
" Sayang cepat sembuh ya, kita akan mengadakan lamaran kak Bram dengan Sari dua hari lagi. Kalau kamu sakit seperti ini gimana caranya kita akan melakukan acara itu. Kamu tau sendirilah kalau semuanya aku yang menyiapkan. Kamu cepat sehat ya sayangku. Kamu harus membantu aku mengerjakan semuanya. Aku nggak bisa kerja sendirian tanpa bantuan dari kamu." ujar Ghina berbicara sendirian.
Ghina menatap Aris yang masih tertidur pulas itu. Aris semalaman sudah bisa tidur nyaman, dia tidak lagi meringis kesakitan seperti sore harinya.
Cup. Aris tiba tiba mengecup bibir Ghina sekilas. Ghina langsung kaget menerima kejutan mendadak itu.
"Sayang" ujar Ghina yang malu kena kecupan mendadak.
" Apa? Nyuruh aku supaya cepat sembuh, agar bisa membantu kamu untuk mengurus lamaran Bram?" ujar Aris menggoda istrinya itu.
"Jadi, kamu tanpa aku tidak bisa melakukan apa apa? Bukannya waktu di negara U perusahaan GA Grub berjalan dengan hebat, kan nggak ada aku?" lanjut Aris lagi.
Ghina yang mendengar ucapan Aris, langsung mencium bibir Aris. Aris yang mendapat serangan mendadak dari bibir Ghina, tidak melepaskan bibir itu. Aris terus merasai setiap sudut bibir istrinya. Dia merasa sangat candu dengan bibir itu, apalagi telah selama seminggu ini dia tidak mendapatkan jatahnya dari Ghina. Bukan karena Ghina mendapatkan tamu bulanannya, tetapi gara gara pekerjaan yang kejar deadline yang membuat mereka berdua tidak sempat melakukan hal itu.
" Sayang, cepat sembuh ya. Kita berdua harus meyakinkan acara lamaran Kak Bram dan Sari berjalan lancar dan sempurna." ujar Ghina kembali.
" Iya sayangku, cintaku, manisku, pejaan hatiku, penyemangat hidupku." jawab Aris dengan memberikan semua pujian untuk Ghina.
Tok tok tok. Bunyi pintu kamar yang diketuk oleh seseorang dari luar. Ghina langsung turun dari atas ranjang. Dia berjalan ke depan pintu dan membukakan pintu untuk orang yang berada di luar. Ternyata yang berdiri di luar adalah Daniel denga senyum manisnya.
"Masuk Niel" ujar Ghina mempersilahkan anak sekaligus dokter yang merawat Aris.
Daniel berjalan menuju ranjang Aris. Dia masih belum melihat Argha dan yang lainnya di ruangan itu.
" Gimana Dad? Apa masih merasakan nyeri di perut?" tanya Daniel kepada Aris.
"Sama sekali tidak ada. Malahan tidur Daddy semalam sangat nyaman sekali." ujar Aris sambil menatap Ghina.
"Oh ya sudahlah ya jangan diteruskan, semoga nggak terjadi hal hal yang diinginkan di ranjang ini." jawab Daniel memaknai tatapan Daddy kepada Bunda.
Plak. Kepala Daniel dipukul Ghina memakai majalah yang diambilnya dari atas meja.
"Aw sakit Bun" ujar Daniel protes.
"Makanya jangan asala ngomong aja. Otak kotor ya gitu, mikir macem macem aja." Daniel mendapatkan oleh oleh berupa makian dari Bundanya.
"Pagi udah dapat makian gimana anak mau pintar cobak." ujar Daniel ngedumel sendirian
"Udah pinter juga kali Niel." jawab Ghina yang mendengar omongan Daniel.
Daniel kemudian memeriksa keadaan Daddynya. Dia tidak melewatkan hal sekecilpun dari pemeriksaan.
"Oke Dad, nanti sore udah boleh pulang. Nanti akan aku bawakan obat untuk Daddy minum. Terpenting mulai hari ini sampai dua minggu ke depan, Daddy sama sekali tidak boleh makan yang keras keras dan pedas. Sebaiknya makan bubur nasi saja." ujar Daniel mengatakan apa yang tidak boleh dimakan oleh Aris.
"Jadi Daddy hanya boleh makan yang lunak lunak saja gitu?" tanya Aris yang ingin sekali lagi Daniel mengatakan apa yang tidak boleh dimakan oleh dirinya.
" Yup Dad. Apa perlu aku tuliskan di sehelai kertas biar Daddy ingat?" tanya Daniel menggoda Aris.
Ghina hanya bisa tersenyum saja. Kalau Ghina tidak mengingat Aris sedang sakit, maka dia akan tertawa ngakak melihat wajah Aris yang sudah geli duluan saat mendengar hanya boleh makan bubur nasi saja.
"Oke Bun, nanti ada sarapan yang akan diantar, Bunda harus pastikan bayi besar Bunda ini makan dengan sempurna." pesan Daniel kepada Ghina.
"Oke sip dokter Daniel. Bunda akan pastikan pasien kamu ini makan dengan layak." jawab Ghina lagi.
Daniel kemudian keluar dari ruangan Aris. Dia akan melanjutkan visit pasien berikutnya.
"Daddy" teriak Argha yang baru saja datang dari kamar sebelah dengan anggota keluarga yang lainnya.
"Hay bontot Daddy, apa kamu sudah mandi dan makan?' tanya Aris sambil menyusuh Argha untuk duduk di atas ranjang.
"Mandi sudah, makan belum, Tak ada dari keluarga kita yang mau ngasih Argha makan Daddy." jawab Argha sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Ow tega sekali mereka sayang. Besok kalau Atuk dan Papi Bram mau kerjasama dengan GA Grub, kamu jangan mau sayang. Mereka aja nggak mau mengajak kamu sarapan." ujar Aris mulai memprovokasi anaknya.
"No Daddy, masalah pribadi tidak boleh di campur dengan masalah pekerjaan. Itu namanya tidak profesionalisme. Argha tidak suka itu." jawab Argha.
Semua orang tertawa mendengar jawaban dari Argha yang cukup menohok itu.
"Anak Daddy pintar." kata Aris lagi dengan pedenya.
"No, Argha anak Bunda.. No anak Daddy." jawab Argha lagi.
"Kenapa?" tanya Aris.
" Karena Argha laki laki, jadi Arga harus menjaga Bunda Arga." Argha mengatakan jawaban yang jauh dari pertanyaan. Tapi itu disengaja oleh Argha supaya Aris tidak merasa bersalah karena sudah membiarkan Mami mengusir Ghina dan Argha.
Mereka semua mengobrol dengan Asik. Saat mereka mengobrol itu, masuklah seorang suster membawakan menu sarapan untuk Aris serta obat yang harus di minum oleh Aris.
Argha yang lapar langsung melihat makanan yang di antarkan oleh suster. Sekencang apa Argha ingin melihat makanan yang dibawakan oleh suster, lebih kencang saat Argha berlari menuju kamar mandi. Argha mengeluarkan semua isi perutnya ke kloset kamar mandi. Ghina kemudian menyusul Argha.
"Kenapa sayang?" tanya Ghina sambil menggusuk punggung Argha.
"Argha mual melihat menu sarapannya Bun. Kenapa harus bubur nasi sih Bun. Apa nggak ada yang lain?" tanya Argha lagi.
"Daddy wajib makan yang lunak lunak sayang. Jadi nanti saat Daddy makan bubur nasi, kamu jangan muntah ya. Kasian Daddy." Ghina menasehati Argha.
"Oke Bun" jawab Argha dengan meyakinkan dirinya untuk tidak kembali muntah saat melihat Daddy memakan bubur nasi.
Mereka berdua kembali munuju tempat keluarga berkumpul.
"Kamu kenapa sayang? Kamu pasti gelikan ya melihat bubur nasi ini?" tanya Aris kepada Argha.
Argha mengangguk tanda menyetujui ucapan Aris.
"Sama, Daddy juga jijik. Tapi Daddy tetap harus memakannya supaya Daddy cepat sembuh dan bisa ikut acara lamaran Papi Bram." ujar Aris sambil mengedipkan matanya kepada Ghina.
Ghina menghampiri Frenya dan Argha.
"Kalian berdua ajak Atuk keluar. Tanya sama Atuk ada masalah apa? Kenapa Atuk terlihat sangat cemas seperti itu." ujar Ghina meminta kedua anaknya untuk membawa Atuknya keluar.
"Oke Bun, serahkan ke Argha." ujar Argha.
Argha kemudian mendekati Atuknya itu.
"Atuk, temani Argha ke kantin yuk. Argha lapar pengen sarapan. Uni juga lapar itu." tunjuk Argha ke Frenya yang langsung mengangguk.
"Sip. Mari kita ke kantin" jawab Atuk yang sudah tau apa tujuan Argha mengajak dia ke kantin. Mana pernah tu bontot mau ke kantin kalau nggak ada maunya.
Atuk dan dua cucunya pergi meninggalkan kamar rawat Aris. Ghina sudah menyerahkan hal itu kepada Frenya dan Argha, sedangkan dia akan fokus kepada kesembuhan Aris dan juga acara lamaran Bram yang akan dilakukan.
Frenya memesan sarapan untuk mereka bertiga. Sedangkan Atuk dan Argha memilih tempat duduk yang jauh dari keramaian. Tetapi yang namanya Tuan Soepomo dan Argha Soepomo serta Frenya Soepomo yang datang, semua pengunjung kantin menatap mereka dengan tatapan penuh kekaguman. Mereka bertiga hanya bisa tersenyum saja kepada setiap orang yang menatap. Serta menganggukkan kepala kepada setiap orang yang menganggukkan kepala kepada mereka bertiga.
"Apa kalian tidak risih dengan tatapan seperti itu?' tanya Atuk saat mereka bertiga sudah menduduki kursi yang mereka rasa paling aman dan nyaman di kantin rumah sakit.
"Jujur ya Tuk, pertama kali Frenya sangat risih. Apalagi waktu mereka semua tau kalau Frenya anak dari Bunda dan Daddy, waduh makin parah Tuk. Malahan ada yang kirim chat mengatakan kalau Frenya adalah manusia yang memanfaatkan kebaikan Bunda saja. Malahan ada yang mengatakan kalau Frenya sengaja masuk kekeluarga ini supaya Frenya bisa menjadi kaya raya." Frenya menceritakan semua tuduhan orang orang kepada Atuk dan Argha.
"Apa Bunda dan Daddy tau?" tanya Papi yang heran Aris dan Ghina sama sekali tidak pernah bercerita akan hal yang menimpa Frenya.
"Bunda dan Daddy tau, mereka mengatakan kepada Frenya dan Uda Daniel untuk sama sekali tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh orang luar. Bagi mereka yang terpenting kita semua hidup bahagia tanpa ada permasalahan seperti sekarang sekarang ini." jawab Frenya.
" Kalau Argha, Tuk yang herannya, kalau di negara U sama sekali tidak ada orang yang menatap seperti itu kepada siapapun, walaupun dia keluarga nomor satu di negara itu. Bagi mereka cukup mereka menatap sekali dan menganggukkan kepala, setelah itu mereka tidak akan lagi memperhatikan orang tersebut. Tetapi di negara ini sungguh berbeda Tuk. Mereka menatap dengan berkali kali dan sangat tajam, seperti ingin mencari kesalahan dari kita." ujar Argha membandingkan antara masyarakat di negara U dan negara I.
"Nah itulah bedanya Gha. Tapi mau bagaimana lagi, asalkan mereka tidak mengganggu kita, maka kita biarkan saja. Tapi kalau sudah mulai mengganggu barulah kita ambil tindakan untu mereka." jawab Papi.
__ADS_1
Mereka kemudian melanjutkan dengan obrolan sederhana. Argha dan Frenya sengaja belum masuk ke inti pembicaraan. Mereka tidak ingin saat mereka sedang serius mendengarkan semua cerita Atuk, datang pelayan meletakkan makanan, mereka tidak mau hal itu terjadi. Makanya mereka mengulur terlebih dahulu, sampai pelayan datang.
Akhirnya pelayan datang membawakan pesanan tiga piring nasi goreng dan dua piring mie goreng serta satu gelas susu coklat dan dua gelas teh hijau hangat. Mereka bertiga menikmati sarapan itu sebelum keburu dingin.
"Atuk, ada apa? Kelihatannya Atuk sedang memikirkan suatu masalah, apa masalah yang kemaren lagi?" tanya Frenya.
"Benar Nya." jawab Papi sambil menganggukkan kepalanya.
"Ada apa lagi Tuk?" ujar Argha dengan nada sedikit memaksa.
Papi mengeluarkan ponselnya, dia memperlihatkan video yang dikirimkan seseorang tadi malam. Frenya dan Argha melihat video tersebut. Terlihat di video itu seorang wanita sedang memandang Fhoto Aris dan Papi yang sudah dewasa. Dari dalam video terdengar suara wanita itu memanggil manggil nama anaknya.
"Aris sayang, kapan kamu akan jemput Mami nak, Mami sudah rindu kamu sayang. Jemput Mami nak, katakan kepada Papi untuk jemput Mami sayang." ujar wanita dalam video sambil mengusap fhoto Aris.
"Sayang, kenapa kamu tega lama sekali meninggalkan aku di sini sendirian. Apa kamu tidak sayang lagi sama aku istrimu sayang? Apa kamu sudah punya istri yang baru lagi sayang." ujar wanita itu sambil mengusap fhoto Papi.
"Atuk siapa wanita itu? Kenapa fhoto Atuk dan Papi ada sama dia?" tanya Argha pura pura tidak tau.
Frenya memberikan jempolnya kepada Argha dari bawah meja. Argha membalas dengan memberikan dua jempolnya.
"Argha ingatkan ya cerita Atuk waktu Argha tidur di kamar Atuk kemaren?" tanya Papi lagi kepada Argha.
"Ingat Tuk." jawab Argha.
Frenya terlihat melongo tidak mengerti dengan alur cerita yang ada. Papi paham Frenya tidak menyambung dengan cerita antara dirinya dan Argha.
"Nya, Atuk tau kamu tidak paham dengan cerita Atuk dan Argha. Atuk akan menceritakan semuanya dengan sekilas saja. Semoga kamu paham dengan semua ceritanya." ujar Papi kepada Frenya.
Papi kemudian menceritakan semuanya kepada Frenya, Frenya menatap Papi dan Argha bergantian, dia menyimak semua yang diceritakan oleh Papi. Frenya sama sekali tidak memotong cerita Papi.
"Jadi apa Atuk yakin kalau nenek asli sudah meninggal?" tanya Frenya dengan menyebut istri pertama Papi sebagai nenek asli.
"Sudah Nya, Atuk dan Atuk Hendri sudah melakukan otopsi dan tes DNA." jawab Papi.
"Terus kenapa tu orang ngaku ngaku sebagai nenek asli ya, pasti ada dalangnya ini Atuk." ujar Frenya lagi.
Papi dan Argha mengangguk, sebenarnya Frenya dan Argha sudah tau dalang di balik semua ini, tetapi mereka harus mencari tau dulu, apa yang melatarbelakangi nenek lampir itu melakukan hal gila yang luar biasa tidak berotak itu.
"Itulah Frenya, Atuk nggak tau siapa yang tega melakukan ini. Atuk takutnya nanti orang itu mengirim video ke Daddy kalian. Daddy kalian tidak tau kalau dia bukan anak kandung dari nenek lampir itu." ujar Papi.
"Kalau menurut Argha Tuk. Mending Atuk menceritakan semuanya kepada Daddy, dari pada nanti Daddy tau dari orang lain atau dari video, maka yang akan susah dan disalahkan Daddy adalah Atuk."
"Frenya setuju dengan Argha Tuk. Lebih baik Atuk berbicara dengan Daddy. Ceritakan aja semuanya kepada Daddy, kalau perlu Atuk bawa bukti semuanya kepada Daddy agar Daddy percaya kalau dia memang bukan anak kandung nenek lampir itu." Frenya ikut meyakinkan Papi agar mau bercerita kepada Aris tentang ibu kandung Aris sebenarnya.
Papi terlihat berpikir sesaat, dia mempertimbangkan masukan saran dari kedua cucunya itu.
"Oke Atuk akan cerita, tetapi setelah acara lamaran Papi Bram. Tapi kalian berdua harus bantu Atuk." kata Papi meminta bantuan kepada kedua cucunya itu.
"Bantu apa Tuk?" tanya Argha yang memiliki perasaan kurang enak itu.
"Bantu Atuk untuk meyakinkan Daddy kalian." ujar Atuk mengatakan bantuan apa yang diperlukan oleh dirinya.
"Ooooooooooo, kalau itu mah gampang Tuk. Arga pastikan semuanya akan berhasil, kami berdua akan bantu." jawab Argha dengan penuh keyakinan.
Papi menatap Frenya.
"Aman itu Tuk, aku juga akan bantu." jawab Frenya
Setelah mengetahui dan bersepakat untuk membantu Atuknya, mereka bertiga kembali ke kamar Aris.
"Bun, kok udah siap siap mau pulang?' tanya Frenya yang melihat Ghina sudah menyusun semua barang barang.
__ADS_1
"Daddy udah boleh pulang, ngapain di sini lama lama, ingat kerjaan masih ada, kita mau ke Padang besok." jawab Ghina.
Frenya membantu Ghina membereskan semua barang, setelah semua tersusun dan tersimpan, mereka berlima turun ke lobby, mobil sudah bersiap dengan sopir tetap Stefen. Stefen melajukan mobil ke rumah utama Soepmo.