
Semua orang terlihat sangat sibuk di rumah utama Wijaya dan di rumah utama Soepomo. Sampai - sampai Sari tidak ingat menanyakan kepada Ayahnya perihal etek yang tinggal di Pulau K yang memberikannya mobil sebagai hadiah perkawinan.
Pagi harinya semua orang telah bersiap siap untuk berangkat menuju tempat pernikahan yaitu rumah utama Soepomo. Ayah Wijaya, Ibu dan Sari berada di dalam satu mobil. Sedangkan Ayah Hans berada di mobil yang berbeda karena dia sedang merasa diare. Sehingga Ayah Hans memilih untuk berada di mobil yang terakhir.
Semua mobil berjalan berarak arakan, ada tiga buah mobil melaju beriringan, di tengah jalan menuju rumah utama Soepomo, tiba tiba mobil paling depan mengalami bocor ban, pengawal menepikan mobilnya ke pinggir, dua mobil tetap berlalu.
"Bro, apa mobil ini tidak bisa melaju lebih cepat?" ujar Sari dari bangku belakang sopir.
Sopir menambah kecepatan laju mobilnya, tidak beberapa lama saat menambah laju kendaraannya, sebuah mobil box ntah datang dari arah mana melaju dengan kencang sehingga membuat sopir merasa terkejut dan berusaha menghentikan laju mobil dengan menginjak rem, tetapi nahas rem mobil tersebut sama sekali tidak ada.
"Tuan, Nyonya, Nona, rem mobil tidak ada sama sekali, mobil disabotase." ujar sopir yang langsung membelokkan mobilnya menuju jurang yang terlihat tidak dalam di sebelah kiri.
Felix yang berada di belakang beberapa mobil, melihat langsung mobil Nona Mudanya masuk ke dalam jurang. Dia langsung menghubungi Alex dan yang lainnya memberitahukan semua kabar itu.
KEMBALI KE RUANGAN DANIEL
Mereka semua menyimak seluruh laporan yang diceritakan oleh Alex dan Juan.
"Sekarang Felix dimana Lex?" tanya Ghina yang dari kemaren sama sekali tidak melihat kepala penjaga Sari itu.
"Felix berada di markas Nyonya, sampai sekarang dia seperti sangat tertekan dengan semua kejadian. Kami membiarkan saja dia berdiam diri di markas." jawab Alex memberitahukan kepada Ghina dimana Felix dan bagaimana keadaan Felix sekarang.
Mereka semua terdiam, mereka tau bagaimana perasaan Felix sekarang. Orang yang selama ini dijaganya dengan nyawanya, mendadak mengalami kecelakaan dimana tidak dia yang membawa mobil tersebut.
"Jadi Alex, siapa dalang di balik semua masalah ini?" tanya Ghina yang sudah lelah dengan semua masalah yang terjadi di dalam keluarganya untuk saat ini.
"Maaf Nyonya, sampai sekarang kami belum bisa menemukan siapa dalang di balik semua masalah ini. Kami benar benar minta maaf Nyonya. Pelaku bermain sangat rapi Nyonya." jawab Alex sambil menunduk tidak berani menatap Ghina ataupun Mira.
"Alex, bukannya tadi Kamu mengatakan kepada Saya, kalau pelakunya sudah bertemu." ujar Mira sambil menatap tajam ke arah Alex dan Juan.
"Benar Nyonya, maaf saya harus berbohong kepada Nyonya, karena kami berdua sudah kehabisan akal kemana akan mencari pelakunya." ujar Alex tambah tidak berani mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Ghina yang tau bagaimana dengan kerja Alex selama ini, merasa sangat yakin Alex pasti menutupi sesuatu dari dirinya dan Mira.
"Alex, apa yang Kamu tutupi dari Saya. Katakan Alex." ujar Ghina sambil mengangkat dagu Alex.
"Maafkan Saya, Nona. Saya sebenarnya menaruh curiga kepada salah satu dari anggota keluarga Wijaya." ujar Alex sambil menatap Ghina.
"Maksud Kamu, Alex?" tanya Ghina yang sudah kembali serius.
"Begini Nyonya, kita bisa memulai penyelidikan ini dari Ayah Nyonya Sari. Kita harus bertanya siapa Etek atau Tante Nyonya Sari yang tinggal di Pulau K yang memberikan hadiah mobil nahas itu sebagai hadiah pernikahan. Setelah kita tau siapa dia, maka kita akan bisa langsung mencari terdakwanya." ujar Alex.
"Terus kenapa tadi kamu mengatakan, curiga dengan salah satu anggota keluarga Wijaya?" ujar Ghina
"Maafkan Saya sekali lagi Nyonya, sejujurnya Saya curiga dengan Nyonya Wijaya." ujar Alex.
"Maksud kamu Nana?" tanya Ghina dengan menyipitkan matanya.
"Benar Nyonya. Tetapi kami belum bisa menemukan bukti outentiknya." jawab Alex lagi.
"Emang kenapa kamu mengarah ke wanita itu?" tanya Ghina yang akan semakin marah dengan Ibunya itu.
"Baiklah Alex, saya paham maksud kamu. Kita akan bertanya dengan Ayah Hans, tetapi tidak sekarang. Saya takut nanti Ayah Hans akan semakin panik. Jadi, besok saja kita akan bertanya kepada Ayah Hans." ujar Ghina memutuskan kapan sebaiknya mereka bertanya kepada Ayah Hans.
" Baiklah Nyonya." jawab Alex yang setuju dengan usul dari Ghina.
" Satu lagi Alex, masalah Nyonya yang itu, kamu lakukan penyelidikan kepada semua showroom mobil mewah yang ada di sini, cari tau apakah benar ada orang yang bernama itu membeli mobil mewah dalam beberapa hari kebelakang. Apakah kamu bisa Alex, Juan?" lanjut Ghina memberikan perintah kepada Alex dan Juan.
"Siap Nyonya, kami bisa. Tapi apakah kami juga bisa minta tolong kepada Nyonya Ghina dan Nyonya Mira?" tanya Alex dengan nada penuh harap agar Ghina dan Mira mengabulkan permintaan mereka.
"Apa itu Alex?" tanya Ghina yang juga penasaran.
Selama dia dan Mira serta Sari mengenal Alex dan Juan serta Jero dan Steven, tidak pernah keempat orang kepercayaannya ini meminta tolong dengan nada yang sangat penuh harap untuk dikabulkan seperti saat ini.
__ADS_1
Alex dan Juan berpandang pandangan. Mereka sama sama mengangguk meyakinkan diri mereka.
"Begini Nyonya," ujar Juan yang akhirnya akan melanjutkan permohonan Alex yang tidak bisa dilanjutkan oleh Alex sendiri.
"Apa?" tanya Ghina kembali.
"Kami ingin, Nyonya berdua ditambah dengan Tuan Bram dan Ayah Nyonya Sari, menemui Felix ke markas. Kami sangat kasihan dengan Felix Nyonya. Felix terus menerus menyalahkan dirinya sendiri semenjak kejadian nahaas itu. Tambah lagi dengan kematian Ibu Nyonya Sari, Felix semakin terpuruk. Kami tidak ingin kehilangan salah satu teman terbaik yang kami punya Nyonya. Apakah Nyonya mau menolong kami?" tanya Juan dengan nada penuh harap untuk dikabulkan.
Ghina menatap ke arah Mira. Mira mengangguk tanda setuju dengan permintaan pengawal mereka itu. Mereka juga tidak ingin kehilangan Felix. Felix adalah orang kepercayaan dari Sari. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana nanti saat Sari sembuh, dia tidak menemukan Felix yang dulu lagi.
" Baiklah Alex. Kami akan datang menjenguk Felix. Kalau perlu kami akan membawa Nyonya Anggel ke sana untuk memberikan motivasi kembali kepada Felix." ujar Ghina mengabulkan permintaan orang kepercayaannya itu.
"Terimakasih banyak Nyonya. Kami berdua sangat senang mendengar kesediaan Nyonya untuk datang dan mengembalikan semangat Felix." ujar Juan dengan mata berbinar dan nada bahagia dari suaranya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Nyonya, kami akan melanjutkan pencarian ke showroom tempat mobil itu di beli, apakah benar yang membeli adalah orang dari Pulau K atau orang yang tinggal di daerah ibu kota." ujar Alex
" Oke Alex, saya dan Mira serta Uni Anggel akan datang ke markas hari ini. Semoga dengan hadirnya kami, Felix bisa kembali memiliki semangat hidup. Untuk Tuan Bram dan Ayah Hans, kami akan mengatakan hal ini kepada mereka nanti." ujar Ghina
"Baiklah Nyonya, terimakasih banyak. Kami permisi dulu." ujar Alex.
Alex dan Juan pergi meninggalkan ruangan Daniel, mereka akan melanjutkan pencarian bukti siapa yang telah membeli mobil nahas itu.
"Kasian Felix ya sayang." ujar Aris kepada Ghina.
"Itulah Sayang, sepertinya kami harus cepat ke markas. Kami sangat tau bagaimana pentingnya Felix oleh Sari." ujar Ghina.
"Kapan kalian akan pergi?" tanya Bayu yang dari tadi hanya sebagai pendengar setia.
"Kalau bisa hari ini Kak, tapi kami berharap Kak Bram juga mau ikut. Tapi bagaimana cara ngomong dengan kak Bram?" ujar Ghina yang kehabisan ide bagaimana cara bicara dengan Bram.
"Serahkan sama aku saja sayang." jawab Aris.
__ADS_1
"Sip. Makasi sayang." ujar Ghina
Mereka semua meninggalkan ruangan Daniel untuk menuju tempat Sari di rawat. Aris sudah memiliki ide di kepalanya bagaimana cara mengatakan hal itu kepada Bram.