Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 20


__ADS_3

Argha melihat heran ke arah Frenya. Selai kacang itu biasanya khusus untuk Argha saja. Tidak ada anggota keluarga yang lain yang menyukai selai kacang itu.


'Sepertinya memang bener apa yang dikatakan sama Nana. Uni sedang isi' ujar Argha dalam hatinya.


"Bik tolong buka pintu Bik" ujar Nana meminta bibik untuk membukakan pintu mansion karena bel rumah berbunyi.


Salah seorang palayan berjalan membukakan pintu mansion. Betapa kagetnya pelayanan saat membuka pintu mansion. Di depan pintu mansion berdiri sepasang suami istri yang sudah beberapa minggu ini tidak berada di mansion mewah tersebut


"Siapa yang datang Bik?" ujar Ghina saat menyadari kalau bibik yang tadi diminta tolong membukakan pintu untuk tamu sudah berdiri di depan ruang makan.


"Nana" panggil Daniel.


Ghina, Aries, Frenya, Juan dan Argha menatap ke arah sumber suara. Mereka semua melihat di sana sudah berdiri Daniel dan Rina.


"Uda?" teriak Frenya dan Argha bersamaan.


Kedua kakak beradik itu sontak berdiri dan berjalan memeluk Daniel. Mereka bertiga seperti orang yang sudah setahun tida bertemu, padahal mereka hanya tidak bertemu selama tiga minggu saja.


"Hay, kalian berdua, biarkan Uda dan Uni kalian duduk dulu. Mereka pasti belum sarapan itu" kata Ghina meminta kedua anaknya untuk melepaskan pelukan dari Daniel.


Frenya dan Argha melepaskan pelukan mereka dari Daniel. Daniel tersenyum kepada kedua adiknya itu.


"Sorry kali ini pulang tidak bawa oleh oleh" ujar Daniel yang memang selalu setiap kali pulang dari perjalanan bisnis akan membawa oleh oleh untuk Argha dan Frenya.


"Kali ini pulangnya mendadak, jadi tidak sempat pergi membeli oleh oleh" lanjut Daniel.


Daniel dan Rani kemudian duduk di kursi mereka. Selama mereka tidak ada, kursi itu tetap dibiarkan kosong. Frenya dan Juan tidak berpindah ke kursi milik Daniel dan Rani.


"Jadi, kapan kalian berdua memutuskan untuk pulang?" tanya Aries yang telah menyelesaikan sarapannya.


Aries mendadak langsung kenyang saat melihat semua anggota keluarganya telah berkumpul di mansion utama.

__ADS_1


"Kemaren pagi Dad. Saat Ini menelpon bertanya kapan aku akan pulang. Saat itu Rani langsung berkemas kemas, kami langsung terbang ke sini" jawab Daniel.


Rani sudah mengambilkan menu sarapan untuk Daniel.


"Terimakasih sayang" ujar Daniel sambil tersenyum ke arah istri cantiknya itu.


"Sama sama sayang" jawab Rani.


Rani sebenarnya cukup lelah setelah penerbangan jauh tersebut. Tetapi dia tidak bisa langsung beristirahat karena, Ghina akan marah kalau mereka tidak sarapan dulu. Bagi Ghina sarapan itu adalah suatu hal yang sangat penting dilakukan di pagi hari. Rani sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya Ghina kalau mereka menolak ikut sarapan.


"Jadi, hanya karena telpon Uni, uda memilih untuk pulang?" tanya Argha yang tidak menyangka kalau Frenya begitu menakutkan bagi Daniel.


Daniel mengangguk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Argha. Daniel tidak bisa menjawab karena mulutnya terisi penuh dengan makanan.


"Sebegitu emnakutkannya Uni dimata Uda" lanjut Argha.


Omongan Argha langsung mendapatkan respon dari Frenya. Frenya membesarkan matanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Argha tadi.


"Oh baiklah, sekarang kamu bosnya Uni" jawab Argha yang malas mencari ribut dengan Frenya.


Argha tidak mau mood Frenya berubah drastis karena berperang dengan dirinya. Kasihan Juan kalau mood Frenya berubah ubah. Bisa bisa Juan gantung diri karena harus menghadapi itu setiap saat.


"Argha, Frenya biarkan Daniel makan terlebih dahulu. Kalian berdua diam" Aries berkata dengan tegas. Nada suara yang akan langsung membuat Argha dan Frenya menjadi diam dan tidak berkutik lagi.


Daniel berusaha dengan cepat melahap habis sarapannya. Di satu sisi dia melakukan hal itu karena kasihan melihat Rani yang sudah terlalu letih, di sisi lain dia ingin langsung berbicara dengan Frenya kenapa dirinya harus segera pulang. Dua hal yang berbeda tetapi sama sama penting bagi Daniel.


"Hay Uda, makannya pelan pelan saja, ini hari libur. Tidak ada kerjaan yang menunggu uda di perusahaan" kata Ghina menegur Daniel yang terlihat makan dengan terburu buru.


"Sengaja Nana. Rani sudah terlalu mengantuk, Rani buruh istirahat, penerbangan lima belas jadi di tambah perbedaan zona waktu pasti membuat Rani capek Nana" kata Daniel sambil menyuap suapan terakhir nasi goreng ke dalam mulutnya.


Ghina yang mendengar alasan dari Daniel terpaksa diam saja. Ghina tidak mungkin melarang Daniel untuk mengutamaan Rani dibanding yang lainnya. Apalagi dengan keadaan seperti sekarang, dimana Rani sudah melakukan penerbangan lama dan juga dalam kondisi jat lage.

__ADS_1


"Ayok sayang, kamu butuh istirahat" ujar Daniel yang telah selesai makan.


Rani mengangguk, dia memang sangat capek, apalagi sekarang Rani membutuhkan istirahat yang lama untuk dirinya dan juga anak yang ada di dalam kandungannya itu. Program kehamilan yang kali ini harus berhasil.


"Daddy, Nana, Aku istirahat dulu ya" ujar Rani memohon izin kepada Ghina dan Aries serta yang lainnya.


"Sip. Kamu istirahat dan tidur yang nyenyak ya" Ghina menjawab izin yang diajukan oleh Rani.


Daniel menggandeng tangan istrinya menuju kamar mereka yang berada di lantai tiga mansion mewah tersebut.


"Sayang, kamu siap?" tanya Juan kepada Frenya.


"Siap sayang" jawab Frenya yang sudah tahu mereka akan melakukan apa.


Aries, Ghina dan Argha saling berpandang pandangan. Mereka bertiga berusaha menebak apa yang akan dilakukan oleh Frenya dan Juan.


"Kalian berdua mau ngapain?" tanya Argha yang sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Frenya dan Juan.


"Op bontot nggak boleh ikut" ujar Frenya dan memainkan jari telunjuknya seperti kipas pembersih kaca mobil.


"Awas aja kalau minta bantuan nanti. Aku nggak bakal bantuin" balas Argha yang nggak mau kalah.


"Sayang gimana kalau kita masaknya di dapur luar aja. Dalam panas sayang" kata Juan yang lebih memilih membuat cake di dapur luar. Tujuan utama Juan adalah supaya cara memasaknya tidak dilihat oleh para pelayan yang ada di mansion utama itu.


"Setuju sayang. Dalam panas, aku rasa aku juga tidak akan sanggup kalau harus melakukan semuanya di dalam"


Frenya setuju dengan usulan yang diajukan oleh Juan kepada dirinya. Sebenarnya di dalam tidak panas karena mansion itu dilengkapi dengan pendingin suhu ruangan dan sekaligus penghangat suhu ruangan.


"Hay, kalian berdua ada ada aja. Mana ada mansion ini panas, sedingin dan sesejuk ini kalian katakan panas. Aneh" ujar Argha yang heran mendengar apa yang dikatakan oleh Juan dan Frenya tentang suhu mansion yang mereka kanakan panas tadi.


"Bener Gha. sepertinya uda dan Uni sedang nggak dalam mode aman"

__ADS_1


Kali ini Aries setuju dengan yang dikatakan oleh Argha. Dirinya juga merasakan keanehan saat Frenya dan Uang mengatakan kalau mansion dalam suhu panas


__ADS_2