
Mobil yang dikendarai oleh Bram terjebak macet. Mereka terpaksa berhenti di dekat jalanan yang sepi. Tiba tiba dari arah belakang ada sebuah mobil yang dengan sengaja menabrak ekor mobil Bram. Gina dan Sari yang berada di belakang harus terdorong ke depan.
"Sayang kamu tidak apa apa?" tanya Aris kepada Gina.
"Nggak apa apa sayang." jawab Gina.
"Gue akan turun Ris." kata Bram yang membuka sabuk pengamannya.
Sebelum Bram sempat turun. Sebuah mobil dari arah samping yang melaju dengan kencang terlihat berusaha untuk menabrakkan mobilnya ke mobil Bram.
Sari yang melihat gelagat mobil tersebut tanpa berpikir panjang mengeluarkan pistol dari balik baju kerjanya. Dia menembak ban mobil tersebut. Mobil yang melaju dengan kencang itu tak terkendali arahnya. Sehingga mobil tersebut berputar tiga ratus enam puluh darjat. Sari kembali menembak ban mobil itu. Keempat ban mobil itu langsung kempes seketika. Mobil yang berusaha menabrak mobil Bram berakhir dengan menabrak pohon yang berada di tepi jalan.
"Sepertinya kita sedang diikuti oleh orang suruhan perusaahan Zain sayang." kata Gina.
"Kenapa kamu berkesimpulan seperti itu." tanya Aris.
"Ya siapa lagi musuh perusahaan sekarang kalau bukan perusahaan Zain." jawab Gina.
"Bisa jadi sayang" jawab Aris.
"Yang kita harus kabur dari sini. Aku yakin kalau kemacetan di depan adalah akal akalan saja. Mereka sedang menargetkan kita." kata Sari.
Bram memutar kembali mobilnya.
Dia melaju dengan kencang. Ternyata yang dikatakan oleh Sari memang benar. Ntah datangnya dari mana ada dua motor yang mengejar mereka memakai baju serba hitam.
Gina tanpa sepengetahuan oleh Aris memencet tombol gawat darurat di jam tangannya. Dia tidak mungkin menelpon anak buahnya di depan Aris. Makanya Gina memakai tombol itu. Semua anak buah termasuk Mira akan mendapatkan notif dari Gina lengkap dengan alamatnya.
"Sar, loe harus bisa bertahan sampai bantuan kita sampai. Gue udah menekan tombol darurat di jam tangan Gue." kata Gina kepada Sari.
"Serahkan ke gue. Makhluk makhluk nggak berguna." kata Sari.
Gina kemudian mengeluarkan dua senjata dari dalam tas kerjanya. Aris langsung kaget melihat Gina juga punya senjata seperti milik Sari.
"Sayang kamu kenapa juga punya?" tanya Aris yang heran.
"Sayang tidak tepat bertanya sekarang. Kamu bisa menembak bukan?" tanya Gina.
__ADS_1
"Bisa" jawab Aris dengan mantap.
"Ini bantu Sari. Kamu harus bisa melumpuhkan satu motor. Aku akan melumpuhkan juga. Aku hutang pemberitahuan sama kamu. Terpenting sekarang kita harus menyelamatkan Blip." ujar Gina.
Aris mengambil pistol yang diberikan Gina. Untung saja semua mobil milik keluarga Soepomo didesain dengan anti peluru.
Gina mulai menembak salah satu pembawa sepeda motor. Hanya dengan satu kali tembakan pengendara motor langsung tewas di tempat karena Gina membidik jantungnya.
"Keren Gin." kata Bram.
"Makasi kak." jawab Gina.
Sari juga berhasil menembak salah satu pengendara motor lainnya. Suatu hal yang aneh semakin Gina dan Sari berhasil melumpuhkan pengendara motor. Maka akan datang lagi dua kali lipatnya.
"Sar peluru loe masih aman?" tanya Gina.
"Masih sisa empat Gin. Loe gimana?"
"Masih lima. Kita harus bertahan." perintag Gina kepada Sari.
"Kak Bram usahakan bawa mobil kita ke tempat yang ramai. Mereka tidak akan bisa melakukan penembakan disitu. Setelah itu bawa mobil menuju daerah E. Kita akan bermain di sana." Gina memberikan instruksi kepada Bram.
Saat mobil Bram masuk ke daerah E. Ntah datangnya dari mana banyak mobil hitam hitam datang dari arah berlawanan dengan menembaki pengendara motor dan mobil yang mengejar Bram.
Semua mobil dan motor yang mengejar mobil Bram langsung berhenti. Mereka tiak siap menerima tembakan. Banyak dari mereka yang terbunuh dengan sia sia.
Para anak buah Gina yang mengendarai monil hitam turun dari atas mobil mereka. Mereka menaikan ke atas mobil truk mayat mayat dan menaiki ke mobil tahanan para musuh yang masih hidup. Mereka akan membawa tahanan ke markas dan akan di interograsi oleh Mira.
Aris terkejut melihat semua itu. Aris tidak tau siapa yang telah menolong mereka. Sepengetahuan Aris dia tidak ada meminta tolong kepada gank black jack.
"Bram, loe tau siapa yang telah menolong kita?" tanya Aris kepada Bram yang sudah kembali putar balik untuk kembali ke ibu kota.
Ada dua mobil hitam di depan dan dua mobil hitam di belakang. Mereka mendampingi mobil Bram sampai ke pusat kota.
Semua jejak keributan sudah dibersihkan oleh anggota Gina. Mereka tidak sedikitpun menyisakan jejak jejak habis penembakan. Setiap darah yang tercecer sudah dibersihkan. Semua motor dan mobil juga sudah dipindahkan.
[ Bawa semua tahanan ke markas ] pesan Gina kepada Alex yang menjadi pimpinan penyerbuan tadi.
__ADS_1
[ Siap Nona. Kapan akan diinterograsi Nona? ] balas Alex kepada Gina
[ Besok siang, Gue atau Mira dan bisa jadi Sari yang akan melakukan interograsi. ] balas Gina.
[ Siap Nona ] balas Alex.
Mobil kemudian masuk ke halaman kafe milik Bayu. Bayu sudah menunggu mereka di depan kafe dari tadi. Bayu sudah ditelpon oleh Mira tentang kejadian yang menimpa Aris dan yang lain.
"Syukurlah kalian tidak apa apa." kata Bayu saat melihat mereka yang turun dalam keadaan baik baik saja.
"Syukur masih hidup ya Bay." jawab Bram.
"Serah loe. Mari ke belakang. Semua makanan yang enak enak udah gue siapin" jawab Bayu.
Mereka menuju saung yang ada di belakang kafe. Di atas meja pada saung itu sudah tersaji berbagai makanan lezat yang menggugah selera.
"Mira mana Bay?" tanya Aris.
"Ada perlu katanya. Makanya dia nggak jadi bisa ke sini " jawab Bayu.
Bram melirik Bayu. Bayu mengangguk kalau dia sudah mendapat semua cerita dari Mira.
"Ngeri juga ya Ris, musuh bisnis zaman sekarang." kata Bayu di sela sela acara makan malam mereka.
"Tulah. Kalau gue atau Bram yabg jadi sasaran okelah. Ini ada istri gue dan Sari." jawab Aris yang sangat khawatir tadinya.
"Tapi gue penasaran siapa yang telah nolong tadi. Gue nggak ada menghubungi Daniel." kata Aris berpikir tentang orang yang telah menolong mereka tadi.
"Gue rasa mereka yang pernah loe tolong. Jadi saatnya mereka nolong elo." jawab Bayu memberikan alibi yang masuk akal.
"Sayang, ceritakan yang tadi." kata Aris kepada Gina.
"Sayang, kamu tau kan keluarga aku juga ada musuhnya. Makanya ayah dari dulu selalu mempersenjatai aku. Semuanya adalah legal sayang." kata Gina dengan lancarnya.
Gina tidak mau Aris curiga kepada dirinya.
Akhirnya mereka selesai juga makan malam. Mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Sari terpaksa harus tidur di rumah utama, Bram tidak mau mengambil resiko terhadap Sari. Mereka semua bersepakat tidak akan menceritakan kejadian tadi kepada siapapun. Baik kepada keluarga Soepomo maupun keluarga Wijaya.
__ADS_1
Satu hal yang jelas penjagaan akan semakin diperketat selama urusan dengan perusahaan Zain belum selesai.