
"Jadi Daddy, bagaimana menurut Daddy, siapa yang sebaiknya mengurus perusahaan Bree Company? Apa harus aku yang menjalankan perusahaan kembali? Kalau memang iya aku siap untuk menjalankan perusahaan kembali" ujar Frenya sambil menatap lurus ke arah Aries dan Ghina bergantian.
"Aku tidak akan bisa membiarkan perusahaan berjalan tanpa pemimpin."
"Kalau Daddy dan Nana tidak bisa memutuskan siapa yang akan memimpin perusahaan, maka aku akan memimpin perusahaan ini sendirian. Aku tidak akan peduli dengan apapun, aku tau kalau aku pasti bisa memimpin perusahaan dalam kondisi hamil seperti ini" kata Frenya yang sudah kesal dengan kedua orang tuanya, terlebih kepada Aries yang sudah secara tidak langsung menentang kebijakan dari Frenya dan Juan untuk menjadikan Hendri sebagai pemimpin perusahaan Bree Company.
Ghina melihat kalau Frenya sudah marah, hal itu sangat terlihat jelas dari cara Frenya mengatakan apa yang dirasakannya kepada mereka berdua, Frenya sama sekali tidak memikirkan apakah perkataannya menyakiti Aries dan Ghina atau tidak sama sekali.
"Uni, bukan masud kami seperti itu, uni dan juan salah menerima dari apa yang dikatakan oleh Daddy dan Nana, kami setuju dengan Hendri sebagai pimpinan perusahaan sampai kamu siap untuk kembali ke perusahaan, tetapi apakah tidak bisa pengganti kamu dari keluarga besar kita?" lanjut Ghina bertanya kepada Frenya.
Frenya menatap kedua wajah orang tuanya dengan tatapan terluka seorang anak kepada kedua orang tuanya itu. Frenya tidak menyangka kalau Ghina dan Aries akan mengatakan hal itu kepada dirinya.
"Nana, Daddy dan yang lainnya, aku permisi sebentar untuk angkat telpon" kata Juan menjadikan alasan mengangkat telpon untuk menghindari pembicaraan internal keluarga Soepomo. Juan malas mendengar apa yang akan dikatakan oleh Aries dan Ghina kepada Frenya. Jadi Juan membiarkan saja Frenya mengambil keputusannya sendiri.
"Sayang jangan pergi" kata Frena yang tau kalau Juan hanya menjadikan alasan panggilan telpon kepada keluarga besarnya itu. Frenya tidak ingin berperang melawan kedua orang tuanya tanpa bantuan dari Juan, Frenya takut akan mengalah dengan keinginan kedua orang tuanya. Padahal Frenya juga tau kalau perusahaannya membutuhkan Hendri sebagai pemimpin perusahaan, karena Hendri hanya akan fokus dengan perusahaan milik Frenya saja, sedangkan kalau keluarganya yang akan memegang perusahaan milik Frenya, fokus mereka akan terbagi dengan perusahaan yang memang sudah menjadi tanggung jawab mereka dari awalnya.
"Aku harus angkat telpon ini sayang. Ini telpon penting." kata Juan sambil mengusap puncak kepala Frenya.
"telpon dari siapa?"
__ADS_1
"kenapa itu menjadi sangat penting sekali?" lanjut Frenya masih bertanya alasan Juan menjadikan panggilan telpon sebagai alasan dirinya untuk pergi dan menghindar dari percakapan ini.
"Dari anak perusahaan cabang aku di luar negeri sayang. Mereka sedang terkendala keputusan, mungkin aku akan mengirim seseorang dari sini untuk mengendalikan perusahaan yang di sana" kata Juan sengaja membesarkan suaranya saat mengatakan akan mengirim pengawalnya yang berada bersama dengan dirinya atau Frenya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di perusahaan mereka yang di luar negeri.
"Aku yakin kamu bisa mengambil keputusan yang tepat" ujar Juan berbisik di telinga istrinya itu.
"Jangan pernah katakan apa yang terjadi sebelum ini kepada keluarga besar kamu" kata Juan mengingatkan Frenya.
"Aku tidak janji untuk hal itu" jawab Frenya.
Juan menggeleng lemah. Frenya sudah membulatkan tekadnya, maka Juan sama sekali tidak akan bisa melarang lagi apa yang akan dikatakan oleh Frenya di depan semua anggota keluarganya itu. Juan sudah lepas tangan, Juan tidak akan ikut campur lagi. Juan menyerahkan semuanya kepada Frenya.
Juan tidak ingin dengan adanya dirinya di tengah tengah percakapan keluarga Soepomo, akan membuat Frenya terhambat hambat berbicara karena memikirkan status Juan sebagai suaminya, hal itu juga akan terjadi kepada keluarga Soepomo yang lainnya, mereka juga terhambat berbicara karena memikirkan Juan yang merupakan suami dari Frenya atau menantu di keluarga besar mereka.
Mereka semua menatap kepergian Juan, mereka tidak menyangka kalau Juan akan mengambil keputusan untuk pergi dari rapat keluarga itu. Juan mengambil keputusan yang meraka rasa tidaklah tepat karena mengedepankan emosi sesaat saja.
"Frenya, kenapa Juan harus pergi dari sini?" kata Aries yang tersinggung dengan sikap yang diambil oleh Juan.
"Daddy maaf, kalau Frenya jadi Juan, Frenya akan melakukan hal yang sama, Frenya akan mengambil jalan untuk pergi juga dari rapat yang seperti ini." jawab Frenya dengan ketus.
__ADS_1
"Kamu melawan Daddy, Nya?" tanya Aries dengan nada tidak percaya karena Frenya sudah menjawab perkataannya dengan cara seperti itu. Cara yang dianggap oleh Aries tidak sopan sama sekali.
"Daddy maaf, bukannya Frenya tidak sopan. Apa lagi salah Juan, Daddy."
"Juan sudah menjawab apa alasannya menjadikan Hendri sebagai pengganti Frenya di perusahaan. Juan tidak ingin hal buruk terjadi di perusahaan Daddy." kata Frenya mulai membuka suaranya kembali.
Frenya akan menjelaskan semuanya, menjelaskan apa yang perlu diketahui oleh keluarga besarnya itu, keluarga yang telah memandang remeh seseorang yang diberikan kepercayaan oleh Juan untuk membantu Frenya di perusahaan selama Frenya tidak bisa datang ke perusahaan.
"Kalau perusahaan yang baru berkembang dan bangkit kembali itu di serahkan kepada seseorang yang juga memimpin begitu bayak bisnis, maka perusahaan itu akan kembali colap" ujar Frenya mengatakan apa yang seharusnya tidak dikatakan oleh Frenya di tengah tengah rapat keluarga itu.
"Maksud kamu bagaimana Frenya?" tanya Ghina yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Frenya tentang perusahaan milik Frenya
"Emang pernah Bree Company colap dan hampir bangkrut?" lanjut Ghina menanyakan hal yang mengganjal setelah Frenya dengan lantangnya mengatakan kata colaps dengan emosi..
"Pernah, dan malahan hampir gulung tikar" jawab Frenya
Semua anggota yang mendengar apa yang dikatakan oleh Frenya mendadak menjadi termenung. Mereka tidak menyangka kalau perusahaan yang dipimpin oleh Frenya pernah mengalami hal terburuk, padahal yang mereka ketahui selama ini, perusahaan yang dimpimpin oleh Frenya bisa menghasilkan ratusan keuntungan dalam satu kali tandatangan kontrak kerjasama dengan perusahaan lain.
"Kenapa kami sampai tidak tau uni kalau perusahaan milik uni pernah hampir colap?" tanya Argha dengan antusias
__ADS_1
"Kenapa uni tidak pernah cerita kepada kami?" lanjut Argha yang tidak terima saat mendengar apa yang terjadi dengan perusahaan milik Frenya.
Frenya terdiam mendengar berondongan pertanyaan yang diberikan oleh Argha kepada dirinya.