
Tak lama setelah Argha menceritakan semuanya kepada Ghina. Alex, Jero dan Juan datang. Mereka kembali masuk ke dalam ruangan merting. Ghina akan memulai meeting penting itu.
"Bisa kita mulai?" ujar Ghina saat melihat ketiga orang penting di kelompom itu telah hadir dan duduk di kursi mereka masing masing.
"Sudah Nyonya. Kita akan mulai sekarang." jawab Jero.
"Jadi Juan apa yang kamu temukan selama kamu melakukan penyelidikan terhadap rumah itu?" tanya Ghina langsung saja ke inti permasalahan mereka berkumpul hari ini.
"Baiklah Nyonya saya akan menceritakan tentang siapa penghuni rumah putih itu dan apa kaitannya dengan Nyonya Soepomo." ujar Juan yang sudah melakukan oenyelidikan selama tiga hari.
"Hari itu saya bertemu langsung dengan yang menghuni rumah putih itu di warung tukang jual nasi goreng. Saya di sana sengaja sebenarnya menunggu Nyonya itu. Saya mengetahui kalau Nyonya itu sering makan nasi goreng di sana setiap pagi hari. Makanya setelah selesai shubuh saya langsung duduk di warung nasi goreng." ujar Juan memulai ceritanya.
"Apa tukang jual nasi goreng itu tidak marah om Juan duduk di sana lama lama?" tanya Argha.
"Sama sekali tidak Tuan Muda. Malahan penjual nasi goreng itu juga mengatakan kalau dia sangat curiga dengan rumah putih itu."
"Maksudnya?" tanya Argha makin penasaran.
"Maksudnya, Nyonya yang tinggal di rumah itu sama sekali tidak bekerja. Tetapi krbutuhan rumah tangganya sangat cukup. Dia seperti di topang oleh seseorang dalam membiayai hidupnya." jawab Juan.
"Juan lanjutkan cerita saat kamu bertemu dengan pemilik rumah putih." ujar Ghina.
Juan mengangguk. Dia paham dengan makna perkataan Ghina itu.
"Saat di warung nasi goreng Nyonya itu duduk di sebelah saya karena semua kursi di sana sudah penuh. Saat itu saya melihat dia seperti Nyonya Nyonya besar. Istilahnya seperti sosialita." ujar Juan.
"Saya masih terus saja makan. Nah saat itu dia menerima telpon dari seseorang. Dia mengatakan dia sedang di warung nasi goreng. Sebentar lagi dia akan pulang. Jadi dia meminta orang itu untuk menunggu di rumah." lanjut Juan.
"Saat itulah saya mengambil kesempatan untuk berbincang dengan dia. Saya bertanya saya tidak pernah melihat suaminya keluar dari rumah."
"Terus apa jawab nya om Juan?" tanya Argha yang memang tidak pernah sabaran jadi anak.
"Jawabannya saat itu sangat membuat saya berpikir keras. Dia mengatakan kalau suami dan anaknya sudah melupakan dirinya." ujar Juan.
"Karena mendapatkan jawaban tidak jelas seperti itu saya kembali menanyakan apa pekerjaan suaminya."
"Jawabannya ini yang membuat saya kaget. Dia mengatakan kalau suaminya adalah pemilik Soepomo Grub yang berarti adalah ayah dari Tuan Aris Nyonya." jawab Juan sambil menundukkan kepala.
Argha memukul meja meeting dengan keras. Membuat semua orang yang berada di ruang meeting menjadi kaget luar biasa.
"Dasar bedebah berani beraninya dia mengatakan kalau dia adalah nenek Argha. Argha akan buat perhitungan dengan dirinya." ujar Argha dengan emosi.
__ADS_1
"Argha sabar sayang. Jangan emosi. Argha ingat apa kata Bunda kan, kita akan hancur oleh emosi kita sendiri." ujar Ghina mengingatkan Argha untuk bisa sabar dalam menghadapi masalah yang ada.
"Maafin Argha Bun." ujar Argha
"Lanjutkan Juan" perintah Ghina kembali saat melihat Argha sudah kembali tenang.
"Nah karena saya sudah bisa kenal dengan dia, saya ikut mengontrak sebuah rumah petak yang berada tepat di depan rumah dia Nona." Juan memberitahukan kenapa dia sampai tidak pulang ke markas dalam beberapa hari ini.
"Pada hari kedua itu saya sengaja tidak menemui orang tersebut. Saya hanya mengamati gerak geriknya. Pada hari kedua itu saya melihat seorang wanita turun dari ojek online. Wanita itu masuk ke dalam rumah orang itu Nyonya." ujar Juan melanjutkan ceritanya.
"Apakah kamu tau siapa wanita itu Juan?" tanya Ghina.
"Waktu hari itu saya tidak tau Nyonya. Wajah wanita itu sangat tidak terlihat. Saya beberapa kali berusaha melihat dia. Tapi dia tidak pernah mengikat rambut panjangnya. Jadi wajahnya terus ditutupi oleh rambut itu." ujar Juan.
"Pada hari ketiga, saat wanita itu keluar untuk sarapan pagi. Saya juga keluar dari rumah. Seakan akan saya tidak sengaja keluar pergi sarapan juga." lanjut Juan menceritakan.
"Sepanjang perjalanan saya menanyakan siapa wanita yang datang ke rumahnya itu. Ternyata wanita itulah yang menemukan dirinya saat terjadi kecelakaan di jurang." lanjut Juan.
"Maksudnya Juan?" tanya Argha yang semakin tidak suka dengan alur cerita yang diceritakan oleh Juan. Sangat terlihat wanita itu telah berbohong.
"Ya Tuan Muda, menurut yang diceritakan wanita itu, dia ditemukan oleh wanita yang sering datang kerumahnya di dalam jurang. Wanita itu juga menceritakan kalau dia saat itu tabrakan dengan anaknya yang masih bayi dan juga suaminya yang seorang pengusaha hebat itu. Yaitu Atuk Tuan Muda." ujar Juan.
"Katanya saat mengenalkan diri dengan saya bernama Erlin Soepomo." ujar Juan dengan mantap menyebutkan sebuah nama.
"Juan apa dia juga bercerita kenapa tidak kembali ke suaminya lagi?" ujar Ghina yang juga penasaran dengan semuanya.
"Cerita Nyonya. Katanya kepada saya, suaminya sudah menikah lagi dengan mantan sekretaris suaminya. Katanya lagi suaminya sudah menganggap dia meninggal. Sedangkan anaknya saat itu masih bayi, jadi tidak mengenal ibu kandungnya siapa. Itu yang diceritakan dia kepada saya Nyonya, Tuan muda." Juan menjawab pertanyaan apapun yang dilontarkan oleh Argha dan Ghina.
"Hem berarti otak wanita ini sudah dicuci oleh orang yang sering datang itu Nyonya. Dia menceritakan kisah sebenarnya bagaimana Tuan besar Soepomo kecelakaan." ujar Alex menarik kesimpulan dari apa yang diungkapkan oleh Juan.
"Saya setuju Lex. Saya yakin ini benar benar konspirasi yang sangat luar biasa. Saya penasaran siapa sebenarnya wanita itu. Wanita yang datang setiap hari untuk mencuci otak wanita yang tidak tau apa apa itu." ujar Ghina sambil mengetuk ngetuk jarinya di atas meja.
Irama yang sama setiap kali Ghina sedang memikirkan suatu masalah yang berat.
"Om Juan, apa Argha bisa minta tolong sesuatu?" tanya Argha sambil menatap memohon ke arah Juan.
"Ada apa Tuan Muda?" ujar Juan menatap ke arah Argha.
"Apa bisa om Juan pura pura bertamu dan mengambil fhoto Nyonya itu dan memberikannya kepada Argha?" tanya Argha sambil menatap Juan dengan tatapan memohon.
"Oh oke Tuan muda kalau itu sudah dalam pemikiran saya. Sekalian saya akan mengambil fhoto orang yang sering datang ke rumah itu. Rencananya saya akan meletakan alat penyadap di rumah tersebut dan kamera di beberapa bagian rumah yang bisa saya jangkau." ujar Juan yang sudah merencanakan semuanya dengan baik.
__ADS_1
"Sip om Juan semoga berhasil. Argha akan menunggu semua hasilnya." ujar Argha.
"Bun, Argha lapar" ujar Argha sambil memegang perutnya yang memang sudah keroncongan.
"Sip anak bujang Bunda. Kita makan diluar. Alex, Jero, Juan kita makan di luar saja bagaimana?" tanya Ghina kepada tiga orang rekan kerjanya.
"Oke Nona tidak masalah." jawab mereka bertiga dengan kompaknya.
Mereka berlima keluar dari markas dan masuk ke dalam mobil masing masing. Mereka bertiga sengaja tidak satu mobil karena ada keperluan masing masing setelah makan siang itu.
Mereka makan di salah satu restoran milik GA Grub. Hal itu mereka lakukan agar tidak ada orang orang yang mengenali mereka. Kalau mereka makan di restoran milik Ghina mereka bisa makan di ruangan pribadi Ghina.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan selama makan siang
"Om Alex udah punya pacar?" tanya Argha kepada Alex.
"Oh sama sekali belum ada Tuan Muda. Emang ada apa ya?" ujar Alex yang heran dengan pertanyaan dari Argha
"Kalau suka sama seseorang apakah ada?" lanjut Argha bertanya kembali.
"Kalau pertanyaannya suka memang ada yang disuka. Tapi" ujar Alex menggantung kalimatnya.
"Tapi takut mengungkapkan dan takut di tolak?" ujar Argha menebak lanjutan cerita dari Alex.
"Benar Tuan Muda." ujar Alex lagi.
"Apakah saya kenal orangnya?" tanya Argha lagi.
"Ya Tuan Muda kenal dekat dengan orangnya." ujar Alex menjawab pertanyaan dari Argha. Alex memang tidak pernah menyimpan rahasia apapun dari Argha maupun Ghina.
"Nah Argha juga tau kalau wanita itu juga memiliki perasaan yang sama dengan om Alex. Jadi tunggu apa lagi ungkapin aja pasti diterima kok ya." ujar Argha kembali.
"Tapi Gha?" ujar Alex.
"Nggak ada tapi tapi. Masak iya orang kepercayaab Bunda nomor satu pengecut seperti om Alex. Cemen mah." ujar Argha.
"Bener Gha. Om Alex cemen." ujar Juan menimpali.
"Kayak loe yang nggak aja." ujar Alex sambil memukul kepala Alex.
Mereka kembali melanjutkan makan siang yang merangkap makan sore itu. Selesai menyantap makan siang mereka. Mereka semua menuju tujuan masing masing. Ghina dan Argha langsung pulang karena Ghina akan masak makan malam mereka.
__ADS_1