
Aris melihat Bram sedang duduk sendirian di sofa paling ujung. Bram terlihat sangat kusut dan tidak bergairah, seandainya lawan bisnis mereka melihat Bram dalam keadaan seperti ini, maka dijamin mereka tidak akan takut lagi kepada Bram dikemudian hari.
"Aku ke sana dulu ya sayang." ujar Aris sambil menunjuk posisi dimana Bram duduk.
"Oke sip, tapi kamu nanti harus ikut sayang, aku nggak mau sendirian." ujar Ghina yang mendadak merasa sangat membutuhkan Aris berada di sisinya.
"Oke sip. Aku akan menemani kamu selalu sayangku." jawab Aris
"Mulai lebay." ujar Ghina sambil tersenyum menatap suaminya itu.
"Nggak lah mana ada lebay" jawab Aris, masih berada di samping istrinya itu.
"Udah sayang sana pergi ngomong sama Kak Bramnya, lama lama kamu di sini nanti Kak Bram keburu pergi lagi." ujar Ghina yang asal comot alasan saja kepada Aris, mana mungkin Bram pergi dalam suasana dan keadaan kayak gini.
Aris kemudian meninggalkan Ghina dengan Mira, sedangkan dirinya berjalan kembali menuju adik angkat sekaligus asisten dan sahabatnya itu, dia harus membicarakan masalah ini kepada Bram. Hanya Arislah yang bisa berbicara dengan Bram saat kondisi Bram seperti ini, sebenarnya Papi juga bisa, tetapi Papi tadi tidak mendengar semua cerita dari Alex dan Juan.
Aris duduk tepat di sebelah Bram. Bram melihat ke arah Aris, Bram bisa membaca dari raut wajah Aris kalau ada sesuatu yang harus diceritakan oleh kakaknya itu.
"Ada apa Ris?" tanya Bram.
"Loh loe tau gue mau ngomong sesuatu ke elo?" tanya Aris balik.
"Ris, kita kenal dari kecil, jadi tolonglah jangan pura pura nggak tau gitu." jawab Bram sambil memukul pundak Aris.
"Hehehehee Sorry Bram." jawab Aris
"Jadi ada apa?" tanya Bram sambil memutar badannya menghadap Aris
" Begini Bram, loe tau dengan Felix kan ya?" tanya Aris langsung ke inti masalah.
"Felix yang menjadi ketua pengawal Sari itukan?" ujar Bram.
__ADS_1
Aris mengangguk.
"Kalau Felix yang itu ya kenallah gue, dia orang yang selalu menjaga Sari. Emang ada apa? Kenapa mendadak loe membahas masalah Felix?" tanya Bram yang penasaran kenapa Aris mendadak membahas masalah Felix saat ini.
"Jadi gini Bram, Saat kejadian naas itu, Felix tidak membawa mobil yang ditumpangi Sari, karena diminta Sari untuk mengemudikan mobil yang ditumpangi Ayahnya, sehingga pada saat kecelakaan Felix tidak bisa menolong Sari." ujar Aris bercerita.
Bram terlihat serius mendengar apa yang dikatakan oleh Aris.
"Saat ini Felix seperti manusia yang tidak berguna, karena dirinya menganggap akibat kelalaiannya Sari dan Ibu menjadi seperti ini." lanjut Aris.
"Loe tau dari mana cerita ini?" tanya Bram kepada Aris.
"Tadi Alex dan Juan datang menemui Ghina dan Mira, dia datang untuk meminta bantuan kepada Gina, Mira dan Elo untuk menolong Felix." ujar Aris.
"Alex menceritakan bagaimana keadaan Felix sekarang, Felix bisa dikatakan seperti mayat hidup, manusia yang tidak ada keinginan untuk hidup sama sekali." lanjut Aris.
"Loe tau sendirikan ya, Alex dan Juan tidak akan pernah memohon bantuan kepada orang lain apalagi ini adalah Ghina dan Mira yang tak lain adalah orang yang membantu mereka selama ini. Jadi sepertinya sekarang Felix pasti amat sangat membutuhkan kalian." ujar Aris melanjutkan ceritanya.
"Bram apa loe mau datang ke markas mereka?" tanya Aris dengan tatapan memohon kepada Bram.
Bram masih terdiam, dia tidak langsung memberikan jawaban kepada Aris.
"Bram, tolonglah Bram." ujar Aris.
Bram masih tidak juga menjawab. Aris menatap ke arah Ghina, Ghina memberikan isyarat menggeleng kepada Aris untuk tidak memaksakan kehendaknya kepada Bram. Aris pun mengangguk menyetujui isyarat yang diberikan oleh istrinya itu.
"Baiklah Bram, kalau loe nggak mau juga tidak apa apa, gue tidak bisa memaksakan kehendak gue kepada loe." ujar Aris.
Aris kemudian berdiri dan kembali melangkahkan kakinya menuju Ghina dan Mira serta Bayu yang sudah menunggu di pintu ke luar ruangan.
"Gimana Ris?" tanya Bayu yang penasaran dengan hasil pembicaraan Aris dan Bram yang lumayan lama itu.
__ADS_1
"Seperti yang loe lihat, dia tidak memberikan jawaban." jawab Aris dengan wajah lesu.
"Maafin aku sayang, aku tidak bisa membujuk dia untuk pergi dengan kita." ujar Aris dengan lemah kepada Ghina.
Aris sangat kecewa dengan sikap yang diambil oleh Bram. Selama ini Felix dan yang lainnya mati matian membela mereka semua, sedangkan saat ini Felix sedang membutuhkan bantuan mereka, Bram sama sekali tidak memberikan jawaban.
"Tidak masalah sayang, kamu sudah berusaha membujuk kak Bram. Semua keputusan berada di tangan Kak Bram sayang, Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain." ujar Ghina sambil tersenyum dan mengecup pipi suaminya yang terlihat sangat kesal itu.
"Bener Kak Aris, kita saja yang ke sana, semoga dengan hadirnya kita di sana bisa membuat Felix merasa nyaman kembali. Kami sangat kasian dengan dia. dia salah satu pengawal terbaik yang kami punya. Kami sangat tau bagaimana dedikasinya dan bagaimana dia rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melindungi kami." ujar Mira.
"Sekarang mari kita pergi. Biarkan saja manusia egois itu tinggal di sana sendirian. Aku nggak perduli lagi dengan dia." ujar Aris yang masih sangat kesal dengan Bram.
Ghina menghampiri pengawalnya yang berdiri di depan pintu masuk.
"Kalian berdua harus selalu memeriksa siapa saja yang masuk ke dalam ruangan ini. Kami akan pergi sebentar, apapun yang terjadi kalian harus selalu menghubungi kami, ada dengar?" ujar Ghina memberikan pesan kepada pengawal yang menjaga ruangan Sari.
"Siap paham Nyonya." jawab kedua pengawal sambil menatap Ghina.
"Baiklah kerja yang baik oke" ujar Ghina.
Mereka berempat kemudian melangkahkan kaki yang sebenarnya terasa berat untuk meninggalkan sahabat mereka yang sudah dianggap sebagai adik paling kecil yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Tapi seperti apapun berat langkah yang harus mereka lakukan, tetap harus mereka lakukan demi seseorang yang selalu menjaga adik kecil mereka itu. Seseorang yang sekarang juga sedang membutuhkan bantuan dari mereka. Sekaranglah saatnya mereka membantu orang yang selalu membantu mereka.
Pengawal yang hari itu menjadi pengiring Ghina dan yang lainnya, langsung berlari menuju tempat Ghina saat melihat Ghina sudah berada di lobby rumah sakit.
"Maaf Nyonya, Anda mau kemana?" tanya pengawal yang tau tidak ada jadwal Ghina atau yang lain untuk berpergian hari ini.
"Kita harus ke markas sekarang juga. Kalian ikut dengan saya satu mobil, sedangkan yang lain tetap di rumah sakit untuk berjaga jaga." ujar Ghina memberikan perintah yang sistematis dan mudah dimengerti oleh seluruh pengawalnya.
"Siap Nyonya." jawab keseluruh pengawal.
Lima orang pengawal berlari keluar lobby menuju mobil yang akan dipakai oleh Tuan mereka, sedangkan yang lainnya kembali menyebar di seputaran rumah sakit untuk mengamankan keadaan.
__ADS_1
Dua mobil terlihat sudah parkir di depan lobby rumah sakit, Ghina dan yang lainnya masuk ke dalam mobil hitam besar yang dikemudikan oleh salah satu pengawal. Sedangkan di mobil paling depan ada empat orang pengawal yang akan menjaga mobil besar itu. Dua mobil hitam itu bergerak meninggalkan rumah sakit, mereka akan menuju markas yang terletak dipinggiran ibu kota. Sepanjang perjalanan Ghina dan Mira memilih untuk beristirahat, sedangkan Aris dan Bayu membahas masalah bisnis mereka yang akan mereka lakukan berdua. Tak terasa perjalanan mereka menuju markas akhirnya selesai sudah, pintu markas terbuka dengan sendirinya saat sopir mobil paling depan menekan beberapa angka untuk membuka pintu gerbang. Kedua mobil hitam itu perlahan masuk ke dalam markas. Sopir memarkirkan mobil tersebut di parkiran khusus petinggi kelompok. Mereka semua turun dari dalam mobil dan berjalan masuk menuju markas. Beberapa pengawal terlihat sedang berlatih untuk menambah kemampuan bela diri mereka. Juga ada beberapa pengawal yang sibuk belajar. Mereka terlihat sangat serius melakukan kegiatan mereka masing-masing.