
Tidak terasa tahun berganti dengan sangat cepat. Terapi yang dijalani oleh Arga dengan dokter Rani dan dokter Anggel berjalan dengan sempurna. Sekarang Arga sudah bisa berbicara walau masih cadel. Tetapi untuk anak seperti Arga itu suatu kemajuan yang sangat luar biasa. Gina sangat bersyukur dengan semua yang dicapai oleh Arga.
Hari ini adalah hari bahagia untuk Anggel dan Afdhal mereka akan melangsungkan acara pernikahan. Anggel memang berniat saat Arga sudah bisa dikendalikan emosinya maka dia akan menikah dengan Afdhal. Selama ini fokus Anggel tertuju lebih banyak kepada kesembuhan Arga.
Kesibukan sudah terlihat di hotel Wijaya tempat akan diselenggarakannya pernikahan sekaligus resepsi pernikahan. Gina sekeluarga sengaja memilih menginap di hotel agar memudahkan tempat beristirahat untuk Arga saat dia sudah mulai jenuh dengan acara nantinya.
Aris dan Arga sudah terlihat sangat tampan dengan memakai tuksedo berwarna biru pastel. Sedangkan Gina sudah memakai kebaya berwarna yang sama dengan yang di pakai Aris dan Arga. Ayah dan Nana juga memakai pakaian yang sama dengan keluarga Aris.
"Sayang, kamu coba lihat Uda apakah dia sudah selesai atau belum." ujar Gina meminta Aris untuk pergi melihat Afdhal ke kamarnya. Mereka semua sudah siap untuk memulai acara.
"Cuih sok perhatian. Ingat Gina kamu bukan keluarga ini lagi jadi tolong jangan banyak gaya." ujar Nana dengan begitu menyakitkannya.
"Kalau bukan karena Afdhal yang bersimpuh di kaki ku untuk mengundang orang asing dalam acara ini, maka kamu tidak akan berdiri memakai baju yang sama dengan kami." lanjut Mami.
"Tapi sekalipun Afdhal tidak meminta, aku terpaksa juga harus mengundang kamu karena menjaga reputasi nama keluarga. Sayangnya anak sundel ini masih kamu bawa juga." ujar Nana melihat jijik ke arah Arga.
Gina memeluk anaknya dengan sangat erat. Gina tau Arga sudah paham dengan semua ocehan Mami dan Nana.
"Ma" ujar Arga sambil membalas pelukan erat Bundanya.
Nana yang melihat Arga memeluk erat Gina langsung berjalan pergi. Dia sangat ingin menjauhkan Gina dari anaknya itu. Anak yang sudah besar akan membuat malu keluarga Wijaya dan Soepomo karena kekurangannya itu.
"Sayang maafkan Oma Nana ya Nak. Arga nggak seperti yang dikatakan Oma Nana dan Oma Mami. Arga adalah anak yang sangat luar biasa yang dititipkan Tuhan kepada Bunda sayang." ujar Gina berusaha menstabilkan kembali emosi Arga yang sudah memuncak itu.
Arga menggeretak giginya untuk menahan emosi yang tidak bisa dia salurkan.
"Arga boleh jiwit atau gigit Bunda Nak. Buat gimana Arga nyaman. Jangan menahan kayak gini Nak." ujar Gina berusaha membujuk Arga agar mengeluarkan saja emosinya.
Arga melepaskan pelukannya dari Gina. Dia mencium semua wajah Gina. Sampai dirasa Arga sudah puas barulah dia tertawa melihat wajah Bundanya yang selalu berhasil membuat Arga kembali tenang.
"Hahahahah Ma" ujar Arga kembali.
"Sayang Bunda. Terimakasih ya Tuhan. Engkau memberikan pengendalian diri kepada anak ku." ujar Gina yang bersyukur atas semua berkah dari Tuhan yang diberikan kepadanya.
Afdhal yang terlihat sudah tampan berjongkok di depan Arga. Hal ini sontak membuat wajah Nana berubah. Afdhal dan Gina melihat dengan nyata, tetapi mereka membiarkan saja.
"Hay jagoan, apakah Papi mu ini sudah tampan?" tanya Afdhal.
Arga memberikan ciuman di pipi Afdhal dia memberikan dua jempolnya kepada Afdhal.
"Terimakasih sayang" jawab Afdhal.
Arga menyatukan kedua telapak tangannya. Aris memerhatikan itu semua.
Mereka kemudian berjalan menuju tempat pernikahan. Gina sengaja tidak memakai haigtheel nya. Dia harus berjaga jaga terhadap semua yang akan dilakukan oleh Arga nantinya.
Keluarga besar Soepomo juga sudah sampai di tempat acara. Papi yang melihat Arga begitu tampan langsung berjalan mendekati cucunya yang dia sudah tau kekurangan dan kelebihan dari seorang Arga. Papi sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
"Hay boy kamu luar biasa tampan." ujar Papi sambil menyamakan tingginya dengan Arga.
"Ci ntuk" jawab Arga sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
Arga kemudian memberikan ciuman dan pelukan kepada atuk yang disayangnya itu. Tiba tiba Mami mendekat ke arah Arga, Mami masih ingin terlihat sebagai Oma Mami yang sayang cucu di depan semua orang. Arga yang melihat Oma Mami mendekat langsung saja kembali berbalik ke arah Gina. Arga memeluk kaki Gina dengan begitu takutnya. Arga kembali berusaha menahan emosinya.
Semua hal itu tidak luput dari perhatian Aris, Bram dan Papi. Dokter Rani yang melihat Arga menahan emosi langsung berjalan cepat menuju Arga. Dia tidak mau Arga marah atau ngamuk di acara pesta ini.
"Hay Boy. Sama Kak Rani mau?? Kita mencari buah di sana." ujar Rani sambil menunjuk deretan buah yang di sukai Arga.
Arga tersenyum kepada Rani. Dia langsung memegang tangan Rani dan membawa Arga pergi dari sana.
[ Bram, sepertinya ada sesuatu dengan Arga. Dan ada sesuatu dengan Mami ] bunyi pesan yang dikirim oleh Aris kepada Bram.
[ Bener. Besok kita bahas. ] balas Bram.
[Nanti. Tidak besok] balas Aris.
__ADS_1
Mereka semua duduk di kursi masing masing. Aris dan Gina kali ini duduk di kursi deretan keluarga Wijaya, sedangkan Bram di keluarga Soepomo.
Mempelai wanita diiringi keluarga berjalan masuk menuju tempat akad nikah akan berlangsung. Anggel terlihat sangat begitu cantik dengan kebaya putih gading. Kebahagiaan sangat terpancar jelas di raut wajahnya. Begitu juga dengan Afdhal saat melihat Anggel berjalan masuk ke dalam tempat acara matanya tidak beranjak dari melihat Anggel, senyum kebahagiaan selalu ditunjukkannya.
Anggel tersenyum kepada Afdhal seakan akan memberikan kekuatan kepada Afdhal untuk bisa membuat lancar bacaan ijab kabul yang sebentar lagi akan dilakukan.
"Tuan Hadi apakah sudah siap?" tanya penghulu kepada Ayah Anggel.
"Siap" jawab Hadi.
"Afdhal?" tanya penghulu menanyakan kesiapan calon mempelai pria.
"Siap" jawab Afdhal dengan pasti.
"Silahkan berjabat tangan." ucap penghulu pernikahan mereka.
Tuan Hadi dan Uda Afdhal saling berjabat tangan. Mereka akan melangsungkan ijab qobul. Tuan Hadi dan Uda Afdhal mengucapkan kalimat sakral itu dalam sekali pengucapan tanpa pengulangan dan kesalahan.
"Bagaimana saksi?" tanya pak penghulu.
"Sah" jawab kedua saksi dari kedua belah pihak.
Pak Penghulu kemudian membaca doa selepas diselesaikannya acara pernikahan antara Afdhal dan Anggel. Gina meneteskan air matanya saat menyaksikan hari bahagia kakak laki laki satu satunya.
Gina sangat tau Uda Afdhal tersayangnya mendapatkan pendamping yang sangat mencintainya dan sangat peduli kepada dirinya.
Bertepatan dengan acara fhoto keluarga Arga datang dengan dokter Rani.
"Rani maaf, Arga merepotkan dirimu." ujar Gina meminta maaf kepada Rani.
"Tidak Nyonya, Arga anak yang sangat pintar. Dia tidak merepotkan tetapi biasalah apabila seorang anak seusia Arga dimusuhi maka dia akan balik memusuhi orang tersebut." ujar Rani dengan suara yang sengaja dikeraskan agar di dengar oleh Mami dan Nana.
Mami dan Nana yang mendengar memberikan tatapan membunuh kepada Rani. Rani membalas tidak kalah tajam dengan cara pandang kedua nyonya besar itu. Rani sama sekali tidak takut dengan mereka berdua. Gina yang melihat memegang tangan Rani, dia tidak ingin Rani ikut bersitegang dengan dua Nyonya Besar itu.
Acara fhoto keluarga dilakukan. Tibalah saatnya Papi dan Mami ingin berfoto dengan Afdhal dan Anggel sambil membawa Arga.
Arga hanya diam saja. Tidak ada tanggapan yang diberikan oleh Arga kepada Atuknya itu.
"Arga maukan sayang?" tanya Papi kembali.
Arga hanya diam. Dia melihat kepada Gina.
"Sayang tidak apa apa. Arga berfhoto saja dengan atuk dan Oma." ujar Gina memberikan masukan kepada anaknya itu.
Arga mengangguk tanda mau diajak berfhoto. Arga memegang tangan Atuknya. Mereka mengambil posisi fhoto yang sangat bagus. Sayangnya Arga sama sekali tidak tersenyum. Dia hanya memasang wajah datarnya. Fhotografer hanya bisa menahan napas dengan hasil fhoto yang ini.
"Sayang sekarang giliran kita berfhoto dengan Papi dan Mami." ujar Gina berusaha mengembalikan mood Arga.
Arga mengangguk dengan semangat. Arga sebenarnya sangat suka berfhoto. Dia akan selalu menampilkan kelucuan kelucuannya saat difhoto oleh siapapun. Tetapi para reader tau lah ya kenapa Arga terlihat membudut di fhoto dengan atuk dan oma.
Aris, Gina dan Arga berfhoto bersama dengan Afdhal dan Anggel. Mereka mengambil pose serius sambai bercanda. Fotografer heran dengan perubahan Arga. Saat foto yang ini Arga terlihat bahagia. Tidak perlu sama sekali diarahkan harus bagaimana. Arga akan langsung tersenyum bahagia.
Dokter Rani yang melihat Arga tersenyum saat berfhoto langsung naik ke atas pelaminan untuk ikut berfhoto. Bram juga melakukan hal yang sama.
Ayah yang melihat Arga tersenyum dan tertawa saat berfhoto dengan yang lainnya mengajak Nana untuk ikutan berfhoto. Tiba tiba ekspresi Arga kembali berubah. Ekspresinya kembali datar dan dingin. Tidak ada lagi senyum yang ditampilkan oleh anak kecil itu.
Fhoto bersama tiga keluarga besar juga berakhir sama. Arga juga tidak pernah tersenyum. Walaupun dokter Rani yang sudah dianggap Arga sebagai kakaknya mengganggu Arga dari arah depan. Ekspresi Arga tetao sama yaitu datar sedatar tembok. Lebih datar dari pada wajah Aris.
Acara resepsi pernikahan yang dijadwalkan pada malam hari sedang berlangsung. Aris sibuk berbicara dengan kolega bisnisnya. Begitu juga dengan Papi, Bram dan Bayu. Bayu hanya datang sendirian, Mira sedang mengandung anak kedua mereka. Sedang menunggu hari hari untuk melahirkan. Makanya Mira tidak bisa hadir.
Acara pesta berjalan dengan sangat megahnya. Tiba tiba.
Prang bunyi gelas yang jatuh ke lantai. Semua orang melihat ke arah bunyi gelas jatuh itu. Ternyata di sana ada Arga yang berusaha mengambil minuman.
Gina yang berada tidak jauh dari Arga langsung menggendong anaknya yang sudah ketakutan itu. Arga benar benar pucat. Dia sangat takut akan dimarahi seseorang.
__ADS_1
"Sayang jangan takut ya nak. Nggak ada yang akan memarahi Arga." ujar Gina berusaha menentramkan jantung anaknya yang berdetak cepat itu.
Arga meremas baju Gina. Dia benar benar takut. Aris langsung mengendalikan situasi. Dia meminta maaf karena ada insiden kecil. Semua tamu memaklumi karena yang menjatuhkan gelas adalah anak kecil, apalagi dia seorang pewaris kerajaan bisnis empat perusahaan besar.
Nana yang tau siapa yang membuat gaduh resepsi Afdhal langsung mengikuti kemana Gina pergi. Ayah yang melihat juga mengikuti Nana. Ayah takut Nana akan berbuat suatu hal kepada Gina.
Bram yang melihat Ayah mengikuti Nana, Nana mengikuti Gina penasaran dengan rangkaian gerbong kereta itu. Dia juga menjadi gerbong ke empat. Dia akan mencari tau, kenapa Arga ketakutan seperti tadi.
Gina yang tau sedang diikuti oleh Nana. Memberhentikan langkahnya di ujur koridor kamar. Dia memberikan Arga kepada Rani agar dibawa masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau Arga mendengar semua caci maki dari Nana. Gina tidak mau Arga kembali merasa terbebani.
Gina menunggu Nana di sana. Daerah yang sudah di sterilkan. Lantai yang hanya di tempat oleh keluarga inti Wijaya.
Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Gina. Gina hanya bisa meraba bekas tamparan itu. Gina sangat yakin ada jejak jemari Nana tertempel di sana. Mengingat betapa perih yang dirasakan oleh Gina di bekas tamparan itu.
"Makasi Nana atas tamparannya." ujar Gina tanpa ekspresi.
"Jangan panggil sebutan itu dari mulut kau. Aku tidak menganggap kau sebagai anak ku lagi. Kau melahirkan seorang putra cacat. Putra yang tidak bisa diandalkan untuk mengelola perusahaan milik orang tuanya." ujar Nana meluapkan kemarahannya.
"Putra yang hanya bisa membuat malu keluarga saja. Tidak cukup kau dan putra sialan mu itu membuat malu dengan melahirkannya. Kenapa harus merusak acara resepsi putra ku satu satunya. Apa kau masih kurang puas membuat malu keluarga ini?" ujar Mami.
"Anak sialan yang hanya bisa membuat malu keluarga saja." ujar Nana memaki maki Arga. Untung saja Gina sudah meminta dokter Rani untuk menjaga Arga.
"Cukup" teriak Gina.
"Cukup untuk kamu Nyonya terhormat menghina darah daging saya." ujar Gina yang sudah tidak tahan lagi dengan semua cacian untuk Arga.
"Ayah keluar. Bram keluar." ujar Gina memerintahlan dua pria yang menyaksikan pertengkaran Gina dan Nana dari balik tembok.
Dua pria yang sangat berpengaruh di dunia bisnis itu keluar dari balik tembok tempat mereka bersembunyi.
"Ayah maafkan Gina karena melahirkan Arga yang menderita autis itu. Tetapi Ayah satu hal Gina tidak pernah ingin melahirkan anak seperti itu. Tetapi Arga terlahir seperti itu, Gina tetap harus berjuang dengan Arga. Maafkan Gina karena sudah membuat malu keluarga." ujar Gina sambil mengusap air matanya yang sempat jatuh.
"Sayang tidak ada yang bisa memilih untuk melahirkan anak yang seperti apa. Kita hanya bisa menjalaninya saja." ujar Ayah.
"Ayah tidak marah sama kamu nak. Malahan ayah bangga, kamu berhasil membuat Arga sembuh. Ayah tau semuanya nak." ujar Ayah membawa Gina kedalam pelukannya.
Setelah Ayah yakin Gina sudah tenang, Ayah beralih kepada Nana. Istri yang sangat dipujanya itu.
"Nana, kalau Nana tidak suka Arga menjadi cucu Nana tidak masalah. Tetapi dia akan tetap menjadi cucu wijaya. Tidak menjadi cuci Bramntya." ujar Ayah menahan amarahnya.
"Melihat kamu yang sekarang aku seperti tidak mengenal istriku yang dulu. Istriku yang dulu tidak peduli dengan apa kata dunia. Dia hanya perduli dengan keluarganya. Sekarang yang berdiri di depanku bukanlah istriku yang dulu tetapi istriku yang baru. Sepertinya aku haris menyesuaikan kembali diriku dengan dirimu." ucap Ayah sambil menatap kecewa kepada Nana.
"Terserah. Kalau kamu mau menganggap dia cucu Wijaya Grub tidak masalah. Tapi dia bukan cucu Bramntya Grub." jawab Nana menantang ayah.
Ayah ingin kembali membalas perkataan Nana. Tetapi Gina terlebih dahulu menahan. Gina tidak mau kedua orang tuanya ribut hanya karena dirinya dan Arga.
"Kamu masuk kamar sana. Temani Arga." perintah Ayah kepada Nana.
"Urusan kita belum selesai Nona Bramantya." ujar Ayah yang berlalu meninggalkan Nana.
Nana melangkah ingin masuk ke kamar Gina. Ayah yang tau maksud Nana langsung berbalik melihat ke arah Nana kembali.
"Nona Bramntya sekali lagi anda menyakiti putri dan juga cucuku. Anda akan tau apa akibatnya Nona." ucap Ayah.
Nana hanya mampu terdiam. Dia sudah membangkitkan kemarahan seorang Wijaya. Dia tidak menyangka Ayah malahan berbalik menyerang dirinya. Apa sebenarnya yang diketahui oleh Ayah tetapi tidak diketahui oleh dirinya. Nana benar benar pusing. Apakah sudah pas dia memilih membenci Gina dan Arga atau pilihannya ini adalag pilihan yang salah.
Nana akhirnya mengikuti Ayah untuk kembali ke acara pesta. Mereka tidak akan mungkin lama lama meninggalkan acara itu.
"Bram, kalau kamu mau mengatakan kepada Aris silahkan. Tapi kalau tidak Ayah sangat senang. Lebih baik Aris tau sendiri dengan kelemahan dan kelebihan Arga." ujar Ayah kepada Bram.
"Aku tidak paham Ayah." jawab Bram yang benar benar tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Ayah.
"Kamu kalau mau tau temui Gina dan Rani secara personal. Tanggalkan embel embel Soepomo. Maka kamu akan tau semuanya. Seperti Ayah yang mengetahui semuanya setelah menanggalkan embel embel Wijaya." ujar Ayah.
Apa yang dilakukan oleh ayah sampai ayah tau apa yang terjadi kepada Arga?????
__ADS_1
Staycun kakak. Tetap sukai dan nantikan terus.
Terimakasih atas semua dukungan kakak kakak atas karya saya yang luar biasa panjang ini.