Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Blip Merajuk


__ADS_3

Pagi harinya Gina sudah bangun terlebih dahulu. Dia akan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Gina sangat yakin kalau tidak ada debu yang menempel di dinding kamar. Tetapi demi untuk tayamum Gina menganggap aja ada debu di situ. Gina kemudian tayamum dan menjalankan kewajibannya. Gina selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia melihat Aris masih tertidur nyenyak di atas kasur.


"Uda bangun uda. Nggak sholat subuh?" Gina berusaha membangunkan Aris yang masih terlelap.


Aris yang sayup sayup mendengar suara Gina berusaha membuka matanya. Dia melihat Gina yang duduk di sampingnya.


"Hari ini nggak usah kantor dulu ya" kata Aris kepada Gina sambil berdiri dari atas kasur.


"Nanti bahas. Sekarang sholat dulu." perintah Gina kepada Aris.


Aris melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya. Biasanya Aris akan sholat berjamaah di mushalla rumah. Tetapi kali ini tidak dilakukannya karena ketiduran.


"Sayang duduk sini dulu." kata Aris kepada Gina.


Gina duduk di sofa sebelah Aris.


"Hari ini nggak usah kantor dulu ya. Aku juga nggak ke kantor." kata Aris kepada Gina.


"Kok?" tanya Gina yang heran mendengar Aris tidak akan pergi ke kantor.


Gina sangat tau Aris adalah tipe laki laki pekerja keras. Aris sangat tidak suka meninggalkan pekerjaannya.


"Males aja. Aku mau bawa kamu periksa ke dokter kandungan. Mau nengok blip lagi." jawab Aris sambil tersenyum.


"Oh. Oke kalau gitu. Siap nengok blip kita ke taman bermain ya." kata Gina.


Setelah mengatakan mau ke taman bermain. Ekspresi Gina dari yang semangat langsung berubah menjadi murung. Aris tau Gina mengingat hal buruk saat Aris membohongi Gina di taman bermain. Aris mengatakan akan pergi ke toilet ternyata dia berkencan sesaat dengan Vina.


"Sayang, aku mohon jangan ingat itu lagi. Itu bagian terkelam dari masa lalu aku. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Aku menyesal sayang, sungguh menyesal banget." kata Aris sambil ingin menggenggam tangan Gina. Tapi diurungkannya, dia takut Gina histeris lagi.


"Aku paham. Nggak ada orang yang mau jatuh ke lubang yang sama untuk ke dua kalinya."jawab Gina sambil tersenyum manis ke Aris.


"Aku mandi dulu. Selesai mandi aku pasangkan obatnya. Kalau kamu ragu sama aku, bisa minta tolong Mami." kata Aris.


"Nggak kamu aja." jawab Gina.


"Sip. Aku mandi bentar." kata Aris, sambil langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Gina menyiapkan pakaian rumahan untuk Aris. Sebuah celana levis dan baju kaos merk yang sama. Ntah kenapa hati Gina sangat senang saat mendengar Aris tidak akan ke kantor hari ini. Terlebih lagi Gina merasakan bagian yang terkena siraman air teh panas kemaren mulai terasa perih.


Selesai mengambilkan pakaian untuk Aris, Gina duduk di sofa sambil meniup niup bagian tangannya yang terasa perih. Aris yang keluar dari kamar mandi sangat sedih melihat itu. Dia tau pasti luka Gina sedang perih. Aris harus memberikan pelajaran yang setimpal untuk warung itu.

__ADS_1


Gina yang melihat Aris menuju ranjang untuk mengambil baju, menghentikan kegiatannya meniup niup tangannya yang dirasa perih.


"Perih sayang?" tanya Aris kepada Gina.


Gina mengangguk, dia yakin kalau Aris sudah tau kalau tangannya sedang sangat perih.


"Sini aku tiup." kata Aris.


Gina mengangkat tangannya.


"Coba pegang Uda" kata Gina sambil mengarahkan tangannya kepada Aris.


"Jangan sayang, nanti kamu kenapa kenapa lagi. Aku nggak mau kamu pendarahan lagi." jawab Aris sambil menggeleng dengan tegas.


Aris tidak mau ada kejadian fatal lagi setelah ia memegang tangan Gina.


"Kita perlahan lahan aja sayang. Nggak usah terlalu dipaksakan." kata Aris kepada Gina dan memberikan Gina senyum terbaiknya.


Gina membalas senyum Aris dan mengangguk setuju.


"Ambil obatnya sana, biar di kasih. Kamu nggak mandikan ya?"


"Nggak. Bauk akunya?" kata Gina sambil mendekatkan badannya ke Aris.


"Nggak, kamu bau, masih wangi seperti biasanya." jawab Aris sambil seperti hewan sedang mencium makanannya.


Gina berjalan ke menuju laci meja riasnya. Gina menyimpan obat salep itu di sana kemaren. Gina mengambil kotak obat tersebut dan membawanya ke arah Aris.


"Sini duduk." kata Aris.


Aris mengoleskan dengan sangat hati hati luka yang ada di tangan Gina. Aris berusaha untuk tidak menyentuh kulit Gina agak sedikitpun.


"Telentang sayang. Bagian perutnya lagi." perintah Aris.


Gina telentang. Dia membuka kancing bajunya dan terpampanglah kulit perut putih mulus dan sudah membuncit itu. Usia kandungan Gina yang masuk bulan keempat sudah terlihat membesar.


Aris mengambil obat salep. Dia mengarahkann tangannya ke arah perut Gina. Tiba tiba saja Gina langsung berdiri dan berlari menuju wastefel kamar. Gina memuntahkan semua isi perutnya. Aris yang melihat merasa bersalah, ternyata Gina masih belum bisa berada dekat dengan Aris.


"Sayang, kamu tidak apa apa?" kata Aris sambil meletakan handuk panas di kuduk Gina.


"Aku mual sayang. Kayaknya Blip nggak mau kamu sentuh sayang." kata Gina sambil berpegangan di tepi wastefel dan menatap Aris melalui cermin.

__ADS_1


"Ini minum air panasnya. Aku panggilkan Mami. Biar Mami yang mengoles luka di perut. Sepertinya Blip masih sangat marah sama aku." kata Aris dengan wajah sedih.


"Jangan pasang wajah seperti itu." kata Gina.


"Hahahaha. Nggak sayang, jangan marah. Nanti Blip makin marah lagi sama akunya." balas Aris sambil menatap Gina.


"Sana panggil Mami. Biar bisa sarapan cepat. Aku lapar" kata Gina sambil mendorong Aris.


Aris yang di dorong berjalan keluar untuk manggil Mami.


"Blip, kenapa kamu curang Blip. Nana megang Ayah kamu nggak protes. Kenapa Ayah megang Nana, kamu protes?? Kamu bener bener egois seperti Ayah Blip." kata Gina sambil mengelus perutnya.


"Gina, ini Mami sayang." kata Mami dari intercom yang di pasang di kamar Aris.


Gina berjalan menuju pintu kamar. Kamar itu hanya bisa di buka dengan meletakan telapak tangan Aris dan Gina. Selain mereka berdua maka kamar tidak bisa terbuka.


"Masuk Mi. Maaf ya Mi, Gina merepotkan Mami."


"Nggak sayang, kamu nggak ngerepotin Mami." jawab Mami.


Gina kemudian telentang di kasur. Dia membuka bagian perutnya. Mami mengoleskan dengan lembut salep itu ke perut Gina.


"Mi, kayaknya Blip belum maafin Uda, Mi." kata Gina memulai cerita kepada Mami.


"Siapa Blip sayang?" tanya Mami yang penasaran.


"Calon anak kami yang di sini Mi" jawab Gina sambil mengusap perutnya yang tidak luka.


"Oh. Mami kira apaan. Kenapa kamu bisa berkesimpulan begitu?" tanya Mami yang tingkat keponya mulai tinggi.


Cerita Gina kali ini bisa dijadikan bahan gosip dengan Nana nanti siang. Mami dan Nana sudah janjian untuk bertemu.


"Jadi tadi saat Uda mau mengoleskan salep ke perut Gina. Gina mual sejadi jadinya, sampe lemes. Nah saat Gina mendorong Uda. Gina nggak merasakan mual sedikitpun Mi." Gina menjelaskan semua kejadian itu kepada Mami.


"Sepertinya dia memang marah sama Ayahnya Gin. Biarin aja. Anggap aja itu hukuman dari Blip" kata Mami yang ikut ikutan manggil calon anak Gina dan Aris dengan panggilan Blip.


"Ayuk turun. Kita sarapan. Sepertinya dari pakaian Aris, dia hari ini nggak ngantor?" tanya Mami.


"Nggak Mi. Kami mau pergi konsul nanti jam sepuluh. Habis itu mau ke taman bermain atau mall." jawab Gina.


"Oh. Oke."

__ADS_1


Mami dan Gina turun ke meja makan. Mereka sekeluarga sarapan dalam keadaan hening. Selesai sarapan Papi dan Bram menuju kantor. Ada urusan yang harus mereka kerjakan. Sedangkan Aris dan Gina memilih untuk duduk duduk di taman belakang sambil melihat danau buatan. Mami jangan ditanya, sudah langsung masuk dapur. Nani akan membuat puding buah lezat untuk Gina.


__ADS_2