
" Kalian berdua dari mana? " ucap Gina saat melihat Daniel dan Frenya datang bersamaan dan turun dari mobil yang sama.
" Kami berdua dari rumah sakit Bunda. Tadi aku ada perlu ke rumah sakit." jawab Frenya yang menahan Daniel untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Bunda.
"Kamu sakit sayang?" ujar Gina yang terlihat sangat panik saat mendengar Frenya tadi ke rumah sakit.
" Nggak Bun, aku nggak sakit, aku ke rumah sakit tadi hanya untuk pergi membezuk teman yang sakit. Bukan pergi berobat Bun." jawab Freanya yang sangat tau kalau Bunda mereka sangat khawatir saat mengetahui salah satu dari anggota keluarga yang sakit.
" Oh baiklah. Sekarang kalian pergi membersihkan diri. Setelah itu kita sholat berjamaah dan makan malam bersama. Daddy sebentar lagi akan pulang." perintah Gina kepada kedua anaknya itu.
Daniel dan Frenya pergi menuju kamar mereka masing - masing, mereka akan membersihkan diri mereka, setelah itu barulah mereka akan duduk di teras sambil menunggu waktu maghrib masuk.
Gina masih duduk di kursi teras. Dia menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Tadi dia sudah menghubungi Bram menanyakan keberadaan Aris dan Bram. Bram mengatakan kalau mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.
Arga yang sudah selesai mandi langsung turun dan menuju teras rumah. Dia ingin menunggu Daddynya pulang dari kantor. Padahal niat Arga sebenarnya adalah mau raun kembali. Candu raunnya sudah kembali datang.
"Anak tampan Bunda udah siap mandi?" tanya Gina sambil mengangkat Arga dan mendudukan Arga di atas pengkuannya.
Arga kemudian mengangguk. Dia memberikan punggung tangannya untuk dicium oleh Gina, yang menandakan kalau dia sudah wangi. Gina mencium punggung tangan Arga.
"Wah anak ganteng Bunda udah wangi." ujar Gina.
Daniel yang telah selesai mandi, menuju teras rumah saat dia melihat Arga dan Gina sedang duduk di sana. Sedangkan Frenya masih sibuk dengan ritual mandinya yang akan selalu lama. Ntah ngapain aja Frenya di dalam kamar mandi hanya Frenya yang tau.
" Hay adik tampan Uda. Udah mandi?" tanya Daniel yang memerhatikan Arga dengan saksama.
Daniel tidak ingin melewatkan semua bukti yang bisa diberikannya kepada dokter Rani. Arga yang mendengar pertanyaan Daniel membalas dengan anggukan kepalanya. Dia juga memberikan tangannya agar dibaui oleh Daniel. Daniel membaui tangan Arga.
"Wah adik tampan uda udah wangi." ujar Daniel.
Arga turun dari atas pangkuan Gina. Dia menarik tangan Daniel untu masuk kedalam rumah. Daniel hanya mengikuti saja kemauan Arga. Arga tepat berhenti di depan deretan kunci mobil yang memang diletakan di sana, supaya mempermudah siapa saja untuk pergi, tanpa harus berteriak teriak atau mencari cari kunci mobil. Arga menunjuk kunci mobil kepada Daniel.
"Arga mau pergi raun dengan mobil?" tanya Daniel sambil berjongkok agar sejajar dengan Arga.
Arga mengangguk tetapi tidak melihat ke mata Daniel. Daniel semakin yakin kalau Arga ada apa-apanya.
" Siap komandan kecil kita akan pergi raun" ujar Daniel sambil menggandeng tangan adik kecilnya.
"Nya" ujar Arga sambil melihat ke kamar Frenya yang memang berada di lantai bawah rumah utama.
"Mau ajak Freanya?"
Arga kembali mengangguk.
"Arga tunggu sini dulu ya, uda akan panggil Frenya dulu." ujar Daniel yang akan melangkah ke arah kamar Frenya.
Arga menarik tangan Daniel lagi. Daniel yang tidak siap dengan tarikan Arga langsung tersentak ke belakang.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Daniel dengan heran.
Arga kemudian meletakan tangannya ke bagian telinganya. Memperagakan orang yang sedang menelpon memakai ponsel,
"Kamu pintar, pake ponsel ajakan ya kita telpon Frenya." ujar Daniel mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.
Daniel menghubungi Frenya, dia mengatakan kepada Frenya kalau Arga minta raun dan harus membawa Frenya pergi. Frenya keluar dari kamarnya menuju teras depan tempat Arga dan Daniel yang sedang menunggu dirinya. Saat Frenya sampai di teras. Mobil Bram terlihat masuk ke dalam pekarangan rumah, Aris dan Bram turun dari mobil mereka.
" Anak ganteng Daddy mau kemana?" ujar Aris saat melihat Arga yang sudah rapi dan memegang kunci mobil.
Arga memperlihatkan kunci mobil kepada Aris dan Bram.
"Mau raun sama Uda dan Uni?"
Arga mengangguk. Arga yang sudah tidak sabar lagi langsung menarik tangan Daniel dan Frenya. Aris, Bram dan Gina langsung geleng geleng kepala melihat tingkah laku Arga.
Daniel melajukan mobilnya untuk membawa Arga raun. Arga duduk di kursi depan berpangku dengan Frenya. Setelah melihat mobil yang dikemudikan oleh Daniel menghilang di telan tikungan jalan menuju gerbang, Gina dan Aris serta Bram masuk kedalam kamar masing masing untuk mandi.
"Sayang, gimana kerjaan kamu sehari tadi?" tanya Aris yang tau Gina pergi bekerja tadi siang.
" Semuanya aman terkendali sayang. Sepertinya Sari harus pulang ke sini lagi. Aku nggak kuat harus menjaga Arga dan juga menjaga perusahaan." jawab Gina sambil menatap Aris.
"Kamu taukan sayang, Sari mau pulang kalau Bram yang menjemputnya. Nah kamu tau sendirilah Bram orangnya seperti apa." jawab Aris yang sudah lelah membujuk Bram agar mau menjemput Sari.
" Itulah sayang, aku gagal paham dengan masalah yang menimpa mereka berdua. Mereka sama sama seperti anak kecil, sama sama keras kepala dan susah diberikan pemahaman." jawab Gina sambil mengambil jus jeruk yang sudah disiapkannya tadi.
" Tadi main dengan susternya, sepertinya dengan suster yang ini Arga lebih cocok. Setelah lelah bermain dengan suster saat saat Arga harus di bawa pergi jalan jalan keluar dari rumah utama, Frenya datang dari kantor. Mereka berdua kemudian pergi menyusuri sepanjang jalanan ibu kota." jawab Gina menceritakan semua kegiatan yang dilakukan oleh Arga dalam satu hari ini.
"Emang Frenya nggak kerja?" tanya Aris yang heran mendengar Frenya pulang cepat.
"Kerjalah masak nggak. Cuma karena dia tau aku juga kerja makanya dia pulang cepat" jawab Gina menjelaskan kenapa Frenya bisa pulang cepat.
"Berapa jam dia raun dengan Frenya?" tanya Aris yang sangat tau kalau anaknya sudah meminta raun, maka tidak akan sebentar.
"Mayan tiga jam, sampe kering minyak mobil pengawal Frenya."
"Hahahahahahaha. Tu anak raun kayak pergi keluar kota aja lamanya." kata Aris sambil geleng geleng kepala karena kelakuan anak bungsunya itu.
Mereka berdua terus aja ngobrol tentang segala hal. Tidak beberapa terdengar lantunan suara azand memanggil umat muslim untuk melaksanakan kewajibannya. Aris dan Gina keluar dari kamar untuk menuju mushalla yang ada di samping rumah. Saat mereka keluar bertepatan dengan Bram yang juga keluar dari kamarnya. Mereka bertiga sama sama menuju Mushalla.
"Gin." panggil suara yang sudah lama rasanya tidak didengar oleh Gina.
Gina memutar badannya ternyata dari arah depan terlihat Bayu dan Mira berjalan bergandengan. Perut Mira yang terlihat sudah membuncit itu semakin membuat dia cantik.
"Hay, akhirnya bisa juga loe bangun dari tempat tidur. Gue kira akan selama sembilan bulan loe di atas kasur aja." ujar Gina sambil mengejek Mira yang selama ini terkenal kuat eeeee pas hamil langsung jadi wanita lemah.
"Tandanya gue harus istirahat Gin." jawab Mira sambil menggamit tangan Gina.
__ADS_1
"Alasan. Sudah nanti aja ributnya. Kalian berdua harus tidur di rumah utama." kata Gina kepada Bayu dan Mira.
Bayu mengangguk tanda mengiyakan perintah Gina.
Mereka semua melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Setelah selesai sholat, mereka masuk ke ruang makan untuk makan malam bersama. Semuanya sudah langsung berkumpul tanpa menunggu yang datang dari dalam kamar.
"Loh anak anak mana Gin?" tanya Mira yang tidak melihat keberadaan Daniel, Frenya dan Arga di meja makan.
"Pergi raun dari tadi. Loe kayak nggak tau Arga aja kalau raun bukan jauhnya tapi lamanya." jawab Gina sambil tersenyum.
Sebenarnya dia rusuh juga ketiga anaknya belum pulang padahal hari sudah maghrib. Saat mereka sedang mengambil makan malam, terdengar suara Arga yang berteriak teriak nggak jelas. Arga yang tau jam sekarang adalah jadwal makan malam, dia langsung menuju ruang makan.
"Wow anak ganteng mami udah pulang, raun jauh tadi ya?" tanya Mira
Arga mengangguk. Arga meminta supaya Daddy menggendongnya dan meletakkan dirinya di dalam kursi kebesarannya.
Mereka semua makan malam bersama, Arga disuapi oleh Gina. Selesai Arga makan, barulah Gina menyuap makanan untuk dirinya sendiri.
Setelah makan malam, semua orang masuk ke ruang keluarga. Mereka bercerita banyak hal. Sedangkan Arga bermain dengan Daniel. Setelah selama satu jam bermain, Arga tiba tiba menguap dengan sangat lebar.
"Arga mengantuk? Mau tidur dengan Uda?" tanya Daniel.
Arga mengangguk tanda setuju. Daniel langsung menggendong Arga.
"Bun, Dad, Daniel mau bobokin Arga dulu ya. Nanti Niel kesini lagi." ujar Daniel yang langsung membawa Arga ke kamarnya.
Daniel membaringkan Arga ke atas kasur, dia mengambil buku dongeng dan membacakan kisah dongeng tersebut kepada Arga. Tidak butuh waktu yang lama, Arga sudah langsung masuk ke alam mimpinya. Daniel yang tau Arga sudah tidur langsung kembali menuju ruang keluarga.
"Bunda, Daddy ada yang harus Daniel katakan." ujar Daniel dan langsung duduk di sofa yang kosong.
Frenya dan Mira pergi mengambil cemilan dan minum untuk semua orang yang berada di dalam ruang keluarga.
"Ada apa Niel" tanya Aris yang sudah sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Daniel.
"Jangan bilang kalau kamu meminta kami melamar seorang gadis. Kasian Bram yang belum sama sekali." ujar Bayu yang sengaja membully Bram.
"Hahahahaha bukan itu Papi. Jadi gini Daddy, aku mau ngambil cuti seminggu. Aku sedang benar benar lelah, makanya aku mau ambil cuti, dan akan bermain seharian penuh dengan Arga." kata Daniel sambil menatap ke arah semua anggota keluarganya.
"Mulai dari kapan kamu ambil cuti?" tanya Gina yang mendadak heran mendengar Daniel yang mengambil cuti mendadak.
"Besok Bun. Seminggu cuma, Sekali sekali Bun. Dan lagian aku nggak akan kemana-mana, hanya di rumah saja. Aku cuma mau main dengan Arga aja." jawab Daniel.
"Oke baiklah." jawab Gina yang akhirnya setuju.
Sebagai ganti Daniel yang cuti terpaksa Gina yang harus menghandle rumah sakit selama seminggu ke depan. Begitu banyak kegiatan dan pekerjaan yang harus dilakukan oleh Gina. Semua ini di mulai semenjak Sari yang pergi tinggal di luar negeri. Di tambah dengan kehamilan Mira yang membuat Mira tidak boleh lelah. Sekarang Daniel lagi yang meminta cuti. Bener bener luar biasa banyak tanggung jawab yang harus di pikul oleh Gina untuk kedepannya.
Mereka terus saja bercerita, mereka banyak saling bertukar uneg uneg dan pemikiran pemikiran kreatif untuk memajukan perusahaan. Tak terasa hari sudah pukul sebelas malam, mereka masuk ke dalam kamar masing masing, sedangkan Daniel masuk ke kamar Arga, dia mulai sekarang akan tidur dengan adik bungsunya itu.
__ADS_1
Sedangkan di kamar Bayu dan Mira sedang terjadi pertarungan sengit yang sudah lama tidak terjadi karena Mira yang sakit. Begitu juga di kamar Daniel dan Gina juga terjadi pertarungan yang sengit, petaruangan yang tidak tau siapa yang akan keluar duluan.