
"Sayang sakit." ujar Rani kepada Daniel yang terlelap tidur.
Tetapi Daniel yang terlelap tidur tidak mendengar panggilan dari Rani. Rani meraih ponsel miliknya. Dia mencari nomor Ghina. Ghina yang baru saja selesai menjalankan ibadah mendengar ponselnya bergetar dan melihat siapa yang menghubunginya, langsung melepas mukena dan kain sarung yang dipakai.
Ghina berlari membuka pintu kamar, dia langsung menuju kamar Rani dan Daniel. Ghina membuka pintu kamar dengan sedikit keras.
"Kenapa?" tanya Ghina melihat Rani yang sudah merintih menahan sakit di perutnya.
"Mules Bun." jawab Rani.
Ghina menatap anak laki lakinya yang masih tertidur. Dia hanya bisa geleng geleng kepala melihat hal itu.
"Daniel" teriak Ghina di telinga.
Daniel mengusap telinganya saja tanpa niat untuk bangun.
Ghina berlari keluar kamar.
"Rani melahirkan. Bangun" teriak Ghina dengan suara menggelegar. Ghina mengulangi teriakannya sebanyak dua kali lagi.
Mereka yang mendengar teriakan dari Ghina langsung berlari keluar kamar. Termasuk Daniel juga berlari keluar kamarnya.
"Mana Rani Bunda?" tanya Daniel.
"Di dalam goblok." ujar Aris sambil memukul kepala anaknya.
"Lupa" jawab Daniel dan langsung masuk ke dalam kamarnya kembali.
Ghina dan Frenya juga masuk ke dalam kamar Rani.
Sedangkan Aris memerintahkan Jero dan Bimo untuk menyiapkan mobil. Mereka akan pergi dengan dua mobil menuju rumah sakit.
"Kenapa nggak pakai Heli Tuan?" tanya Bimo yang teringat Heli sudah berada di helipad.
"Bener juga ya. Oke satu aja. Kamu dengan Saya menerbangkan Heli. Sedangkan Bimo mengantar Nyonya dan Frenya ke rumah sakit." ujar Aris mengubah instruksinya.
"Argha ikut Daddy." ujar Argha yang baru terbangun karena mendengar keributan di depan kamarnya.
"No sayang. Kamu ujian. Jadi pulang ujian aja diantar Ivan ke rumah sakit. Oke" ujar Aris yang teringat anaknya sudah mulai ujian.
"Oh oke." jawab Argha yang masuk ke dalam kamar Daniel.
"Uni." ujar Argha memanggil Rani.
"Apa?" tanga Rani dengan wajah meringis.
__ADS_1
"Keluarkan ponokan laki laki ya. Biar bisa main bola." ujar Argha.
"Cium Uni dulu." perintah Rina sambil menunjuk pipinya.
Cup. Cup. Cup. Cup.
"Argha sayang uni. Uni harus bisa. Pulang sekolah Argha ke rumah sakit."
Jero yang diminta menyiapkan Heli sudah kembali ke kamar Daniel.
"Tuan sudah siap." ujar Jero.
"Sayang, kamu dan Frenya naik mobil disupiri Bimo dan Steven. Sedangkan Aku, Jero, Daniel dan Rani akan naik heli." ujar Aris mengatakan skenarionya.
"Oke sayang." jawab Ghina.
Daniel menggendong istrinya yang sebenarnya berat. Tetapi demi istri tercinta dia rela menahan beban berat itu.
"Bun udah hubungi dokternya?" tanya Frenya yang teringat dengan dokter yang mengurus Rani selama ini.
"Udah. Mereka semua udah stanbay di rumah sakit. Siap memberikan tindakan kepada Rani." jawab Ghina.
Heli dan mobil sama sama meninggalkan kediaman utama Soepomo Grub. Mereka akan menuju rumah sakit.
"Sayang sakit." ujar Rani sambil menahan sakit di perutnya.
"Niel, kamu ikut kelas melahirkan kemaren. Kenapa nggak dipraktek coba." ujar Aris yang heran dengan kepanikan yang dialami Daniel.
"Lupa Dad." ujar Daniel yang memang otaknya serasa kembali ke nol. Tak satupun apa yang diajarkan di kelas kehamilan bisa diingatnya.
"Rani tarik napas pelan pelan keluarkan biar kamu tenang. Kalau dia sakit jangan teriak. Usahakan fokus dan tenangkan pikiran." ujar Aris asal comot saja.
Padahal waktu kelahiran Argha, Aris juga dilanda kepanikan yang luar biasa. Kalau Daniel masih lumayan ingat dengan perlengkapan Rani. Sedangkan waktu Aris, jangankan perlengkapan melahirkan Ghina, malahan Aris yang duluan pingsan.
Tidak membutuhkan waktu lama Heli sudah mendarat di helipad yang berada di atas gedung rumah sakit. Sebuah brangkar rumah sakit dan beberapa orang dokter serta suster telah menunggu kedatangan heli tersebut dari tadi. Mereka menahan dan berperang dengan rasa kantuk. Tetapi demi menjaga kelangsungan persakuan makanya mereka rela untuk tetap terjaga.
"Daniel menggendong dan memindahkan Rani ke brangkar rumah sakit. Rani terlihat masih terus menahan rasa sakit yang jaraknya semakin dekat.
"Sayang sakit." ujar Rani dengan kuat.
Rani yang sudah tidak tahan menahan rasa sakit yang dideritanya menggigit tangan Daniel dengan kuat. Daniel hanya bisa pasrah saja. Dia tidak mungkin memarahi Rani. Bagaimanapun sakit yang dialami oleh Rani sekarang separonya adalah sumbangsih dari dia juga.
"Tahan Nyonya." ujar dokter Anya.
"Langsung ke ruangan melahirkan saja." ujar dokter Anya mengingatkan suster yang mendorong brangkar.
__ADS_1
Mereka mendorong brangkar dengan cepat saat keluar dari lift. Mereka sangat kasihan melihat Rani menahan rasa sakitnya itu.
"Dokter Daniel mari ikut dengan saya ke dalam." ujar dokter Anya.
Aris menepuk pundak Daniel. Daniel mengangguk, mereka kemudian masuk ke dalam ruangan bersalin.
Rani sudah diletakan di atas ranjang khusus untuk orang melahirkan. Dokter Anya kemudian mencoba mencek sudah bukaan keberapa Rani.
"Berapa dok?" tanya Daniel.
"Tiga dokter." jawab dokter Anya.
"Dokter, kalau dokter Rani sudah tidak sakit lagi, bawa dokter Rani berjalan jalan biar cepat pembukaannya." lanjut dokter Anya.
Daniel hanya bisa mengangguk saja. Dia terus memegangi tangan Rani. Rani menatap lama Daniel.
"Masih sakit?" tanya Daniel.
Rina menggeleng, rasa sakit yang tadi melandanya perlahan mulai hilang dan tidak berasa lagi.
"Mau jalan jalan?" tanya Daniel.
Rani mengangguk setuju. Daniel membantu Rani untuk berdiri. Dia memapah istrinya berjalan jalan di dalam ruangan bersalin yang sangat bersih dan steril itu.
Ghina yang baru saja sampai langsung masuk ke dalam ruangan bersalin. Dia melihat Daniel dan Rani yang sedang berjalan jalan. Ghina juga melihat dokter Anya yang berada di dalam ruangan sedang menulis di sebuah status pasien.
"Gimana dengan anak saya dokter?" tanya Ghina kepada dokter Anya.
"Baru bukaan tiga Nyonya. Semoga dokter Rani kuat sampai bukaan sepuluh. Kalau tidak kita harus melakukan operasi." ujar dokter Anya.
"Oh baiklah dokter. Kita akan sama sama berusaha dokter." ujar Ghina.
Ghina kembali menuju Daniel dan Rani. Dia membantu Rani untuk berjalan jalan di dalam kamar.
"Panggil Frenya Niel. Biar Frenya juga ikut membantu Bunda." ujar Ghina.
Daniel kemudian memanggil adiknya yang memang sudah menunggu di luar bersama dengan Aris.
"Uni dipanggil Bunda." ujar Daniel.
Frenya masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Daniel berjalan dan duduk di sebelah Aris dan Jero serta Bimo dan Steven yang duduk di kursi tunggu.
"Gimana Niel?" tanya Aris.
"Baru bukaan tiga Dad. Semoga Rani kuat sampai melahirkan Soepomo junior kedunia Dad." ujar Daniel.
__ADS_1
Kelima pria tampan nan mempesona itu duduk dengan wajah yang sudah hilang rasa kantuknya karena kejadian di tengah malam. Mereka berlima mendiskusikan tentang berbagai hal. Walaupun yang tiga adalah asisten mereka tapi bagi Aris dan Daniel, mereka tetaplah bagian dari keluarga Soepomo