Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Anak Angkat Gina #1


__ADS_3

Mobil Bram dan Bayu berbelok masuk ke dalam pintu gerbang utama rumah keluarga Soepomo. Mereka masih harus melakukan perjalanan sepanjang lima ratus meter barulah bertemu gerbang rumah utama. Satpam membuka pintu gerbang saat melihat wajah Bram yang terbaca sensor. Satpam terpaksa membuka sensor wajah karena mobil yang dipakai Bram tidak mobil yang berada di rumah utama.


Bram dan Bayu parkir di tempat parkir biasa. Mereka semua langsung turun. Berhubung mereka samlai bertepatan dengan azand maghrib, mereka semua langsung menuju mushallan untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaan.


Selesai sholat Maghrib, keluarga besar Soepomo menuju ruang makan. Mereka semua akan makan malam bersama.


Aris dan Gina yang tidak ikut sholat berjamaah baru turun dari kamar saat keluarga mereka sudah berkumpul di ruang makan. Betapa terkejutnya Gina saat melihat seorang pria tampan yang duduk di sebalah Bram. Gina langsung berlari turun dari tangga.


"Gina" teriak Aris yang kaget melihat Gina berlari turun.


"Maaf sayang." jawab Gina yang sadar dia telah teledor dengan memilih berlari menuju ruang makan.


Saat sampai di ruang makan Daniel langsung berdiri dan menyalami Gina serta Aris. Aris merasa heran dengan pria itu.


"Sayang?" tanya Aris kepada Gina.


"Baiklah, sebelumnya pasti Suamiku, Papi, dan Mami pasti berpikir pria muda itu siapa. Kenapa saat Gina melihat dia langsung berlari tanpa sadar untuk menemuinya." kata Gina sambil tersenyum melihat Aris.


Gina mencium pipi Aris dengan mesra. Gina tidak ingin Aris salah menduga dengan dirinya.


"Sayang, dia adalah anak angkat aku. Jadi selain Blip aku sudah punya anak angkat dua orang. Salah satunya adalah Daniel. Sedangkan yang satu lagi bernama Frenya." lanjut Gina.


"Daniel ini merupakan lulusan dokter dengan spesialisasi penyakit dalam. Dia baru lulus S2 dari universitas O negara E sayang. Aku nggak tau dia udah pulang, karena nggak ada ngomong juga." kata Gina kepada Aris.


Aris memeluk Gina dengan kuat.


"Sayang aku sangat bangga dengan dirimu sayang. Aku nggak tau harus mengatakan apa lagi." kata Aris yang sudah menghilangkan keraguannya tentang pria muda tampan itu.


"Sayang, kita perkenalan di ruang keluarga ya. Sekarang kita makan dulu. Kamu nggak boleh telat makan sayang." kata Mami kepada Gina.


"Oke Mami." jawab Gina.


Mereka kemhdian makan, Gina mengambilkan Aris makanan. Begitu juga dengan Mira dan Sari mengambilkan Bram dan Bayu makan malam mereka. Sedangkan Daniel diambilkan oleh Mami.

__ADS_1


Selesai makan mereka semua berpindah ke ruang keluarga. Papi dan Mami penasaran dengan siapa Daniel sebenarnya.


"Daniel bisakah kamu menjelaskan kepada kami siapa kamu sebenarnya nak?" kata Papi kepada Daniel.


Daniel melihat ke arah Gina. Gina mengangguk menyetujui Daniel untuk mengungkapkan jati dirinya. Daniel kemudian berdiri.


"Terimakasih kepada keluarga besar Bunda Gina. Di sini saya Daniel ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada Bunda sudah mau membesarkan Daniel sampai Daniel seperti ini. Bener bener terimakasih Bunda." kata Daniel sambil menghapus air matanya yang hampir jatuh.


"Saya dahulunya adalah anak gembel yang tidak punya orang tua. Saat itu saya mencuri ponsel Bunda di jalan. Bunda berhasil menangkap saya. Bunda bertanya kepada saya, apakah saya masih ingin sekolah. Saat itu saya jawab ke Bunda, saya mau tetapi tidak ada biaya." lanjut Daneil.


"Hari itu Bunda membawa saya masuk ke dalam mall terbesar di ibu kota. Bunda membelikan saya baju dan semua perlengkapan yang saya butuhkan. Tiga hari kemudian Bunda membawa ke luar Negeri ke negara E. Saya belajar di sana. Saya berjanji kepada Bunda, saya tidak akan pulang sampai saya menjadi orang yang bisa dibanggakan oleh Bunda." lanjut Daniel.


"Saya pulang baru dua hari yang lewat. Saya pulang karena saya sudah yakin saya sudah menjadi orang sukses. Makanya saya berani menatap Bunda dengan kepala tegak. Janji saya sudah saya penuhi." kata Daniel.


"Apapun yang diusahakan Bunda di sini, saya balas dengan belajar sungguh sungguh. Saya tidak ingin usaha Bunda menyekolahkan saya dengan biaya besar harus terbuang percuma. Sekali lagi saya katakan terimakasih bunda. Makasih sudah mengangkat saya dari jurang terbawah kehidupan. Makasih sudaj menjadikan Daniel anak yang berguna." kata Daniel.


Gina berdiri dan berjalan memeluk anaknya itu. Gina sangat bangga dengan Daniel. Putra angkatnya yang dia temui karena suatu kesalahan, berkat keinginan dan kegigihannya, Daniel berhasil menjadi seorang anak yang sukses. Aris juga memeluk Gina dan Daniel. Mami dan Papi tersenyum bahagia melihat menantunya itu.


"Daniel, mulai sekarang kamu tinggal di sini. Tidak di luar lagi. Kamu adalah anak Gina. Maka kamu berhak memakai nama Soepomo di belakang nama kamu. Semua surat surat akan diselesaikan besok oleh semua sekretaris Atuk." kata Papi yang sudah memanggil dirinya dengan sapaan Atuk.


Mereka yang mendengar langsung tertawa bahagia. Daniel membawa warna baru di rumah utama Soepomo.


"Ya Mami panggil tetap dipanggil Oma. Papi tetap Atuk." jawab Papi.


Mereka kemudian mendengar cerita Daniel bagaimana dia hidup di negara orang. Padahal dia masih dalam umur yang kecil. Mereka mendengar cerita Daniel dengan penuh kebanggaan.


Hari beranjak malam.


"Yang ayuk aku antar pulang ke apartemen." kata Bram kepada Sari.


"Pulang sama Mira aja yang. Mira kan diantar oleh Bayu." jawab Sari yang tidak ingin Bram mengantarkannya malam malam.


"Bener juga Bram. Papi tidak mau kamu keluar malam malam, melihat kejadian yang kalian rahasiakan dari Papi sampai sekarang. Papi menunggu penjelasan dari kalian." kata Papi menatap tajam Aris dan Bram.

__ADS_1


Aris dan Bram menekurkan kepalanya dalam dalam. Mereka tidak berani menatap ke arah Papi, mereka tau mereka salah karena sudah menutupi semuanya dari Papi.


Papi dan Mami kemudian masuk ke dalam kamar.


"Daniel, kamu ikut Bunda dan Daddy, Daddy akan menunjukkan dimana kamar kamu. Besok kita akan belanja semua baju untuk kamu." kata Aris kepada Daniel.


Aris, Gina, Bram dan Daniel naik ke lantai dua rumah mereka. Mereka menuju kamar paling ujung. Kamar yang sudah lama tidak di tempati. Tetapi setiap.hari selalu di bersihkan oleh para Maid.


"Daniel ini adalah kamar Paman Bram" kata Aris sambil menatap Bram yang kesal dipanggil dengan kata Paman.


"Daniel tidak Paman tetapi Papi." kata Bram kepada Daniel.


"Daddy ulang Daniel. Ini adalah kamar Papi Bram. Kamu bisa menumpang kerja atau menumpang ngobrol di sini. Dia masih akan jomblo dalam waktu yang lama." kata Aris.


"Sedangkan yang ini adalah ruang santai, kamu bisa menonton di sini, bisa membaca berbagai buku di sini." lanjut Aris.


"Nah ini adalah kamar Bunda dan Daddy."


"Nggak boleh ngobrol ke situ Dad?" tanya Bram.


"Kamu boleh ngobrol kemari, tidak ada yang melarang." jawab Aris sambil menginjak kaki Bram.


"Nah sebelah kamar Daddy, itu kamar calon adik kamu. Sebelahnya nah yang ini." kata Aris sambil membuka pintu kamar yang akan ditempati oleh Daniel.


Daniel melihat kamar yang akan ditempatinya. Kamar yang begitu besar.


"Besok akan kita lengkapi semuanya. Termasuk hobby kamu bermain game online." kata Gina sambil tersenyum


Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ternyata Gina tau hobby Daniel yang suka main game online.


"Satu lagi untuk kerja kamu, hubungi Sari. Calon Mami kamu. Besok malam kita akan ke rumah utama Wijaya memperkenalkan kamu dengan keluarga besar Wijaya. Tapi tetap nama belakang kamu adalah Aris Soepomo karena kamu adalah anak kami berdua." kata Gina sambil memegang bahu Daniel.


"Mari istirahat besok banyak kerjaan yang harus kita lakukan. Besok kamu dengan Bunda ke kantor Bramntya menemui Sari." lanjut Gina kepada Daniel.

__ADS_1


"Baiklah Bunda Daddy makasi banyak atas semuanya. Daniel sungguh bahagia mendapatkan keluarga sehangat ini." kata Daniel.


__ADS_2