
Aris sampai juga akhirnya di kantor Jaya Grub. Dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Aris sangat ingin cepat untuk bertemu orang tersebut, tapi karena pertemuan dibuat menjadi jam tiga maka Aris terpaksa harus bersabar dulu. Setelah melakukan beberapa pekerjaan, tiba tiba ponsel Aris bergetar panggilan video dari Afdhal. Aris langsung mengangkatnya.
"Hallo Afdhal, ada apa?"
"Maaf Aris, ada yang mau berbicara. Mengganggu tidak?"
"Tidak, silahkan saja, kebetulan pertemuannya jam tiga, sekarang baru jam dua."
Afdhal kemudian menggeser tangannya sedikit, sekarang yang muncul di layar ponsel Aris adalah wajah Gina bukan lagi wajh Afdhal.
"Gimana Gin, keadaaan kamu?"
"Alhamdulillah udah baikan kak. Aku cuma mau mengatakan terimakasih sudah membantu aku."
"Gin itu udah kita bahas, jadi jangan lagi diungkit ya. Kamu udah boleh minum?"
"Belum kak. Kata dokter kalau aku belum buang angin maka aku boleh minum pukul lima sore nanti."
"Oh begitu baiklah, nanti aku akan datang ketempat mu selepas bekerja. Sekarang kamu istirahat dulu."
"Baiklah kak. Hati hati bekerja. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Aris kembali tidak sabar. Dia menyesal karena telah mengatakan kalau akan mengadakan meeting pukul tiga sore. Rasanya Aris mau menyerahkan meeting kepada Bram, tapi Aris juga merasa penasaran dengan orang yang akan ditemuinya.
Gina di kamar inapnya mulai.menunjukkan rasa sakit yang sangat pada bekas sayatan operasinya. Gina mulai merintih kesakita.
"Nana sakit na. Gina ndak tahan Na" Gina menangis menahan sakitnya.
Nana kemudian memencet bel yang menghubungkan kamar rawat Gina dengan ruangan dokter. Tak lama kemudian masuklah seorang dokter yang sudah merawat Gina dari hari pertama Gina masuk rumah sakit.
"Maaf kenapa Nona?"
"Sakit dok bekas sayatannya. Gina nggak tahan dok."
"Suster siapkan suntiknya." perintah dokter kepada suster yang menemaninya keruangan Gina. Suster kemudian memberikan suntikan yang diminta dokter.
Dokter tersebut kemudian menyuntikkan obat penghilang rasa sakit kepada Gina. Tapi efeknya obat itu akan membuat Gina mengantuk. Setelah menunggu selama lima belas menit.
"Apakah Nona masih merasakan sakit atau gatal gatal?"
"Tidak sama sekali do. Tetapi saya sangat mengantuk."
"Itu memang efek dari obatnya. Jadi Nona silahkan tidur. Bangun tidur Nona sudah saya bolehkan untuk makan yang ringan dulu dan minum air mineral."
__ADS_1
"Baiklah dokter."
"Terimakasih dok." kata Nana dan Ayah.
"Sama-sama Tuan, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada keluhan silahkan pencet kembali belnya."
Dokter kemudian meninggalkan ruang rawat Gina. Dokter tersebut bisa bernapas lega karena Gina dalam posisi baik baik saja. Tak lama setelah dokter meninggalkan ruangan Gina, Gina langsung tertidur karena efek obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan dokter tadi.
...----------------...
Tak terasa akhirnya jam di ruangan Aris menunjukkan pukul tiga sore sebentar lagi tamu itu akan datang.
"Akhirnya, ternyata menunggu memang membosankan."
Tok tok tok
"Masuk"
Kemudian pintu terbuka terlihat Bram masuk dengan seorang wanita seksi yang cantik. Aris terkejut melihat siapa wanita yang masuk dengan Bram. Bram yang melihat ekspresi Aris mendadak menjadi pucat. Bram sadar akan kondisi ini, tapi apa mau dikata Bram hanya menjalankan tugas.
"Bram. Kamu taukan batas keras sata." teriak Aris murka.
Cewek seksi yang masuk dengan Bram tadi langsung terkejut. Dia tidak menyangka ekspresi Aris masih sama dengan lima tahun yang lalu.
"Ris, ini bukan kesalahan Bram. Aku yang memaksa Bram untuk bisa bertemu dengan kamu." kata wanita itu maju mendekati Aris.
"Hahahahaha. Mana kamu bisa Aris. Kamu tidak akan mampu." cewek seksi itu tetap melangkah maju.
"Kamu sudah melewati batasan kamu jalang. Maka dengar apa yang aku katakan melaluu telpon ku ini." Aris kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia langsung menghubungi seseorang, baru deringan pertama panggilan itu sudah tersambung. Aris langsung memasang loadspekernya agar cewek di depannya ini bisa mendengar.
"Jhon eksekusi sekarang juga. Bikin bangkrut dalam sekejap mata. Sebarkan seluruh fhoto nya di internet jangan sampai ada yang bisa menghapus. Hitungan detuk Jhon bukan menit."
"Siap Tuan. Laksanakan."
"Silahkan kamu lihat. kamu sudah melanggar batas keras itu."
Baru dua puluh detik, ponsel wanita itu berbunyi.
"Hallo?"
"............."
"Apa? Tidak. Kenapa bisa terjadi?"
Kemudian wanita itu langsung menjatuhkan ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku Ris. Perusahaan ku kamu hancurkan, foto tak senonoh aku kamu sebar di internet. Apa salah ku Ris?"
"Masih bertanya? Hal yang fatal kau jalang sudah melewati batas keras. Sekarang juga enyah dari hadapanku. Dan juga selamat menjadi gembel."
Cewek seksi itu tidak bergeming dari tempatnya berdiri, didalam hati cewek itu sudah bertekad nanggung jatuh maka dia akan jatub lebih dalam. Aris yang melihat cewek itu tidak bergeming langsung menjadi murka.
"Bram. Seret jalang ini keluar dari kantor ku. Setelah itu suruh semua ob mengepel sampai bersih seluruh lantai yang diinjaknya. Kalau perlu kursi yang didudukinya di libby buang saja, ganti yang baru."
Bram maju dan menyeret wanita seksi itu. Bram sangat menyesal karena sudah mengizinkan wanita itu untuk bertemu Aris. Bram sekarang hanya bisa pasrah dengan kemarahan Aris sebentar lagi. Bram kemudian menyeret wanita itu.
"Stop Bram. Gue bisa sendiri."
"Dasar udah miskin poak lagi" kata Bram.
Cewek seksi itu pergi diiringi oleh Bram. Setelah memastikan cewek itu meninggalkan kantor, Bram memanggil seluruh OB untuk membersihkan seluruh jalan , lift dan ruangan Aris sampai bersih. Sedangkan kursi yang diduduki oleh wanita tadi diberikan Bram kepada seorang security yang membantu Bram menarik cewek tadi. Setelah memberikan semua intruksi, Bram kembali keruangan Aris. Bram harus menyaksikan singa jantan sedang marah.
"Bram, kenapa loe izinkan dia untuk bertemu gue. Loe kan tau dia batas keras gue."
"Ris, sebelumnya gue minta maaf. Dia memaksa sekali. ribuan kali dia nelpon gue supaya gue bisa mempertemukan loe dengan dia. Gue sangat sibuk kerja makanya gue main asal oke aja."
"Bram gue paham dengan kesibukan loe menggantikan gue. Tapi gue mohon ini ke atas jangan bolehkan satupun siapapun manusia dari masa lalu gue untuk bertemu dengan gue."
Bram.kemudian mengangguk. Ternyata singa jantan tidak.jadi mengamuk kepada dia.
"Ris, proyek di kota M, sudah harus kita survey kapan akan pergi?"
"Senen bagaimana Bram? Kosongkan semua jadwal. Kita berangkat senen dan kembali lagi senen itu juga jam berapapun."
"Oke. Satu lagi, proposal pengajuan kerjasama dari perusahaan Ardana bagaimana Ris?"
"Gue belum sempat baca Bram. Jadi hubungi saja mereka katakan gue masih perlu tambahan waktu untuk mehganalisa proposal mereka."
"Tapi Ris kalau bisa acc dari proposal itu sebelum kita berangkat ke kota M saja?"
"Janganlah Bram tergesa gesa sekali. Kita meeting saat setelah pulang dari kota M aja. Jadi lebih santai."
"Sip. Gue hubungi mereka dulu." Bram kemudian berdiri dari kursinya berjalan ke arah ruangannya.
"Bram, gue ke rumah sakit dulu. Kita bertemu di rumah utama untuk membahas kerjasama dengan perusahaan Ardana."
"Yup bucin. Sana loe kejar cinta loe. Gue loe bunuh dengan kerja."
"Hahahahahahaha. Besok kalau loe narget cewek, gue yang kerja." teriak Aris dari pintu lift.
"Bis sahabat nggak ada akhlak."
__ADS_1
Bram kemudian melanjutkan pekerjaannya. Dia harus selesai cepat. Bram mau menyusul Aris ke rumah sakit. Mana tau Bram akan bertemu Sari di rumah sakit.