
Sudah seminggu lamanya pakaian pakaian untuk Blip yang dibeli Mami dan Nana belum sempat disusun Gina ke dalam almari. Gina dan Aris masih disibukkan oleh urusan kantor yang lumayan banyak. Seperti hari ini, Aris baru pulang pukul sembilan malam. Gina yang dari tadi menunggu Aris di sofa sampai tertidur karena kelelahan menunggu sambil menonton televisi.
Aris membuka pintu kamar memakai sidik jarinya. Aris sudah mencoba memanggil Gina memakai intercom kamar, tetapi pintu tetap saja belum dibukakan oleh Gina. Saat pintu terbuka ternyata Gina sudah tertidur di atas sofa dengan buku menutupi mukanya. Aris mengangkat buku itu, dia melihat nafas Gina yang teratur.
"Sayang sayang sepertinya kamu kelelahan menunggu aku pulang." kata Aris sambil mengangkat Gina untuk pindah ke kasur.
Gina yang merasa diangkat oleh seseorang menggantungkan tangannya ke leher Aris. Dia juga mendekatkan hidungnya ke baju Aris, Gina menghirup dalam dalam bau yang seharian ini selalu diingatnya dan dirinduinya.
Aris meletakan Gina ke atas kasur, saat Aris akan berdiri, Gina menarik Aris sehingga tepat berada di atas bandannya, untung saja Aris menahan badannya dengan tangan agar tidak menimpa perut Gina yang sudah besar itu.
Gina memajukan bibirnya ke arah bibir Aris. Dia sangat ingin mencium bibir Aris. Aris yang tau maksud dan tujuan Gina langsung menyambut keinginan Gina. Mereka berlomba memberikan yang terbaik kepada pasangan masing masing.
Tangan Gina perlahan membuka pakaian yang dipakai Aris, Aris juga melakukan hal yang sama. Mereka sama sama sudah kehilangan kendali.
"Sayang, aku pengen." kata Gina.
"Sama sayang." jawab Aris.
Aris kemudian meraba dua benda kenyal itu, dia dan Gina sungguh menikmatinya. Aris semakin meremas dua benda itu dengan sangat lembut, dia takut menyakiti Gina.
"Sayang jangan jadi bayi ya. Nanti kamu duluan yang coba dari pada Blip." ujar Gina yang dirasakan dua benda itu sudah mulai ada airnya.
"Oke sayang. Aku masukin lagi ya. Udah nggak tahan." kata Aris yang memang sudah tidak tahan lagi.
"Masukin sayang. Tapi aku nggak bisa nolong, perut aku udah sangat besar dan berat." ucap Gina.
Aris memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu. Setelah itu Aris bergerak dengan ritmenya. Semenjak usia kandungan Gina yang sudah trimester akhir, Aris sangat sering pergi menjenguk Blip ke dalam. Mereka bisa melakukannya tiga kali dalam seminggu. Malahan terkadang sampai lebih.
"Sayang dikit lagi sayang." ucap Gina.
Aris menambah kecepatannya, Gina mendendangkan nyanyian yang membuat Aris semakin semangat.
"Sampai sayang" kata Aris.
Aris dan Gina akhirnya sampai ke puncak permainan mereka. Mereka sama sama lelah. Apalagi Aris yang baru siap meeting penting di kantor, sampai rumah langsung dapat serangan yang luar biasa dari istrinya. Mau tidak mau Aris yang juga mau akhirnya tidak melewatkan kesempatan itu.
"Sayang mandi yuk." ajak Aris.
__ADS_1
"Pakai air panas ya." kata Gina.
Aris dan Gina kemudian mandi di bawah shower dengan air panas. Aris yang berencana ingin berendam membatalkan niatnya. Aris tidak mungkin membawa Gina berendam malam malam. Mereka mandi dengan sangat cepat. Setelah itu Aris dan Gina memakai pakaian mereka yang serasi dan sewarna.
" Sayang aku pengen makan soto padang. Minta kak Bram untuk belikan sayang." kata Gina kepada Aris.
"Kamu yang telpon ya. Kalau aku mana mau dia aku suruh malam malam gini." jawab Aris memberikan ide kepada Gina.
"Sip" jawab Gina.
Gina meraih ponselnya yang berada di nakas. Dia langsung menghubungi Bram.
[Hallo kak Bram?] tanya Gina.
[ Iya Gin? Ada apa?] tanya Bram.
[Kak tolong belikan soto yang di dekat toko buku G kak. Aku pengen itu. Uda Aria ku suruh dia udah tidur. Nggak bisa dibangunin.] kata Gina dengan suara yang dibikin serak sepertu ingin menangis.
[Ya udah biar kakak yang beli. Lagian taruhan masih belum habis.] jawab Bram.
[Seriusan kak?"] tanya Gina.
[Makasi kakak] jawab Gina.
Gina meletakan kembali ponselnya ke atas nakas untuk dicas. Aris melihat Gina.
"Gimana?" tanya Aris.
"Berhasil." jawab Gina sambil tersenyum.
"Sana tidur dulu, nanti kalau sotonya datang aku kasih tau kamu." perintah Aris kepada Gina untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena acara eseh eseh yang mereka lakukan tadi.
Gina kemudian memeluk batal gulingnya. Dia mengambil posisi yang nyaman untuk bayi di dalam kandungannya. Aris juga melanjutkan membaca beberapa dokumen yang belum sempat dibacanya di kantor. Bahan untuk presentasi besok pagi.
Setelah lebih kurang satu jam. Bram sampai dengan membawa tiga bungkus soto dan tiga mangkok untut tempat makan soto. Bram memanggil Aris melalui intercom. Aris membuka pintu kamar. Dia melihat Bram yang kerepotan membawa semuanya sendirian. Aris mengambil mangkuk untuk soto.
Aris dan Bram meletakan semuanya di atas meja yang ada di kamar. Dia masuk ke dalam kamar dan membangunkan Gina yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Sayang bangun sayang, sotonya udah datang sayang." kata Aris membangunkan Gina.
"Sotonya udah datang sayang?" tanya Gina.
"Iya." jawab Aris.
Gina kemudian bangun dan merapikan pakaian tidurnya yang tidak seksi itu. Dia langsung berjalan keluar kamar dan melihat Bram yang sudah menuangkan soto ke dalam masing masing mangkok.
"Wow wanginya." kata Gina sambil mengambil satu mangkok soto dan memberikan bumbu pendukung lainnya.
Mereka bertiga makan sambil membicarakan beberapa hal penting.
"Gin, menurut loe kalau kakak ngelamar Sari bagaimana?" tanya Bram kepada Gina.
"Setuju kapan kak? Aku harap setelah aku melahirkan ya. Jangan sekarang." kata Gina sambil mengelus perutnya.
"Tenang aja tidak sekarang. Tapi kalian berdua setujukan ya?" tanya Bram kepada Aris dan Gina.
Aris dan Gina mengangguk setuju dengan ide Bram. Mereka sangat senang akhirnya Bram akan melepas masa lajangnya.
"Tapi Bram, sesuai kesepakatan dengan Papi, kalau kamu sudah menikah maka akan pindah ke negara F. Benerkan?" tanya Aris.
"Yup. Maka gue akan pindah. Itu tidaklah lama Ris. Juga tidak jauh. Loe bisa kapanpun ke sana." jawab Bram.
"Hm" jawab Aris.
"Hay, apa kamu bermaksud menyuruh kak Bram menjadi bujang lapuak karena kamu takut sendirian sayang?" tanya Gina.
"Nggak sayang. Ngapain aku takut." jawab Aris.
"Dia takut nggak ada temannya itu Gin. Makanya nada nya kayak gitu" balas Bram.
"Yayayayaya. Anggap aja gue takut dan memang fue takut karena loe akan berada di negara berbeda dengan gue." jawab Aris.
"Sayang sayang. Kak Bram bukan perempuan. Ngapain harus ditakutin kalau dia tinggal di luar. Kamu ada ada aja sayang." balas Gina yang tidak habis pikir dengan tingkah absudr Aris.
"Oke aku kalah. Loe boleh nikah setelah anak gue umur dua tahun. Nggak ada penolakan. Kalau mau tunangan silahkan." jawab Aris.
__ADS_1
"Asiap bos. Aku memang biat tunangan aja dulu. Nikahnya nanti" jawab Bram yang akhirnya mendapatkan restu dari Aris. Restu yang akan sangat sulit di dapatkannya. Tetapi berkat bantuan Gina, akhirnya Bram dengan mudha mendapatkan restu Aris
Mereka bertiga kemudian melanjutkan obrolan tentang pembangunan taman kota yang sedang dibangun itu. Pembangunan yang baru selesai lima puluh persen. Taman yang akan dijadikan sebagai hadiah kelahiran Blip nantinya.