
Argha mendengar semua pembicaraan antara Frenya dengan Bree yang sedang membicarakan tentang seorang perempuan yang sangat mengejar ngejar Argha. Tetapi memang benar Argha sama sekali tidak memberikan responnya kepada wanita itu. Argha tetap dengan gaya dingin sedingin freezer kepada semua wanita kecuali kepada Bree.
"Tau nggak uni, Argha itu kan manusia paling dingin lebih dingin dari daerah kutub kepada semua perempuan yang ada di kampus. Apa yang kurang sama Uni kan ya, mulai dari artis, penyanyi, model, sampai dengan anak pejabat, anak konglomerat semua naksir sama Argha. Argha ya ghitu tetap dengan mode kulkas freezernya." ujar Bree menceritakan bagaimana Argha di kampus dan betapa banyak wanita yang menggilai dirinya selama ini.
"Tau nggak Uni, bahkan ini ya, mulai dari wanita yang cantiknya bener bener asli cantik, sampai dengan wanita yang cantiknya karena operasi plastik dan bahkan hasil karya dompolan semua naksir sama Argha, mereka semua mengejar ngejar Argha. E e e e e Adik bontot Uni itu malah dengan santainya mengelak, dia sama sekali nggak menggubris Uni" lanjut Bree menceritakan bagaimana Argha yang sangat dipuja puja wanita di universitas tempat mereka menuntut ilmu.
"Berarti semua wanita dari kalangan manapun, cantiknya alami atau dompolan, semua suka sama dia?" tanya Frenya sambil menunjuk kursi di depannya yang ada Argha sedang serius menguping.
Frenya sudah tau kalau Argha menguping dari kode yang diberikan oleh asisten pribadinya yang bernama Vian. Frenya juga memberikan kode itu kepada Bree agar Bree terus saja bercerita. Bree memakan kode yang diberikan oleh Frenya, kapan lagi dia bisa mengeluarkan semua unek unek yang dirasakan oleh dirinya di depan orang yang membuat dia memiliki unek unek itu.
"Iya Uni, malahan ini ya Uni, yang bikin nggak asik itu, kalau para wanita itu udah kelewat batas, maka dengan gampangnya adik Uni mengatakan kalau aku adalah tunangannya." ujar Bree mengadukan semuanya kepada Frenya.
"Haha haha haha" ketiga asisten tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Bree kepada Frenya.
"Ngapain kewata?" ujar Bree
Bree memandang tajam kearah ketiga asisten yang tertawa ngakak saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bree kepada Frenya.
"Nona Nona bagaimana kami tidak tertawa, Tuan Muda saja sudah sampai tersembur air dari mulutnya saat mendengar apa yang Nona Bree katakan tadi" ujar Vian mewakili menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bree kepada mereka bertiga.
Seorang pelayan membawa kain lap untuk mengelap air yang tumpah karena ulah Argha yang kaget dan tidak menyangka hal itu juga akan dikatakan oleh Bree kepada Frenya. Argha mengira tadi Bree hanya mengatakan kalau dia di puja oleh seluruh wanita yang ada di Universitas itu, ternyata tidak sama sekali. Bree melewati batasan yang ada di dalam pikiran Argha. Makanya saat Bree bercerita hal itu, Argha yang sedang minum menyemburkan kembali airnya dari dalam mulut dan menumpahkan sisa air minum yang masih ada di dalam gelasnya ke atas lantai.
"Oooo jadi kamu pura pura tidur hah" ujar Frennya pura pura tidak tahu kalau dia tahu Argha menguping dari tadi.
__ADS_1
Frenya kemudian memukul kepala Argha dengan bantalan kursi yang ada di pesawat.
"Au Uni main kekerasan aja. Lagian siapa suruh coba ngegosipin orang. Seneng kali membicarakan adiknya sendiri" ujar Argha membela dirinya.
"Lagian Uni dari siapa tahu coba kalau ada cewek yang luar biasa agresifnya mengejar aku dan namanya sama dengan nama Uni?" tanya Argha yang heran kenapa Uninya bisa tahu tentang gadis yang terlalu terobsesi dengan dirinya itu.
Kalau saja Argha tidak mendengar percakapan antara Frenya dan Bree tadi, maka otomatis Argha akan menuduh Bree yang mengatakan kepada Frenya. Nyatanya tadi Bree juga kaget saat mendengar Frenya bertanya tentang wanita itu.
"Argha Argha, mana ada yang bisa disembunyikan tentang keluarga Soepomo Wijaya. Ke ujung dunia, bahkan ke lubang semutpun kamu bersembunyi semua berita tentang keluarga kita akan tetap tersebar dengan cepat" ujar Frenya menjawab pertanyaan dari Argha, kenapa Frenya bisa sampai tahu tentang Argha yang dikejar kejar oleh seorang wanita yang sangat menggilai dirinya itu.
Argha memutar kursi tempat dia duduk untuk menghadap kearah Frenya dan Bree. Argha sudah memutuskan untuk tidak tidur selama perjalanan pertama ini, tetapi setelah transit di negara J, Argha pastikan dia akan kembali tidur dan tidak mau diganggu oleh siapapun dan obrolan apapun.
"Itulah Uni yang membuat Argha heran. Kita bukan artis dan bukan juga dari keluarga artis, ntah kenapa mereka semua kepo dengan urusan keluarga kita. Argha masih ingat sampai sekarang masalah Nenek, semua media berlomba lomba untuk mendapatkan berita yang paling benar dan paling terbaru. Argha benar benar tidak mengerti dengan mereka. Mereka tidak membiarkan kita hidup tenang" ujar Argha kepada Frenya.
"Biarkan saja Gha, selagi mereka tidak melewati batasannya. Kalau sudah lewat batasan, maka kita akan basmi mereka seperti yang sudah sudah" ujar Frenya sambil tersenyum kepada Argha.
"Argha tau pasti Uni sekarang yang memimpin grub yang dipimpin Nana dulu kan ya?" ujar Argha saat melihat senyum khas Frenya itu.
"Siapa lagi, sebentar lagi akan Uni kasihkan ke kamu. Selesai kamu kuliah satu tahun lagi, maka siap siap mengambil kepemimpinan kelompok tersebut. Sekarang yang terpenting kamu fokus kuliah, yang lain serahkan ke Uni dan Uda. Kamu jangan pikirkan hal itu dulu" ujar Frenya yang meminta Argha untuk tidak memikirkan bisnis dan kelompok yang selama ini menjaga keluarga mereka.
"Aman itu Uni. Siap Argha kuliah serahkan semuanya kepada Argha." ujar Argha dengan senyum yang sama dengan senyum yang ditampilkan oleh Frenya tadi.
Bree hanya bisa melihat saja. Bree memang bagian dari keluarga Soepomo, tetapi tidak kandung, karena Bree adalah anak dari sahabat Nana dan juga sahabat Daddy. Tapi Bree tetap mendapatkan perlakuan dan pengawalan yang sama dengan yang didapatkan oleh Argha. Tuan besar Aris Soepomo tidak akan membiarkan Bree tidak di kawal di luaran sana.
__ADS_1
"Oh ya Gha, tadi Bree mengatakan kalau kamu sempat menggunakan dia sebagai tameng dari para wanita pemuja kamu itu, apa benar begitu?" tanya Frenya kepada Argha.
Argha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap lurus ke mata Bree. Argha melihat sesuatu dalam mata itu yang hanya ditujukan untuk Argha seorang. Bree juga melihat hal yang sama dari pandangan mata Argha untuk dirinya. Bree juga tidak pernah melihat Argha menatap seperti itu kepada seorang wanita manapun.
"Bener Uni, hanya Bree satu satunya wanita yang mengerti Argha. Makanya Argha sering sekali kalau sudah pusing dengan semua wanita itu, akan mengatakan kalau Bree adalah tunangan Argha" ujar Argha membenarkan apa yang dikatakan oleh Bree tadi.
"Argha ini maaf ya, Uni sengaja mengatakan hal ini di depan Bree dan di depan ketiga pengawal kita. Uni paham dengan tatapan kalian berdua. Uni tidak melarang atau mencegah, sama sekali tidak. Tapi pesan Uni sama kalian berdua hanya satu, kalian boleh menjalin hubungan tetapi harus jujur kepada kedua orang tua kalian masing masing." ujar Frenya sambil menatap kedua adiknya itu.
"Uni mendukung kok kalau kalian ada hubungan, tetapi mintalah izin dulu kepada Daddy dan Nana, serta Papi Bayu dan Mami Mira terlebih dahulu" lanjut Frenya.
Argha dan Bree ternganga mendengar apa yang dikatakan oleh Frenya tadi. Mereka berdua sama sama tidak menyangka kalau Frenya bisa membaca arti tatapan dari mata mereka berdua.
"Udah santai aja, sekarang tergantung kalian berdua. Apa mau menjalin hubungan itu atau tetap kayak gini, saling suka tapi takut mengakui. Menyimpan rasa itu berat sekali, Uni pernah merasakannya karena takut ngomong sama Daddy dan Nana. Akhirnya saat Uni telah mengatakan kepada Daddy dan Nana, mereka berdua mendukung keputusan Uni, akhirnya apa? Uni bahagia dengan Juan, kami berdua bisa menjalin hubungan dengan nyaman tanpa sembunyi sembunyi lagi" ujar Frenya memberikan nasehat kepada kedua adiknya itu.
"Sekarang terserah kalian berdua. Tapi saran uni, katakan saja kepada mereka berempat. Uni yakin mereka nggak akan melarang, malahan mereka akan sangat senang kalau kalian berdua menjalin suatu hubungan" ujar Frenya memberikan semangat dan dukungan kepada Argha dan Bree.
Argha dan Bree sama sama mengangguk. Mereka sepakat untuk mengatakan kepada kedua orang tua masing masing tentang rasa yang ada di dalam perasaan mereka saat ini.
"Baik Uni, aku akan ngomong sama Daddy dan Nana" ujar Argha
"Aku juga akan ngomong dengan Papi dan Mami" sambung Bree
"Keren" jawab Frenya yang sangat mendukung kedua adiknya itu
__ADS_1