil pemeriksaan dokter." ujar Ghina menatap anak bungsunya yang ternyata sekarang sudah dewasa dan tau arti tanggung jawab.
"sip nana" jawab Argha.
Argha berharap Frenya betul betul hamil. Argha sudah tidak sabar lagi ingin melihat Ini nya berbahagia karena sedang mengandung itu.
__ADS_1