Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
MANGGA MUDA BRAM


__ADS_3

"Pi. Hari ini Aris ikut ceri Gina ya Pi." kata Aris sambil duduk di meja makan.


Baru saja duduk saat Aris mencium bau dari nasi goreng, Aris langsung berlari ke toilet dekat dapur. Dia memuntahkan semua isi perutnya yang masih kosong. Aris bener bener letih, sudah dua minggu Aris muntah muntah. Biasanya ibu ibu hamil muntah muntah hanya sampai jam sepuluh pagi, ini tidak berlaku bagi Aris. Aris akan muntah muntah kalau mencium sesuatu yang di goreng. Aris kembali duduk di meja ruang tamu.


"Sayang makan roti aja ya." kata Mami sambil meletakkan roti bakar beserta potongan buah.


Aris mengangguk dengan letih, dia memakan roti bakar yang dibuatkan mami dan potongan buah apel. Mami dan Papi serta Bram yang melihat kondisi Aris yang memprihatinkan sebenarnya sangat merasa kasian kepada Aris. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa apa. Itu sakit yang nggak ada obatnya.


"Bram" teriak Aris dari ruang tamu.


"Yup" jawab Bram dari meja makan.


Aris yang yakin Bram tidak suka diteriaki langsung melangkah sedikit menuju meja makan.


"Bram sini" kata Aris.


"Loe yang ke sini napa Ris. Gue masih makan" kata Bram sambil akan mengangkat piringnya.


"Loe mau bunuh gue. Gara gara itu tadi gue muntah muntah. Sini Bram" kata Aris memerintah.


Mami mengangguk kepada Bram. Bram kemudian berdiri dan menyusul Aris ke ruang tamu.


"Ada apa?"


"Gue mau mangga di samping rumah Bram"


"Ambil aja lah. Suruh mang Udin atau siapa kek. Kenapa lapor gue" kata Bram jengkel. Dia terpaksa berhenti makan karena ulah Aris yang hanya mau mangga samping rumah


"Tapi" kata Aris


"Tapi apa? Jangan ngoming harus gur yang manjat" kata Bram.menatap curiga ke arah Aris.


"Bener Bram. Loe yang manjat" kata Aris dengan semangat empat lima.


"Gila bener loe ya Ris. Gue loe suruh manjat" teriak Bram.


Mami yang mendengar Bram berteriak langsung menuju mereka berdua yang sedang berdebat nggak jelas itu.


"Ada apa, pagi udah ribut. Kalian kayak remaja perempuan yang memperebutkan aksesoris aja. Ada apa Bram?" tanya Mami sambil menatap Bram.


"Aris mintak diambilin mangga samping rumah Mi." jawab Bram sambil menatap membunuh ke arah Aris.


"Bos aja loe sendiri." kata Bram dalam hati nya


"Aris. Kan ada mamang yang bisa ngambilin Mangga Kenapa harus manggi Bram yang sedang sarapan?"


"Mi. Aris maunya Bram yang manjat Mi. Bukan mamang yang lain" jata Aris sambil duduk di kursi ruang tamu. Dia sangat kesal Bram tidak mau mewujudkan keinginannya.

__ADS_1


"Bram. Bawaan bayi itu Bram. Kamu mau keponakan kamu nanti pas lahir ileran?" tanya Mami kepada Bram sambil menakut nakutin Bram.


"Nggak lah Mi. Masak oom nya ganteng gini, keponakannya ileran" kata Bram yang tidak ingin anak Aris dan Gina nantinya ileran saat lahir.


"Makanya sana ambilin mangganya" jawab Mami sambil menatap Bram dengan tatapan memohon.


"Iya iya Bram ambilin. Jangan natap kayak gitu juga Mi" kata Bram yang langsung membuka baju kemeja kantornya.


"Ris. Jangan duduk. Loe tunggu di bawah." kata Bram.


Aris dan Mami mengikuti Bram ke pohon mangga yang sedang berbuah di taman samping rumah mewah itu.


Nyali Bram yang semula sudab luar biasa, mendadak menjadi menciut saat melihat pohon mangga yang begitu tingginya. Bram menatap pohon mangga itu dengan tatapn mohon memendek sebentar, nanti boleh tinggi lagi.


"Ayo Bram naik" kata Aris.


"Tinggi Ris" jawab Bram.


"Tuan muda pakai tangga aja ya" kata mang Udin tukang jaga kebun.


"Ide bagus mang. Ambilin tangga terus sandarin ke batang mangga ya" kata Bram memberi perintah mang Udin.


Mang Udin kemudian mengambil tangga dan menyandarkan ke pohon Mangga seperti yang diperintahkan oleh Bram.


"Sudah Tuan"


Bram kemudian membuka sepatu kerjanya. Dia melangkah ke arah pohon Mangga. Bram tercengang melihat tangga yang diharapkan bisa sampai ke atas hanya sampai separo batang Mangga.


"Bram apa lagi?" kata Mami dari kursi yang ada di taman belakang.


"Sama aja boong tangganya Mi. Nggak sampe di dahan pertama" jawab Bram.


"Hahahahahahaha. Manjat aja Bram" teriak Papi yang baru selesai sarapan.


"Maaf Pi. Mmai nggak nemanin papi sarapan. Mami penasaran gimana cara Bram manjat pohon mangga" kata Mami sambil memeluk pinggang papi.


"Nggak apa apa sayang. Kamu kan suka kalau Bram menderita oleh Aris. Aris menderita oleh Bram" jawab Papi sambil tersenyum kepada Mami.


"Hahahahaha" Mami tertawa karena papi bisa menebak isi kepala Mami.


"Tinggi Pi. Itu anak besok terina aja ganjarannya. Pas istri Bram hamil, Bram suruh ngidan nasi goreng buatan Aris" kata Bram dengan kesalnya.


"Bram naik Bram. Ini bunbu rujak udah siap dibuatkan bibik" kata Aris sambil membawa bumbu rujak ke dekat Mami dan Papi.


Bram mengangkat kedua tangannya. Dia berdoa kepada Tuhan semoga dia tidak jatuh saat memanjat pohon mangga itu. Bram kembali melihat pohon mangga dan membulatkan tekadnya kembali.


"Tuan kalau ragu, biar mamang saja yang manjat Tuan" kata Mang Udin menawarkan diri.

__ADS_1


"Oh nggak bisa Mang. Aku maunya Bram yang manjat" jawab Aris dengan tegas.


"Maaf Tuan Bram. Mamang tidak bisa bantu. Itu kehendak dedek bayi yang ada di Nyonya Muda" kata Mamang sambil kembali mencabut rumput di taman.


Bram mulai memanjat anak tangga satu satu. Saat sampai di ujung anak tangga terakhir Bram langsung meraih daham pertama dari batang Mangga. Dia kemudian melangkahkan kakinya ke dahan dahan pohon mangga. Bayu yang datang heran melihat semua keluarga Soepomo berada di taman samping.


"Mi ada apa Mi?" tanya Bayu yang berdiri di belakang kursi yang diduduki mami dan papi.


"Kamu pergi ke bawah mangga. toling singkirkan tangga itu ya" kata Mami kepada Bayu.


Bayu langsung saja menuju batang mangga. Dia langsung mengambil tangga tanpa melihat siapa yang berada di atas pohon mangga yang sedang mati matian mengangkat kakinya melangkah satu satu dahan mangga. Bayu meletakkan tangga di samping rumah. Mang Udin yang melihat langsung menyimpan tangga di gudang penyimpanan


"Itu itu" kata Aris sambil menunjuk mangga yang diinginkannya.


"Ini" tanya Bram.


Aris mengangguk. Bram mengambil beberapa mangga yang ada. Bram menjatuhkan mangga terbebut dan Aris meamnangkapnya di bawah. Setelah di rasa Aris pas untuk dua hari. Aris meninggalkan Bram yang sendirian di atas pohon. Aris membawa mangga itu ke temoat mami, papi dan Bayu duduk. Mami langsung mengupas mangga yang sudah tua itu. Aris langsung memakan mangga dengan cocolan kuah rujak. Aris memakan dengan sangat lahap. Dia sangat suka perpaduan mangga tua dengan kuah rujak.


Bram kemudian turun, Dia melihat tidak ada tabmngga yang dipakainya tadi bersandar di batang Mangga.


"Aris, tangga gue tadi mana?" teriak Bram dari atas pohon mangga.


"Jadi yang di atas pohon mangga itu Bram?" tanya Bayu tidak percaya Bram yang memanjat pohon Mangga dan mengambilkan Mangga untuk Aris.


"Awa aja ya. Yang mindahin tangga gue. Sampe gue di bawah gue bunuh langsung" teriak Bram yang merasa kesal tangganya di pindahin entah kemana.


"Jadi loe yang memindahkan tangga Bram?" tanya Aris tidak percaya.


"Mami yang nyuruh" Jawab Bayu pura pura tidak bersalah


"Mami yang mindahin Bram" teriak Aris.


Bram yang mendengar Mami yang mindahin tangga langsung mengurungkan niatnya. Dia tidak mungkin membunuh wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu. Bram dengan susah payah akhirnya bisa turun dari pohon mangga. Dia langsung menuju tempat keluarganya sedang menikmati mangga tua dengan bumbu rujak.


"Jado mau bunuh Mami, Bram?" tanya Papi.


"Batal Pi" jawab Bram.


Bram mengeluarkan mangga masak dari dalam singletnya. Mami yang melihat langsung tersenyum melihat kelakuan Bram yang menyimpan mangga di dalam singletnya.


"Masak Bram?" tanya Mami.


"Masak Mi. Mau?" tanya Bram.


"Mau" jawab Mami.


Mereka kemudian menikmati mangga itu sambil bercanda. Mereka begitu bahagia. Mereka sejenak berusaha melupakan pencarian Gina untuk sesaat."

__ADS_1


__ADS_2