Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Waktu untuk Argha @


__ADS_3

Aris dan Ghina pergi menjemput Argha ke sekolahnya. Sedangkan Jero dan Bimo pergi menukar pakaian mereka ke kamar mandi yang ada di sekolah Arga. Sedangkan Ivan asisten Argha sudah dari tadi menukar pakaiannya saat Argha masih belajar di jam terakhir pembelajaran.


Argha ternyata masih di dalam kelas, Bu Guru sedang menutup pembelajaran dan meminta ketua kelas untuk memimpin pembacaan doa penutup pembelajaran. Terlihat para orang tua dan juga suster sudah menunggu anak mereka di depan pintu kelas.


Argha melihat kedua orang tuanya sudah berada di depan kelas. Dia tersenyum bahagia.


"Daddy, Bunda" teriak Argha yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat dijemput oleh kedua orang tuanya.


"Apakah kamu udah siap boy untuk bermain seharian ini?" tanya Aris sambil merangkul Argha.


"Siap Daddy, sudah pasti siap." jawab Argha.


Mereka bertiga dan Ivan yang mengikuti dari belakang berjalan menuju parkiran mobil.


"Jero, kamu bawa mobil, Ivan dan Bimo jadi satu mobil.di belakang kita." kata Aris memberikan perintah kepada Jero.


"Siap Tuan." jawab Jero.


Mereka semua masuk ke dalam mobil. Jero mengemudikan mobil Aris sedangkan Ivan mengemudikan mobil Ghina. Mereka akan menuju mall sesuai dengan permintaan Argha.


"Daddy, mall nggak di tutupkan?" tanya Argha.


"Nggak sayang, mall tetap buka." jawab Aris yang sudah tau kalau Argha tidak mau diberlakukan keterlaluan.


Aris belajar dari pengalaman yang sudah pernah dialaminya. Saat itu Aris mengosongkan mall karena Argha ingin pergi main ke sana. Ujung ujungnya Argha marah besar dan langsung meminta pulang, dia tidak jadi main di mall. Makanya sekarang Aris tidak lagi mengosongkan mall, dia membiarkan saja orang di sana. Tetapi penjagaan memang di tambah oleh Aris.


Dua mobil mewah berwarna hitam dove itu bergerak cepat membelah jalanan ibu kota menuju GA Mall sesuai permintaan Argha. Mereka tidak jadi menuju mall milik Soepomo Grub. Argha tiba tiba mengubah tujuannya karena dia tau Daddy sudah menambah pengawal di mall tersebut.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, kedua mobil itu masuk ke parkiran GA Mall. Mereka berenam turun dari mobil masing masing, mereka masuk ke dalam mall dan menjadi pusat perhatian semua orang. Aris, Ghina dan Argha memang tidak memakai masker ataupun kacamata. Mereka tampil apa adanya dengan pakaian santai.


"Bukannya itu pemilik mall ini?" ujar salah satu pengunjung mall.


"Wow aku mau dong jadi istri kedua Tuan muda itu." ujar yang lain.


"Pengawalnya aja tampan apalagi Tuan mudanya." terdengar kalimat dari yang lainnya.


"Aku rela menua lama, asal bisa melihat Tuan Argha menjadi dewasa." ujar yang lainnya.


Aris, Ghina dan Argha sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh pengunjung mall itu. Tiba tiba saat mereka sedang menuju tempat bermain anak, seprang wanita hamil besar memberhentikan jalan mereka. Jero, Ivan dan Bimo sontak berdiri di depan Aris dan keluarganya.


"Maaf Nyonya bisa mundur?" tanya Jero.


"Nyonya Ghina boleh saya minta fhoto?" tanya wanita itu kepada Ghina.


Jero melihat ke arah Ghina. Ghina mengangguk tanda memperbolehkan wanita itu untuk berfhoto dengan mereka.


"Silahkan Nyonya." ujar Jero kepada wanita hamil itu.


"Terimakasih Nyonya." jawab wanita hamil.


Mereka kemudian berfhoto dengan wanita hamil itu. Jero menjadi fhotografer mendadak. Setelah selesai berfhoto mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju ruang bermain anak.

__ADS_1


"Daddy kita main basket." teriak Argha.


Ivan memberikan koin yang tadi sudah ditukarkannya di counter penukaran koin.


Aris dan Argha berdiri di depan permainan basket. Mereka siap bertanding.


"Argha berdua Bunda sana, biar Daddy sendirian." ujar Aris meminta Argha dan Ghina berdua untuk melawan dirinya.


"Woe Daddy serius?" tanya Argha.


"Serius." jawab Aris.


"Oke kalau ghitu. Nanti kalah dilarang nangis." ujar Argha.


"Hahahahahaha, mana ada Daddy kalah yang ada tu kamu sama bunda yang akan kalah." ujar Aris menjawab cemeehan Argha.


"Oke mari kita lihat. Om Jero jadi juri ya." ujar Argha.


Jero mengangguk.


"Silahkan Tuan Muda dan Tuan Besar suit siapa yang menang silahkan memilih apakah mau pertama atau terakhir." ujar Jero.


Aris dan Argha bersuit ria. Ternyata yang menang adalah Aris.


"Tuan besar silahkan memilih." ujar Jero.


"Pertama." jawab Aris dengan mantap.


"Daddy jangan curang ya." ujar Argha.


"Sip. Lagian pakai waktu gimana mau curang." jawab Aris.


Aris mulai memasukkan bola dengan brutal. Dia berkejar kejaran dengan waktu. Argha dan Bunda bersorak memberikan semangat kepada Aris.


"Yah cuma 62" ujar Aris dengan wajah memelas.


"Bagus itu Daddy" kata Argha memberikan semangat kepada Aris.


"Giliran Tuan Muda." kata Jero mempersilahkan Argha untuk melakukan pelemparan bola.


Argha dan Ghina maju ke depan box basket. Mereka mengambil bola masing masing. Secara bergantian Aris dan Gina melakukan lemparan lemparan.


"Yeah kita menang Bun." ujar Argha saat melihat lemparan mereka berdua sebanyak 68 point.


"Hahahahahahahaha. Daddy maafkan istri dan anak mu ini yang durhaka kepada dirimu." ujar Argha dengan sok bijaknya.


"Lanjut permainan kedua. Pimpong." ujar Jero.


Bimo dan Ivan mengambil kartu yang dikeluarkan oleh mesin guna ditukarkan nanti kebagian penukaran.


Permainan kedua di mulai sekarang giliran Aris akan melawan Ghina. Mereka akan main pimpong.

__ADS_1


Pada permainan kedua Argha dan Ghina kalah telak melawan Aris. Tak satupun Ghina bisa mencetak skor.


"Yah kalah." ujar Aris kepada Argha dan Ghina.


"Masih satu satu baru Daddy, Daddy jangan bangga dulu." kata Argha yang tidak mau diejek Daddynya.


"Kita lanjut atau istirahat dulu Tuan Muda?" tanya Jero kepada Argha.


"Lanjut." jawab Argha dengan pasti.


"Baiklah. Permainan ketiga adalah dance. Silahkan ke lantai dance masing masing." ujar Jero kepada Aris dan Argha.


Mereka berdua naik ke lantai dance, para pengunjung melihat lomba antara Ayah dan Anak yang sama sama tampan itu. Ghina membiarkan saja orang orang melihat suami dan anaknya.


"Mulai" ujar Jero.


Suara musik keluar dari dua alat dance yang digunakan Aris dan Argha. Mereka sama sekali tidak bergoyang seperti orang lain main. Tapi gerakan kaki mereka sangat lincah menginjak lampu yang menyala.


"Wow mereka keren." ujar pengunjung.


"Aku mau jadi lantai dansanya." teriak yang lain.


"Aku jadi pegangannya aja." disambut oleh pengunjung lainnya.


Ghina, Ivan, dan Bimo yang mendengar hanya bisa senyam senyum saja. Mereka sudah biasa mendengar semua itu dari orang orang yang melihat Aris dan Argha.


Satu permainan selesai mereka lakukan. Aris keluar sebagai pemenangnya.


"Om Jero satu kali lagi." ujar Argha yang ternyata sangat menikmati permainan mereka kali ini. Sampai sampai dia minta nambah.


"Argha sama Bunda ya. Daddy capek." ujar Aris meminta anaknya untuk melawan Ghina saja.


"Nggak. Maunya Daddy." jawab Argha.


Aris akhirnya kembali bermain. Dia tidak mau mengecewakan Argha. Tetapi sebelum mulai, Aris menenguk air mineral dulu. Argha tersenyum melihat Daddynya yang mau melanjutkan permainan lagi.


"Yey kalah lagi." ujar Argha.


"Sabar. Udah 3 lawan 1 ya Gha." ujar Aris mengingatkan skornya melawan Argha.


"No Daddy No. 2 lawan 1. Permainan yang ini bonus Daddy." ujar Argha menolak perolehan skor antara dirinya dan Aris.


"Hem bolehlah." ujar Aris kembali mengalah.


Argha yang mendengar Daddynya mengalah mengangkat jempolnya ke arah Ghina. Ghina hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan anaknya itu.


"Daddy, kita makan dulu ya baru mulai lagi. Argha lapar. Masak anaknya nggak di kasi makan. Hanya di suruh suruh aja." ujar Argha protes kepada Aris.


"Yey mulai lebay." ujar Aris menepuk pundak Argha.


"Oke kita makan dulu. Nanti kita lanjut dengan permainan yang lainnya." kata Aris dengan semangat.

__ADS_1


__ADS_2