
"Akhirnya Argha kembali pulang." ujar Argha dengan sangat bahagianya.
"Gha kok seneng banget bisa pulang?" tanya Afdhal kepada Argha.
"Iya senang lah Pi. Argha udah lama ingin pulang kembali ke negara I. Sayangnya Bunda nggak mau. Kata Bunda sabar aja, tunggu Daddy jemput." ujar Argha.
"Sekarang kan Daddy udah datang, makanya aku bisa pulang. Aku sangat bahagia bisa pulang." ujar Argha.
"Hahahahaha. Kebahagiaan Argha memang bisa pulang ya Gha."
"Iya Papi. Argha pengen ketemu atuk Argha." ucap Argha.
Mereka kemudian menikmati penerbangan yang lama itu. Argha memilih untuk tidur di kamar yang ada di atas pesawat.
Tak terasa penerbangan itu berakhir juga. Mereka sudah di tunggu oleh kendaraan masing masing di landasan pacu.
"Argha kita langsung ke perusahaan Atuk ya sayang. Papi ada perlu dengan Atuk." ujar Aris.
"Oke Daddy. Argha ikut kemana Daddy pergi." jawab Argha.
Aris, Bram dan Argha masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka di landasan pesawat.
"Daddy, kira kira Atuk ada perlu apa ya dengan Daddy sampai sampai nyuruh Daddy pulang cepat."
"Daddy juga tidak tau. Kita akan sama sama tau saat kita sudah berada di dekat Atuk." jawab Aris sambil menatap lurus ke depan.
Perjalanan menuju perusahaan Jaya Grub selesai sudah. Aris, Bram dan Argha berjalan masuk ke dalam perusahaan. Mereka naik lift khusus yang diperuntukan untuk pejabat pejabat perusahaan.
"Hay Bud. Apa Daddy ada?" tanya Aris kepada sekretaris Daddy.
"Tuan besar sudah menunggu Tuan muda dari tadi di dalam. Silahkan masuk Tuan." ucap Budi.
Budi membukakan pintu ruangan Papi. Aris dan Bram berjalan masuk. Sedangkan Argha hanya berdiri saja di tempat. Aris yang sadar Argha tidak melangkah kembali menemui anaknya itu.
"Ada apa?" tanya Aris.
"Apa aku harus masuk Dad?" tanya Arga.
"Yup. Kamu harus masuk." jawab Aris.
"Tapi....." ujar Arga menggantung kalimatnya.
"Arga percaya Daddy kan ya?" tanya Aris kepada anaknya.
Argha mengangguk,
__ADS_1
"Kalau gitu mari kita masuk, Atuk sudah menunggu kita di ruangannya." ujar Aris sambil menggandeng tangan Argha.
Mereka bertiga masuk ke ruangan Papi. Papi yang melihat Argha berdiri di sebelah Aris langsung saja memeluk cucunya itu. Papi sangat kangen dengan Argha.
"Sayang cucu atuk. Atuk sangat merindu kamu sayang. Kenapa Argha pergi nggak ngasih tau Atuk. Argha nggak sayang atuk lagi." ujar Papi menggebu gebu kepada Arga.
"Argha sayang Atuk, karena Argha sayang Atuk dan Daddy makanya Argha dan Bunda memilih untuk pergi." ujar Argha.
Papi terus saja memeluk Argha. Sebenarnya Argha sudah risih di peluk seperti itu. Tetapi apa mau dikata, dia tau Atuknya sangat rindi dengan dirinya. Makanya Argha membiarkan saja.
"Atuk, Argha udah capek berdiri. Argha nggak boleh duduk tuk?" tanya Arga sambil melihat sofa di belakangnya.
"Hahahahaha. Saking rindunya Atuk sama kamu, Atuk sampai lupa meminta kamu untuk duduk." ujar Papi.
Papi kemudian mengajak mereka semua untuk duduk di sofa. Papi benar benar bahagia melihat Argha sudah kembali ke negara U.
"Papi, ada apa Papi meminta Aris untuk cepat pulang?" tanya Aris yang tidak sabaran.
Bram dan Argha hanya menjadi pendengar setia saja. Mereka tidak akan mengganggu pembicaraan antara Ayah dan Anak itu.
Papi memberikan video yang kemarin dikirim oleh seseorang yang tidak di kenal oleh Papi. Argha tersenyum penuh makna melihat video tersebut.
"Yes" ujar Argha sambil tersenyum penuh kemenangan.
Brak. Bunyi meja yang dipukul keras oleh Aris.
"Dasar manusia nggak punya otak dan hati nurani. Terbuat dari apa dia, bisa bidanua dia berbuat seperti ini. Kamu sudah membangunkan kemarahanku Nyonya." ijar Aris dengan tatapan penuh kebencian.
"Ada apa Ris?" tanya Bram.
Aris memperlihatkan video tersebut kepada Bram.
"Ini benar benar sudah keterlaluan Ris. Kamu harus menyelesaikannya." ujar Bram.
"Yup. Aku harus memberikan dia pelajaran yang setimpal." jawab Aris sambil mengepalkan tangannya menahan api kemarahan yang sudah mendidih di dadanya.
"Daddy, Argha boleh lihat videonya?" tanya Argha dengan penuh harap boleh diizinkan untuk melihat video itu.
"Maaf Argha, bukan Daddy nggak mau, tapi lebih baik Argha nggak usah lihat videonya ya." jawab Aris yang tidak mau Argha sampai harus melihat video itu.
"Jadi gimana keputusan Mu, Ris?" tanya Papi.
"Kita eksekusi sekarang aja Pi. Aris pengen lihat gimana reaksi dirinya saat kita tau semua perbuatannya." ujar Aris.
"Baiklah Papi juga setuju, makanya Papi meminta kamu untuk datang. Papi tidak mau mengambil keputusan ini sendirian, karena menyangkut dengan Argha dan juga Gina."
__ADS_1
Mereka berempat berjalan ke luar dari ruangan Papi. Mereka akan menuju apartemen wanita yang sudah membuat Aris dan Papi murka.
Argha bersikap seperti tidak tau saja. Padahal di dalam hatinya, dia sudah bersorak kegirangan.
Bram bertindak menjadi sopir, sedangkan Aris duduk di sebelah Bram. Papi dan Argha di bagian belakang sopir. Bram melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Jalanan ibu kota sedang macet dan padat akibat jam adalah jam istirahat karyawan dan pegawai. Bram tidak ingin mengambil resiko dengan melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.
"Pi, Papi yakin kalau dia ada di apartemennya. Bukannya dia selama ini selalu pergi pergi siang hari, urusan sosialita, urusan sosial serta urusan yang lainnya." ujar Aris memastikan kepada Papi kalau orang yang dicarinya ada di apartemen.
"Papi udah pastikan, dia tidak keluar apartemen dari kemaren." jawab Papi kepada Aris.
"Okelah kalau gitu." jawab Aris.
"Atuk, sebenarnya ada apa?" tanya Argha yang berharap akan mendapatkan jawaban dari atuknya.
"Sayang, Argha lihat aja nanti ya." jawab Atuknya.
Argha kemudian mengangguk, dia tidak mungkin memaksa lagi. Argha tau batasannya sampai dimana.
Tak terasa perjalanan menuju apartemen orang yang didatangi oleh empat pria beda generasi itu selesai sudah. Mereka berempat kemudian turun dari atas mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam apartemen.
Mereka berempat masuk ke dalam lift. Papi menekan tombol lift angka sepuluh. Lantai tertinggi di apartemen itu. Argha berusaha bersikap tenang, dia tidak ingin Daddy mencemaskan dirinya.
Mereka berempat sampai di depan pintu apartemen orang tersebut. Bram memencet tombol kamar. Bram sampai memencet tiga kali bel tersebut, tetapi tidak ada tanda tanda orang akan keluar dari dalam kamar.
"Pi, benerkan dia ada di dalam?" tanya Aris yang udah nggak sabaran.
"Bener. Ngapain juga Papi boong Ris." ujar Papi.
Bram kembali memencet bel. Dari dalam terdengar jawaba. "Tunggu sebentar."
Mami kemudian berjalan keluar menuju pintu apartemen. Dia sangat penasaran dengan siapa orang yang mencarinya ke apartemen.
Mami membuka pintu apartemen. Dia terlihat kaget saat melihat Papi dan Aris sudah berdiri di depan pintu apartemen.
"Mari masuk Pi, Aris." ujar Mami dengan ramah.
"Papi dan Aris pasti mau menjemput Mamikan??" ujar Mami dengan pedenya.
Brang
............................................................
Benda apakah yang berbunyi seperti pecah itu???????
Tunggu lagi ya kakak
__ADS_1