Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kecurigaan Arga


__ADS_3

Daniel berjalan mendekat ke arah Frenya. Dia hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan adik perempuannya ini, yang katanya ada perlu tetapi malah enak tidur berbantalkan meja kaca yang keras.


"Katanya ada yang penting. Eh malah molor lagi dia." uajar Daniel bermonolog sendirian melihat kelakuan adiknya itu.


Daniel berusaha menahan hatinya untuk membangunkan Frenya. Tetapi saat melihat ekspresi Frenya saat datang tadi, membangkitkan rasa penasaran dalam diri Daniel. Sehingga Daniel mengenyampingkan rasa kasian melihat Frenya tertidur. Dia harus membangunkan Frenya agar semuanya menjadi jelas.


"Frenya bangun. Ada apa, tadi kamu mengatakan ada perlu sama uda." ucap Daniel sambil menggoyang lengan Frenya.


Frenya mengusap kedua matanya. Dia menormalkan kembali pikirannya. Dia tidak ingin salah ucap, karena apa yang akan dikatakan dan diceritakannya ini sangat sensitif dan menyangkut ke adik kesayangan mereka berdua.


"Ada apa?" tanya Daniel yang bener bener tidak sabaran dengan apa yang mau dibicarakan oleh Frenya.


"Sabar bentar uda. Otak ku belum kumpul semua. Belum balik dari alam mimpi ini otak. Sepertinya otak aku bener bener tercecer di alam mimpi." ujar Frenya sambil menguap dengan lebar. Hal ini sukses membuat Daniel pengen menjitak kepala adik perempuannya itu.


Frenya berusaha mengumpulkan kembali otaknya yang sempat berserakan itu. Dia mengumpulkan kekuatannya untuk menceritakan semuanya kepada Daniel. Sosok yang dirasa bisa menolong Arga.


"Yayayaya, silahkan kumpulkan otak yang tercecer itu." ujar Daniel yang pergi mengambil minum untuk menenangkan dirinya akibat jawaban Frenya yang tidak masuk akal.


"Uda, duduk sini. Otak ku udah balek semua." ucap Frenya sambil memukul kursi yang kosong di sebelahnya. Frenya tidak ingin Daniel duduk jauh darinya. Dia ingin Daniel menyimak dan berkonsentrasi dengan semua cerita yang akan diceritakannya nanti.


Daniel duduk di kursi tersebut, sebelumnya dia sudah meletakan dua tabung air mineral untuk dirinya dan Frenya. Serta potongan buah segar yang selalu ada di dalam lemari pendingin ruangan itu. Jangan tanya diruangan Daniel tidak akan pernah menemukan makanan ringan atau permen di atas meja kerjanya, yang ada hanya potongan buah dan buah segar serta air mineral.


"Ada apa?" ucap Daniel yang memang udah nggak sabaran.


"Jangan sampai ni garpu nyangkut di rambut kamu ya, karena lama banget baru mau cerita." ujar Daniel sambil mengangkat garpu yang berada di tangannya.


"Op jangan pake emosi. Tahan. Ne sekarang aku mau cerita." ujar Frenya sambil mengambil garpu yang siap melayang ke arahnya.


"Uda, aku merasa Arga berbeda dengan anak seusianya. Emang uda nggak ngerasa apa?" tanya Frenya langsung ke intinya.


Daniel yang sangat jarang memerhatikan Arga langsung menggeleng. Bukan maksud Daniel sengaja tidak memerhatikan Arga, tetapi karena kesibukannya sebagau dokterlah yang membuat Daniel tidak bisa begitu sering bertemu dengan Arga.


"Uda, aku mohon kalau uda sempat tolonglah perhatikan Arga. Aku merasa Arga sangat berbeda dengan anak biasanya dengan anak seusianya." ucap Frenya sambil memegang lengan Daniel, Frenya berbicara sambil menatap memohon kepada Daniel.


"Maksud kamu berbeda bagaimana Nya?" tanya Daniel yang penasaran dengan kata berbeda yang diucapkan oleh Frenya.


"Aku tanya Uda. Anak seusia Arga seharusnya udah bisakan ngomong Ma, Pa?" tanya Frenya sambil menatap mata Daniel.


"Yup. Seharusnya sudah." kata Daniel.


"Jangan kamu katakan kalau Arga belum bisa." ucap Daniel sambil menatap Frenya.


"Ya betul. Arga sama sekali tidak bisa. Malahan yang bikin aku semakin yakin Arga berbeda itu adalah setiap Arga menginginkan sesuatu maka Arga akan menarik tangan orang yang berada di dekatnya untuk mengambilkan apa yang dia inginkan." papar Frenya mengatakan apa yang dilihatnya dan diperhatikannya selama ini.


Daniel mulai serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh Frenya. Dia yakin ini adalah sebuah masalah.

__ADS_1


"Lanjutkan Nya." ujar Daniel yang makin penasaran dengan tingkah laku Arga.


"Bayangkan sama uda, Arga lebih senang bermain sendirian dari pada bermain dengan kita. Arga selalu sibuk dengan dunianya sendiri." lanjut Frenya sambil menatap ke atas. Frenya berusaha menahan tangisnya.


"Malahan, Arga sering memukul dirinya sendiri saat semua kehendaknya tidak dikabulkan atau tidak terpenuhi." ujar Frenya sambil menghapus air matanya yang sudah siap mau turun membasahi pipinya.


Daniel menyimak semua yang dikatakan oleh Frenya. Daniel sangat serius mendengar semua cerita Frenya. Daniel tidak menyangka semua cerita Frenya ini.


"Terus?" ujar Daniel yang makin penasaran.


"Bahkan untuk raun saja sampai tiga jam. Arga tidak mengenal yang namanya kata lelah. Dia selalu kuat." ujar Frenya dengan suara yang sudah mulai serak.


"Lebih parah lagi, Arga tidak merasakan sakit. Aku taunya waktu itu sedang main lari larian sama aku. Dia jatuh dan berdarah, kalau anak biasanya dia akan menangis. Arga tidak, dia seperti tidak merasakan sakit akibat terjatuh itu." Frenya memaparkan semuanya kepada Daniel.


Frenya menangis sejadi jadinya setelah menceritakan semua itu kepada Daniel. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa adik bungsunya. Daniel langsung memeluk Frenya. Daniel hanya bisa terdiam. Dia tau Arga kenapa. Daniek bisa menarik kesimpulan ada apa dengan Arga berdasarkan semua fakta yang dibicarakan oleh Frenya. Daniel sudah membulatkan hatinya. Dia harus menyaksikan sendiri adik bungsunya itu.


"Nya, aku menyesal kenapa aku tidak selalu memperhatikan Arga dari kemaren kemaren. Aku janji aku akan ambil cuti satu minggu untuk memastikan semuanya. Aku akan buat suratnya sekarang juga." ujar Daniel yang mengusap air mata Frenya.


"Sekarang berhenti menangis ya. Kita akan berjuang untuk Arga bersama sama." lanjut Daniel yang berusaha menenangkan Frenya kembali.


"Uda buat surat dulu ya. Kamu tunggu di sini sebentar." uajar Daniel yang langsung menuju meja kerjanya.


Jari jari Daniel bergerak dengan lincah di atas kayboard laptop. Dia mengetik surat cutinya. Daniel memutuskan untuk mengambil cuti selama seminggu. Dia akan bermain penuh dengan Daniel selama seminggu itu.


"Kita mau kemana uda?" tanya Frenya yang susah mengikuti jalan Daniel yang begitu cepat.


"Kita ke tempat dokter yang akan membantu kita berkonsultasi masalah Arga." jawab Daniel yang terus melangkah dengan cepat.


Frenya berusaha mengimbangi jalan Daniel. Untung saja tadi dia sudah menukar sepatu tinggi nya dengan sandal jepit hermes kesayangan.


Tok tok tok. Bunyi pintu yang diketuk dari luar. Dokter yang sebenarnya sedang bersiap siap untuk pulang membuka pintu ruangan prakteknya. Betapa terkejutnya dokter cantik itu melihat direktur rumah sakit tempat dia bekerja sedang berdiri di depan pintu ruangannya.


"Maaf apakah dokter Rani sudah bersiap siap untuk pulang?" tanya Daniel kepada dokter cantik itu. Daniel memiliki sedikit rasa kepada dokter cantik itu.


"Sebenarnya iya dokter. Tapi kalau dokter ada perlu silahkan masuk. Saya tidak ada perlu apa apa diluaran sana, karena jam praktek sudah habis saja makanya saya bersiap untuk pulang." jawab dokter Rani yang tidak mau mengatakan hal yang berbeda dengan kenyataan yang ada.


Daniel dan Frenya masuk ke dalam ruang prakter dokter Rani yang seperti paud itu. Semua mainan anak anak ada di sana. Dokter Rani merupakan dokter anak favorit di ibu kota.


"Silahkan duduk dokter. Maaf seperti paud." ujar dokter Rani.


"Tidak apa apa, yang namanya dokter anak ruangannya mestinya memang harus seperti paud, agar anak anak yang diperiksa merasakan kenyamanan." ujar Daniel sambil duduk dan diikuti oleh Frenya.


"Oh ya kenalkan ini adik saya namanya Frenya." ujar Daniel yang memperkenalkan Frenya dengan maksud lain, bukan maksud memperkenalkan Frenya sebagai adiknya.


"Frenya"

__ADS_1


"Rani"


"Oh ya dokter ada keperluan apa sampai sampai dokter datang ke tempat saya ini." kata dokter Rani yang penasaran kenapa seorang direktur harus repot repot keruangannya. Padahal dia tinggal telpon maka dokter Rani sendiri yang akan keruangan direktur.


"Saya punya adik bungsu umurnya tiga tahun. Cuma perkembangan motorik dan perkembangan akalnya tidak sama dengan anak seusianya." jawab Daniel.


"Bisa spesifik lagi dokter. Saya jadi kurang bisa mendiagnosanya." ujar dokter Rani.


"Baiklah dokter saya akan menjelaskannya." ujar Frenya.


Frenya menceritakan semuanya kepada dokter Rani. Dokter Rani terlihat sangat serius mendengarkan semua cerita Frenya.


"Dokter Daniel. Saya tau anda sudah mengambil kesimpulan dari cerita Frenya. Tapi lebih baik anda sendiri memantaunya terlebih dahulu. Sebenarnya saya sangat tertarik dengan kondisi adik bungsu anda. Tetapi saya segan untuk masuk keranah tersebut tanpa diminta langsung oleh orang tua Arga." ujar dokter Rani dengan wajah serius.


"Saya sudah mengambil cuti selama seminggu. Saya akan observasi Arga langsung. Tapi saya butuh angket. Nati angket tersebut akan saya diskusikan dengan dokter." ujar Daniel langsung keintinya, tujuan sebenarnya dia datang ke ruangan dokter Rani.


"Saya akan berikan angket itu. Dokter harus diskusikan dengan saya setiap hari. Dokter juga harus merekam semua tingkah laku Arga." ujar dokter Rani.


"Saya setuju." jawab Daniel.


Rani kemudian menuju mejanya. Dia menarik laci paling atas. Rani mengeluarkan beberapa lembar kertas. Lembaran kertas itu adalah angket yang harus diisi oleh Daniel saat Daniel melakukan observasi terhadap Arga.


"Dokter ini adalah angketnya. Setiap hari satu lembar dokter. Dokter bener bener harus di dekat Arga mulai dari bangun sampai tidur lagi." ujar Rani.


"Terus gimana caranya kita diskusi?" ujar Daniel yang kaget mendengar perintah dari dokter Rani.


"Lewat video call saja." jawab Rani sambil tersenyum.


"Oh baiklah saya setuju."


Setelah mendapatkan apa yang mereka mau. Daniel dan Frenya meninggalkan ruangan dokter Rani. Mereka berdua langsung pulang menuju rumah utama.


"Semoga tidak seperti yang uda bayangkan." ucap Daniel.


"Aamiin uda. Frenya akan selalu membantu uda." ujar Frenya.


Mereka naik ke dalam mobil Frenya. Sedangkan mobil Daniel dibawa oleh salah seorang pengawal Daniel. Mereka akan langsung menuju rumah utama.


"Uda, uda ada rasa ya dengan dokter yang tadi?" Frenya menatap jahil ke arah Daniel.


"Mana ada. Perasaan kamu aja. Dia hanya sebatas teman seprofesi." jawab Daniel yang mengelak dari tatapan Frenya.


"Wah uda jangan harap aku percaya dengan cerita uda ya."


"Ye lah terserah kamu aja." jawab Daniel.

__ADS_1


__ADS_2