
Bram memasuki area perumahan milik kuarga Soepomo. Bram memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Aris dan Gina beserta Bram langsung masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi. Padahal hari sudah menjelang maghrib, Papi dan Mami tidak terlihat sedikitpun keberadaannya di rumah besar itu.
"Bram, Papi ada ngasih tau elo kalau Papi dan Mami nggak pulang?"
"Nggak Ris. Nggak ada kabar apapun ke Gue" jawab Bram yang heran kenapa Papi dan Mami tidak memberikan kabar sedikitpun kepada mereka.
"Bik Ima" panggil Gina yang melihat kepala maid lewat di depan ruang tamu.
"Iya Nyonya muda"
"Papi sama Mami kemana ya kok mobil papi nggak ada di parkiran?"
"Tuan dan Nyonya besar tadi sudah pulang sore Nyonya muda, tetapi terus pergi lagi karena dapat telpon dari Tuan Wijaya, ayah Nyonya muda"
Gina merasa heran kenapa ayah menelpon papi dan mami tidak ada konfirmasi dengan Gina. Gina menatap ke Aris dan Bram. Mereka berdua mengangkat bahu tanda tidak mengerti dengan kejadian ini.
"Ya udah sayang, kita mandi dulu, siap itu sholat. Baru ke rumah ayah kalau papi dan mami belum juga pulang sampai kita selesai sholat"
"Yuk lah." Aris kemudian merangkul pinggang Gina.
"Gin, tapi mau nyuruh laki loe tidur di luar" Bram berusaha mengingatkan Gina atas kejadian di mobil tadi.
"Batal kak. Aku udah bersih" teriak Gina kepada Bram.
"Hahahahahahahaha. Akhirnya" kata Aris.
Bram kemudian langsung masuk ke dalam lift. Dia tidak mau naik tangga bersama dengan sepasang suami istri yang sedang mabuk darat itu. Aris dan Gina juga menuju kamar mereka. Mereka akan membersihkan diri dan akan melaksanakan sholat.
"Sayang, kamu beneran udah bersih?" tanya Aris menatap Gina.
"Mana ada, belum sayang. Kenapa? pengen?"
"Pengen lah. Sayang sini duduk sebentar ada yang harus aku omongin sama kamu." kata Aris sambil menepuk kasur di sebelahnya duduk. Gina kemudian kembali duduk di sebelah Aris.
"Apa?" tanya Gina menatap Aris.
"Sayang, sebenarnya berat untuk ku mengatakan kepadamu. Tapi harus aku katakan"
"Apakah ini benar benar serius?" tanya Gina yang mulai hatinya tidak karuan.
"Serius sayang. Tapi kamu jangan berpikir kalau ada orang ketiga diantara kita. Bukan, bukan itu." kata Aris kemudian menggenggam tangan Gina.
"Terua apa? Jangan buat aku mikir macem macem. Katakan saja"
"Sebenarnya aku mau ngomong. Kalau kita akan melakukan hubungan badan saat kita pergi honeymoon setelah puasa sayang. Apakah kamu bisa menahannya?" tanya Aris sambil menundukkan kepalanya. Aris sangat takut melihat reaksi dari Gina.
Gina yang diam saja mencerna apa yang dikatakan Aris. Tiga hari lagi akan puasa. Gina juga tidak mau harus mandi sebelum sahur. Gina menatap ke arah Aris yang masih menundukkan kepalanya.
Gina kemudian memegang dagu Aris.
"Sayang angkat kepalamu sayang" kata Gina.
"Nggak. Aku takut lihat ekspresi mu sayang" kata Aris.
Gina kemudian mengangkat dagu Aris. Betapa terkejutnya Aris, Gina memberikan senyum terbaiknya kepada Aris.
"Sayang aku paham dengan keinginanmu. Dan aku sangat bersyukur atas permintaan mu tadi" Gina memberikan senyum terbaiknya.
"Kenapa bersyukur? Kamu nggak mau aku sentuh?" tanya Aris kepada Gina.
"Bukan itu sayang. Aku paling nggak bisa mandi sebelum sahur. Aku akan demam kalau mandi sebelum sahur." jawab Gina.
__ADS_1
"Jadi aku sangat berterimakasih kepada mu sayangku cintaku" kata Gina sambil mengecup bibir Aris sekilas.
Aris yang sudah siap menerima serangan mendadak Gina, langsung menahan leher Gina. Mereka berciuman dengan sangat mesra. Ciuman terlama yang mereka lakukan. Ciuman yang mengeluarkan semua rasa cinta rasa sayang dan rasa memiliki. Gina dan Aris sama sama tidak mau melepaskan ciuman mereka berdua. Sampai akhirnya azand maghrib memisahkan pagutan bibir kedua insan manusia yang baru membuat kesepakatan itu.
"Sayang azand, sana mandi dulu, siap itu kamu sholat ya." Gina kemudian berdiri dan berjalan menuju ruang ganti mereka.
Gina mengambilkan baju koko, kain sarung, sajadah dan peci milik Aris. Setra celana kevis dan baju kaos yang akan dipakai Aris selesai sholat.
Aris masuk kedalam kamar mandi mereka. Aris mandi dengan perasaan bahagia. Hal yang paling ditakutkannya untuk diutarakan kepada Gina telah dia utarakan. Paling membuat Aris bahagia, Gina tidak marah dan malah menyetujui saran Aris. Aris selesai mandi dan berjalan menuju pakaiannya yang sudah disiapkan Gina.
Sedangkan Gina yang melihat Aris sudah selesai mandi, langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari ini mereka benar benar lelah. Aris langsung saja sholat maghrib, sedangkan Gina yang masih PMS sedang menikmati guyuran air dari shower.
Selesai shokat maghrib, Aris menukar bajunya dengan baju yang juga disediakan Gina di atas kasur. Aris memakai pakaiannya dan mematut dirinya di depan kaca. Aris menyisir rambutnya dengan gaya dirinya sebenarnya bukan gaya tadi pagi yang ala ala Gina. Selesai marapikan dirinya, Aris masuk ke kamar ganti pakaian untuk mengambilkan pakaian Gina. Aris memilih dress warna putih sampai bawah lutut. Aris berencana membawa Gina ke rumah Ayah dan Nana. Aris sudah mengabari papi kalau mereka akan makan malam di rumah ayah.
Gina keluar dari kamar mandi dan betapa terkejutnya dia saat melihat pakaian dan pakaian dalamnya sudah berada di atas kasur.
"Sayang ini semua?"
"Siapa lagi sayang" jawab Aris.
"Makasi sayangku." ucap Gina sambil memasang semua pakaiannya.
"Kita makan malam di rumah ayah dan nana. Bram juga akan ikut" kata Aris sambil memerhatikan Gina yang sibuk berdandan.
"Oke. Selesai" ucap Gina yang hanya memoles bedak tipis dan liptin di bibirnya.
"Sempurna" jawab Aris.
Aris dan Gina turun ke lantai bawah, mereka sudah ditunggu oleh Bram di depan pintu masuk rumah. Aris dan Gina masuk kedalam mobil. Aris duduk di bangku depan sedangkan Gina sendirian di bangku belakang. Mereka tidak menginginkan Bram menjadi seperti supir pribadi.
"Sayang, emang udah kasih tau Nana, kalau kita mau makan malam di rumah?"
"Udah tadi saat kamu mandi. Aku juga udah kirim oesan ke papi, kalau kita akan makan malam di rumah Ayah"
Aris dan Bram mendiskusikan beberapa masalah di perusahaan Jaya grub. Gina hanya menyimak saja. Gina sangat tidak tertarik dengan dunia bisnis. Dia hanya tertarik ke dunia arsitektur dan masakan.
"Nana" teriak Gina dari pintu depan.
Semua yang mendengar teriakan Gina hanya geleng geleng kepala saja. Seorang Gina yang tadi siang bisa sangat dingin, eee saat di rumah keluarga Wijaya bisa seperti anak sd.
"Gina" kata Aris.
"Maaf sayang. Keceplosan" jawab Gina dengan wajah tanpa dosa.
Nana dan Mami yang mendengar teriakan Gina langsung berjalan keluar dari dapur.
"Hm anak nana cantik sekali" kata Nana.
"Siapa yang milihin baju kamu sayang?" tanya mami.
"Tuh" kata Gina sambil menujuk Aris.
"Oooo. Judulnya serasi" kata Nana dan Mami berbarengan.
"Nama iri nana sama mami?" kata Gina dengan polosnya.
"Dikit" jawab mereka kompak.
Gina kemudian membantu nana dan mami menata meja makan. Mereka meletakkan semua hidangan yang dibuat tadi sore saat Aris dengan mendadak mengatakan akan makan malam di rumah utama kelyarga Wijaya.
Tiba tiba terdengar pintu depan yang dibuka seseorang. Gina yang sedang berada diantara meja makan dan dapur bersih melihat siapa yang datang. Gina kemudian menyusul cepat nana kedapur memberi kabar bahagia.
__ADS_1
"Kenapa senyum senyum?" kata Nana.
"Tebak siapa yang datang?" kata Gina.
"Uda, siapa lagi."
"Sama siapa?" Gina menatap nana dengan pandangan ayo ada menantu si luar.
"Anggek?" tanya nana tidak percaya.
Gina menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Nana. Nana dan Mami langsung keluar menuju ruang tamu. Anggel sedang duduk di sana, di temani ayah, papi, dan Bram.
"Lho Uda Aris mana ayah?" tanya Gina yang tidak melihat suaminya di antara para bapak bapak.
"Ke kamar" jawab ayah.
"Aduh pasti mau buang ke lantai babang singa Gina" jawab Gina.
Gina kemudian berlari ke kamarnya. Ternyata memang benar Aris duah meletakkan babang singa di lantai kamar.
"Uda sibga cemburuan banget." kata Gina sambil menjepit hidung Aris.
"Sayang makanan udah siap. Semua orang udah duduk tinggal dirimu aja yang belum" kata Gina.
"Sayang babang singa jangan bawa ke rumah ya." pinta Aris kepada Gina.
"Di rumah udah ada uda singa untuk apa babang sibga juga dibawa." jawab Gina sambil memeluj Aris.
"Udah yuk bawah." Gina menggandeng tangab Aris dan membawanya ke bawah menuju ruang makan.
"Cie yang serasa pengantin baru" ledek Afdhal.
Gina yang hendak membalas ditahan tangannya oleh Aris. Gina kemudian kembali diam, dia tidak jadi melawan Afdhal.
Gina mengambilkan nasi dan sambal untuk Aris. Dia melayani Aris dengan sangat telaten. Mami juga mengambilkan makanan untuk papi. Nana juga nggak mau kalah dia mengambilkan makanan untuk ayah.
""Say kamu nggak mau ngambilin aku makanan?" tanya Afdhal yang tanpa sadar di dengar oleh ayah.
"Hahahahaha. Nana anak kamu udah minta seseorang wanita untuk mengambilkannya makanan. Jadi kamu harus mulai menyiapkan pesta mewah lagi" Ayah menyindir Afdhal.
"Mulai" kata Afdhal.
"Loe yang cari gara gara bray" jawab Bram yabg dari tadi memilih jalan aman dengan mengambil makanannya sendiri.
Mereka makan dengan nyaman dan terlihat sangat terjalin erat tali kekeluargaan dua keluarga pengusaha ternama di negara I.
"Kalau Afdhal melamarku maka akan aku terima. Keluarga ini sangat hangat. berbeda dengan keluargaku" kata Anggel di dalam hati sambil melihat wajah wajah kedua keluarga besar yang bisa menyatu itu.
"Ke ruang keluarga yuk. Hari ini di sini saja tidur semuanya. Kamar udah disiapkan oleh maid." kata Ayah.
Papi yang sebenarnya mau menolak, akhirnya mengalah saat mekihat tatapan mami kepada papi.
"Aris, gimana rencana bulan madunya?" kata papi
"Udah dibicarakan denga. Gina. Kami akan pergi setelah lebaran. Jadi nggak ganggu ibadah puasa. Lagian Gina nggak bisa mandi subuh" jawab Aris
Gina yang mendengar Aris menjawab seperti itu labgsung menepuk keningnya tidak percaya. Seorang CEO yabg terkenal kejam dan dingin, bisa seeror itu menjawab pertanyaan papi
Gina sudah membayangkan bullyan yang akan diterima oleh Aris dari Ayah, Papi, Afdhal dan Bram.
...----------------...
__ADS_1
Apakah bulian yang akan diterina Aris.
staycun di novel aku kakak