Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 25


__ADS_3

Rani berjalan keluar dari dalam ruangannya. Rani memanggil seorang dokter yang juga merupakan teman terbaiknya untuk berbagi cerita dengan Frenya. Rani harus memberikan seorang dokter yang sangat kompeten di bidangnya untuk memeriksa kesehatan Frenya. Rani tidak ingin sembarangan dokter, makanya dia meminta Frenya untuk datang ke rumah sakit milik mereka.


"Uni, itu siapa?" tanya Frenya dengan dingin.


Frenya tidak sama dengan Daniel yang akan ramah dengan orang yang baru dikenalnya. Frenya sama dengan Argha, mereka berdua sulit menerima kehadiran seseorang yang baru diantara mereka, saat mereka sedang mengobrol atau berbagi cerita.


"Nya, kenalkan ini dokter Ana" ujar Rani memperkenalkan kepada Frenya siapa yang datang dengan dirinya.


"Siapa Uni?" tanya Frenya yang masih belum bisa menerima kehadiran dokter Ana.


"Sahabat Uni. Kenalan aja dulu" kata Rani


"Frenya"


Frenya menyebutkan namanya tanpa menjulurkan tangannya ke arah Ana.


"Ana" balas Ana


Frenya menatap penuh tanya kepada Rani. Frenya tidak mengerti kenapa Rani membawa Ana masuk ke dalam ruang kerjanya. Padahal Rani tau bagaimana sikap dan sifat Frenya.


"Nya, kenapa uni meminta kamu untuk datang ke rumah sakit, alasannya ya ini. Kamu ceritakan aja apa yang terasa kepada dokter Ana. Nanti dokter Ana akan menjelaskan kepada kamu apa yang terjadi sebenarnya" kata Rani


Frenya semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rani kepada dirinya. Frenya mendadak jadi orang ogeb sehingga tidak bisa menganalisa maksud dari kalimat yang dikatakan oleh Rani kepada dirinya.


"Frenya, maksud Uni tu. Dokter Ana adalah dokter yang paling cocok untuk mendengar keluhan yang selama ini kamu rasakan." kata Rani mulai menjelaskan kepada Frenya.


"Kalau Uni kan dokter anak, nah kalau dokter Ana adalah dokter kandungan" lanjut Rani menjelaskan siapa dokter Ana sebenarnya.


"Maksud Uni dengan dokter kandungan? Apa aku hamil gitu?" tanya Frenya dengan nada bingung. Frenya benar benar semakin tidak mengerti.


Ana melirik dan memberikan kode kepada Rani. Ana akan menjelaskan sendiri kepada Frenya mengapa dirinya berada di dalam ruangan Ana.


"Maaf sebelumnya Frenya, kalau kehadiran aku di sini membuat Frenya menjadi risih." kata dokter Ana membuka percakapannya dengan Frenya.


"Tapi satu yang pasti, aku datang ke sini, murni ingin menjelaskan kepada kamu apa yang terjadi terhadap diri kamu" lanjut dokter Ana

__ADS_1


"dokter Daniel dan dokter Rani tidak akan bisa menjelaskan secara detail kepada kamu, seperti aku yang akan menjelaskan semuanya secara rinci kepada kamu" papar dokter Ana.


"Jadi, apakah kamu mau menjelaskan kepada aku, apa yang kamu rasakan dalam beberapa hari ke belakang?" tanya dokter Ana yang berharap Frenya mau menjalin komunikasi dengannya lebih inten lagi.


Frenya melihat ke arah Rani, Rani mengangguk memberikan jawaban atas pertanyaan tak terucap yang diajukan oleh Frenya kepada dirinya.


"Baiklah dokter, aku percaya dengan dokter" Frenya telah memutuskan untuk berbicara dan berbagi cerita dengan dokter Ana.


"Aku akan menceritakan semua yang aku rasakan dalam beberapa minggu ini lebih tepatnya" kata Frenya selanjutnya.


Frenya kemudian menceritakan semua yang dirasakannya kepada dokter Ana. Frenya dengan sangat lancar bercerita. Dia sama sekali tidak terlihat gugup atau ragu untuk menceritakan apa yang terjadi kepada dokter Ana.


Dokter Ana dan Rani sama sama menyimak dengan sangat baik apa yang dikatakan oleh Frenya. Mereka berdua sama sama menarik kesimpulan yang sama atas apa yang diceritakan oleh Frenya kepada dokter Ana.


"Jadi begitulah dok apa yang aku alami. Hal itu benar benar di luar prediksi dokter."


"Semuanya buat aku bingung. Kenapa kok aku bisa menjadi seperti ini" kata Frenya menutup apa yang telah disampaikannya kepada dokter Ana.


Dokter Ana terlihat tersenyum dengan sangat lebar. Dia sekarang sudah semakin yakin kalau apa yang dikatakan oleh Rani berdasarkan cerita dari Frenya adalah sebuah kebenaran.


"Apakah terjadi sesuatu terhadap aku dokter?" tanya Frenya yang cemas kalau dirinya memiliki sebuah penyakit.


"Ya memang terjadi sesuatu, makanya harus kita buktikan di ruangan aku. Akun tidak mau salah menduganya dan akan menjadi bumerang bagi karier aku sendiri" jawab dokter Ana.


Frenya terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh dokter Ana kepada dirinya. Dia benar benar takut sesuatu akan terjadi kepada dia. Apa yang akan dikatakannya kepada Juan tentang hasil pemeriksaan dari dokter Ana. Dia tidak akan mungkin melemparkan hasil pemeriksaan seperti melemparkan bom atom ke arah Juan.


"Hay santai saja. Jangan berpikiran aneh aneh. Kita belum memeriksanya juga kan, jadi mari kita ikuti prosedurnya" kata Rani yang melihat Frenya termenung sesaat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Ana kepada dirinya.


"Tapi jujur ini Uni, aku sangat luar biasa cemas. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi kepada diriku. Kalau sampai itu terjadi apa yang harus aku lakukan" kata Frenya.


"Maksud kamu, apa yang kamu lakukan? Uni kurang paham."


"Ya, gimana cara aku mengatakan ke Juan dan ke keluarga kita yang lain. Itu yang aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya." ujar Frenya menjelaskan lebih rinci kepada Rani.


"Nya Nya. Itu sayangnya kamu. Kamu belum melihat hasil pemeriksaan dari dokter Ana, pikiran kamu sudah kemana mana. Uni nggak suka kamu seperti ini Nya."

__ADS_1


"Uni bawa kamu ke rumah sakit, supaya kamu tahu sendiri ada apa dengan diri kamu. Bukannya malah membuat kamu berpikiran aneh aneh kayak gini. Uni tidak suka itu Nya" lanjut Rani.


Frenya menyimak apa yang dikatakan oleh Rani kepada dirinya. Apa yang dikatakan oleh Rani memang benar, Frenya terlalu berlebihan memikirkan apa apa yang seharusnya tidak dipikirkan oleh dirinya.


Frenya melihat ke arah Rani. "Maafkan aku uni" katanya dengan suara penuh penyesalan.


"Aku terlalu paranoid uni" lanjut Frenya.


"Fre, kita tidak boleh terlalu mencemaskan sesuatu Fre. Terkadang apa yang terlalu kita cemaskan itu tidak terjadi. Jadi biarkan dia mengalir seperti air" kali ini yang berbicara adalah dokter Ana.


"Cemas dan waspada itu boleh, tetapi jangan berlebihan" lanjut dokter Ana.


Frenya menyimak semua saran yang diberikan oleh kedua dokter itu. Frenya harus bisa mengubah kebiasaan jeleknya tersebut.


"Oke mari kita ke ruangan aku" ajak dokter Ana sekali lagi.


Mereka bertiga keluar dari dalam ruangan praktek Rani, mereka akan pindah ke ruangan dokter Ana.


Dua orang pengawal yang tadinya sedang mengobrol mendadak berhenti saat melihat dua nona muda mereka keluar dari dalam ruangan Rani.


Mereka bertiga berjalan diiringi oleh dua orang pengawal menuju ruangan dokter Ana yang hanya berjarak satu ruangan dari ruangan Rani.


"Mari masuk, semoga apa yang kita impikan itu benar benar terjadi" ujar dokter Ana yang sangat antusias untuk memeriksa salah seorang penerus keluarga Soepomo.


Ana berharap bahwa prediksinya itu tepat. Kalau tepat maka sosok yang ada di dalam perut Frenya saat ini akan menjadi cucu pertama dari keluarga Soepomo.


"Silahkan berbaring di situ Fre. Aku akan menyiapkan semua perlengkapan pemeriksaannya dulu" kata Ana meminta Frenya untuk berbaring di ranjang pasien.


"Uni bukannya ini ruangan?" kata Frenya saat menyadari dia sedang berada di ruangan apa sekarang.


Rani mengangguk paham dengan arti dari tatapan Frenya kepada dirinya.


"Semoga ini benar Nya" kata Rani dengan lembut sambil mengusap kepala adik iparnya itu.


"Apa aku hamil uni?" tanya Frenya dengan nada bergetar.

__ADS_1


"Kita tunggu hasil dari dokter Ana dulu" jawab Rani yang tidak ingin mendahului keputusan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Ana kepada Frenya.


__ADS_2