Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kekalahan Ghina


__ADS_3

"Ayok sayang kita lanjut ke ruangan berikutnya. Ruangan yang paling keren." ujar Ghina yang sangat tau Aris paling tidak suka melakukan kegiatan yang satu ini.


"Ayuk siapa takut. Aku yakin akan berhasil mengalahkan kamu sayang." ujar Aris sambil merangkul pinggang Ghina.


"Yalah. Ingat perjanjian kita ya sayang" ujar Ghina juga merangkul pinggang suaminya.


"Aman itu sayang. Kita sama sama ingat aja perjanjian kita." ujar Aris sambil tersenyum


Mereka semua sampai pada ruangan terakhir yang akan mereka datangi. Sebenarnya ada lagi satu ruangan yang sebenarnya bisa digunakan, tapi Argha memutuskan jangan, karena tidak mungkin Daddy dan Bundanya harus bergulat disaksikan orang ramai. Makanya ruangan terakhir tidak akan digunakan.


Pengawal membukakan pintu ruangan. Mereka semua masuk ke dalam ruangan tersebut. Aris yang melihat apa yang ada di dalam ruangan langsung termenung dan sedikit merasa tertegun.


"Huf sayang. Kamu tau kan aku tidak suka yang ini." ujar Aris kepada Ghina.


"Mau gimana lagi sayang. Sebagai seorang ketua geng seharusnya kamu bisa semua alat perang. Mulai dari pistol, pisau dan panah." ujar Ghina menepuk pundak Aris.


"Hen yalah sayang. Aku akan ikut. Tapi kayaknya feeling aku mengatakan kalau aku kalah sayang" ujar Aris yang belum mulai tapi sudah pulang.


"Sabar aja sayang. Semangat." ujar Ghina memberikan semangat kepada Aris.


Argha menatap Daddynya. Dia paham Aris memng sangat tidak menyukai memanah. Bukan tidak bisa tapi tidak menyukai.


"Daddy pasti bisa Dad." ujar Argha memberikan semangat kepada Aris.


Ghina berjalan ke arah almari. Dalam almari terdapat beberapa busur. Ghina mengambil salah satunya.


"Sayang, kamu boleh coba. Kalau kamu memang tidak nyaman akan hal ini, kita tidak akan melanjutkan permainannya." ujar Ghina sambil memberikan sebuah busur yang tadi diambilnya.


Aris menerima busur tersebut. Dia menatap Ghina lama. Aris berusaha membuang rasa tidak sukanya kepada permainan itu. Ghina dan yang lain menunggu dengan sabar.


"Oke sayang, aku akan main." ujar Aris dengan penuh semangat.


"Itu baru paten sayang. Kamu memang selalu bisa mengambil keputusan di saat yang tepat." ujar Ghina sambil memeluk erat suaminya.


Argha kembali melemparkan koin miliknya. Koin tersebut memperlihatkan bagian yang dipilih oleh Ghina tadi untuk memulai permainan.


"Bunda, Bunda duluan." ujar Argha meminta Ghina untuk memulai perlombaan.


Ghina berjalan menuju almari. Dia mengambil busur yang selama ini belum pernah digunakan olehnya. Ghina sengaja melakukan hal itu.


Ghina mengambil tempat dan memposisikan dirinya dengan baik. Ghina kemudian membidik sebuah papan target. Ghina menargetkan titik hitam di tengah tengah lingkaran. Setelah yakin dengan posisinya, Ghina melepaskan anak panah tersebut.


"Gagal" teriak salah seorang pengawal yang bertindak sebagai juri.


"Yah" ujar Ghina dengan sedikit kesal.


"Sabar sayang." ujar Aris.

__ADS_1


Aris maju, dia mengambil posisi untuk melakukan pelepasan anak panah. Aris sudah menentukan targetnya. Dia kemudian menyiapkan dan memantapkan posisinya.


Sles, anak panah meluncur dengan kecepatan penuh menuju target Aris. Anak panah tertancap dengan sempurna pada sebuah apel yang terletak dipojokan. Suatu sisi target yang sulit untuk di capai.


"Sukses" teriak pengawal yang mencabut anak panah Aris tadi.


"Selamat sayang. Aku baru tau sekarang ternyata kamu oh ternyata ya sayang." ujar Ghina yang sudah tidak tau apa yang mau dikatakannya lagi. Dia telah salah memilih busur dan mengambil keputusan.


"Itu kebetulan sayang." jawab Aris sambil menatap Ghina.


"Mana ada kebetulan." jawab Ghina sambil mencolek pipi Aris.


"Bun, lanjut anak panah kedua." ujar Argha kepada Aris.


"Oke Gha." jawab Ghina.


Ghina mengambil posisinya kembali. Sekarang dia tertinggal oleh suaminya. Ghina mengangkay busurnya dengan pasti, dia berharap kali ini anak panahnya tidak meleset mengenai sasaran.


Saat sudah yakin dengan sudut yang diambilnya, Vina melepaskan anak panah tersebut. Bless, anak panah tepat mengenai tengah tengah dari buah nanas yang menjadi target Ghina.


"Tepat" ujar pengawal.


Aris kemudian maju, dia mengambil busur miliknya.


"Sayang" ujar Aris memberikan kode kepada Ghina.


"Aku akan memberikan pelayanan prima asal kamu bisa mengenai buah apel yang berada paling ujung." ujar Ghina sambil menunjuk buah apel yang diinginkannya.


"Ye mana ada kayak gitu. Ada pula tambahan aturan." ujar Aris menolak permintaan Ghina.


"Yelah kalau nggak mau nggak apa apa juga." ujar Ghina yang sebenarnya hanya ingin menguji Aris saja.


Aris mengangkat busurnya. Dia mengarahkan busurnya ke target yang akan dituju. Aris memantapkan sudut tembakannya.


Saat sudah pas. Bless, anak panah meluncur menuju target. Anak panah yang dilepaskan oleh Aris tepat menancap di buah apel yang dikehendaki oleh Ghina tadi.


Ghina menatap buah yang terkena anak panah itu. Ghina tersenyum bahagia.


"Yes. Aku mencintaimu sayang." ujar Ghina sambil mengecup bibir Aris.


"Bunda jangan nodai penglihatan Argha yang masih suci ini Bun." Argha protes berat karena ulah Bundanya yang main nyosor aja.


"Hahahahaha. Maafin Bunda sayangku." ujar Ghina menggoda Argha.


"Males" jawab Argha dengan ketus.


"Gha, jadi siapa pemenangnya?" tanya Bayu yang sudah tidak sabar pengen keluar dari markas.

__ADS_1


"Pemenangnya adalah Daddy." ujar Argha dengan semangat.


Aris menggendong anaknya.


"Daddy bahagia Argha. Daddy senang." ujar Aris.


"Yalah senang. Tapi Argha seminggu tidur di kamar Bunda." jawab Argha tersenyum miring ke arah Aris.


"Mana ada." jawab Aris.


"Daddy, Bunda akan sibuk dengan urusan pernikahan Papi Bram. Apa Daddy nggak kasian?" tanya Argha sambil menatap Ghina.


Ghina mengacungkan jempolnya kepada Argha.


"Hem. Nasib." ujar Aris dengan ekspresi memelas yang luar biasa.


"Hahahahahahaha" mereka semua tertawa mendengar perkataan dan melihat ekspresi Aris.


Ghina berjalan maju mendekati suaminya.


"Kita bulan madu pertama setelah Bram dan Sari menikah. Argha kita tinggal dengan Frenya dan Daniel." ujar Ghina membisikkan ke telinga suaminya.


"Boleh Gha?" tanya Aris yang sangat yakin Argha mendengar apa yang dikatakan oleh Ghina tadi.


"Boleh Daddy. Silahkan aja. Tapi jangan bawa adik pulang. Argha nggak mau." ujar Argha dengan penuh penekanan.


"Kalau Tuhan kasih?" tanya Ghina lagi.


"Bunda ada televisikan ya? Bisa nonton dan dengarkan ya?" ujar Argha menatap tajam kedua orang tuanya bergantian.


Aris menggode istrinya supaya diam. Dia tau Argha sebentar lagi akan meledak amarahnya karena keinginannya di tentang habis habisan.


"Oke oke. Bunda akan pasang yang ada di televisi. Pokoknya Argha harus kasih izin Bunda dan Daddy pergi berdua." ujar Ghina.


"Tenang aja. Argha kasih izin." jawab Argha.


Ghina dan Aris memeluk anak bontotnya itu. Argha yang melihat ke Bayu dan Mira memberikan senyum smirknya.


"Tu anak pasti ada ide jahil." ujar Bayu kepada Mira dengan pelan saat bisa menarik kesimpulan dari gaya tersenyum Argha.


"Udah pasti." jawab Mira lagi.


Sepasang suami istri itu hanya bisa geleng geleng kepala saja. Dua orang ketua geng mafia bisa ditipu oleh anak kecil.


"Sayang, aku nggak kebayang bagaimana dia besar nanti saat memegang kendali Soepomo dan GA Grub belum lagi Jaya Grub." ujar Bayu menatap Argha.


"Hahahaha. Satu hal yang jelas, dia akan bertindak melebihi kekejaman Ghina dan Aris." jawab Mira yang tau bagaimana sikap dan sifat Ghina.

__ADS_1


__ADS_2