Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Lamaran Bram


__ADS_3

Rombongan keluarga Soepomo akhirnya sampai di rumah keluarga Sari. Mereka telah ditunggu oleh semua keluarga Sari. Semua pria dari keluarga ibu Sari sudah berdiri di depan pintu masuk rumah atau biasa di Minang dikatakan sebagai Mamak dan Datuak.


Keluarga Soepomo berhenti dan berdiri di depan Mamak mamak dan Datuak Sari yang telah menunggu di depan pintu masuk rumah.


"Assalamualaikum Datuak dan Mamak yang sudah menanti kami di rumah dengan senyum bahagia." ujar Mamak perwakilan keluarga Bram.


"Waalaikumsalam Datuk. Kami sangat bahagia dengan kedatangan Datu sekeluarga ke rumah kami ini. Kalau begitu silahkan masuk datuk." ujar juru bicara keluarga Sari.


Semua anggota keluarga Bram masuk ke dalam rumah Sari. Mereka kemudian duduk di kursi masing masing.


Acara lamaran di mulai. Bram berdiri di dwpan keluarga besar Sari. Dia dengan gagahnya meminta Sari untuk menjadi istrinya di depan semua keluarga besar Sari.


"Sayang, aku tidak romantis dan tidak bisa mengatakan hal hal yang romantis yang bisa membuat kamu terbang kelangit ke tujuh. Tapi satu hal yang pasti Aku bisa memastikan kepada dirimu akan selalu memastikan kebahagiaan akan selalu datang menghampiri dirimu." ujar Bram sambil menatap tulus Sari.


"Sayang, apakah kamu mau menjadi istriku? Menjadi pendamping jalanku?" ujar Bram melanjutkan kata kata lamarannya.


Sari terlihat berpikir sesaat.


"Sayang, kamu sangat tau bagaimana aku mencintaimu. Bagaimana aku memujamu. Tapi sayang apakah kamu tau kalau aku tidak bisa memasak dan mencuci?" ujar Sari sambil menatap Bram.


"Sayang, aku mencari istri bukan mencari art. Aku akan menerima semuanya dengan kebesaran hatiku." lanjut Bram.


"Jadi apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Bram sekali lagi.


"Mau sayang, aku mau menemani sisa hidupmu. Aku akan selalu berada di sisi mu bukan di belakang mu. Aku bersedia menjadi istrimu." jawab Sari sambil tersenyum bahagia.


Argha maju ke depan dia membawa bantal kecil yang di atasnya terdapat kotak cincin yang berisi sepasang cincin pertanda pengikat antara Bram dan Sari.


Bram mengambil cincin yang ada inisial namanya di balik cincin tersebut. Ia memasangkan cincin itu di jari manis Sari tepat di sebelah cincin lamaran antara dirinya dan Sari.

__ADS_1


Sari kemudian mengambil cincin yang satunya lagi. Cincin yang juga ada inisial nama Sari di dalamnya. Sari memasangkan cincin tersebut ke jari manis Bram. Setelah memasang cincin tersebut Sari mencium punggung tangan Bram.


Semua anggota keluarga bertepuk tangan dengan bahagia, akhirnya lamaran tersebut berjalan sukses. Bram dan Sari kembali ke tempat duduk mereka masing masing. Walaupun tempat duduk terpisah mereka tetap saling bertatap mesra.


"Baiklah Datuak dan Mamak. Kami dari keluarga pihak laki laki membawa sedikit hantaran untuk calon mempelai wanita." katas juru bicara dari perwakilan keluarga Soepomo.


Juru bicara keluarga Sari berdiri." Sebelumnya kami mengucapkan terimkasih atas semua hantaran yang diberikan kepada kami. Padahal menurut adat kami, kamilah yang seharusnya memberikan hantaran. Tapi karena kesepakatan anak kemenakan kita, maka kami menerima dengan hati lapang hantaran yang diberikan." ujar juru bicara.


Bram dan Sari kembali berdiri berdampingan. Semua wanita dari keluarga Soepomo berdiri dan memberikan satu persatu kotak hantaran kepada Bram. Bram kemudian memberikan kepada Sari dengan memberikan beberapa kata kata kenapa Bram memilih barang barang tersebut. Betapa bahagianya Sari menerima semua barang barang yang ternyata sangat sesuai dengan keinginannya selama ini.


Setelah semua rangkaian acara lamaran selesai. Kedua keluarga besar yang sebentar lagi akan menjadi semakin besar itu menyantap hidangan padang yang sangat terkenal dengan rasanya yang enak.


Mereka semua makan sambil berbicara masalah masalah ringan. Ghina, Mira dan Sari duduk bertiga.


"Wow akhirnya si gila kerja ini menikah juga dengan lelaki yang juga gila kerja." ujar Mira sambil memeluk Sari.


"Hahahaha. Tenang aja dia nggak akan lama ninggalin loe sendirian. Mana bisa dia ninggalin loe lama lama." jawab Ghina yang sangat tau bagaimana posesifnya keluarga Soepomo.


Setelah acara makan malam. Akhirnya acara lamaran Bram dan Sari selesai sudah. Kedua keluarga bersepakat akan melaksanakan acara pernikahan satu bulan kedepan. Serta malamnya akan dilangsungkan acara pesta pernikahan memakai adat minang yang akan dilaksanakan di ibu kota negara I. Pilihan jatuh ke ibu kota negara I karena disanalah banyak sahabat sahabat serta kolega dari Sari dan Bram. Tuan Soepomo dan Ghina berjanji akan mengirimkan pesawat untuk membawa keluarga besar Sari ke ibu kota negara I saat acara pernikahan.


Keluarga Soepomo kemudian kembali menuju rumah peristirahatan, mereka semua sangat senang karena acara lamaran hari ini berjalan sukses.


Semua anggota keluarga Soepomo berkumpul di ruang keluarga. Mereka benar benar lelah dan senang karena semua sudah berjalan dengan sukses.


Mereka mengobrol ringan tentang acara pernikahan dan beberapa hal remeh temeh. Aris terlihat mulai tidak sabar ingin mengakhiri percakapan yang sedang terjadi, dia sudah tidak sabar ingin masuk kamar.


Papi dan Ayah yang melihat Aris sudah seperti ular keket itu mendadak mempunyai ide yang sama untuk menjahili Aris.


"Ayah sepertinya Aris udah nggak sabar ingin melakukan sesuatu dengan Ghina. Gimana kalau kita kerjai aja?" ujar Papi yang memang akan selalu jahil.

__ADS_1


"Kayaknya iya Pi. Tapi gimana caranya?" tanya Ayah yang memang nggak bisa berpikir dengan apa mengerjai Aris dan Ghina.


"Itu mah gampang. Kita minta bantuan ke Argha aja untuk mengerjai mereka berdua." jawab Papi yang sudah menyudun semua ide di otaknya.


"Caranya?" tanya Ayah lagi.


Papi membisikkan semua idenya kepada Ayah. Ayah menatap kagum ke arah Papi. Papi memiliki ide yang luar biasa untuk mengerjai Aris dan Ghina.


"Gimana??? Kerenkan idenya???" ujar Papi sambil menatap Ayah lagi.


"Keren, aku setuju. Untuk membujuk Argha serahkan ke aku. Itu akan berjalan dengan sukses." ujar Ayah yabg sudah ada rencana bagaimana membujuk Argha untuk tidur dengan Bunda dan Daddynya.


"Gha, ikut Atuk Ayah bentar Gha." ujar Ayah memanggil Argha untuk mengikuti Ayah.


"Kemana Tuk?"


"Sini ayuk." jawab Ayah.


Argha mengikuti Ayah menuju ke luar ruang keluarga.


"Apa Tuk?" tanya Argha lagi.


"Nanti kamu tidur di kamar Daddy dan Bunda ya." ujar Ayah sambil menatap Argha.


"Kenapa Tuk?" tanya Argha yang penasaran dengan perintah Atuk Ayah.


"Bunda kamu mau diimpit Daddy. Apa Argha mau nggak punya Bunda lagi?" ujar Ayah mengompori Argha.


"Nggak Tuk. Argha nggak mau nggak punya Bunda. Argha akan tidur dengan Bunda nanti. Argha akan tidur di tengah tengah Bunda. Argha akan peluk Bunda tidur." ujar Argha dengan semangat.

__ADS_1


__ADS_2