Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
EKSTRA 9


__ADS_3

Argha melihat Frenya yang memandang dirinya dengan tatapan merasa bersalah. Argha tidak tahu kenapa Uninya itu bisa memiliki pandangan yang semenyedihkan itu. Argha tidak ingin Frenya memiliki rasa bersalah kepada dirinya. Argha sama sekali tidak mengerti apa penyebab yang membuat Frenya menatap kepada dirinya dengan tatapan seperti itu.


"Uni, ada apa ini Uni? Cerita sama Argha Uni. Argha tidak mau kalau kita menjadi seperti ini. Uni tau kan Argha hanya punya Uni dan Uda Daniel saja, tidak ada yang lainnya" ujar Argha yang setengah panik melihat cara Frenya memandang dirinya saat ini.


Argha sangat sedih melihat Frenya bertingkah seperti ini. Argha tidak mau karena dirinya Frenya menjadi bersedih.


"Uni, Argha mohon Uni. Ada apa ini Uni" ujar Argha kembali mendesak Frenya agar tidak menatap dia dengan tatapan seperti itu.


Frenya berusaha menormalkan kembali pandangannya kepada Argha. Frenya tidak mau Argha merasa bersalah atau yang lainnya kepada Frenya. Frenya harus menjelaskan hal ini kepada Argha.


"Maafkan Uni ya. Uni kira selama ini Argha sudah tidak perhatian lagi sama Uni." ujar Frenya yang berhasil mengatakan apa yang dirasakannya kepada Argha.


Argha menjadi sangat heran dengan apa yang dikatakan oleh Frenya. Dia tidak menyangka Uninya itu akan berpikiran sedangkal itu kepada dirinya saat ini. Argha menatap dalam dalam ke mata Frenya. Argha mencari sesuatu di sana. Argha kemudian tersenyum saat melihat tanda itu di mata Frenya.


Argha berdiri dari duduknya, dia berjalan menuju kursi Frenya. Argha mendadak memeluk Frenya dari belakang. Dia mengecup pundak Uni Frenya tersayangnya itu. Uni yang selama ini selalu ada untuk Argha kapanpun dibutuhkan oleh Argha. Frenya memegang tangan adiknya itu. Frenya sekarang yakin kalau Argha masih sama dengna Argha yang dulu. Argha yang selalu menyayangi dirinya dan juga Daniel. Argha yang selalu ada untuk dirinya kapanpun dibutuhkan oleh Frenya. Argha yang selalu membuat lelah Frenya sehabis dari perusahaan menjadi hilang entah kemana dengan semua tingkah polahnya saat itu.


Bree melihat kedekatan Argha dengan Frenya. Bree memang sangat mengetahui betapa dekatnya ketiga kakak beradik itu walaupun tidak satu darah. Mereka bertiga saling menutupi kekurangan masing masing. Bree sama sekali tidak cemburu kepada Frenya, bagi Bree, Frenya juga adalah kakaknya sendiri.


"Uni tau nggak gimana takutnya dan kerasnya Argha ngomong dengan Nana, melarang uni menikah dengan Juan?" tanya Argha kepada Frenya.


Frenya mengangguk, Nana sudah menceritakan kepada Frenya bagaimana sikap Argha saat mendengar kalau Frenya akan menikah dengan Juan. Saat itu juga Argha langsung pulang dari negara E. Argha tidak ingin Frenya menikah dengan Juan, karena takut Frenya tidak perduli lagi dengan Argha. Akhirnya berkat Daniel dan Rani, Argha akhirnya setuju Frenya menikah dengan Juan.


"Saat itu pikiran Argha sama dengan pikiran uni sekarang ini. Argha memiliki pemikiran kalau nanti Uni tidak akan sayang lagi sama Argha dan Uda. Ternyata apa Uni? Uni tetap selalu ada untuk kami berdua." ujar Argha mengatakan apa yang dirasakan oleh Frenya juga pernah dirasakan oleh dirinya saat Frenya baru menikah dengan Juan.


Hal seperti ini sangat lumrah terjadi di hubungan kakak dan adik. Tetapi semuanya bisa diselesaikan dengan saling terbuka mengungkapkan apa yang dirasakan masing masing, bukan dengan cara memendam perasaan seperti itu sendirian.


"Aku bukannya cuek dengan Uni. Uni pasti berkesimpulan seperti itu karena aku jarang chat Uni kan ya? Sebenarnya bukan nggak mau Uni, perbedaan waktu negara kita yang membuat aku tidak mengirim pesan chat kepada Uni." lanjut Argha menjelaskan penyebab Uninya bisa menyimpulkan hal seperti itu.


"Uni tau kan di tempat aku tinggal hari sudah siang, tempat uni tengah malam. Aku tau uni kerja luar biasa banyaknya, makanya aku nggak mau gangguin Uni. Bukan karena aku ingin melupakan Uni, bukan sama sekali. Aku nggak pernah kepikiran untuk melakukan hal itu Uni, baku aku dan uda, Uni adalah wanita kedua yang harus kami lindungi setelah Nana." lanjut Argha menjelaskan kepada Frenya betapa pentingnya Frenya dalam hidup Argha dan Daniel.

__ADS_1


"Jadi uni aku sayang yang paling aku cintai setelah Bree kalau sekarang ya Uni, maafkan adik kamu ini, tapi itulah kenyataannya, sekarang posisi kamu sedikit di bawah Bree" ujar Argha yang membuat Bree langsung ternganga mendengar ungkapan cinta dari Argha yang tidak disangka sangka oleh Bree akan diucapkan oleh Argha dalam moment seperti ini.


"Uni akan selalu ada di sini dan di sini." kata Argha sambil menunjuk hatinya dan otaknya.


"Apapun yang Uni minta dari aku, akan aku penuhi uni. Uni jangan pernah ragukan hal itu. Bagi aku, Uni adalah segala galanya. Aku dan Uda Daniel bersepakat untuk selalu ada buat Uni" lanjut Argha yang berusaha menjelaskan kepada Frenya bagaimana sikap dia kepada Frenya.


"Jadi, aku mohon, jangan pernah berpikiran aneh aneh lagi ya" ujar Argha meminta kepada Frenya untuk tidak memiliki pemikiran yang aneh aneh lagi terhadap perlakuan Argha kepada dirinya.


"Iya, maafkan juga Uni ya karena sudah memikirkan hal hal yang tidak sepantasnya uni pikirkan" ujar Frenya yang sudah mendengar jawaban yang diberikan oleh Argha sebentar ini.


"Oke" jawab Argha.


Saat mereka telah menyelesaikan drama keluarga yang dimulai oleh Frenya itu, Hendri datang menuju Argha sambil membawa ponsel miliknya.


"Tuan muda, maaf Nana menghubungi Tuan Muda" ujar Hendri memberikan ponsel miliknya kepada Argha.


"Angkat saja" ujar Frenya.


"Tapi jangan katakan kamu dengan Uni ya" lanjut Frenya melarang Argha mengatakan kepada Nana kalau dia sedang bersama dengan Argha sekarang ini.


"Kenapa?" tanya Argha kepada Frenya.


"Nggak kenapa kenapa" jawab Frenya dengan jujur.


"oh baiklah" jawab Argha dengan percaya dirinya.


Argha kemudian mengambil ponsel milik Hendri, dia kembali menghubungi Nana yang panggilannya sudah terputus tadi, karena Argha terlambat menerima telpon dari Nana. Argha menunggu Nana mengangkat telpon dari dirinya.


"Hallo Nana, ada apa Na?" tanya Argha saat Nana mengangkat panggilan telpon dari dirinya.

__ADS_1


"Kamu dimana Argha" tanya Ghina langsung saja mengatakan apa tujuannya menghubungi anak bontotnya itu.


"Ini sedang mau masuk kelas Nana. Argha ada kuliah tambahan. Kenapa ya Na?" ujar Argha yang sengaja memakai alasan kuliah karena Nana tidak akan bisa mengatakan apa apa lagi kalau sudah berurusan dengan yang namanya menuntut ilmu.


"Oooo, maaf sayang, sepertinya Nana menghubungi kamu dalam waktu yang tidak tepat." ujar Ghina yang sudah tau dikerjai oleh Argha.


Ghina akan ikuti permainan Argha.


"Tidak apa apa Na. Ada apa Nana menghubungi Argha?" ujar Argha yang masih belum sadar sadar juga dia sedang berurusan dengan siapa kali ini.


"Nggak ada, cuma nanyak aja kamu dimana, karena kalau ada yang bohong maka harta warisan semuanya akan disumbangkan ke negara saja" ujar Ghina langsung menskakmat Argha.


"Hah, jangan Nana jangan. Argha sedang transit di negara J dengan Uni dan juga Bree" ujar Argha yang akhirnya mengatakan dia sedang dimana dan juga dengan siapa.


"Oh baiklah. Sudah dulu ya." ujar Nana yang langsung memutuskan panggilan telponnya dengan Argha.


Argha menatap tidak percaya kepada ponsel Hendri. Hendri yang tau apa yang akan dilakukan oleh Argha langsung mengambil ponselnya dari tangan Argha sebelum hal yang sangat bagus akan terjadi.


"Kebiasaan Nana bener bener nggak berubah. Setelah Nana mendapatkan apa yang Nana mau, maka jangan harap kita masih bisa mengobrol, Nana main matikan ponsel saja" ujar Argha kepada Frena dan Bree.


"Mau gimana lagi. Lagian juga nurun ke kamu sayang" ujar Bree yang sudah menukar panggilannya kepada Argha.


"Wow sayang. Makasi Sayang" ujar Argha yang sangat senang dipanggil sayang oleh Bree.


"Sudah sudah, pesawat sudah siap, mari kita pulang ke mansion" ujar Frenya memberitahukan kalau mereka sudah siap untuk kembali terbang menuju mansion bertemu dengan kedua orang tua mereka yang sudah lama tidak mereka kunjungi.


Mereka berenam kembali menuju ruang tunggu untuk pengguna pesawat pribadi. Mereka akan melakukan persiapan untuk kembali terbang selama empat jam menuju negara I. Negara yang paling dirindui oleh Argha dan Bree. Mereka sangat rindu dengan orang orang yang ada di sana.


Tak berapa lema mereka menunggu di ruang tunggu. Pramugari datang untuk menjemput mereka, mengabarkan kalau mereka sudah bisa menaiki pesawat. Argha dan rombongan kemudian naik ke atas pesawat. Sesuai yang dikatakan oleh Argha tadi, dirinya akan duduk berdampingan dengan Bree saat penerbangan ini. Sedangkan Frenya duduk di tempat duduk Argha yang tadi saat penerbangan pertama.

__ADS_1


__ADS_2