Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Eksekusi Tahanan


__ADS_3

"Ris, gue makan di luar sama Sari. Loe makan dengan Gina kan ya?" tanya Bram basa basi kepada Aris.


Bram sebenarnya udah janjian dengan Sari. Mereka akan pergi ke markas siang ini. Bram sangat penasaran siapa yang sudah menyuruh gerombolan pembunuh bayaran itu untuk membunuh Aris dan dirinya.


"Yup. Loe hati hati. Pakai aja mobil operasional kantor. Takutnya nanti yang terjadi kemaren terulang kembali. Kita sampai saat ini belum bisa menentukan siapa orangnya." kata Aris kepada Bram.


Aris tidak ingin Bram dalam masalah lagi. Cukup kemaren Bram dalam masalah. Apalagi nanti Bram akan berkendara sendirian.


"Oke" jawab Bram.


Bram menuju bagian umum, dia akan meminjam salah satu kunci kendaraan operasional yang bisa dipakainya. Setelah mendapatkan kunci yang diinginkannya Bram langsung keluar menuju lobby kantor.


Bram melihat setiap sudut perusahaan. Dia sangat jarang punya kesempatab untuk berkeliling perusahaan. Kali ini Bram akan pergi ke markas dengan Sari. Dia sudah janjian dengan Sari. Bram terlebih dahulu harus menjemput Sari ke kantornya.


Sari sudah menunggu Bram di lobby kantor. Dia tidak ingin Bram menunggunya lama di lobby. Sari tidak ingin Bram menjadi santapan para karyawan genit yang ada di kantor.


Sari yang tidak tau kalau Bram memakai mobil operasional kantor hanya berdiri melongo di depan pintu kantor. Dia sudah lama rasanya menunggu di lobby dan di depan pintu masuk kantor.


"Katanya udah dekat, kok nggak muncul muncul ya." kata Sari sambil melihat kiri dan kanan mobil yang dirasanya kenal. Tapi hasilnya tetap sama saja. Sari tidak meliht mobil yang dia kenal. Sari mulai kesal, hal itu terlihat dengan berkali kalinya Sari melihat jam di pergelangan tangannya.


"Bram kemana, lama kali. Kalau tau gini mending aku naik mobil sendiri saja ke markas." kata Sari dengan kesal.


Bram yang melihat Sari mulai kesal, memajukan mobilnya menuju Sari yang sudah menunggu. Dia membuka kaca mobilnya bagian penumpang. Bram memasang wajah seramah mungkin. Seperti wajah sopir taksi online yang menyapa calon penumpangnya.


"Hay maaf menunggu lama buk. Aku pakai mobil operasional kantor. Jadi ya kamu tau sendirilah kecepatannya seperti apa." kata Bram kepada Sari.


"Pantesan aku nggak tau." jawab Sari sambil melihat mobil operasional kantor perusahaan Soepomo. Mobil sejuta umat.


Sari kemudian masuk dan duduk di sebelah Bram. Tiba tiba ponsel Sari berdering. Dia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kerjanya. Dia melihat nama Mira terpampang di sana.


"Siapa?" tanya Bram.


"Mira." jawab Sari.


"Angkat aja." perintah Bram kepada Sari.


Sari menerima telepon dari Mira.


[[Ya Mir. Ada apa?]] kata Sari kepada Mira.


[[Gue dengan Bayu sedang dalam perjalanan ke markas. Loe dimana?]] tanya balik Mira.


[[Gue dengan Bram juga sedang perjalanan ke markas. Sekitar setengah jam lagi kami sampe.]] jawab Sari sambil menatap Bram


[[Oke sampai bertemu di markas. Sepertinya Gina tidak ingin ikut campur. Tadi dia pesan ke gue untuk membereskan semua ini berdua dengan loe. Gina memperbolehkan kita bermain sesuka hati kita.]] Mira menjelaskan apa yang dikatakan Gina tadi kepada dirinya.


[[Bagus. Semangat gue. Tunggu gue ya. Baru kita main.]] kata Sari.


[[ Sip, gue juga udah lama nggak bermain bersama dengan loe. Gue kangen juga melihat tendangan loe itu. ]] kata Mira.


[[ Sama, gue juga kengen bermain dengan loe. Apakah kita masih sehebat dulu. Hahahahaha ]] balas Sari.


[[ Sampai bertemu di markas Sar. ]] kata Mira.


Bram dan Bayu yang sama sama mendengar kekasih mereka mengucapkan kata bermain hanya bisa geleng geleng kepala. Bermain menurut versi Gina, Sari dan Mira adalah menghabisi seseorang sampai ke akar akarnya dengan cara perlahan lahan.


"Yang bisa cepetan dikit nggak jalan mobilnya. Aku udah nggak sabar yang." kata Sari kepada Bram. Sari sudah tidak sabar ingin menjajal tempat latihan baru yang dibuat oleh Alex.


Bram menambah kecepatan laju mobilnya. Dia tidak ingin Sari emosi di atas mobil. Ternyata karena kecepatan mobil yang ditambah oleh Bram, Sari cepat sepuluh menit dari perkiraan. Mereka bersamaan datangnya dengan Mira dan Bayu.


"Loh Bram, mobil siapa?" kata Bayu yang heran melihat mobil yang dipakai oleh Bram. Mobil yang sama sekali tidak pernah di lihat Bayu ada di rumah utama Soepomo.


"Mobil operasional kantor. Aris takut kalau gue make mobil yang biasa. Takut gue masih jadi inceran orang yang kemaren." jawab Bram sambil melihat mobilnya. Dia merasa kalau mobil operasional kantor ini tidak terlalu jelek, malahan masih banyak mobil operasional kantor lain yang jauh kelasnya di bawah mobil ini.


"Ternyata mobil sejuta umat juga enak di pakai ngebut." lanjut Bram. Dia terpaksa membawa ngebut mobil itu karena Sari yang sudah tidak sabar ingin langsung bertarung.


"Yang namanya mobil sama aja Bram. Makanya jangan keseringan bawa sportcar makanya nggak tau rasanya bawa mobil sejuta umat." balas Bayu kepada Bram.


"Iya juga ya Bay. Loe juga harus coba Bay. Lain pula sensasinya." jAwab Bram kepada Bayu.


"Gue punya di Padang. Waktu mencari Gina di Padang gue bawa mobil itu. Aris duduk di samping gue, mana jalan berlobang. Wah sensasinya luar biasa." kata Bayu menceritakan kejadian saat dia mencari Gina beberapa tahun yang lewat.


"Udah udah, nggak usah ngeributin mobil. Pake acara nostalgila segala. Kami udah nggak sabar mau bermain ini." kata Sari yang mencegah terjadinya dialog panjang hanya gara gara mobil operasional kantor itu dan juga nastalgia Bayu saat menemani Aris mencari Gina. Bisa panjang kalau semua itu dibiarkan terjadi.


Mereka berempat langsung melangkahkan kaki ke dalam markas. Mereka di sambut oleh Alex dan Jero di pintu masuk markas. Dua orang yang sekarang diminta Gina untuk memimpin perkumpulan itu. Dua orang yang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Mereka berdua sangat kompeten di bidang masing masing.


"Siang nona" sapa Alex sambil menundukkan kepalanya.


"Siang Nona" kata Jero sambil melakukan hal yang sama dengan Alex.


"Siang Alex, Jero. Bagaimana dengan tahanan itu? Apakah mereka menikmati hari hari mereka tinggal di sini? Atau sudah ada yang menyerah dan hampir membuka mulutnya untuk mengakui siapa yang menyuruh mereka?" tanya Sari langsung ke intinya saja, dia sudah tidak sabar ingin menjajal kemampuan orang yang kemaren sangat ingin menghabisi nyawanya.


"Sampai sekarang mereka tidak ada yang membuka mulut Nona. Sepertinya mereka masih meragukan kemampuan kita. Tetapi sepertinya sebentar lagi dari mereka ada yang menyesal karena tidak membuka mulut." kata Alex menerangkan kondisi Tahanan.

__ADS_1


"Maksud kamu dengan kata menyesal apa Alex?" tanya Sari yang penasaran dengan maksud perkataan Alex tadi.


" Begini Nona, Stepen sedang bermain di dalam Nona. Sepertinya Stepen sedang ada masalah. Sehingga dia melampiaskan semua kekesalan dan kemarahannya kepada mereka." jawab Jero.


"Ada apa dengan Stepen?" tanya Mira yang penasaran. Ada apa yang terjadi dengan pilot mereka itu.


"Putus cinta Nyonya." jawab Jero.


"Cerita lalu juga. Tapi itu bagus juga untuk peringatan bagi yang lainnya. Semoga saymja Stepen membuat lawannya itu separo mampus. Jadi bisa langsung kita kirim ke Tuanbmnya berupa paket." kata Sari dengan santai dan langsung masuk ke dalam markas.


Mereka kemudian berjalan menuju sel tahanan. Bayu dan Bram hanya bisa diam saja. Walaupun mereka pimpinan gank mafia ternama, cuma berhadapan dengan perkumpulan ini sesuatu yang mustahil. Perkumpulan yang cukup dan sangat komplit. Siapa yang anda cari di sini semuanya ada. Bayu dan Bram sampai sekarang masih tidak percaya, mereka memiliki calon istri dari petinggi perkumpulan itu.


"Siang Nona" kata seseorang yang baru saja bertemu dengan Bayu dan Bram.


Sari dan Mira menatao pria muda tampan itu. Pria yang diperkirakan baru berumur dua puluhan tahun. Baram dan Bayu saling pandang, mereka sama sama mengangkat bahu tanda tidak mengetahui siapa pemuda tampan itu.


"Wow Daniel sejak kapan pulang? Apa sekolah dokter kamu sudah siap?" tanya Sari yang kaget melihat Daniel ada di markas.


"Sudah Nona. Saya sudah siap kuliah, saya rencana mau menemui Nona untuk bisa bekerja di rumah sakit Harapan Kita." jawab Daniel.


"Nanti kita bicarakan. Kebetulan bagian direktur sedang kosong. Kamu tau la kan ya. Direktur adalah Gina. Gina sekarang milih rehat dari semua kerjaan. Jadi kamu aja langsung jadi direktur. Pasti Gina akan setuju, anak angkatnya jadi direktur." kata Sari panjang lebar.


"Gue yakin Gina akan kaget melihat kamu pulang Daniel. Nanti malam kita langsung saja ke rumah Gina. Sekalian kamu harus berkenalan dengan keluarga Ayah angkat kamu." lanjut Mira.


"Setuju." kata Sari yang menyetujui ajakan Mira untuk membawa Daniel ke rumah utama keluarga Soepomo.


Sari dan Mira sudah bisa memastikan raut bahagia wajah Gina. Anak kecil yang dari umur sepuluh tahun dibiayainya sampai dia bisa menjadi dokter. Selama ibi Gina menyekolahkan Daniel selalu di luar negeri. Tidak pernah sekalipun Daniel bersekolah di negara I.


"Baiklah Nona nanti saja kita bahas. Saya lihat Nona akan pergi bermain. Apakah saya boleh menyaksikannya Nona? Saya sudah lama tidak melihat permainan ini." kata Daniel dengan wajah yang penuh harap.


"Apa yang tidak untuk kamu Daniel. Anak angkat Gina." kata Sari sambil memukul kepala Daniel. Satu hal yang paling auka dilakukan Sari dari dahulu kepada Daniel.


"Oh ya Daniel, perkenalkan ini namanya Bram dia adalah adik ipar Gina berarti paman kamu. Sedangkan yang satu lagi itu namanya Bayu, calon paman kamu juga. Dia kekasih Mira." kata Sari memperkenalkan Bram dan Bayu.


"Pasti paman Bram adalah kekasih anda Nona." ucap Daniel.


"Tentulah iyes. Udah nanti lanjut perkenalan. Sekarang mari kita pergi bermain. Gue udah pengen melemaskan otot otot gue yang gue rasa semakin kaku akhir akhir ini." kata Sari sambil menggerak gerakan ototnya.


Sari dan Mira pergi menukar pakaian kantor mereka dengan pakaian untuk bertarung. Sepertinya mereka berdua sangat niat untuk bertarung dengan para tahanan. Sari dan Mira memakai baju jujitsu mereka. Suatu pakaian yang tidak pernah Bram dan Bayu melihat Sari dan Mira memakai baju itu.


"Kakak berdua juga boleh ikut. Tukar aja kemeja kakak dengan baju kaus. Itu baju kausnya ada di ruang ganti. Baju kaos yang baru, bukan baju kaos punya orang lain. Kami nggak akan menghabiskan semuanya sendirian kakak." kata Sari kepada Bram dan Bayu.


Bayu melihat ke arah Mira. Mira pun mengangguk. Bram melihat ke arah Bayu, Bayu mengangguk tanda menyetujui apa yang dikatakan oleh Sari.


Bram dan Bayu pergi menukar pakaian mereka. Mereka juga sudah lama tidak melemas lemaskan otot otot mereka. Mereka memakai baju kaos yang ternyata memang masih baru itu. Mereka juga menukar celana mereka dengan celana levis yang juga masih baru.


Bram dan Bayu keluar dari ruang ganti. Mereka menuju arena bermain. Di tengah arena terlihat Sari dan Mira yang sudah bersiap siap menunggu tahanan yang akan menjadi lawan sparing mereka hari ini.


"Bawa kemari empat orang. Aku ingin mencoba ke empatnya sekaligus." kata Sari kepada salah seorang anggota kelompoknya.


Empat orang tahanan masuk. Dia melihat dua wanita berdiri di tengah tengah arena.


"Hahahahaha. Cuma wanita. Kami berdua aja cukup." kata mereka masih dengan gaya pongahnya.


"Mau hanya berdua aja. Oke nggak apa apa. Berempat malahan lebih bagus." jawab Sari.


"Kalian langsung maju berempat." kata Mira kepada empat tahanan.


Keempat tahanan maju menyerang dengan bersamaan. Mereka menyerang Mira dan Sari dari semua sisi. Mira dan Sari hanya diam dan santai saja. Tepat saat tendangan dari keempat tahanan itu datang, Mira dAn Sari langsung memegang kaki ke empat tahanan mereka menghempaskan tahanan itu ke lantai.


Empat tahanan tidak menyangka Sari dan Mira bisa melakukan hal itu. Mereka berempat kembali berdiri. Tibalah giliran Sari dan Mira untuk menyerang. Mereka menyerang dengan menendang dada para tahanan. Tahanan langsung terpental kembali ke lantai.


"Gimana masih mau coba?" tanya Sari kepada keempat tahanan yang sudah tidak.kuat untuk bangun lagi.


"Tidak Nona. Kami menyerah. Jadi siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang Tuan Aris kemaren malam?" Tanya Sari sambil meninju hidung salah satu tahanan.


Krak bunyi hidung yang patah. Sari kembali mengangkat tinjunya.


Keempat tahanan kembali terdiam. Mira langsung mematahkan salah satu tangan milik salah seorang tahanan.


"Ini bonus karena udah berani menembak ke arah Gina dan Sari." kata Mira kepada tahanan yang tangannya sudah patah itu.


"Kalian masih belum mau mengaku. Mau saya patahkan semuanya?" tanya Mira sambil memegang kembali salah satu tangan tahanan.


"Ba ba ba Baik Nona kami akan mengaku. Tuan Zain yang meminta kami untuk membunuh Tuan Aris Nona." jawab salah satu tahanan.


"Oh baiklah terimakasih infonya."


Buk. Bunyi salah satu tahanan yang tersungkur ke lantai kembali. Sari yang tidak bisa menahan emosinya menendang bagian kepala salah satu tahanan. Darah segar mengalir dari hidung tahanan tersebut.


"Alex. Lempar mereka ke sel kembali. Biarkan mereka membusuk di sana." kata Sari memerintahkan Alex.


Empat orang anggota Alex masuk dan menyeret keempat tahanan. Mereka kembali di masukan ke dalam sel yang sama.

__ADS_1


Empat orang tahanan berikutnya masuk ke arena. Mereka akan menghadapi Bayu dan Bram. Bayu dan Bram sudah berada di tengah tengah lantai untuk bertarung.


Keempat tahanan kembali menyerang Bram dan Bayu. Bram dan Bayu dengan gampangnya menangkis serangan dari keempat tahanan itu.


Bram dan Bayu kemudian menyerang keempat tahanan tersebut. Mereka berempat belum siap menerima serangan dari Bram dan Bayu. Keempat tahanan kembali mencium tanah.


Bram kemudian maju, dia menginjak jari jari seorang tahanan.


"Elo yang nembak ke mobil gue. Sekarang gue buat hancur jari jari tangan loe." kata Bram sambil menginjak keras jari jari tangan tahanan tersebut.


Keempat tahanan di bawa masuk ke dalam sel kembali. Alex dan Jero mendekati Bram dan Bayu.


"Maaf tuan, saya mengoreksi sedikit. Tuan kalau dalam medan perkelahian sebenarnya, maka Tuan berdua tadi pasti sudah habis oleh musuh Tuan." kata Jero yang dari tadi melihat cara Bram dan Bayu berkelahi.


"Maksud kamu?" tanya Bram yang penasaran.


"Ya, Tuan berdua hanya fokus kepada musuh yang sedang Tuan hadapi. Tapi Tuan berdua tidak berpikir kalau musuh bisa datang dari mana saja. Apakah bisa kita coba Tuan?" tanya Jero kepada Bram.


Bram melihat ke arah Bayu. Bayu mengangguk dengan semangat.


"Baiklah kalau itu mau kalian mari kita cobakan " kata Bram.


"Kami ikut" kata Sari dengan semangat.


"Kami nggak jadi." jawab Bram langsung saja membatalkan uji tarung itu. Dia tidak mau Sari dan Mira ikut serta.


"Ya lah. Kalian aja. Aku sama Mira memperhatikan nya saja." jawab Sari sambil langsung duduk kembali di tempatnya.


Mira hanya tersenyum melihat Sari yang jengkel, jengkel karena tidak bisa ikut uji tarung dengan Bram dan Bayu.


Dua anggota maju menyerang Bram dan Bayu. Mereka adalah dua anggota yang baru masuk dua bulan yang lalu. Mereka menyerang Bram dan Bayu dengan taktik yang sudah diajarkan oleh Jero. Mereka berhasil memukul mundur Bram. Sedangkan Bayu masih bisa bertahan. Saat Bayu lengah karena melihat Bram yang jatuh salah satu pengawal maju menyerang Bayu. Bayu juga jatuh tersungkur mencium tanah.


"Stop" kata Sari.


Sari kemudian maju ke tengah tempat pertandingan.


"Kak Bayu, tau kenapa uji tanding ini gue berhentikan?" tanya Sari kepada Bayu.


Bayu dan Bram menggeleng.


"Saya menghentikan karena kakak harus mengambil pelajaran dari kesalahan kakak tadi. Dalam pertarungan dengan mafia atau penjahat, kakak tidak bisa menolong teman dengan mengabaikan keselamatan kakak. Tadi kakak mengabaikan keselamatan kakak dengan membelakangi musuh. Padahal kak Bram tidak parah, kak Bram masih bisa melanjutkan pertempuran. Seharusnya tadi kakak bersuara memanggil kak Bram. Bukan langsung membantu kak Bram dan membiarkan posisi kakak kosong dan bisa dengan mudah di serang lawan." Sari menjelaskan kesalahan yang dilakukan oleh Bayu


"Untuk teknik bener yang dikatakan oleh Jero. Kakak berdua sama sekali tidak memiliki teknik bertarung. Kakak berdua aku akui adalah pimpinan gang black jack, tapi itu karena turunan bukan karena kakak pintar berkelahi." lanjut Sari.


"Jadi kalau kakak bener bener pengen jado petarung hebat seperti mereka mereka, maka kakak harus latihan dengan mereka mulai besok." kata Sari selanjutnya.


"Baiklah kami akan latihan. Dari pada pas nikah lami salah langsung dikarate sampai habis sama kalian berdua." kata Bayu.


"Hahahaha. Semoga kakak berdua bisa menjali pelatihan dengan baik." lanjut Sari.


Mereka kemudian menukar baju latihan dengan baju yang mereka pakai dari kantor tadi. Mereka semua berkumpul di ruang makan. Semua anggota perkumpulan sudah berkumpul di sana. Mereka sudah mengambil makan siang mereka.


Sari dan yang lain duduk di bangku paling depan.


"Kepada Nona muda hormat grak." kata salah satu pimpinan dari anggota.


Sari menganggukkan kepalanya.


"Tegak grak. Selamat makan." kata ketua


Mereka semua makan dalam diam. Salah satu kebiasaan dari grub ini adalah tidak ada yang boleh berbicara saat waktu makan.


Selesai makan, rombongan Sari pindah ke ruang pertemuan. Mereka akan membahas tentang tahanan yang sedang berada di markas mereka.


"Nona, bagaimana dengan tahanan ini nona?" tanya Alex.


"Kalau menurut saya. Kalau ada di antara mereka yang sekarat segera antarkan ke keluarga Zain. Dan berikan sepucuk surat peringatan kepada keluarga itu. Mereka memang berurusan dengan Soepomo Grub, tetapi mereka sudah berani mengusik bagian dari kita. Maka mereka sudah masuk target kita. Mereka jual kita beli." kata Sari dengan penuh penekanan dan aura yang dingin.


"Baik Nona. Kalau tidak ada yang sekarat saya yakin Stepen bersedia membuat salah satu dari mereka menjadi sekarat." jawab Jero yang sangat bersemangat untuk mengirimkan salah satu dari tahanan ke keluarga Zain.


"Saya yang akan antar langsung Nona kepada Tuan Zain itu. Mereka telah salah mencari musuh." lanjut Jero dengan dingin dan amarah yang terpancar dari matanya.


Zain salah seorang dari orang orang yang ditolong Gina saat mereka susah. Zain sebenarnya adalah salah satu anggota marinir paling hebat. Tetapi karena dia melawan kehendak komandan yang bertentangan dengan hati nuraninya Zain lebih memilih pensiun dini dari militer. Kebetulan dia bertemu dengan Gina.


Gina mempercayakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang otomotif kepada Jero. Jero menerima dengan sangat senang. Salah satu hobbynya adalah bidang otomotif. Sekarang perusahaan itu luar biasa majunya. Salah satu perusahaan milik Gina yang tidak ada campur tangan Sari dan Mira di dalamnya. Perusahaan itu murni punya Gina.


"Alex, Jero, kami pulang dulu. Daniel kamu nanti akan diantar oleh Alex menuju rumah Gina. Atau nanti gue yang jemput loe ke sini." kata Sari kepada Daniel.


"Kenapa harus nanti yang. Sekarang aja kita bawa dia ke rumah utama. Hari sudah pukul lima, nggak ada lagi orang di kantor." kata Bram yang lebih suka membawa Daniel sekarang dari pada Sari harus menjemputnya sendirian.


"Baiklah, Daniel pergi tukar baju kamu. Saya tunggu di teras rumah." kata Sari kepada Daniel.


Mereka berjalan keluar dari dalam markas. Mira dan Bayu sudah masuk ke dalam mobil. Sari menunggu Daniel, tidak begitu lama Daniel datang dari dalam markas. Bram, Sari dan Daniel langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Bram melajukan mobilnya menuju rumah utama Soepomo. Di belakang mobil Bram, mobil Bayu mengikuti. Mereka semua akan menuju rumah utama Soepomo. Mengantarkan Daniel yang ingin bertemu dengan Gina. Seseorang yang membuat dia menjadi manusia yang berguna. Seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya.


__ADS_2