
Sudah selama sebulan ini Arga selalu melakukan terapi dengan dokter Rani dan sama sekali Aris serta anggota keluarga lainnya curiga dengan Arga yang selalu mengikuti Daniel pergi bekerja. Arga sudah berkembang dari segi kontak mata dan fokus.
Biasanya Arga tidak memiliki kontak mata dengan orang lain. Sedangkan sekarang sudah memiliki kontak mata sebanyak lima detik. Sebuah kemajuan yang sangat disyukuri oleh Gina, Daniel dan Frenya yang mengetahui tentang kondisi Arga.
"Nyenyek" panggil Arga saat dia baru turun dari mobil Daniel.
"Hay cucu nenek." kata Mami yang mengalah untuk dipanggil nenek oleh Arga.
"Cucu nenek dari mana?" tanya Mami sambil memangku Arga.
Arga menunjuk Daniel yang memakai jas dokternya.
"Arga dari rumah sakit? Ikut Niel kerja?"
Arga mengangguk. Arga kemudian turun dari pangkuan Mami. Dia menuju Daniel. Arga mengambil stetoskop milik Daniel yang berada di dalam saku jas dokternya.
Arga kembali menuju Mami. Dia memasang stetoskop itu ketelinganya. Arga kemudian mengarahkan alat periksa ke dada Mami. Dia mendengarkan detak jantung Mami ditelinganya.
"Wow cucu Nenek mau jadi dokter?" ucap Mami sambil menatap tajam ke arah Arga.
"Ndak" jawab spontan Arga yang memang tidak ingin menjadi seorang dokter.
"Oh baiklah. Apakah jantung Nenek sehat sayang?" tanya balik Mami.
Arga mengangkat jempolnya.
"Sekarang Atuk periksa lagi. Masak Nenek aja, kalau Nenek, atuk sangat yakin pasti sehat. Nenek kan nggak ngurus perusahaan." ujar Papi yang tidak mau mengalah dengan Mami.
Arga pindah dan mendekat ke arah Papi. Arga melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan kepada Mami tadi.
"Apakah Atuk sehat pak Dokter?"
Arga menggeleng dengan pasti.
"Oh kalau begitu Atuk akan tidur tiduran aja di rumah lagi. Atuk nggak mau sakit." jawab Papi sambil menggelitik Arga.
Gina, Daniel dan Frenya saling tatap. Mereka takut nanti tiba tiba Arga mengamuk dan memukuli Papi. Gina menjadi lebih waspada. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Papi dan Arga. Ternyata apa yang ditakutkan Gina tidak terjadi, Arga tertawa dengan senangnya karena digelitiki oleh Papi.
Aris melihat ke arah Gina yang menatap cemas ke Arga.
"Sayang kenapa cemas melihat ke Arga? Ada apa?" Aris begitu penasaran dengan tatapan Gina tersebut.
"Ngggak ada sayang." jawab Gina yang sedikit gugup.
"Ada apa sayang." ulang Aris kembali.
"Baiklah. Aku takut kalau Arga ngompol. Dia nggak bisa nahan pipisnya kalau digelitiki seperti itu." jawab Gina.
Dan tiba tiba saja.
"Wow pria tampan kamu pipisin Atuk." ujar Papi yang kaget karena disiram air panas oleh Arga.
Arga yang selesai mengisongkan kantung kemihnya langsung berdiri, dia membuka celananya dan melempar dengan kaki.
"Arga" ujar Daniel memanggil Arga.
Daniel menatap Arga, Arga langsung paham kalau Daniel marah. Arga pergi mengambil celana yang dilemparnya tadi, serta menaruhnya ke tempat nyuci di dapur.
Setelah meletakkan celana kotornya tadi, arga menuju Papi. Dia langsung menyalami Papi dan meminta maaf. Papi tersenyum melihat kelakuan cucunya itu.
"Sini duduk lagi. Atuk tidak marah." ujar Papi.
Gina yang baru selesai mengambil celana Arga meminta Arga memakai celananya sendiri. Arga memasang celananya dengan berat hati. Tapi dia harus bisa melakukannya.
Hari beranjak maghrib sang surya sudah kembali keperaduannya. Semua anggota keluarga kecuali Arga melaksanakan sholat berjamaah. Selesai sholat mereka makan malam bersama.
Selesai makan malam, Gina akan membawa Arga ke kamarnya, dia terlihat sudah sangat mengantuk.
"Pi, Mi, Gina bobokin Arga dulu ya. Kayaknya dia sudah sangat lelah dan mengantuk." ujar Gina sambil melirik Arga yang sudah berkali kali menguap.
"Iya sayang nggak apa apa." jawab Mami.
Gina dan Arga langsung ke atas menuju kamar Arga. Sedangkan Aris masih terlibat obrolan bisnis dengan Papi dan Bram serta Frenya. Daniel sama tau aja, semenjak mengejar ngejar dokter Rani, dia selalu berkurung diri di kamarnya. Lagian Daniel juga kurang berminat dengan dunia bisnis. Makanya dia lebih memilih masuk kamar saja.
.
.
.
Hari hari berlalu, tepat hari ini Gina sendiri yang akan mengantarkan Arga untuk terapi ke rumah sakit. Daniel hari ini tidak bisa menemani Arga karena dia ada meeting di rumah sakit yang tidak bisa ditinggalkan.
Gina dan Arga masuk ke dalam rumah sakit. Mereka berdua berjalan dengan santai dan acuhnya, sehingga menjadi pusat perhatian dari semua yang ada di rumah sakit.
"Arga, Bunda nggak tau dimana ruangan dokter Rina. Arga bisakan tunjukin jalannya?" ujar Gina sambil menyajarkan posisinya dengan Arga.
__ADS_1
Arga mengangguk dengan pasti. Dia sudah hafal dimana letak ruangan dokter Rina. Arga meraih tangan Gina, dia berjalan sedikit di depan Gina. Gina hanya geleng geleng kepala melihat tingkah putranya itu.
Tok tok tok, Gina mengetuk pintu ruangan praktek dokter Rani. Gina sudah memastikan bahwa ruangan ini benar adalah ruangan yang dia tuju setelah melihat papan nama yang bertengger di atas pintu ruangan.
Betapa terkejutnya donter Rani saat melihat bukan dokter Daniel yang mengantarkan Arga. Gina yang paham labgsung tersenyum hangat.
"Daniel sedangbada kerjaab. Makanya saya yang mengantarkan Arga untuk terapi." kata Gina memberitahukan perihal Daniel kepada dokter Rina.
"Silahkan masuk Nyonya. Maaf sampai lupa." ujar dokter Rani dengan gugupnya.
Gina dan Arga masuk ke dalam ruangan prakter dokter Rani. Arga yang sudah biasa di sana langsung mengeluarkan semua yang akan dipelajarinya. Gina menatap tersenyum dengan semangat Arga.
"Baiklah dokter, Arga saya tinggal dulu. Berapa jam ya dokter kalau saya boleh tau?" tanya Gina yang memang baru sekali ini mengantarkan Arga terapi.
"Tiga jam Nyonya."
"Baiklah berarti saya kembali ke sini jam empat. Terimakasih sebelumnya dokter." ujar Gina sambil meninggalkan ruangan itu.
"Huf." ujar Rani sambil mengusap dadanya.
"Bener kata orang orang di luar. Nyonya Muda Soepomo memiliki tatapan yang tajam dan dingin." lanjut Rani.
Arga yang melihat Rani gugup langsung tertawa terbahak bahak.
"Hay sayangku kenapa tertawa seperti itu?" ujar Rani yang melihat Arga tertawa dengan bahagia.
"Mi" ujar Arga.
"Apa? Arga mau manggil Bunda dengan kata Mommy?" tanya Rani sambil duduk di depan Arga.
"Mi" ujar Arga lagi sambil menyalami tangan Rani.
"Arga dengarkan kakak ya. Kakak tidak marah dengan Mommy. Mommy Arga adalah Mommy yang baik. Dia sayang sama siapa saja. Jadi, Arga tidak perlu meminta maaf ya." ujar Rani sambil tersenyum.
Arga membalas senyuman Rani.
"Sekarang apa bisa kita mulai belajarnya?" tanya Rani menatap Arga.
Arga mengangguk.
Rani mengeluarkan kembali biji kacang hijau lebih banyak dari pada biasanya. Rani juga meletakan bola bola kecil yang harus disusun Arga berdasarkan warna. Kegiatan kedua Arga lebih menyukai dari pada kegiatan pertama.
Arga membuang mukanya saat Rani meletakan biji kacang hijau di depan Arga. Arga diam saja tanpa ada reaksi.
"Arga mau mengelompokan bola bukan?" tanya Rani.
"Tatap mata kakak." perintah Rani yang tidaj bisa di tawar oleh Arga.
Arga menatap mata Rani. Rani sudah menghitungnya. Rani ingin ada perubahan dari kontak mata Arga. Ternyata memang benar kontak mata Arga sudah naik.
"Oh makasi Tuhan." ujar Rani.
"Arga, kakak lupa, sebelum belajar kita berdoa dulu ya." ujar Rani sambil mengangkat kedua tangannya.
Arga melakukan hal yang sama dengan Rani. Rani memimpin doa untuk belajar. Arga mengikuti dengan perhatian yang sudah ke alat belajarnya.
"Aamiin" ujar Rani sambil mengusap tangan kemuka nya.
"Miin" ujar Arga sambil melakukan hal yang sama dengan Rani.
"Mantap. Kakak kasih jempol." kata Rani sambil memberikan dua jempol kepada Arga.
Rani kemudian meletakan piring yang di atasnya ada lima puluh biji kacang hijau dan sebuah alat penjepit.
"Oke Arga, kalau Arga bisa memindahkan ini semua dengan cepat, maka besok kita tidak perlu main ini lagi. Kakak akan carikan permainan yang lain." ujar Rani kepada Arga.
Arga menatap Rani. Rani mengangguk tanda mengiyakan apa yang dikatakannya adalah sebuah kepastian.
Arga mengambil alat penjepit. Arga mulai memindahkan satu persatu biji kacang hijau itu dengan teliti, fokus dan sabar. Tidak ada kemarahan sedikitpun yang ditunjukkan oleh Arga saat dia tidak berhasil memindahkan biji kacang hijau itu.
Rani terus mengamatinya. Rani sudah yakin kalau untuk kesabaran, Arga sudah sangat banyak kemajuan. Sekarang yang harus Rani tingkatkan adalah fokus dan emosi yang ingin cepat selesai dalam melakukan berbagai hal.
Setelah lima belas menit semua biji kacang hijau sudah tersusun rapi di atas meja. Rani bertepuk tangan, Arga juga melakukan hal yang sama.
"Wah good job boy. Kamu berhasil." Rani menyalami Arga dan memberikan selamat karena Arga berhasil mengerjakan dalam waktu yang singkat. Arga tersenyum sombong, sifat angkuh bawaan dari Daddynya langsung keluar dengan alami.
"Mulai sombong" ujar Rani sambil tersenyum.
Arga membalas senyuman Rani dengan tulus.
"Sekarang kita main ini ya. Tapi Arga harus fokus. Arga dengerkan?" tanya Rani sambil menatap Arga.
Arga mengangguk memastikan kalau dia mendengar ucapan Rani.
"Baik. Dengarkan perintah Kakak. Kalau Kakak menyebut merah, maka Arga ambil bila merah dan masukkan ke keranjang warna merah. Arga perhatikan Kakak." ujar Rani yang akan memberikan contoh.
__ADS_1
"Biru" ujar Rani.
Rani mengambil bola berwarna biru, setelah itu Rani berlari dan memasukan bola berwarna biru tadi ke dalam keranjang warna biru.
"Paham Arga?"
Arga mengangguk menandakan kalau dia paham dengan perintah Rani.
"Mik" ujar Arga yang tiba tiba merasa haus.
"Ambil di situ. Arga nampakan ada botol air di situ?" tanya Rani sambil menunjuk tabung air mineral yang ada di atas meja tamu.
Arga mengambil air mineral tersebut dan memberikan kepada Rani.
"Buka" perintah Rani kepada Arga.
Arga tidak paham bagaimana cara membuka botol air meniral itu. Dia menatap Rani lama.
"Coba Arga cari sendiri. Arga pasti bisa. Arga kan anak pandai. Jadi Arga akan bisa membukanya. Ayo semangat Arga."
Arga berusaha membuka tutup botol air kemasan. Akhirnya Arga bisa juga membuka tutup tersebut. Dia tersenyum bahagia. Arga langsung meminum air mineral itu. Dia benar benar haus setelah berkonsentrasi lama saat memindahkan biji kacang hijau. Setelah selesai minum air, Arga kembali melipat tangannya di atas meja. Dia siap menerima pelajaran berikutnya.
"Nah Arga lihat bola yang kakak pegang. Arga harus bisa menghafal warnanya." ujar Rani.
Rani mengangkat sebuah bola berwarna pink.
"Ini warna pink. Rani ulang ya. Ini warna pink. Arga paham warna apa? Warna pink."
Arga mengangguk tanda paham dengan nana warna yang diangkat Rani.
Rani terus melakukan semua itu sampai tiga warna terakhir yaitu pink, biru, kuning dan hijau. Arga menyimak dengan dalam warna warna yang dikatakan oleh Rani.
"Kita mulai Arga?" tanya Rani yang sangat bersemangat. Arga termasuk anak yang cepat mengerti dengan intruksi. Arga hanya kurang dalam mengkomunikasikan saja.
"Arga ambil warna hijau." ujar Rani.
Arga mengambil banyak bola berwarna hijau.
"Bukan semuanya Arga tapi satu saja" ujar Ranj memperingatkan Arga supaya tidak mengambil semua bola berwarna hijau.
Arga meletakan kembali semua bolanya. Kemudian dia mengambil satu bola berwarna hijau. Arga memperlihatkan kepada Rani, Rani mengangguk tanda setuju dengan bola yang diambil Arga.
"Sekarang masukkan ke keranjang warna hijau." perintah Rani selanjutnya.
Arga berlari dan memasukkan bola ke dalam keranjang.
" Bukan Arga. Itu bukan hijau tapi Biru." ujar Rank.
Arga mengambil bolanya, dia tersenyum kepada Rani. Arga kemudian memasukan bola yang bener ke dalam keranjang warna hijau.
Rani dan Arga terus bermain bola. Sampai semua bola habis berpindah ke dalm keranjangnya masing masing.
"Nah Arga sekarang bawa ke sini keranjang warna kuning." ujar Rani selanjutnya.
Arga mengangkat keranjang berwarna kuning. Rani terus memerintah Arga sampai semia keranjang sudah kembali pada tempatnya.
"Nah berhubung Arga hari ini sangat pintar. Arga boleh main mobil mobilan itu." ujar Rani sambil menunjuk mobil mobilan yang ada di sudut bermajn. Arga menuju tempat bermainnya. Dia main dengan semangat.
Tak terasa sudah tiga jam lamanya Arga melakukan terapi. Gina sudah menunggu di depan ruangan Rani dari setengah jam yang lewat. Saat dirasa Gina sudah pas waktunya, Gina mengetuk kembali pintu ruangan Ranj. Rani membuka pintu dan mempersilahkan Gina untuk masuk.
"Rani, bagaimana Arga?" tanya Gina langsung ke inti pertanyaan.
"Arga memiliki perkembangan yang baik Nyonya. Untuk konsentrasi dan kontak mata sudah ada tapi belum bagus. Kesabaran sudah jauh membaik. Dia sudah tidak suka menghempaskan kepala lagi." Rani membeberkan semuanya kepada Gina.
"Apakah dia bisa sembuh?" tanya Gina sambil menatap Arga.
"Nyonya kesembuhan milik yang di atas. Saya hanya perantara. Tapi kita harus tetap berdoa dan berusaha semoga semua berjalan lancar." ujar Rani sambil menatap Arga.
"Baiklah Rani, terimakasih atas pertolongan Rani. Kami permisi pulang dulu." ujar Gina.
"Arga sini duduk kembali. Kita berdoa mau pulang." ujar Rani kepada Arga.
Arga mengangkat kedua tangannya. Gina dan Rani melakukan hal yang sama. Rani membacakan doa penutup pelajaran. Arga menyimak. Setelah selesai Arga mengucapkan Amin dan mengusapkan telapak tangannya ke mukanya sendiri.
"Ayuk sayang kita pulang." ajak Gina.
Arga kemudian bersalaman dengan Rani. Mereka bertiga sama sama beranjak menuju parkiran mobil. Saat sampai di lobby terlihat Daniel sedang berjalan juga menuju parkiran. Arga berlari dan menarik tangan Daniel.
"Oh adik bungsu uda." Arga langsung meminta untuk di gendong oleh Daniel.
Daniel langsung menggendong Arga.
"Bun" sapa Daniel sambil bersalaman dengan Bundanya.
"Gimana tadi dokter?" tanya Daniel kepada Rani.
__ADS_1
"Lancar dokter. Semoga kedepan makin bagus perkembangan Arga." jawab dokter Rani.
"Boy, kamu pulang dengan uda atau dengan Bunda?" tanya Daniel kepada Arga.