Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Comblangan Arga


__ADS_3

Bram melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Bram sama sekali tidak bisa menggeber laju mobilnya karena kepadatan arus lalu lintas saat sore hari.


Siapapun orang yang datang ke negara I akan sangat maklum dengan kemacetan yang harus mereka hadapi. Tiap hari akan selalu macet saat jam jam sibuk seperti saat ini.


"Atuk di negara U nggak pernah ada macet." tutur Argha mulai bercerita kepada Atuknya.


"Tentu iya sayang. Di sana masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi yang diperbolehkan membawa mobil saat jam kantor. Kalau dia hanya karyawan biasa, maka bus karyawan akan menjemput mereka di halte yang sudah disepakati." ujar Papi kepada Argha.


Atuk dan cucu itu sibuk bercerita, membandingkan antara negara I dan negara U.


"Dad, Argha sekolah dimana nanti?" tanya Argha yang teringat dengan sekolahnya.


"Daddy diskusikan dengan Bunda dulu ya. Apakah kamu sekolah normal atau sekolah privat seperti waktu di negara U." ujar Aris menjawab pertanyaan Argha.


"Privat aja Dad. Nanti Argha yang kasih tau Bunda, kalau Argha akan privat saja."


Bram membelokan mobilnya memasuki gerbang utam komplek perumahan Soepomo. Bram memarkir mobilnya di tempat biasa.


"Selamat datang kembali ke rumah Sayang." ujar Aris kepada anak bungsunya itu.


"Semoga nggak ada yang ngusir Argha lagi ya Dad." ujar Argha yang masih menyimpan luka yang ditorehkan oleh Mami.


"Sayang, Argha harus lupakan semua kisah kelam itu ya. Argha jangan ingat ingat semua itu lagi. Daddy, Atuk dan Papi akan selalu menjaga Arga."


Argha memeluk Aris. "Argha sayang Daddy." ujar Argha dalam pelukan Aris.


"Daddy juga sayang Argha." jawab Aris.


"Atuk dan Papi juga sayang Argha." sambar Papi sambil tersenyum.


"Ayuk masuk." ajak Papi ke mereka semua.


Mereka berempat berjalan menuju pintu utama rumah. Mereka berjalan sambil bercanda mengingat ingat kejadian waktu Argha masih kecil.


Argha melihat ayunan tempat dia biasa makan masih ada di sana. Argha tersenyum bahagia karena ayunan itu masih.


Saat mereka sampai di depan pintu rumah, orang orang yang selama ini di cari oleh Papi dan Paman Hendri sudah berada di depan pintu rumah.


"Loh bik Imah?" ujar Papi saat melihat Bik Imah yang sudah ada di sana dengan beberapa orang yang lain dan tas mereka.

__ADS_1


"Iya Tuan Besar." jawab Bik Imah.


"Ini Pak Paijo?" tanya Papi.


"Iya Pak."


"Kalian semua selama ini kemana saja. Saya sudah mencari cari ke semua daerah sampai ke kampung kalian. Saya tidak menemukan kalian satu orang pun." tanya Papi dengan menggebu gebu.


"Ceritanya panjang Tuan Besar." jawab Pak Paijo mewakiki yang lain.


"Atuk, Argha ngantuk. Kalau nggak juga masuk, Argha bobok di teras aja." ujar Argha yang sudah akan memejamkan matanya di kursi teras.


"Ya udah kita masuk dulu. Kalian semua utang penjelasan kepada Saya." lanjut Papi sambil menatap mereka satu persatu.


"Tapi apakah kami masih boleh kerja di sini Tuan Besar?" tanya Pak Paijo mewakili suara dari yang lain.


"Tanya Argha." perintah Papi.


"Tuan Muda, apakah kami masih" tanya Pak Paijo yang belum selesai bertanya kepada Argha.


"Boleh, kalian semua sayang sama Argha jadi boleh kembali kerja di sini. Argha sayang kalian semua" jawab Argha sambil tersenyum. Senyum yang sangat jarang diberikan oleh Argha ke orang lain.


"No suster. Argha masih sama. Argha nggak suka di peluk. Apalagi di peluk wanita. Argha bukan Daddy yang mau di peluk sembarang wanita." ucap Argha menohok telak sudut perasaan Aria.


"Argha Daddy nggak ngomong apapun tetap juga kena gitu. Kasiannya Daddy." ujar Aria sambil meraba hatinya.


"Makanya jangan mau dulu asal di peluk. Sok Don Juan. Pas giliran cinta cintanya orang kabur jadi pusing sendiri kan." lanjut Argha yang memang nggak mau kalah melawan Daddy nya itu.


Papi yang udah nggak betah mendengar pertengkaran anak dan menantunya memilih untuk masuk ke dalam rumah. Dimana seorang maid sudah membuka pintu dari tadi. Maid itu sebenarnya pengen memeluk bik Imah. Tapi apa mau dikata Papi masih berdiri di luar.


"Udah masuk. Kalian semua tarok kembali barang barang di belakang."


"Argha kalau mau lanjut menyindir Daddy nanti kita lanjutkan berdua. Atuk akan menolong Argha. Sekarang Atuk mau bobok, atau Argha mau Atuk bobok di teras?" tanya Papi menyindir Argha dengan ucapan Argha tadi.


"Itu kalimat punya Argha." jawab Argha dengan dingin.


"Suster temani Argha ke kamar ya." perintah Argha ke suster Rina.


Suster Rina membawa koper milik Argha. Dia akan menyusun semua pakaian Argha saat Argha sudah tertidur nantinya.

__ADS_1


"Suster Rina apakah perlakuan Alex kepada suster Rina baik?"


"Kenapa Tuan Muda bertanya hal itu?" tanya suster Rina penasaran dengan maksud pertanyaan Argha.


"Nggak ada, Argha cuma pengen tau aja." jawab Argha.


"Yey Argha mulai kepo." ujar Rina sambil menggoda Argha.


"Nggak kepo cuma Argha pengen tau aja." jawab Argha yang nggak mau kalah dengan apa yang dikatakan oleh Rina.


"Yayayaya. Dia memang dekat dengan Rina, tapi Rina nggak mau aja." jawab Rina sambil tersenyum.


"Yah rugilah. Suster tau ndak dia siapa?" tanya Argha.


"Tau. Dia pengusaha. Tapi dia nggak gencar mendekati Rina. Rina mau dia berusaha gencar mencari Rina." ujar Rina.


"Kalau dia gencar Rina mau?" tanya Argha.


"Maulah Gha. Siapa yang nggak mau sama Tuan Alex. Sudah lah keren, penyayang, plus kaya lagi." ujar Rina memuji muji Alex.


"Awas ya suster Rina kalau nggak terima Alex pas Alex udah ngejar ngejar tante Rina." ujar Argha.


"Asiap. Sekarang Tuan Muda ganteng Rina ini harus tidur." perintah Rina sambil menggendong Argha ke ranjang.


"Suster Rina, bilang ke Bik Imah kalau Argha mau makan ayam bakar." ujar Argha yang sangat menginginkan ayam bakar buatan Bik Imah.


"Siap Tuan Muda. Nanti setelah Tuan Muda bangun dari tidur maka ayam bakar pesanan Tuan Muda di pastikan sudah masak."


"Makasi calon Nyonya Alex." jawab Argha menggoda Rina.


"Sama sama Tuan Argha." jawab Rina sambil berjalan keluar dari kamar Argha.


Argha memeluk gulingnya. Dia langsung tertidur karena memang sudah lelah karena penerbangan yang jauh itu.


Papi, Aris dan Bram juga sudah istirahat. Mereka benar benar lelah juga.


"Bik Imah, Tuan Muda minta dibuatkan ayam bakar." ujar Rina kepada Bik Imah.


"Oke sip. Kita akan masak spesial hari ini." jawab Bik Imah.

__ADS_1


Bik Imah dan suster Rani serta seorang maid bekerja di dapur. Mereka sibuk membuat menu menu kesukaan dari empat Tuan mereka yang sudah lama tidak memakan makanan rumahan yang enak enak itu.


__ADS_2