
"Nyonya mari masuk" ujar sekretaris.
Sekretaris membuka pintu ruangan. Semua orang yang di dalam sudah menunggu Erlin Kw dengan hati membara. Mereka ingin sekali melihat bagaimana cerita yang dibawa oleh Erlin Kw dari luar.
Erlin berjalan masuk ke dalam ruangan. Dia menatap Papi dengan begitu lekat. Dia berusaha mencari momen momen kebersamaan dirinya dengan pria yang dikatakan oleh wanita yang sering kerumahnya kalau pria yang di depan dirinya sekarang ini adalah suaminya. Suami yang sama mengalami kecelakaan dengan dirinya.
"Sayang" panggil Erlin Kw.
Erlin Kw mengingat pesan Mami kalau bertemu Papi harus memanggil sayang. Mami lupa kalau ada panggilan spesial diantara Papi dengan istri pertamanya itu.
Papi hanya terdiam saja. Dari panggilan itu saja Papi sudah yakin kalau wanita di depannya ini bukanlah istrinya. Mana pernah Erlin memanggil dirinya dengan sapaan Sayang. Itu panggilan sewaktu mereka masih pacaran. Sedangkan saat sudah menikah panggilan itu berubah menjadi "Ye".
'Panggilan aja udah salah. Masih juga percaya diri' kata Papi dalam hatinya.
'Panggilan aja salah. Huft dasar Kw nggak tau diri' ujar Asisten Hendri sambil menatap tajam kearah Erlin.
Erlin menatap Papi dan Asisten Hendri secara bergantian. Erlin Kw berharap Papi langsung memeluk dirinya saat dia baru datang tadi. Ini jangankan memeluk Papi sama sekali tidak menatap dirinya. Papi masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Selamat siang Nyonya. Apa kabar Nyonya, sudah lama kita tidak bertemu semenjak kecelakaan itu." sapa Asisten Hendri dengan senyum palsunya.
Ghina dan Argha yang melihat semua kejadian dari komputer yang ada di ruang pribadi Papi menahan tawa geli mereka saat melihat wajah Asisten Hendri yang menahan emosinya.
"Sama sama Asisten Hendri. Saya juga sudah lama tidak bertemu Anda." kata Erlin dengan santai.
Erlin bersikap layaknya seseorang yang sudah kenal lama dengan kedua orang yang berada di depannya itu. Acting Erlin Kw patut diacungi jempol.
"Bunda, kalau ada penghargaan aktris terbaik, sepertinya Nenek Kw itu bisa jadi pemenangnya Bun. Dia benar benar menghayati perannya. Argha kasih dia empat jempol." kata Argha sambil mengangkat dua jempok tangannya dan dua jempok kakinya.
"Hahahahahaha. Bunda juga salut Gha dengan dia. Dia nggak ada takutnya sama sekali dengan Atuk dan Paman Hendri. Bunda jadi luar biasa ingin bermain dengan orang di belakangnya." kata Ghina sambil tersenyum devil. Argha sangat tau arti senyuman Bundanya yang seperti itu.
"Bun, Aku juga boleh ikut main ya. Masak Bunda main sendiri." kata Argha yang juga sangat ingin bermain.
"Tenang. Itu sudah pasti. Kita lihat aja jalan ceritanya seperti apa. Kalau Daddy kamu tau. Uwow pasti dia juga ingin bermain Gha." ujar Ghina.
"Pasti asik kalau kita bermain bertiga Gha. Keren itu Kapan ya Gha bisa main bertiga?" kata Ghina sambil membayangkan mereka bermain bertiga.
__ADS_1
"Bun fokus" ujar Argha yang meneriaki Bundanya agar fokus dengan masalah yang sekarang.
Papi masih terdiam, Papi menatap tidak percaya kepada wanita yang berada di depannya ini. Tatapan yang sebenarnya adalah tatapan muak Papi. Tapi Papi berusaha membuat tatapan itu menjadi tatapan ketidakpercayaan karena istrinya masih hidup.
"Sayang kenapa kamu diam? Apakah kamu kaget melihat aku masih hidup dan masih sehat?" tanya Erlin sambil mendekat ke arah Papi.
Erlin merangkul pundak Papi. Erlin melakukan semua itu karena menurut Mami, Erlin dulu sering berbuat seperti saat dia datang ke kantor.
Papi merasa risih dengan kelakuan Erlin Kw itu. Papi menatap Asisten Hendri. Asisten Hendri mencari akal bagaimana supaya wanita itu pindah dari sisi Papi.
"Nyonya, sepertinya Tuan mau membaca dokumen penting itu. Bagaimana kalau Nyonya duduk di sofa ini dulu." ujar Asisten Hendri dengan maksud supaya Erlin pindah duduk dan melepaskan rangkulannya.
"Tapi Asisten Hendri, Suamiku ini masih belum berbicara kepadaku. Aku kangen mendengar suaranya memanggil namaku." ujar Erlin Kw yang tidak mau berpindah duduk.
"Sayang, tolong berbicara kepadaku. Harisnya aku yang marah sama kamu karena kamu sudah menelantarkan aku. Kamu sudah tidak mencari aku. Ini kenapa kamu yang marah sama aku. Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Erlin Kw sambil menatap Papi.
Papi makin jengah dengan wanita yang satu ini. Papi benar benar sudah marah. Sedangkan Ghina dan Argha geram dengan tingkah wanita itu.
"Sayang, tolong sapa aku sayang. Aku kangen mendengar suara Mu. Aku benar benar rindu sayang." kata Erlin Kw merayu Papi.
"Nyonya, Anda sudah melampaui batas Anda." kata Asisten Hendri dengan menatap tajam wanita yang ngakunya bernama Erlin.
"Hay Asisten yang nggak tau diuntung. Saya ini istri sah dari Tuan besar kamu. Kamu berani beraninya menghardik saya." teriak Erlin Kw dengan begitu kerasnya.
"Oh saya berhak berkata kasar kepada Anda karena Anda bukan siapa siapa." ujar Hendri tak kalah sengitnya.
Erlin Kw mengangkat tangannya hendak menampar asisten Hendri. Asisten Hendri dengan cepat menahan tangan wanita itu.
"Stop. Jangan pernah kamu menampar asisten Saya. Kamu bukan siapa siapa." kata Papi sambil menatap tajam ke arah Erlin.
"Maksud kamu siapa sayang? Kamu tidak mengenaliku lagi? Aku ini istrimu." ujar Erlin kw sambil berlinang air mata.
"Istriku sudah lama meninggal." kata Papi dengan dinginnya.
"Tidak sayang, aku istrimu. Aku tidak meninggal dalam kecelakaan itu. Percaya sama aku sayang." ujar Erlin sambil menuju ke arah Papi.
__ADS_1
Papi melangkah mundur. Dia sudah tidak sudi lagi di pegang oleh Erlin.
Sedangkan Mami yang mendengar semua percakapan antara Papi, Erlin Kw dan juga Asisten Hendri sudah merasakan aroma kegagalan dalam rencananya yang ini.
"Aku harus pakai plan B." ujar Mami.
Mami kemudian menghubungi anak buahnya yang sudah disewa itu.
"Hallo, culik wanita itu sekarang juga." kata Mami memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Siap Nyonya. Akan kami culik. Setelah kami berhasil menculik dia, kami akan membawa wanita itu ke gedung tua pelabuhan." jawab orang suruhan Mami.
"Oke. Nanti saya akan kesana. Ingat satu hal, saya tidak menerima kegagalan." kata Mami dengan tajam.
"Itu urusan kami. Nyonya tinggal menyiapkan pelunasan uangnya." kata orang suruhan itu.
"Itu masalah gampang. Saya akan mentransfer sisa pembayaran saat penculikan itu telah berhasil."
Mami kemudian memutus sambungan telponnya. Dia tidak menyangka Andra Soepomo akan dengan mudah mengenali kalau yang dihadapannya bukanlah Erlin Asli.
"Sial, kenapa bisa kayak gini. Huf." ujar Mami sambil memukul kursi taksi onkine yang ditumpanginya.
"Maaf Nyonya dilarang merusak barang yang ada di mobil." tegur sopir taksi online.
"Maaf" jawab Mami dengan dinginnya
...****************...
**Kakak kakak pembaca, Saya mengucapkan terimakasih banget kepada Kakak kakak yang sudah tetap setia dengan novel saya ini.
Saya mengucapka. terimakasih atas semua dukungan kakak kakak terhadap karya saya ini.
karya receh yang saya harap dapat menghibur hati kakak kakak.
Sekali lagi makasih banyak kakak kakak semua**
__ADS_1