
Gina dan kedua sahabafnya berjalan dengan langkah pasti menuju ruangan dosen. Gina dengan yakin perbaikan tesis dan sketsa barunya akan diterima pembimbing satunya. Sesampainya di depan ruangan dosen, Gina menuju meja resepsionis.
"Permisi Buk. Apakah Ibuk Linda ada?" tanya Gina.
"Oh ada. Silahkan baliau ada diruangan dosen."
"Kalau Bapak Andi ada buk?" tanya Sari yang memang berbeda dosen pembimbing.
"Ada. beliau juga diruangan dosen."
Gina dan kedua sahabatnya langsung masuk ke ruangan dosen. Gina dan Mira menemui Bu Linda, sedangkan Sari sendirian menuju meja Pak Andi.
"Permisi Buk, Saya mau menyerahkan perbaikan tesis dan sketsa saya kepada Ibuk." kata Gina dengan sopan.
"Wow, jadi kamu manusia yang sudah membuat keponakan saya dikeluarkan dari kampus. Siap kamu bisa bisanya kamu mengeluarkan keponakan saya. Apa kamu sudah tidur dengan rektor? Dasar mahasiswa murahan kamu. Saya tekankan kepada kamu, kamu tidak akan pernah lulus dari kampus ini. Dan kamu tidak akan pernah bisa menukar pembimbing dengan dosen manapun." Dosen Linda menunjuk nunjuk kepala Gina dengan jari lentiknya.
"Tapi buk, ini tidak seperti yang ibuk kira. Senior itu duluan yang menghina saya." Gina membela dirinya. Mira hanya diam saja. Tetapi tidak dengan Sari. Sari langsung menghubungi Bram.
"Hallo kak Bram. Gina diserang dosen habis habisan. Dibuat malu pembimbingnya ditengah ruangan dosen yang ramai. Mana mahasiswa sedang bimbingan banyak lagi." lapor Sari pada Bram.
"Kamu tenang saja Sar. Aku akan mengurusnya. Aris sedang ada meeting penting di perusahaan Jaya. Aku akan kesana sekarang juga."
Bram kemudian mematikan ponselnya. Dia langsung menuju kampus Gina.
"Mana sini lihat sketsa yang kamu buat." kata dosen Linda.
Gina tanpa tau maksud dari dosen Linda langsung memberikan sketsanya.
"Hahahahahaha. Ini yang kamu bilang bagus. Bagus dari mananya." kata dosen Linda langsung merobek sketsa Gina.
Gina yang melihat sketsa yang sudah susah payah dibuatnya langsung menangis. Dia memunguti robekan sketsa yang dibuang dosen Linda ke lantai.
"Anda bisa sopan tidak jadi dosen. Main robek, kalai anda tidak suka anda bisa mengkomunikasikannya dengan kami. Bukan main robek." teriak Mira dimuka dosen Linda.
"Ini satu lagi mahasiswa miskin tidak tau diri. Anda bisa kuliah dikampus ini karena sumbangan. Jangan sok." kata dosen Linda.
Mira mau membalas ucapan dosen tersebut, tetapi dilarang oleh Gina.
__ADS_1
"Maaf buk, kalau begitu saya akan ulang kembali sketsanya sesuai dengan yang ibuk harapkan" kata Gina sambil menunduk.
"Sudah saya bilang sama kamu. Kamu tidak akan pernah lulus dari kampus ini. Saya akan terus menggagalkan sketsa kamu, walaupun sketsa itu sempurna." kata dosen Linda sambil mununjuk otak Gina.
Bram dan Rektor yang melihat langsung naik pitam.
"Hentikan Buk Linda." teriak rektor.
Dosen Linda yang melihat rektor berdiri dengan Bram langsung terkejut.
"Tuan Bram. Anda kenapa bisa di sini?" tanya dosen Linda.
"Aku disini karena, Anda sudah menghina calin Nyonya Aris Putra Soepomo pemilik Universitas ini. Sekarang silahkan Anda kemasi seluruh barang anda. Anda saya pecat." kata Bram dengan dinginnya.
Dosen Linda langsung kaget. Berita yang dia dengar tidak seperti itu.
"Siapa yang anda bilang calon Nyonya Tuan Muda Aris?"
"Gina Wijaya yang anda katakan sudah tidur dengan rektor. Dia adalah calon Nyonya Muda Soepomo." kata Bram dengan tatapan dingin.
Dosen Linda beralih menghadao Gina. "Gina mohon maafkan saya Gina. Saya tidak ada maksud menghina kamu, saya hanya bercanda Gina. Saya tidak serius" kata dosen Linda sambil mencium cium tangan Gina.
"Gina maafkan saya Gina. Saya tidak tau kalau kamu adalah calon istri dari Tuan Aris."
"Jadi kalau saya bukan calon istri Tuan Aris, anda akan berbuat semena mena dengan saya?" tanya Gina dengan menatap dingin kearah Buk Linda.
"Satu hal dosen terhormat, walaupun saya bukan calon istri dari Tuan Aris Putra Soetomo, saya adalah Gina Putri Wijaya. Anda tau bukan siapa itu keluarga Wijaya?"
"Seharusnya Anda sebagai seorang pendidik bisa mendidik dengan benar. Ini tidak Anda menyalahkan orang yang benar, lebih parahnya lagi Anda membenarkan orang yang salah."
"Saya kecewa dengan Anda. Dan maaf saya tidak bisa menolong Anda dari pemecatan sebagai dosen di kampus ini." kata Gina dengan dingin.
Gina kemudian meninggalkan tempat itu. Gina menemui ketua jurusannya, dia minta ganti dosen pembimbingnya.
"Maaf pak, saya mengajukan penggantian dosen oembimbing." kata Gina.
"Baiklah Gina, kami akan memprosesnya segera." kata ketua jurusan dengan gugup.
__ADS_1
"Bapak tidak usah takut. Jangan bapak istimewakan saya, karena saya mau lulus dengan jerih payah saya sendiri, bukan hasil pertolongan atau nama besar orang lain." kata Gina.
"Baiklah Gina. Kami akan mencarikan dosen pembimbing satu kamu. Atau kalau kamu mau saya bersedia menjadi dosen pembimbing kamu." kata ketua jurusan.
"Baiklah pak, saya terima bapak sebagai pembimbing satu saya. Terimakasih sekali karena sudah mau membantu saya. Ini adalah tesis yang saya perbaiki kemaren. Untuk sketsanya akan saya buat kembali." kata Gina sambil menatap sketsanya yang sudah menjadi empat bagian terpisah itu.
"Kita sambung saja Gin. Mana tau masih bisa diselamatkan. Jadi kamu bisa menggambar ulang dengan mencontoh sketsa yang ini."
"Baiklah pak, saya setuju dengan ide Bapak."
Gina dibantu oleh ketua jurusan, Mira dan Sari kembali menyatukan sketsa Gina, mereka sibuk mengelem kertas kertas itu kembali. Akhirnya setelah setengah jam sketsa itu kembali menyatu. Ketua jurusan yang sekarang menjadi pembimbing Gina mengajak beberapa orang dosen yang memang sangat suportif menilai hasil karya Gina.
Mereka mengamati sketsa yang dibuat oleh Gina, berdasarkan pemaparan konsep dari tesis Gina. Mereka dengan serius melihat sktsa tersebut.
"Yang bilang sketsa ini jelek, maka harus dipertanyakan dia tamatan mana." kata seorang dosen yang terkenal sangat obyektif kepada mahasiswa, dosen ini tidak memandang kedudukan orang tua mahasiswa tersebut.
"Saya setuju dengan pendapat Prof Andi. Ini karya sangat memukau. Kalau tidak ada yang mau mewujudkannya menjadi sebuah kafe, saya bersedia membeli sketsa ini dengan harga mahal." kata Prof Agustin.
Semua dosen kemudian menuju meja yang dikerubungi para profesor di bidang arsitek itu. Mereka berdecak kagum dengan sketsa Gina yang benar benar bagus dan memukau.
"Dosen sarap yang bilang ini jelek." kata salah seorang dosen.
"Bu Linda, saya sebagai ketua jurusan sangat kecewa dengan sikap anda dalam membimbing mahasiswa Anda. Ini karya yang sangat bagus. Anda dengan kacamata penuh kebencian mengatakan karya ini tidak bagus. Maka dengan segala hormat, saya tidak bisa menerima anda untuk mengajar lagi di jurusan ini." kata ketua jurusan.
Bu Linda yang sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, langsung mengemasi semua dokumen dokumennya, dan meletakkan dokumen tersebut di dalam sebuah kardus. Kemudian bu Linda dengan langkah gontai keluar dari kantor yang selama dua puluh tahun ini dikunjunginya setiap hari. Dari penghasilan di kantor ini dia bisa menghidupi keluarganya, sekarang Bu Linda tidak tau lagi mau bekerja apa, ini semua akibat mulut cerdasnya yang nggak punya bendrol dan nggak ada rem. Akibat kebutaan matanya dengan uang yang diberikan orang, akhirnya bu lInda menerima semua konsekuensi yang ada.
Bu Linda keluar dari kantor jurusan sambil diteriaki seluruh mahasiswa yang sudah muak dengan gayanya selama ini. Bu Linda yang mendengar sorakan mahasiswa semakin mendalamkan tundukan kepalanya. Dia sudah tidak mampu lagi melihat kesekitar.
Gina yang melihat sebenarnya iba dengan Bu Linda, tapi ini bukan kali pertama bu Linda menginjak injak harga diri mahasiswanya. Kejadian Gina adalah yang kesekian kalinya, tapi karena Gina adalah Gina, makanya bu Linda bisa angkat kaki dari universitas itu.
Gina yang selesai bimbingan dengan pembimbing barunya, keluar ruangan dengan tersenyum Walaupun dia harus mengulang membuat gambar, tapi dengan diterimanya tesisnya dan akan melakukan ujian sidang terbuka dua minggu lagi, sudah membuat Gina luar biasa bahagia. Gina kemudian mengajak kedua sahabatnya untul pergi belanja sepuasnya. Gina akan mentraltir mereka.
...----------------...
Kakak mampir ke novel ketiga ku yok. Judulnya "KEPAHITAN CINTA" novel itu bercerita tentang seorang wanita yang mencintai bosnya dalam diam, sedangkan bos juga mencintai wanita itu dalam diam. Mereka sebenarnya bisa bersatu, tetapi ada hal yang membuat itu sulit terjadi.
Apakah penyatuan itu bisa terjadi dengan melawan semua arus???
__ADS_1
Ataukah cinta itu tidak akan menemui ujungnya, karena takut melawan arus????
kedua dua nya jalan yang susah dan terjal yang ahrus dilalui kedua tokoh dalam cerita itu.((((("