
Aris dan Gina pergi menuju kantor Soepomo Grub. Aris memang harus masuk kantor. Dia tidak mungkin meminta Bram terus menghendel dua perusahaan besar itu sendirian. Hari ini Aris tidak.membawa supir, Aris langsung yang mengemudikan mobilnya. Aeis dan Gina berencana siap dari kantor akan ke rumah Wijaya. Mereka akan menginap di sana. Begitu juga dengan Bram yang akan ikut menginap di rumah Wijaya.
Tak berapa lama mengemudi, Aris akhirnya sampai juga di kantor. Aris memarkir mobilnya di tempat parkir khusus CEO. Aris dan Gina kemudian masuk ke dalam lift khusus direksi. Vina yang melihat lift khusus direksi hidup sangat yakin kalau Aris lah yang datang. Vina berkaca dan memperbaiki tampilannya, dia kembali membuka dua kancing paling atas kemejanya. Vina terus saja memasang senyum terbaiknya. Semua tingkah Vina diperhatikan oleh Bram.
"Vina, Vina betapa malangnya kamu batu kali. Aris datang dengan istrinya. Bukan sendirian" kata Bram sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Vina.
Ting bunyi lift yang sampai. Tak lama pintu terbuka. Vina langsung berdiri dan keluar dari meja kerjanya. Betapa terkejutnya Vina melihat Aris memeluk mesra pinggang Gina. Aris yang tau Vina pasti akan melihat berusaha bersikap santai saja. Aris tidak mau Gina sampai curiga.
"Siang pak Aris" kata Vina sambil menundukkan badannya. Sehingga mempertontonkan belahan payudara mulusnya.
Gina yang melihat langsung geram dibuatnya. "Hay nona sekretaris. Bisa nggak untuk tidak mempertontonkan yang tidak pantas di lihat suami saya. Kalau mau jualan tidak di sini" kata Gina dengan sinis nya.
Gina kemudian maju ke arah Vina. " Tolong bagian ini Anda tutup rapat. Suami saya melihat itu namanya rezeki. Tapi kalau anda dengan sengaja mempertontonkannya. Maaf saya harus mengatakan sekali jalang tetap jalang" kata Gina sambil menutup paksa baju Vina yang terbuka itu.
"Hahahahahaha. Sekali jalang tetap jalang. Memang jalang dia Gina" kata Bram dari dalam, Bram merekan semua kejadian di cctv dan mengirimkannya ke Bayu.
✉️ Bayu
Waduah mending gue di situ Bram. Gue mau nengok langsung ekspresi Vina. Dikatakan jalang oleh Gina
✉️ Bram
Gue yakin, kalau ini ketahuan alamat Vina nggak akan hidup dibuat Gina.
✉️ Bayu
Semoga cepat ketahuan oleh Gina
✉️ Bram
Gue yakin Gina ada firasat.
Aris yang melihat Gina begitu marah, mulai menciut nyalinya. Dia mulai merasa tidak aman kalau sempat ketahuan oleh Gina.
"Ngapain gue takut. Gue kan laki laki. Jadi santai aja" kata Aris dalam hati.
Aris menatap Vina dengan tatapan meminta maaf. Vina menganggukkan kepalanya. Semua itu tidak luput dari perhatian Gina.
"Oke Aris, mari kita bermain. Mainkan semua kartumu dan aku akan memainkan kartu ku" kata Gina dalam hati.
Aris dan Gina kemudian masuk ke dalam ruangan Aris. Bram yang sedang duduk di kursi Aris langsung berdiri.
"Duduk Ris." kata Bram.
"Loe aja Bram. Gue lagi pusing. Sayang kita ke kamar yuk" kata Aris mengajak Gina ke dalam kamar pribadi Aris.
"Kalau gitu gue ke ruangan gue aja dulu" kata Bram yang paham Aris mau ngapain.
"Oke"
Bram kemudian keluar. Dia melihat Vina yang duduk lesu tanpa gairah.
"Hay. Aris dan Gina masuk ke dalam kamar pribadi tuh" kata Bram memanas manasi Vina yang memang sudah panas itu.
"Gue bilang sama loe ya sekali batu kali akan tetap jadi batu kali. Loe tetap bisa jadi permata tapi dengan cara yang ya bisa dibilang jual diri lah ya" kata Bram berbisik di telinga Vina.
Vina yang mendengar cacian dari Bram langsung saja menatap Bram dengan tajam.
"Awas loe. Gue jadi Nyonya Aris maka lie gue tendang dari Soepomo dan Jaya Grub" kata Vina dengan bangganya.
"Oh Alhamdulillah banget. Nggak masalah bagi gue. Najis gue mau kerja dengan Nyonya jalang seperti loe. Gue tunggu ya waktunya loe mecat gue" kata Bram
Bram berlalu dari hadapan Vina. Bram geleng geleng kepala heran denga sikap Vina.
"Ada ya orang bangga jadi selingkuhan. Tu makhluk lahir dari apa ya?" kata Bram sambil membaringkan badannya di sofa ruangannya.
"Sayang" kata Aris memeluk Gina dari belakang.
Tangan Aris kemudian naik ke atas dua gundukan Gina. Tempat bergantung yang paling di sukai Aris. Aris meremas dua gundungan itu dengan gerakan pelan keras berirama.
"Sayang" kata Gina.
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Bukak.semuanya sayang" kata Gina dengan suara serak dan beratnya.
Aris membuka semua pakaian Gina. Gina juga membuka pakaian Aris seluruhnya.
Aris mencium mulut Gina dengan begitu rakusnya. Aris seperti meluapkan rasa bersalahnya dalam ciuman itu. Gina melayani ciuman Aris. Mereka berciuman dengan begitu panasnya.
"Sayang" kata Gina yang mulai tidak tahan.
"Apa sayang?" kata Aris.
"Masukin sayang" kata Gina dengan serak.
Aris kemudian memasukkan jaluknya. Mereka berdua bergoyang seirama. Aris begitu menguasai Gina. Begitu juga dengan Gina, saat Gina memegang kendali maka Gina akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik baiknya.
"Sayang" kata Gina dengan suara beratnya.
"Apa sayang?"
"Aku mau sampai sayang ku" kata Gina.
"Kita sama sama sayang. Aku juga hampir sampai" kata Aris.
"Ah" kata sepasang suami istri yang sedang memadu kasih itu.
Semua suara yang dikeluarkan oleh Gina maupun Aris di dengar langsung oleh Vina. Vina sengaja masuk kedalam ruangan Aris untuk membuktikan perkataan Bram. Ternyata memang benar Aris sedang beradu aksi dengan Gina.
Vina kemudian kembali ke meja kerjanya. Dia meneteskan air mata kesedihan, kemarahan dan rasa tersakiti.
"Begini betul lah nasib selingkuhan" kata Vina.
"Tapi Vina kamu harus kuat. Kamu harus mendapatkan Aris kembali" kata Vina dengan membulatkan tekadnya kembali.
Bram yang melihat Vina mendengarkan suara suara dari kamar pribadi Aris. Hanya tersenyum saja. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan Vina.
"Vina, Vina goblok kamu percaya" kata Bram.
Aris dan Gina yang lelah sehabis bertempur memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Mereka akan beristirahat sebentar. Aris memeluk Gina dengan kasih sayang yang berlimpah.
Setelah puas beristirahat. Gina terbangunt erlebih dahulu. Dia kemudian membangunkan Aris.
"Nggak sayang di lemari itu ada baju baru untuk dirimu dan juga ada baju untuk diriku. Kamar mandi di pojok situ." kata Aris sambil menunjuk tempat tempat penting dalam kamar pribadi Aris
"Sayang, aku mandi dulu ya" kata Gina masuk ke dalam kamar mandi.
Gina mengkramas rambutnya. Dia mandi dengan bersih. Selesai mandi Gina keluar dari kamar mandi.
"Sayang, itu baju aku?" kata Gina melihat dress pink yang diambilkan Aris.
"Iya sayang. Kamu akan sangat cantik memakai baju itu. Sedangkan aku akan memakai stelan putih itu" kata Aris menunjuk baju yang akan dipakainya.
"Makasi sayangku" kata Gina.
"Sayang apa disini tidak ada pengering rambut?" lanjut Gina yang dari tadi mencari keberadaan pengering rambut.
"Ada sayang dilaci nomor dua." kata Aris dari dalam kamar mandi.
Gina kemudian mengeringkan rambutnya. Gina akhirnya selesai juga merapikan penampilannya. Aris juga sudah selesai merapikan penampilannya. Mereka benar benar terlihat segar. Aria dan Gina keluar dari kamar pribadi itu. Mereka melihat Bram sudah duduk di sofa ruang tamu bersama Bayu dan Mira.
"Loh kapan datang?" kata Gina.
"Dari tiga puluh menit yang lalu. Tapi kami sabar menunggu sepasang kekasih yang sedang bernahagia" kata Mira dengan santainya.
Gina kemudian membuka pintu ruangan Aris sedikit.
"Vina tolong buatkan minuman untuk kami ya" kata Gina.
"Tapi Nyonya OB kan ada. Kenapa harus saya?" kata Vina yang menolak perintah Gina.
"Oh ya udah kalau tidak mau. Sayang" panggil Gina ke Aris.
"Apa sayang?" kata Aris dari kursi tempat dia duduk.
"Sekretaris kamu tidak.mau buatkan air minum sayang" kata Gina sambil.menatap mengejek Vina.
__ADS_1
"Vina kamu buatkan kami semua minuman" kata Aris yang sudah berdiri di belakang Gina. Setelah mengatakan hal itu Aris langsung saja pergi. Dia tidak kuat menatap ke Vina.
Gina yang melihat itu langsung yakin kalau ada apa apa antara Aris dan Vina. Gina kemudian mengusir Vina dengan gerakan tangannya.
Gina kemudian duduk di dekat Aris. " Sayang ada yang mau aku katakan" kata Gina dengan wajah seriusnya.
"Apa sayang?" kata Aris yang penasaran.
"Pesan aku ya sayang, disaksikan para sahabat kita. Mainkan kartumu dengan baik dan rapi. Kalau tidak maka siap siap aku memainkan kartuku" kata Gina menatap Aris dengan tajam.
"Maksud kamu?" Aris tidak paham.
"Nggak usah pura pura nggak paham sayangku" kata Gina dengan menatap mengejek Aris.
Saat mereka sedang berbincang bincang. Vina datang membawa minuman. Gina memerhatikan gerak gerik Aris dengan teliti. Aris nampak tidak mampu menatap Vina.
"Makasih Vina. Saya mewakili bos kamu yang tidak sanggup menatap kamu" kata Gina dengan dingin.
Aura di ruangan itu langsung berubah menjadi sedingin es. Aris dan yang lainnya merasakan perubahan itu.
"Sama sama Nyonya" kata Vina.
Vina kemudian keluar dari ruangan Aris. Vina merasakan aura yang berbeda di dalam.
"Sayang ada apa?" kata Aris.
"Oh tidak ada apa apa. Aku hanya heran saja, kenapa kamu tidak berani menatap mata sekretaris kamu sayang?" kata Gina menatap tajam mata Aris.
Gina menangkap dimata Aris ada kebohongan yang sangat besar disimpan Aris dengan rapat.
"Aku tidak mau menatap wanita lain di depan kamu sayang" jawab Aris.
Gina merasakan telinganya gatal mendengar jawaban Aris. " Oh sayang kamu manis sekali" kata Gina sambil tersenyum. Senyuman Gina tidak sampai menyentuh matanya. Dimata Gina yang terlihat adalah kewaspadaan.
Bram, Bayu dan Mira merasa kalau Gina sudah dapat membaca gerak gerik ganjil Aris dan Vina.
"Oh ya sayang, aku sepertinya harus keluar dengan Mira. Kami ada janji dengan Sari. Jadi kita ketemu di rumah Nana aja ya sayang" kata Gina.
Gina memberi kode kapada Mira.
"Oh ya sayang aku lupa. Kami memang ada janji dengan Sari mau ngemall bareng" kata Mira.
Mira menginjak kaki Bayu. Mira memberi isyarat.
"Ya udah aku antar aja." kata Bayu.
Gina, Mira dan Bayu langsung beranjak pergi ke mall tempat mereka janjian dengan Sari (Janjian Fiktif).
"Bram loe keperusahaan Jaya sana. Dari sana baru loe ke rumah Tuan Wijaya. Kita nginap di sana malam ini." kata Aris.
Bram kemudian pergi keluar ruangan.
"Vin, saya kerja ke Jaya Grub" kata Bram.
"Baik pak" kata Vina.
Vina bersorak di dalam hatinya.
"Akhirnya kesempatan berduaan itu datang juga" kata Vina.
Vina menunggu Bram keluar dari ruangannya. Bram kemudian menunggu lift yang sepertinya ada penghuninya. Ternyata yang keluar adalah Gina.
"Loh nggak jadi pergi ke mall Gin?" kata Bram.
"Nggak kak. Aku mau berdua aja dengan Aris, Kak" kata Gina yang langsung masuk ke dalam ruangan Aris kembali.
Vina yang melihat Gina datang langsung duduk kembali di kursinya. Kesempatan untuk berduaan dengan Aris lenyap sudah. Gina kembali menemani suaminya
"Loh sayang, nggak jadi ke mall?" kata Aris.
"Males sayang. Aku di sini aja sama kamu. Kan dua jam lagi kamu pulang. Baru kita ke mall" kata Gina.
"Oke sayang. Semua yang terbaik untukmu" kata Aris sambil mengecup puncak kepala Gina.
__ADS_1
Aris kemudian berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dia mengesampingkan Vina yang sedang marah. Dia tidak mau Gina kembali curiga. Gina terus memandang Aris dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sayang kalau sempat kecurigaanku benar. Maka kamu lihat saja sayang permainannya seperti apa" kata Gina sambil tersenyum penuh makna.