Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Bebek Tumbuak


__ADS_3

"Om Stefen, Argha lapar." kata Argha sambil mengusap usap perutnya yang memang sudah lapar.


"Nah kan jadi lapar karena ngeledek uninya sendiri." sambar Frenya yang tidak membuang kesempatan yang ada.


"Maafkan adek terganteng terkaya terbaik dirimu ini uni ku sayang. Aku tidak akan mengulanginya." ujar Arga sambil memaju mundurkan mulutnya seperti Bunda Ghina yang berusaha merayu Daddy.


"Hahahahahahaha. Kamu mirip dengan Bunda Gha."


"Itu gaya Bunda kalau lagi ngerayu Daddy Uni. Mulutnya maju mundur kayak ekor bebek." kata Argha sambil mengingat ingat mulut Bundanya saat merayu Daddy mereka.


Stefen yang melihat merasa tidak percaya kalau Nyonya Ghina yang selama ini di kenalnya menjadi seperti itu saat merayu suaminya sendiri.


"Kamu ngarang ya Gha?" ujar Stefen mencurahkan apa yang dirasakannya.


"Om Stef apa pernah Argha selama ini boong sama orang ? Siapapun itu orangnya." Argha memandang Stefen dengan tatapan tajam.


"Nggak" jawab Stefen langsung. Dia memang sangat tau Argha tipe orang seperti apa. Dia sama sekali tidak pernah berbohong ke siapapun. Argha selalu memagang kejujuran dalam setiap apa yang dikatakan oleh dirinya.


"Jadi mau makan dimana?" tanya Stefen yang terinhat Argha minta berhenti untuk makan siang.


"Di bebek tumbuk aja Om Stef." sorak Argha dengan begitu kerasnya.


"Bebek tumbuk? Bebek penyet kali Gha." kata Jero yang baru sekali ini mendengar kata bebek tumbuk, setau dirinya yang ada hanya bebek penyet


"Ada." ujar Argha cepat.


"Kamu arahin jalannya Gha." kata Stefen memutus mata rantai keributan hanya gara gara bebek tumbuk.


Argha kemudian menunjukan arah tempat makan bebek tumbuk yang tadi dikatakannya.


"Hahahahahaha. Ternyata memang bebek tumbuk." ujar Jero sambil tertawa.


"Dak percaya tu iya." jawab Argha.


Mereka berempat masuk ke dalam warung penyedia makanan yang sedang viral karena namanya yang aneh dan juga rasanya yang luar biasa enak.


"Kamu tau dari mana Gha bebek tumbuk segini enaknya?" tanya Frenya yang tanpa sadar sudah menghabiskan dua porsi bebek tumbuk.


"Dari Pak Paijo. Hari itukan Argha dijemput oak Paijo ke sekolah. Nah Argha lapar, pak Paijo bawa ke sini." ujar Argha menceritakan awal mula dia tau makanan bebek tumbuk yang viral itu.


Mereka semua selesai makan siang setelah satu jam berada di warung bebek tumbuk. Stefen berjalan menuju kasir untuk membayar makan siang mereka.


"Gila bener tu bebek tumbuk. Sudahlah enak, bebek besar harga merakyat. Bener bener nikmat." ujar Stefen.


Stefen melajukan mobilnya menuju markas. Mereka benar benar telah menghabiskan waktu yang sangat lama di perjalanan. Stefen mempercepat laju mobilnya. Dia tidak mungkin santai santai seperti tadi. Bagi Stefen kalau hanya Alex dan Juan serta Jero yang menunggu masih aman. Nah lain cerita kalau Ghina.

__ADS_1


"Om Stef kenapa ngebut?" ujar Argha yang duduk di kursi belakang.


"Kalau yang nunggu hanya trio gila, om Stef masih bisa ngelawan Gha. Tapi kalau udah Bunda kamu, oh tidak, bisa dipecat jadi calon menantu om ganteng super baik kamu ini Gha." jawab Stefen makin memperdalam menginjak pedal gas mobilnya.


"Hahahahahaha. Sebegitunya ya om."


Mabil mewah berwarna hitam itu akhirnya berbelok masuk ke dalam gerbang markas. Mereka berempat turun dari dalam mobil. Stefen celengak celenguk melihat tempat parkur khusus orang berpengaruh di kelompok mereka.


"Aman Om. Trio Gila sama Bunda belum sampe. Mereka masih di jalan." kata Argha sambil tersenyum mengejek Stefen.


"Kalau kena marah om Stef ngomong aja disuruh Argha singgah untuk makan bebebk tumbuk" jawab Stefen.


"Yeyeyeyeyeye."


Saat mereka baru akan melangkah masuk ke dalam markas. Tiga mobil mewah beriringan masuk ke dalam halaman markas. Mereka langsung parkir di posisi parkir masing masing.


"Alamak mereka datang." ujar Stefen menepuk keningnya sendiri.


Ghina dan Tiga pria tampan itu turun dan menuju Stefen dan yang lainnya.


"Loh masak baru sampai?" tanya Ghina menatap heran ke arah Stefen.


"Ada yang laper tadi Bun. Terus dia minta makan di bebek tumbuk." ujar Frenya menjawab pertanyaan bundanya sebelum bunda menatap dengan mengintimidasi kekasih hatinya.


"Bebek tumbuk?" tanya Ghina dengan heran.


"Berarti kita semua sudah makan siang. Sekarang kita langsung meeting aja. Biar besok bisa langsung eksekusi." ujar Ghina sambil berjalan masuk ke dalam markas.


Semua orang mengiringi langkah kaki Ghina menuju ruang utama meeting. Mereka semua sangat bersemangat untuk meeting hari ini. Meeting yang sangat menentukan nasib wanita yang mengaku ngaku sebagai Erlin Soepomo dan juga nasib Mami yang selalu hadir ke rumah itu.


Saat mereka baru akan mulai meeting, tiba tiba pintu ruangan meeting di ketuk dari luar. Ghina sudah tau kalau ada sesuatu yang penting. Ghina memencet tombol yang ada di meja kerjanya.


"Ada apa?" tanya Ghina kepada pengawal yang berdiri di pintu ruangan yang terbuka otomatis itu.


"Maaf Nyonya Muda, saya terpaksa mengganggu meeting Nyonya." ujar pengawal sambil menatap Ghina.


Ghina mengangguk memaklumi pengawal yang datang mengganggu meeting mereka kali ini.


"Ada Tuan Besar Soepomo dan Asisten Hendri di ruang tamu Nyonya Muda." ujar Pengawal memberitahukan siapa yang datang ke markas mereka.


Argha dan Frenya menatap Ghina. Ghina membalas tatapan kedua anaknya itu.


"Bunda nggak tau kenapa Atuk bisa datang ke sini." ujar Ghina kepada kedua anaknya.


"Udahlah Bun temui aja. Kepalang tanggung juga kok ya Bun." ujar Frenya.

__ADS_1


"Oke sip. Tapi kalian berdua temani Bunda ya."


"Perkara gampang" jawab Argha langsung berjalan keluar dari ruangan meeting.


"Tu anak memang lah ya. Ya sudah lah ya." ujar Ghina menyusul Argha.


Argha berhenti di ujung lorong. Dia menatap ke arah Atuknya yang sedang duduk dengan Asisten Hendri.


"Atuk" teriak Arga sambil berlari ke arah Atuk dan langsung memeluk Atuk tersayangnya itu.


"Hay kenapa kamu ada di sini juga?" tanga Papi yang heran melihat Argha juga berada di sana.


"Hehehehe" ujar Argha tertawa mendengar pertanyaan Atuknya itu.


"Pi" ujar Ghina menyalami mertuanya.


"Tuk" lanjut Frenya menyalami Atuknya.


Papi menatap Ghina dengan tajam. Papi menuntut semua jawaban dari Ghina.


"Baiklah Pi. Ghina akan menceritakan semuanya kepada Papi." ujar Ghina.


Ghina menceritakan semua hal kepada Papi tanpa ada satupun yang ditutup tutupinya. Papi dan Asisten Hendri terdiam mendengar semua cerita dari Ghina.


"Jadi kelompok yang selama ini membayangi anggota black jack adalah kelompok menantu ku sendiri?" ujar Papi tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Maafin Ghina Pi." ujar Ghina sambil mengusap mukanya dengan kedua tangan.


"Kamu tidak salah Gin. Tapi Papi masih tidak menyangka aja, Papi punya menantu sehebat kamu. Apalagi dengan tiga cucu yang luar biasa ini. Papi makin tidak menyangka." ujar Papi.


"Jadi Papi ke sini sebenarnya mau apa?" tanya Ghina penasaran dengan maksud dan tujuan Papi datang.


"Papi berencana mau minta pertolongan kepada pimpinan grub ini untuk mencari dalang di balik teror yang Papi dapatkan. Papi sudah meminta bantuak tim black jack. Tetapi mereka sudah buntu. Makanya Papi datang ke sini." ujar Papi menatap Ghina.


"Jadi sebelum ke sini Papi tidak tau kalau Ghina pemimpin grub ini?" tanya Ghina sambil menatap Papi.


Papi menggelengkan kepalanya. Papi memang tidak tau sama sekali akan hal itu.


"Ghina kira Papi tau... Makanya Ghina keluar tadi." jawab Ghina dengan tampang sedikit menyesal karena memilih langsung keluar dari ruangan meeting untuk menemui Papi.


"Hahahahaha. Tapi baguslah Gin. Papi jadi tau siapa kamu sebenarnya." jawab Papi dengan nada serius dan ekspresi datarnya.


Ghina dan kedua anaknya menunduk mendengar ucapn Papi yang ada benarnya juga.


"Sekarang Papi mau nanyak apa ke sini?" lanjut Ghina.

__ADS_1


"Begini Gin." ujar Papi.


__ADS_2