
"Arga, hari ini tidak ada jatah bolos lagi." ujar Gina kepada Arga saat mereka sarapan.
"Bun, hari ini kalau Arga sekolah nanti tensi Arga diukur oleh teman sekelas Bun. Bunda mau dikatakan kalau anak Bunda ini sok rajin?" ujar Arga balik bertanya kepada Gina.
"Maksud kamu apaan?" Gina bener bener gagal paham dengan Arga.
"Bunda, hari ini sekolah Arga libur. Jadi kenapa Arga harus bolos." jawab Arga sambil mengunyah potongan apel.
Semua orang tersenyum simpul.mendengar ribut pagi antara Gina dan Arga. Gina yang sudah malu mengalihkan perhatiannya kepada Frenya dan Rani.
"Nya, gimana dengan dekorasi untuk pernikahan?"
"Beres Bun. Semua sudah di atur. Tinggal nunggu hari H nya aja lagi. Tanya Daniel Bun, cincin udah atau belum." ujar Frenya menatap Daniel yang beberapa hari ini sangat sibuk.
Gina menatap tajam Daniel.
"Udah Bun. Tenang aja. Semua surat surat juga sudah diantarkan ke catatan sipil. Jadi tinggal tunggu aja lagi Bun." jawab Daniel.
"Oke. Berarti tinggal nunggu seminggu lagi. Akhirnya" ujar Gina dengan memelankan kata akhirnya.
Arga berbisik di telinga Frenya. Frenya senyum senyum sendiri.
"Akhirnya juga" ujar Frenya.
Gina memberikan Arga tatapan tajam nan dingin. Arga membalas tatapan Gina tak kalah dinginnya dengan yang diberikan oleh Gina kepada Arga.
"Bun, kami jalan dulu." ujar Daniel sambil menggandeng tangan Rani. Daniel sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
"Bun, aku juga duluan jalan. Mau singgah di perusahaan TJ sebelum ke GA." ujar Frenya yang juga sudah bisa menebak kejadian berikutnya.
Gina dan Arga masih saling menatap dengan tajam. Akhirnya
"Kak Stefen ayok kita jalan. Arga malas di rumah. Ada emak emak yang sedang cemburu tak terucapkan" ujar Arga kepada Stefen.
Stefen mengambil kunci mobil Arga. Mereka berdua akan ke hotel lagi hari ini. Arga akan bertemu lagi dengan Daddy nya.
Aris dari pagi sudah menunggu Arga di kamar. Dia sengaja memesan makanan favorit Arga. Bram yang melihat hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan Aris.
Tok tok tok. Bunyi pintu kamar di ketuk seseorang dari luar. Aris langsung saja berjalan cepat ke pintu untuk membuka pintu kamar.
"Hay tampan Daddy. Silahkan masuk." ujar Aris kepada pria tampan di depannya ini.
"Makasi Daddy keren sedunia." jawab Arga sambil tersenyum penuh makna kepada Aris.
Aris membawa Arga ke meja makan. Arga yang sebenarnya sudah kenyang karena baru siap sarapan di mansion, tapi saat melihat masakan padang yang tersaji di atas meja membuat air liur Arga menetes.
Arga langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, dendeng kering, renfang daging dan tak lupa kerupuk kulit. Stefen yang melihat hanya bisa geleng geleng kepala.
"Tuan muda bukannya tadi udah sarapan sepiring nasi goreng ayam?" ujar Stefen sambil menahan senyumnya.
"Daddy, aku batal ngerestui Stefen dengan Frenya. Daddy tolong carikan pengusaha muda yang tampan ya untuk Frenya. Dari pada pilot seperti ini." ujar Arga menatap sinis dan mengejek Arga.
__ADS_1
"Hahahahaha, kamu nggak tau aja Tuan Muda. Frenya kan udah menerima cinta pilot ini." ujar Stefen.
Arga menatap Stefen menuntut penjelasan.
"Serius malam tadi. Aku ajak Frenya ke sebuah restoran romantis. Terus aku katakan deh satu kalimat pamungkas itu. Akhirnya Frenya menerima diriku dan juga mengatakan satu kalimat balasan yang romantis juga." ujar Stefen memanasi Arga.
"Oh sukurlah, berarti Frenya masih pakai mata bathin untuk menerima dirimu." ujar Arga sambil menepuk nepuk pundak Stefen.
Stefen hanya bisa melongo saja mendengar jawaban Arga. Stefen mengharapkan Arga marah tapi ternyata tidak, Arga bersikap santai saja menghadapi ocehan Stefen.
Arga kembali melanjutkan sarapan untuk kedua kalinya. Dia ditemani oleh ketiga pria tampan yang sudah memiliki masing masing satu wanita cantik nan berpengaruh di dunia bisnis.
Egh, bunyi kekenyangan dari Arga.
"Wah luar biasa kenyangnya." ujar Arga selepas bersendawa akibat kekenyangan
"Gimana ndak kenyang, dendeng semua kamu yang ngabisin Ga." ujar Bram sambil geleng geleng kepala.
"Siapa suruh dendengnya enak Pi. Makanya jadinya habis sama aku kan ya." jawab Arga membela dirinya.
Selesai sarapan, Aris, Arga, Bram dan Stefen duduk di balkon kamar. Mereka menatap ke pegunungan yang diliputi oleh salju.
"Ga gimana kabar Bunda?" tanya Aris kepada Arga.
"Lagi malez ngomingin emak emak yang sedang cemburu itu Dad. Bahas yang lain aja." jawab Arga sambil tersenyum simpul.
Aris melihat kepada Stefen.
Stefen mulai menceritakan semuanya kepada Aris dan Bram. Setelah Stefen selesai bercerita, Aris tersenyum bahagia
"Nah, Daddy jangan jadi Dady Daddy yang cemburu pula. Arga nggak mau ke sini lagi nanti." ancam Arga kepada Aris.
"Daddy nggak cemburu, Daddy sangat bahagia ternyata Bunda masih kangen dengan Daddy. Bunda masih cinta Daddy."
"Daddy Daddy kami kabur dari rumah bukan gara gara Daddy." lanjut Arga.
"Terus, gara gara siapa?" tanya Aris yang penasaran.
Arga diam seribu bahasa. Dia tidak ingin mengatakannya sekarang. Arga ingin Daddynya memikitkan orang orang yang telah membuat dia dan Bundanya terusir dari rumah utama.
"Daddy besok sambung ya. Arga mau ke mall dulu. Arga mau beli hadiah untuk Daniel dan Rani." ujar Arga mencari alasan agar terlepas dari tuntunan Aris.
Aris yang paham mempersilahkan Arga untuk pergi. Dia tidak ingin menuntut Arga dengan sangat keras. Aris akan cari tau ada apa sebenarnya.
Arga dan Stefen keluar dari kamar Aris. Mereka berdua kembali ke mansion. Arga sebenarnya pengen ketemu Frenya. Tetapi ditahannya karena pasti ada Bundanya sekarang di sana.
Arga meraih ponselnya, dia menghubungi Frenya.
"Nya, dimana?"
"Di kantor. Ada apa?"
__ADS_1
"Arga ke sana ya. Apa ada Bunda?"
"Nggak ada, Bunda dia sedang ada meeting di luar. Tadi kata Bunda akan langsung pulang." jawab Frenya.
"Oke Nya. Arga ke sana sekarang juga." ujar Arga dengan penuh semangat.
"Kak, ke kantor Bunda." ujar Arga kepada Stefen.
Stefen tiba tiba secara mendadak berhenti di depan sebuah restoran Jepang. Dia membelikan Frenya beberapa masakan Jepang yang disukai Frenya.
"Cie yang sayang sama pacar. Lebay." ujar Arga sambil mencemooh Stefen.
Stefen malas beradu cemeeh dengan Arga. Stefen tau dia akan kalah, jadi Stefen memilih untuk diam. Mereka berdua menuju perusahaan GA Grub.
Setelah beberapa menit berkendara Arga dan Stefen sampai di perusahaan, mereka berdua berjalan masuk ke dalam perusahaan. Arga dan Stefen memakai luft khusus petinggi perusahaan, mereka akan langsung menuju ruangan Frenya.
"Nya" teriak Arga yang baru saja sampai.
"Hay masuk ruangan orang lain itu baca salam. Bukan malah tereak tereak kayak di hutan. Sana ulang." perintah Frenya kepada Arga.
Arga kembali keluar dari ruangan Frenya. Dia mengetuk pintu dengan wajah kesal.
"Masuk" ujar Frenya dari dalam.
"Assalamualaikum Nona Frenya Aris Soepomo. Bolehkah Arga Aris Wijaya Soepomo masuk menemui Nona Frenya. Tadi Arga sudah buat janji." kata Arga dengan mulut yang sengaja di monyong monyongkan seperti para penjilat yang mengambil hati bos besarnya.
"Hahahahahahahahaha" Stefen sudah tidak bisa menahan tawanya langsung meledak keluar.
"Kamu belajar seperti itu dari mana?" tanya Stefen.
"Dari para penjilat yang ingin ngambil hati Bunda." jawab Arga dengan pasti.
"Jadi kamu mau ambil hati Frenya? Mana bisa, dia udah punya Stefen Edwardo." ujar Stefen sambil mengangkat tangan Frenya yang sudah ada cincin dari Stefen tersemat di jari Frenya.
"Baru juga cincin. Belum ijab qabul. Minimal lamaran kek." ujar Arga kembali ingin membuli Stefen.
"Arga tadi katanya ada perlu dengan Frenya. Ada perlu apa?" tanya Frenya yang ingin cepat menyelesaikan kemelut antara Arga dengan Stfen yang bisa jadi tidak ada ujungnya.
"Nya, menurut uni apakah Arga harus menceritakan semua kejadian ke Daddy, atau Arga kasih aja rekaman cctv ke Daddy? Arga bingung uni." ujar Arga sambil menupang dagunya dengan dua tangan.
"Sayang, Bunda dengan Daddy dapat anak sepintar ini dari mana ya?? Aku besok mau satu yang kayak gini." ujar Stefen.
"Akhirnya Stefen mengakui juga kalau Arga ini pintar. Makasi Stefen." ujar Arga sambil tersenyum mengejek.
"Jadi gimana Nya. Mana yang harus Arga lakukan?"
"Menurut uni, kamu harus bercerita dengan Daddy. Setelah cerita baru berikan rekaman cctv. Tapi apa kamu punya rekamannya?" tanya Frenya menatap menyelidik ke arah Arga.
Arga tersenyum penuh makna. Frenya sudah bisa menebak apa yang terjadi.
"Hahahahahaha. Oke oke. Nya paham semuanya." ujar Frenya.
__ADS_1
Mereka kemudian melanjutkan obrolan tentang berbagai hal. Termasuk dengan kronologi bisa jadian antara Frenya dan Stefen. Ternyata Frenya sudah lama naksir dengan Stefen. Begitu juga sebaliknya. Cuma mereka berdua sama sama gengsi untuk mengungkap rasa yang ada. Sehingga saat Arga membantu semua jadi selesai. Akhirnya Stefen berani mengungkapkan perasaannya kepada Frenya. Begitu juga dengan Frenya yang menjawab rasa yang ada kepada Stefen.