
Hendri mengemudikan mobil menuju mansion utama keluarga Soepomo. Juan dan Frenya sudah duduk di kursi belakang dengan santai.
"Wah yang katanya belanja sedikit. Ternyata jadi lima kantong besar" ujar Juan menggoda Frenya yang katanya hanya akan belanja bahan bahan untuk membuat cake.
"Gimana lagi sayang. Siapa suruh di sana buah buahannya seger seger semua terus varian anggurnya super lengkap. Ya aku belilah. Kapan lagi aku bisa pergi belinya" ujar Frenya dengan santai menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Juan.
"Jadi, aku harus bikin cake nya kapan sayang?" tanya Juan.
Juan berharap Frenya akan mengatakan besok saja, karena bagaimanapun Juan sudah terlalu capek hari ini. Tapi kalau Frenya tetap meminta Juan untuk membuat cake itu hari ini juga, maka mau tidak mau maka Juan akan memasak cake saat dirinya sudah selesai membersihkan badannya.
"Besok aja sayang. Kan besok hari libur. Jadi kita bisa bikin cakenya dari pagi. Kalau gagal kita ulang lagi sampai sukses" ujar Frenya dengan semangat membahas tentang kapan waktunya mereka untuk memasak cake.
"Oh kirain harus hari ini sayang" ujar Juan.
"Nggak sayang, aku tahu kamu sangat capek. Makanya aku memutuskan untuk besok saja kita masak masaknya" jawab Frenya yang sangat sangat mengerti dengan keadaan dari Juan.
Mobil yang dikemudikan oleh Hendri sudah masuk ke dalam pintu gerbang utama komplek perumahan tempat tinggal semua anggota keluarga Soepomo. Mereka semua tinggal di dalam satu kawasan yang sangat luas. Siapapun yang lewat di depan kompleks itu akan tercengang dan akan sangat yakin kalau yang tinggal di sana adalah orang yang luar biasa kayanya.
Mobil yang dikemudikan oleh Hendri berhenti tepat di belakang mobil Argha yang baru saja datang. Valet yang bekerja di mansion utama sudah akan memindahkan mobil Argha ke parkiran.
"Wah Uni pulang ini" ujar Argha yang melihat mobil Juan sudah berhenti di depan lobby mansion utama.
Argha sengaja menunggu Frenya di jenjang mau masuk mansion. Hendri terlihat sibuk menurunkan semua barang belanjaan yang tadi dibeli oleh Frenya dan Juan.
"Pulang shopping uni?" tanya Argha saat melihat barang yang dibawa oleh Hendri ke dalam mansion.
"Beli buah. Baru pulang Bontot?" ujar Frenya yang tidak mengubah panggilan untuk Argha dari kecil.
"Yupi. Capek banget banyak kerjaan yang harus dikerjakan di perusahaan" ujar Argha sambil berjalan seperti orang yang kehabisan tenaga masuk ke dalam mansion.
Aries dan Ghina yang sudah menunggu putra putri mereka pulang dari perusahaan hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan putra bungsu mereka yang sangat abstrak itu.
"Kenapa lagi Gha? Apa dokumen kembali menggigit pantat kamu?" ujar Aries mengomentari gaya jalan Argha.
"Bukan digigit lagi Daddy. Tapi di kunyah" jawab Argha semakin absurd dan tidak jelas.
__ADS_1
Ghina yang mendengar percakapan antara ayah dan anak itu hanya bisa pasrah saja tanpa mengomentari apa yang terjadi.
"Loh kenapa belanjaan kamu banyak sekali Uni?" tanya Ghina saat melihat Hendri membawa kantong belanjaan supermarket yang banyak.
"Nana hitung sudah lima kantong yang di bawa Hendri ke dalam" lanjut Ghina.
"Itu semua buah buahan Nana. Tadi pas ke supermarket, banyak nampak anggur sama buah buahan yang lain. Makanya main beli aja" jawab Frenya.
Frenya yang merasa tubuhnya letih memilih langsung duduk di sofa yang terdekat dengan dirinya. Ghina menatap putri tunggalnya itu.
"Kamu sakit Uni?"
"Wajah kamu pucat sekali" ujar Ghina saat melihat wajah Frenya yang pucat sekali.
Frenya menggeleng. "Cuma capek Nana" jawab Frenya.
Juan sudah kembali dari dapur dengan membawa teh mint dari dapur dan juga snack serta potongan pear singo.
"Minum dulu sayang" ujar Juan
"Kita ke rumah sakit aja Uni, kalau nggak panggil dokter aja ke sini. Uni pucat sekali" kata Argha yang sangat cemas dengan keadaan Uni nya itu.
Frenya menggeleng. "Uni hanya capek bontot. Istirahat aja nanti Uni akan kembali sehat" jawab Frenya yang memang merasakan dirinya hanya kecapekan saja dan hanya butuh istirahat.
"Tapi" lanjut Argha yang tidak puas mendengar jawaban dari Frenya.
Tetapi Argha tidak jadi melanjutkan apa yang akan dikatakannya saat melihat Ghina yang sudah menggeleng memperingati Argha untuk tidak melanjutkan apa yang akan dikatakan oleh Argha.
"Ya udah nak, kamu istirahat aja ke kamar ya. Nanti kamu kamu masih tidak mampu turun saat jam makan malam. Bibik yang akan antarkan makanan kamu ke atas"
Ghina menengahi keributan yang hampir terjadi antara Argha dan Frenya. Argha yang sangat peduli dengan Frenya akan memaksa Frenya untuk ke rumah sakit atau mendatangkan dokter rke mansion. Tetapi Frenya yang nggak mau pasti juga akan mempertahankan argumennya sendiri.
Juan menggendong Frenya untuk masuk ke dalam kamar. Sedangkan Aries, Ghina dan Argha mengiringi dari belakang sampai pintu lift yang akan mengantarkan Juan dan Frenya ke kamar mereka yang di lantai tiga.
"Uni kenapa ya Na?" ujar Argha membuka percakapan dengan nada yang sangat khawatir terhadap kakak perempuannya itu.
__ADS_1
"Sepertinya cuma keletihan saja Gha." ujar Ghina menjawab pertanyaan dari Argha.
"Kalau nggak juga sembuh sampai besok pagi. Maka Argha akan telpon dokter" ujar Argha dengan keras kepalanya.
"Oke kita akan panggil dokter" kali ini Aries setuju dengan apa yang dikatakan oleh Argha.
"Yah Nana juga setuju" akhirnya Ghina menyetujui apa yang dikatakan oleh Argha setelah Aries suaminya juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Argha.
"Sudah sana bersih bersih dulu Gha. Nanti keluar lagi saat mau maghrib" kata Ghina.
Argha memilih masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Ghina menuju dapur untuk menyiapkan menu makan malam. Aries seperti biasa masih melihat bagaimana kemajuan dari perusahaan Soepomo yang sekarang dikendalikan oleh Argha.
"Kamu masak apa sayang?" ujar Aries dari belakang sambil memeluk Ghina.
Aries meniup leher Ghina.
"Sayang geli. kamu nggak malu ada para bibik di sini" ujar Ghina memperingatkan suaminya itu bahwasanya mereka tidak hanya berdua saja di dapur.
"mereka suda pergi semua sayang. hanya tinggal kita berdua" jawab Aries.
Ghina melihat ke sekelilingnya, ternyata memang hanya tinggal mereka berdua saja yang ada di dapur itu. Para bibik sudah pergi entah kemana.
"Kamu memang sangat sangat safety sekali sayang" ujar Ghina memuji Aries.
"kalau untuk hal itu, kamu jangan ragukan keamanan aku sayang" jawab Aries sambil tersenyum bangga dengan dirinya.
"Jadi, sekarang ini kamu masak apa?" ulang Aries bertanya kepada istri cantiknya itu.
"Semua menu adalah kesukaan Frenya. aku merasa ada sesuatu dengan dirinya cuma aku tidak mau menebak nebaknya. Biarkan Frenya dan Juan menyadarinya sendiri" ujar Ghina.
"maksud kamu, Juan sukses gitu?" tanya Aries.
"Yup. Menurut aku seperti itu" jawab Ghina yang sangat yakin itu terjadi.
"Semoga saja" jawab Aries.
__ADS_1