Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Wortel Diet


__ADS_3

Bunda masak apa?" tanya Argha sambil duduk di kursi mini bar sambil melihat Ghina yang sedang berkutat dengan masakannya.


"Masak iga bakar, ayam kecap sama goreng cumi crispy." jawab Ghina sambil tersenyum menatap anak bungsunya yang selalu ingin tau.


"Nggak ada capcay sama sambal blacan?"


"Argha mau makan yang dua itu?" tanya Ghina sambil menatap Argha yang terlihat sangat menginginkan masakan yang dikatakannya tadi.


"Iya Bunda." Argha berkata dengan mata yang berbinar binar.


"Oke. Tapi bantu Bunda buat." ujar Ghina sambil mengambil bahan bahan untuk membuat capcay dan sambal blacan.


"Argha ngapain?" ujar Argha yang sudah memakai apron dan juga memegang pisau.


"Buka bawang bisa?"


"Bisa. Tapi tunggu bentar." ujar Argha.


Argha berlari menuju ruang keluarga. Ghina melihat kelakuan absurd anak bontotnya itu.


"Ngapain tu anak ya?" tanya Ghina sambil menatap Argha yang berlari masuk ruang keluarga.


Tidak berapa lama Argha keluar dengan memakai kacamata hitam yang sudah bertengger di atas hidungnya. Ghina melongo melihat gaya anaknya itu.


"Mau kemana Pak? Tapi mau nolong Bunda?" tanya Ghina sambil menatap Argha dengan heran.


Argha mengambil pisau dapur yang tadi diletakkannya di meja. Dia mulai mengambil bawang dan membuka bawang tersebut.


"Hahahahahaha" Ghina tertawa ngakak melihat kelakuan Argha.


"Argha nggak mau nangis Bunda. Makanya Argha pakai ini." kata Argha sambil terus membuka bawang.


Aris yang baru pulang dari perusahaan, menatap gaya anaknya yang sedang membuka bawang sambil geleng grleng kepala.


"Masak atau lagi jadi model?" tanya Aris sambil berdiri di depan Argha.


"Kata Bunda, kalau nggak ikut masak maka nggak boleh makan." ujar Argha sambil memberikan pisau kepada Aris.


"Serius?" tanya Aris.


"Ya"


"Oke" ujar Aris sambil meraih pisau dan mulai menolong Argha membuka wortel.


Ghina yang batu datang dari arah belakang, tersenyum melihat keributan antara Aris dan Argha.

__ADS_1


"Daddy kok jadi kurus wortelnya?" Argha menatap protes ke arah Aris.


"Lah wortelnya yang salah, kenapa diet." jawab Aris tanpa ada rasa bersalah.


"Daddy daddy. Makanya jangan cuma bisa lobby atau nego doang."


"Argha Argha makanya jangan hanya bisa main doang." balas Aris.


"Argha nggak ada yang salah. Argha bersih kupas bawang. Daddy yang salah, wortel jadi kurus." ujar Argha protes disalahkan Aris.


"Yang salah bukan Daddy. Wortelnya yang salah. Ngapain diet." jawab Aris tidak mau kalah.


"Serah Daddy ajalah. Penting sekarang wortelnya Daddy potong potong."


"Udah selesai drama bawang wortelnya?" tanya Ghina sambil merangkul pundak Aris dan Argha.


"Jadi Bunda denger?" tanya Argha.


"Dengerlah. Ada wortel diet. Bunda baru tau ada wortel diet."


"Gha kalau wortel diet, dokternya siapa ya?" tanya Ghina sambil menatap mata Argha.


"Bener juga Bun."


Ibu dan anak itu terlihat berpikir memikirkan siapa gerangan dokter diet wortel yang dikatakan oleh Aris. Setelah diam sekitar dua menit, Argha dan Ghina sama sama menggeleng, mereka berdua sama sama tidak tau siapa dokter diet Wortel.


"Bunda, Argha nggak mau makan wortelnya. Kalau wortel diet tentu kurang gizinya."


"Hahahahahaha. Udahlah nggak usah bahas wortel diet lagi. Capek." kata Aris yang nyesel ngomong masalah wortel diet.


Ghina mengambil semua bahan masakan yang sudah disiapkan oleh Aris dan Argha. Ghina mengolah makanan tersebut.


Aris membuka lemari pendingin, dia mengeluarkan buah potong.


"Argha mau?" ujar Aris sambil meletakkan sepiring buah potong di atas meja mini bar.


Argha melihat buah potong yang dibawa Aris. Dia mengambil garpu dan mulai memakan buah potong sambil melihat Ghina yang sibuk memasak di depan mereka.


"Selesai." ujar Ghina dengan semangat.


Aris dan Argha membantu Ghina membawa hasil masakan Ghina ke meja makan. Mereka akan makan malam nanti setelah selesai maghrib.


"Yuk Gha mandi dengan Daddy."


"No Daddy, Argha udah dewasa jadi mandi sendiri. Daddy mandi sendiri aja sana, ngapain ajak ajak Argha."

__ADS_1


"Hahahahahaha. Atau Daddy mandi sama Bunda aja?" ujar Ghina kepada Aris dan menggoda Argha.


"Oh No." ujar Argha langsung menarik Aris menuju kamarnya di lantai dua rumah.


Malam harinya setelah selesai melaksanakan kewajiban secara berjamaah, semua anggota keluarga Soepomo menuju meja makan. Mereka akan makan malam bersama.


"Atuk jangan makan wortelnya ya." ujar Argha mencegah Papi yang mau mengambil wortel.


"Kenapa?" tanya Papi dengan heran.


"Wortelnya nggak ada gizi. Dia wortel siap diet." jawab Argha.


Jawaban Argha membuat Aris dan Daniel sedang minum menjadi tersedak.


"Maksudnya?" tanya Papi masih denhan kurang paham apa yang dimaksud oleh Argha.


"Atuk lemot" jawab Argha dengan nada kesal.


"Makanya jelasin biar nggak lemot." kata Papi.


"Jadi gini ya Atuk Papi tersayang. Tadi wortel tu besar besar, eeeeee karena seorang CEO yang buka mengakibatkan wortel menjadi kurus kering. Ditanya kenapa jawabannya karena wortelnya sedang diet." kata Argha menjelaskan kepada Atuk Papi.


Papi terlihat berpikir dan mencerna arti ucapan dari Argha. Setelah sepersekian menit berpukir Papi baru bisa mengambil kesimpulan.


"Jadi ini wortel diet. Oooo. Yayayaya. CEO disuruh ya jelas aja wortel.jadi langsing." jawab Papi.


"Udah bahas wortelnya lanjut makan malam aja lagi." kata Aris yang tidak ingin pembicaraan tentang wortel makin menjadi.


Mereka kemudian melanjutkan makan malam yang sempat tertunda hanya gara gara permasalahan wortel diet yang asal comot dikatakan oleh Aris. ternyata kata kata wortel diet menjadi senjata bagi Argha untuk mengejek Aris di tengah tengah keluarga besar mereka.


Selesai makan malam, semua anggota keluarga menuju ruang keluarga. Mereka akan mengobrol dan bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan hari ini.


"Frenya, ikut Bunda" kata Ghina meminta anak gadisnua mengikuti dia menuju dapur.


Ghina mengeluarkan puding tiramisu dari dalam lemaro pendingin. frenya memotong puding tersebut. Sedangkan Ghina membuatkan lemon tea untuk semua anggota keluarganya.


"Bunda, apa udah ada kabar dari Alex tentang siapa pelaku yang mencelakai Mami Sari?"


"Itulah Nya, sampe sekarang belum ketahuan juga siapa dalang dibalik semua ini."


"Kok tumben lama ya Bunda, biasanya bagi Alex dan Juan itu perkara mudah. Kenapa kali ini lama banget? Selama Mami Sari yang masih betah untuk tidur di rumah sakit." kata Frenya menyuarakan kecemasannya.


"Itulah Bunda juga nggak habis pikir. Kok bisa lama banget. Ntah dibagian mananyas yang salah Bunda juga nggak tau." jawab Ghina.


"Udah semuanya Nya? Apa piring kecil dan garpu kecil udah kamu ambil?" tanya Ghina melihat di atas baki tidak ada piring dan garpu kecil.

__ADS_1


"Lupa Bun." jawab Frenya yang langsung mengambil apa yang diminta Ghina.


Mereka berdua kemudian mebgantarkan puding dan lemon tea ke ruangan keluarga.


__ADS_2