
Ghina pagi ini bangun paling duluan, dia langsung turun ke dapur untuk memasak menu sarapan yang sudah sangat lama tidak dikerjakannya. Ghina sangat rindu dengan dapur yang telah di rombak Aris sesuai dengan keinginannya.
Ghina hari ini berencana mau membuat nasi uduk, mie hun goreng, telur balado, sambal goreng kentang dan kerupuk udang serta acar yang tidak boleh dilupakan.
Ghina mengeluarkan semua bumbu bumbu yang akan dicampurnya menjadi bumbu nasi uduk. Ghina menggiling semua bumbu dengan tangan. Dia sama sekali tidak pernah menggunakan mesin penghalus untuk membuat bumbu masakan. Makanya setiap masakan yang dibuat oleh Ghina sangat enak dan berbeda dengan buatan orang lain.
"Pagi Bunda cantik." ujar Frenya sambil mencuri ciuman pagi Bundanya.
"Pagi juga cantik, tumben udah turun?" tanya Ghina sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.
"Tadinya pengen ngambil air minum, kiranya nampak seseorang yang udah lama dirindukan masakannya sedang bergelut di dapur, ya udah langsung singgah aja. Kangen juga masak bareng Bunda." ujar Frenya sambil mengambil pisau dan memotong buah mentimun serta wortel untuk dijadikan acar.
Bunda dan Anak gadis itu sibuk membuat berbagai makanan untuk sarapan. Bik Ima yang rencananya akan memasak kembali menuju bagian belakang rumah untuk mengambil sapu. Bik Ima akan melanjutkan bersih bersih rumah, karena yang membuat sarapan adalah Nyonya rumah.
Setelah selesai semuanya Ghina dan Frenya kembali ke kamar mereka untuk membersihkan diri dan menjalankan kewajiban mereka.
"Sayang bangun." ujar Ghina membangunkan suaminya yang masih terlelap itu.
Cup. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Aris. Aris yang sebenarnya sudah bangun dari tadi langsung memeluk tubuh istrinya.
"Sayang pengen." ujar Aris.
"Hahahaha. Udah jam enam lewat. Pengen ke ujung??? Bentar lagi bontot pasti masuk kamar." ujar Ghina.
"Bener juga, dari pada nahan sakit kepala ke ujung mending nggak sama sekali sayang. Tapi malam nanti oke ya." ujar Aris membujuk istrinya itu
Aris bener bener udah kangen dengan sentuhan istrinya. Sudah terlalu lama mereka tidak olahraga ranjang, terhitung semenjak persiapan pesta pernikahan Bram sampai dengan kejadian tabrakan Sari.
Aris masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sedangkan Ghina menyiapkan pakaian kantor suaminya. Ghina hari ini berencana akan menemani Argha seharian penuh. Dia sudah terlalu lama tidak melayani anak bungsunya itu.
Setelah selesai mengambilkan semua kebutuhan Aris.
"Sayang, aku lihat bontot dulu ya." ujar Ghina berteriak di depan kamar Aris.
"Oke sayang. Pakaian aku di tempat biasakan ya?" tanya Aris dari dalam kamar mandi.
"Udah sayang, ditempat biasa." jawab Ghina.
Ghina keluar kamar menuju kamar sebelah. Ghina ingin melihat apakah bocah bontotnya sudah selesai bersiap siap atau sama sekali masih belum bangun dari tidur lelapnya.
Ghina membuka pintu kamar anaknya, dia melihat ternyata Argha sudah memakai pakaian sekolahnya. Dia terlihat sedang bersiap siap.
"Bunda kira kamu belum siap sayang." ujar Ghina sambil merapikan dasi Argha.
"Sudah Bunda. Argha sekarang harus mandiri." ujar Argha menjawab pertanyaan Ghina.
"Oh ya, Argha hari ini Bunda yang ngantar ya. Bunda juga yang jemput. Setelah itu kita ke mall. Pokoknya sehari ini kita main berdua." kata Ghina sambil memakaian sepatu Argha.
"Serius Bunda? Hari ini seharian Bunda sama Argha?" tanya Argha dengan mata berbinar binar karena bahagia seharian akan main dengan Bundanya.
__ADS_1
"Serius sayang Bunda. Bunda hari ini akan main dengan kamu seharian. Kita qualyti time berdua." ujar Ghina meyakinkan Argha.
"Yes. Argha bahagia. Argha mau main ke mall. Makan makan dengan Bunda. Kita bawa Daddy ya Bunda." ujar Argha dengan semangat.
"Kamu yang tanya Daddy ya. Tapi ada satu perjanjian." ujar Ghina kepada Argha.
"Apa Bun?" tanya Argha penasaran.
"Kita tidak akan bercerita ke Papi Bram, Argha tau kan kenapa?" tanya Ghina kepada Argha.
"Tau Bunda. Argga nggak akan ngomong apapun dan kesiapapun. Ini akan menjadi rahasia kita bertiga." ujar Argha sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Ghina mengaitkan jari kelingking dirinya dengan jari kelingking Argha. Mereka menyatakan perjanjian untuk tidak bercerita kesiapapun acara mereka hari ini.
"Nah sudsh rapi, ayuk kita sarapan." ujar Ghina.
Ghina membawakan tas sekolah Argha. Mereka keluar dari kamar Argha menuju kamar Daddy.
"Daddy" teriak Argha memanggil Aris.
"Au kenata toa pasar pindah ke kamar Daddy ya." ujar Aris yang protes dengan teriakan Argha.
"Hehehehe. Jadi nanti Bunda akan main dengan Argha. Daddy juga ikut ya." ujar Argha mengajak Aris untuk bermain bersama mereka.
"Oke sip. Nanti Daddy akan minta om Bayu memgurus semua urusan sekolah." ujar Aris mengiyakan permintaan Argha.
Ghina pagi ini bangun paling duluan, dia langsung turun ke dapur untuk memasak menu sarapan yang sudah sangat lama tidak dikerjakannya. Ghina sangat rindu dengan dapur yang telah di rombak Aris sesuai dengan keinginannya.
Ghina hari ini berencana mau membuat nasi uduk, mie hun goreng, telur balado, sambal goreng kentang dan kerupuk udang serta acar yang tidak boleh dilupakan.
Ghina mengeluarkan semua bumbu bumbu yang akan dicampurnya menjadi bumbu nasi uduk. Ghina menggiling semua bumbu dengan tangan. Dia sama sekali tidak pernah menggunakan mesin penghalus untuk membuat bumbu masakan. Makanya setiap masakan yang dibuat oleh Ghina sangat enak dan berbeda dengan buatan orang lain.
"Pagi Bunda cantik." ujar Frenya sambil mencuri ciuman pagi Bundanya.
"Pagi juga cantik, tumben udah turun?" tanya Ghina sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.
"Tadinya pengen ngambil air minum, kiranya nampak seseorang yang udah lama dirindukan masakannya sedang bergelut di dapur, ya udah langsung singgah aja. Kangen juga masak bareng Bunda." ujar Frenya sambil mengambil pisau dan memotong buah mentimun serta wortel untuk dijadikan acar.
Bunda dan Anak gadis itu sibuk membuat berbagai makanan untuk sarapan. Bik Ima yang rencananya akan memasak kembali menuju bagian belakang rumah untuk mengambil sapu. Bik Ima akan melanjutkan bersih bersih rumah, karena yang membuat sarapan adalah Nyonya rumah.
Setelah selesai semuanya Ghina dan Frenya kembali ke kamar mereka untuk membersihkan diri dan menjalankan kewajiban mereka.
"Sayang bangun." ujar Ghina membangunkan suaminya yang masih terlelap itu.
Cup. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Aris. Aris yang sebenarnya sudah bangun dari tadi langsung memeluk tubuh istrinya.
"Sayang pengen." ujar Aris.
"Hahahaha. Udah jam enam lewat. Pengen ke ujung??? Bentar lagi bontot pasti masuk kamar." ujar Ghina.
__ADS_1
"Bener juga, dari pada nahan sakit kepala ke ujung mending nggak sama sekali sayang. Tapi malam nanti oke ya." ujar Aris membujuk istrinya itu
Aris bener bener udah kangen dengan sentuhan istrinya. Sudah terlalu lama mereka tidak olahraga ranjang, terhitung semenjak persiapan pesta pernikahan Bram sampai dengan kejadian tabrakan Sari.
Aris masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sedangkan Ghina menyiapkan pakaian kantor suaminya. Ghina hari ini berencana akan menemani Argha seharian penuh. Dia sudah terlalu lama tidak melayani anak bungsunya itu.
Setelah selesai mengambilkan semua kebutuhan Aris.
"Sayang, aku lihat bontot dulu ya." ujar Ghina berteriak di depan kamar Aris.
"Oke sayang. Pakaian aku di tempat biasakan ya?" tanya Aris dari dalam kamar mandi.
"Udah sayang, ditempat biasa." jawab Ghina.
Ghina keluar kamar menuju kamar sebelah. Ghina ingin melihat apakah bocah bontotnya sudah selesai bersiap siap atau sama sekali masih belum bangun dari tidur lelapnya.
Ghina membuka pintu kamar anaknya, dia melihat ternyata Argha sudah memakai pakaian sekolahnya. Dia terlihat sedang bersiap siap.
"Bunda kira kamu belum siap sayang." ujar Ghina sambil merapikan dasi Argha.
"Sudah Bunda. Argha sekarang harus mandiri." ujar Argha menjawab pertanyaan Ghina.
"Oh ya, Argha hari ini Bunda yang ngantar ya. Bunda juga yang jemput. Setelah itu kita ke mall. Pokoknya sehari ini kita main berdua." kata Ghina sambil memakaian sepatu Argha.
"Serius Bunda? Hari ini seharian Bunda sama Argha?" tanya Argha dengan mata berbinar binar karena bahagia seharian akan main dengan Bundanya.
"Serius sayang Bunda. Bunda hari ini akan main dengan kamu seharian. Kita qualyti time berdua." ujar Ghina meyakinkan Argha.
"Yes. Argha bahagia. Argha mau main ke mall. Makan makan dengan Bunda. Kita bawa Daddy ya Bunda." ujar Argha dengan semangat.
"Kamu yang tanya Daddy ya. Tapi ada satu perjanjian." ujar Ghina kepada Argha.
"Apa Bun?" tanya Argha penasaran.
"Kita tidak akan bercerita ke Papi Bram, Argha tau kan kenapa?" tanya Ghina kepada Argha.
"Tau Bunda. Argga nggak akan ngomong apapun dan kesiapapun. Ini akan menjadi rahasia kita bertiga." ujar Argha sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Ghina mengaitkan jari kelingking dirinya dengan jari kelingking Argha. Mereka menyatakan perjanjian untuk tidak bercerita kesiapapun acara mereka hari ini.
"Nah sudsh rapi, ayuk kita sarapan." ujar Ghina.
Ghina membawakan tas sekolah Argha. Mereka keluar dari kamar Argha menuju kamar Daddy.
"Daddy" teriak Argha memanggil Aris.
"Au kenata toa pasar pindah ke kamar Daddy ya." ujar Aris yang protes dengan teriakan Argha.
"Hehehehe. Jadi nanti Bunda akan main dengan Argha. Daddy juga ikut ya." ujar Argha mengajak Aris untuk bermain bersama mereka.
__ADS_1
"Oke sip. Nanti Daddy akan minta om Bayu mengurus semua urusan sekolah." ujar Aris mengiyakan permintaan Argha.
"Yes. Argha suka Daddy. Makasi Daddy paling tampan." ujar Argha sambil memeluk Daddynya.