
Juan masih melanjutkan sandiwaranya yang berpura pura menjadi sopir keluarga Edwardo. Sedangkan Frenya masih juga belum menyadari kalau dia sekarang sedang disopiri suaminya itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Juan berbelok masuk ke dalam mansion utama keluarga Edwardo. Juan memberhentikan mobil tepat di depan pintu masuk mansion. Daddy dan Nana terlihat sudah duduk di teras dengan Daniel dan Rani.
"Nana" teriak Frenya yang langsung memeluk Nana.
"Lebay baru juga pergi dua hari sudah langsung main peluk Nana. Sedangkan itu dibiarin nya aja nganggur dari tadi. Mana udah nggak ketemu selama satu bulan lagi" ujar Argha yang membuat Frenya sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Argha kepada dirinya.
"Maksudnya?" ujar Frenya yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Argha.
"Bener bener lah kamu Uni, masak nggak kenal sama dia" ujar Argha sambil menunjuk ke arah sopir yang tadi menjemput mereka ke bandara.
Frenya menatap lama sopir tersebut. Frenya memperhatikan semuanya, walaupun sopir itu memakai kacamata dan masker, setelah Argha mengatakan hal itu Frenya langsung tau dari bodynya.
"Sayang" ujar Frenya berlari memeluk Juan yang dari tadi sudah susah menahan senyumannya karena Frenya sama sekali tidak mengenali dirinya.
"Aku kangen sayang" ujar Frenya yang langsung menangis dalam pelukan Juan.
"Hay kenapa nangis?" tanya Juan saat melihat Frenya yang langsung menangis dalam pelukan Juan.
"Nggak tau. Aku mendadak aja jadi cengeng seperti ini. Ntah apa yang terjadi. Aku juga tidak mengerti" ujar Frenya kepada Juan.
"Aku mendadak menjadi melankolis banget sudah beberapa bulan ke belakang ini" kata Frenya masih memeluk Juan.
Rani menyimak pembicaraan antara Frenya dan Argha. Hal yang sama juga dilakukan oleh Daniel.
"Sayang, coba tes" ujar Daniel kepada Rani.
Rani mengangguk, mereka berdua menyimpulkan hal yang sama walaupun mereka berdua tidak dokter spesialis kandungan.
"Hay tadi nggak kenal, sekarang main peluk peluk dan tangis tangis. Jangan hapus kesalahan dengan main peluk pelukan aja dan pake drama tangis tangis" ujar Argha mengejek tingkah Frenya yang dinilai oleh Argha sedikit lebay.
"Iri bilang bos. Makanya nikah biar ada yang bisa di peluk" ujar Frenya membalas ejekan dari Argha.
__ADS_1
"Frenya, ikut aku yok Nya." ujar Rani mengajak Frenya untuk mengikuti dia ke dalam mansion utama.
"Ada apa?" tanya Frenya menatap serius ke Rani.
"Nggak ada apa apa. Ikut ajalah dulu." kata Rani menegaskan sekali lagi kepada Frenya untuk mengikuti dirinya tanpa banyak bertanya lagi.
"Oh oke. Aku akan ikut kamu" jawab Frenya yang setuju untuk mengikuti Rani ke dalam mansion.
Rani membawa Frenya ke dalam kamar dirinya dan Daniel. Frenya menatap lama ke arah Rani.
"Kenapa ke sini Rani?" tanya Frenya sambil menatap ke arah Rani.
"Jadi, gini Frenya, tadi kami memperhatikan kamu dan Juan serta mendengar apa yang kamu katakan kepada Juan. Kamu mengatakan kalau kamu sering merasa sedih dan terlalu sensitif dalam beberapa bulan terakhir." ujar Rani mulai menjelaskan kepada Frenya kenapa dirinya membawa Frenya ke dalam kamar Rani dan Daniel.
"Kami berdua menyimpulkan kalau Frenya sedang hamil. Apakah aku bisa mengetesnya?" tanya Rani dengan sangat pelan kepada Frenya.
Rani takut kalau Frenya akan tersinggung karena ucapannya kepada Frenya, jadi Rani berusaha memilih kata kata yang tidak akan menyinggung perasaan Frenya yang sangat sangat sensitif akhir akhir ini.
"Boleh. Aku juga merasa kalau keadaan fisik aku beberapa bulan kebelakang ini lemah. Apalagi aku sudah dua bulan tidak datang bulan" ujar Frenya memberitahukan kepada Rani.
"Oh baiklah mari kita tes. Semoga saja hasilnya memang menyatakan kalau kamu benar benar sedang isi Frenya" ujar Rani sambil berjalan menuju laci meja rias nya.
Rani mengambil sebuah alat untuk melakukan tes terhadap kehamilan Frenya. Rani berharap hasil tes itu menunjukkan garis dua, sehingga apa yang diharapkan oleh Frenya dan Juan menjadi kenyataan.
"Frenya ini" ujar Rani memberikan alat tes kepada Frenya.
"Kamu tes sekarang ya" ujar Rani meminta Frenya untuk melakukan tes ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Frenya masuk ke dalam kamar mandi. Dia melakukan tes seperti yang diminta oleh Rani. Frenya kemudian keluar dari sana setelah melakukan tes tersebut.
"Rani" ujar Frenya memberikan hasil tesnya kepada Rani.
Rani kemudian membaca hasil tes itu. Rani dengan sangat bahagia memeluk Frenya dan meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kita harus pastikan ke rumah sakit sekarang juga" ujar Rani kepada Frenya.
Rani hendak berlari keluar kamar. Tetapi Frenya mencegahnya.
"Kenapa?" tanya Rani yang tidak mengerti kenapa dirinya di tahan oleh Frenya untuk keluar.
"Mau ngomong apa sampe di luar. Mau ngomong aku hamil? Nggak asik." ujar Frenya mencegah Rani untuk langsung mengatakan hal itu kepada keluarganya.
"Jadi mau gimana?" tanya Rani kepada Frenya.
"Katakan saja kalau kita harus segera ke rumah sakit membuktikan keadaan aku" ujar Rani kepada Frenya.
"Oke kalau gitu. Mari kita ke sana dan mengatakan hal itu" ujar Rani mengajak Frenya untuk menuju keluarga besar mereka yang sedang duduk di ruang keluarga.
Rani dan Frenya kemudian berjalan menuju ruang keluarga. Mereka akan menyampaikan kepada keluarga besarnya tentang kabar gembira ini tetapi harus dipastikan dulu ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
"Baiklah mari kita ke luar" ujar Frenya menyetujui mereka untuk menuju ruang keluarga dan menyampaikan kabar bahagia itu kepada keluarga besar mereka.
Frenya dan Rani kemudian duduk di dekat keluarga besar mereka. Frenya dan Rani akan memberitahukan kepada keluarga besar mereka kalau mereka ada berita bahagia yang akan disampaikan.
"Sayang gimana?" ujar Daniel yang lebih penasaran dibandingkan Juan.
"Sayang kok jadi kamu yang super duper penasaran?" tanya Rani kepada suaminya yang super mendesak itu.
"Iyalah sayang. Aku sudah tidak sabar lagi untuk mendengar berita hangatnya itu" ujar Daniel sambil menatap ke arah istri kesayangannya.
"Haha haha. Sabar sabar sayang" jawab Rani sambil menatap ke arah Daniel.
Daniel sudah mengerti apa yang terjadi dengan Frenya dari cara berbicara Rani.
Juan menatap lama ke arah Frenya. Frenya tersenyum kepada Juan.
"Kita ke rumah sakit sekarang Daddy, Nana" ujar Juan mengajak ke dua orang tua dan keluarganya menuju rumah sakit.
__ADS_1
Daniel mengambil ponsel miliknya, dia akan langsung menghubungi management rumah sakit untuk meminta dokter masuk kerja hari ini ke rumah sakit.
Argha telah meminta dua mobil untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Hari ini keluarga Soepomo akan menunggu berita bahagia yang akan mereka Terima sebentar lagi.