Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
F. BACK ARGA BREE


__ADS_3

"Bun, Arga aku bawa ke rumah sakit ya Bun." ujar Daniel kepada Gina saat mereka selesai sarapan.


"Ada perlu apa Niel?" Aris yang menjawab pertanyaan dari Daniel.


"Aku ada sedikit kerja Dad. Kalau bawa Arga jadi ada alasan untuk cepat pulang." ujar Daniel menjawab pertanyaan Daddynya. 'Maafkan aku Dad terpaksa membohongi Daddy.' kata Daniel dalam hatinya.


"Oh baiklah, jaga adik kamu baik baik." ujar Aris.


Setelah semua orang pergi kantor. Arga sibuk bermain.


"Niel, Bunda mau bicara dengan kamu." ujar Gina sambil duduk di dekat Arga bermain lego.


"Ada apa Bun?" ujar Daniel.


"Bunda tau kamu sedang, nggak tau Bunda apa namanya. Terpenting kamu sedang ya gitulah Niel. Bunda bener bener berharap kamu menolong Arga. Bunda tau ada sesuatu yang terjadi kepada Arga." ucap Gina yang sangat susah menyusun kata katanya.


"Bun" ujar Daniel sambil menatap Gina.


"Bunda serius Niel. Tolong bantu Arga. Bunda bisa kuat menolong yang lain. Tapi melihat Arga, Bunda bener bener menyerah Neil." ucap Gina kembali.


"Bunda tenang saja. Aku akan bantu Arga." ujar Daniel.


"Terimakasih Niel." ucap Gina dengan tulus.


"Bun. Aku anak mu, tidak pantas menerima ucapan terimakasih. Kalau tidak ada Bunda, aku nggak tau akan jadi apa sekarang. Jadi jangan pernah mengucapkan terimakasih Bun." ujar Daniel.


Gina memeluk putra pertamanya itu dengan penuh kebanggaan.


Mereka kemudian bermain dengan Arga. Daniel dan Arga bermain sepak bola. Tetapi dadar nya Arga, setiap bola terlempar jauh dari dirinya, dia tidak mau pergi mengambil. Arga akan menyuruh pengawal atau siapapun yang berada di dekat dirinya.


Mereka bermain sampai jam makan siang. Gina dan kedua putranya makan siang bersama. Setelah itu Gina menyiapkan rantang yang berisi makan siang untuk dokter Rani yang akan membantu Daniel dalam mentrapi Arga.


"Kamu beneran nggak malu Niel, membawa rantang ini ke rumah sakit?" tanya Gina meyakinkan Daniel yanh memiliki niat membawa makan siang untuk Rani.


"Ngapain malu Bun. Aku kan nggak nyuri." jawab Daniel sambil mengambil rantang yang sudah ada di meja teras rumah.


Daniel dan Arga kemudian pergi menuju rumah sakit. Hari ini adalah hari pertama Arga akan terapi dengan dokter Rani.


.


.


.


Dua pria tampan keturunan Aris Soepomo berjalan dengan dinginnya sepanjang rumah sakit. Seluruh pengunjung menatap mereka berdua. Apalagi mereka menatap heran ke arah Daniel yang terlihat membawa rantang makanan. Danirl dan Arga santai saja. Seperti tidak ada yang terjadi. Mereka bersikap sangat acuh dengan lingkungan sekitar.


Tidak terasa mereka berdua akhirnya sampai di depan ruang praktek dokter Rani. Daniel mengetuk pintu ruangan. Arga yang melihat melakukan hal yang sama dengan Daniel. Daniel memberikan senyumnya kepada Arga. Arga membalas senyum Daniel.


Dokter Rani yang mendengar suara ketukan pintu, beranjak untuk membukakan pintu. Dia sudah tau siapa yang akan datang sekarang. Dia sudah menanti dua pemuda tampan itu dari tadi.


"Silahkan masuk." ujar dokter Rani.


"Apakah kami terlambat?" tanya Daniel sambil tersenyum kepada dokter Rani.


Dokter Rani yang mendapatkan senyuman dari dokter Daniel langsung membeku tak berdaya. Sangat jarang orang mendapatkan senyuman dari dokter Daniel. Dokter Rani termasuk salah seorang yang beruntung mendapatkannya.


Daniel yang melihat Rani terbengong langsung berdehem, seketika membuat Rani sadar dengan kebodohannya tadi.


"Maaf" ujar Rani sambil tersipu malu.


"Oh tidak apa apa." jawab Daniel.


"Apakah di sini ada piring Ran?"


"Ada Niel, tapi untuk apa ya?" tanya dokter Rani yang tidak paham kepada Daniel yang tiba tiba meminjam piring.


Daniel menunjuk rantang yang tadi di bawa dari rumah.


"Bunda nyiapin bekal makan siang untuk dokter Rani. Kata Bunda terimakasih karena sudah mau membantu Arga. Nanti uang sekolahnya di transfer Bunda." ujar Daniel dengan menambah nambahkan.


"Bilang Bunda terimakasih atas bekal makan siangnya. Tapi untuk uang sekolah aku nggak mau. Aku tulus mau bantu Arga." ujar Rani sambil menatap ke Arga yang sudah sibuk dengan mainan.


Rani kemudian mengambil piring dan air mineral. Rani mengisi satu piring dengan menu makan siang dari Bunda dan diletakan di depan Daniel.


"Oh aku sudah makan. Ini khusus buat dokter cantik Arga." ujar Daniel yang sengaja menggoda dokter Rani. (Daniel bener bener memalukan saat menggoda perempuan.)


"Oh baiklah aku akan makan." jawab dokter Rani yang langsung menyuap makanannya ke dalam mulut.


Dia makan dengan agak cepat. Takut nanti Arga yang kelamaan nunggu menjadi bosan sendirian.


"Santai aja makannya. Nggak ada yang akan meminta." ujar Daniel yang melihat Rani makan dengan sangat super kilat.


"Kasian Arga. Aku takut dia kehilangan moodnya." jawab Rani sambil menyelesaikan makannya.


"Oh ya nanti kalau Arga rewel minta pertolongan dari kamu saat dia terapi, aku harap kamu mau keluar ya." ujar Rani menerangkan kepada Daniel.


"Oke tak masalah. Aku akan nunggu di kursi tunggu depan ruangan kamu." jawab Daniel.

__ADS_1


Rani mendekati Arga yang sedang sibuk dengan mainannya.


"Hay ganteng kakak. Boleh kakak tanya sesuatu?" tanya Rani kepada Arga.


Arga membalas dengan anggukan kepalanya.


"Kalau Daniel keluar dari ruangan dan hanya tinggal kita berdua, apakah Arga mau tetap di sini?" tanya Rani sambil menatap Arga.


Arga mengangguk tanda memperbolehkan Daniel untuk keluar dari ruangan Rani. Daniel yang melihat Arga mengangguk langsung keluar. Dia akan menunggu Arga di kursi tunggu saja.


"Kalau tau gini mending tadi bawa laptop. Jadi bisa sambil kerja." ujar Daniel yang terpaksa harus memainkan ponselnya saat menunggu Arga selesai terapi.


"Arga duduk di sini ya." ujar Rani sambil mendudukan Arga di sebuah kersi dengan meja yang berlobang setengah lingkaran untuk mengunci badan Arga supaya tidak beranjak dari kursinya.


"Nah Kakak punya biji kacang hijau" kata Rani sambil memperlihatkan kacang hijau miliknya kepada Arga.


"Ini yang dinamakan dengan kacang hijau. Tau Arga ini dibuat makanan akan sangat enak dan sangat bergizi." kata Rani sambil memperlihatkan kacang hijau yang ada di dalam sebuah piring.


"Sedangkan yang ini namanya pingset ya. Nah Arga harus perhatikan apa yang Kakak lakukan ya." ujar dokter Rina kepada Arga.


Arga memperhatikan apa yang dilakukan oleh dokter Rani dengan begitu serius. Setelah diyakin Arga paham oleh dokter Rani. Dokter Rani berhenti menjepit kacang hijau dan memindahkannya.


"Sekarang giliran Arga." kata Rani.


Arga mengambil jepitan yang diberikan oleh dokter Rani. Arga yang tipe anak tidak suka hal hal penuh kesabaran seperti ini, menjepit kacang hijau dengan keras. Hal ini membuat setiap kacang hijau yang dijepit akan langsung lepas. Rona muka Arga menjadi merah seperti kepiting rebus. Arga sudah terlihat mulai emosi.


"Arga sabar. Nggak boleh marah. Arga harus bersabar agar bisa memindahkan kacang hijaunya.' ujar Rani yang melihat Arga meletakan jepitannya.


Arga menunjuk mainan yang dari tadi dimainkannya.


"Oke Arga mau main itukan. Nah setelah lima buah kacang hijau Arga pindahin. Arga boleh main." kata dokter Rani.


Arga kembali serius dengan kacang hijau yang ada di dalam piringnya. Dokter Rani sudah mengurangi jumlah kacang hijau yang berada di dalam piring.


Setalah berjuang dengan lama dan menahan hatinya. Arga bisa memindahkan satu buah kacang hijau. Rani yang melihat itu langsung bertepuk tangan, Arga juga bertepuk tangan saat melihat Rani melakukan itu.


"Arga pintar. Nah karena Arga sabar, Arga bisa kan memindahkannya. Sekarang empat lagi. Ayo Arga, Arga pasti bisa." ujar Rani sambil memberikan Arga empat buah jempolnya.


Arga kembali melanjutkan apa yang diminta oleh Rani. Arga kembali serius dengan semua itu. Dalam waktu tiga puluh menit Arga baru bisa menyelesaikan memindahkan kelima biji kacang hijau.


"Nah ini mainannya. Arga boleh bermain." ujar Rani.


Rani kemudian membuka pintu ruangannya. Daniel masuk kembali ke dalam ruangan.


"Gimana?" ujar Daniel.


"Dikit. Boleh minta daftarnya?" tanya Daniel yang memang kurang paham dengan hal itu.


Rani berjalan kemejanya. Dia mengambil selembar kertas yang berisi makanan dan buah yang boleh dan tidak boleh untuk Arga.


Daniel membaca semua tulisan di kertas itu.


"Terimakasih. Jadi tadi Arga bagaimana?"


"Untuk konsentrasi dan kesabaran sangat membutuhkan waktu. Tadi aja mindahin kacang hijau itu, luar biasa dia pengen marah. Beberapa kali piringnya di tulungkupin agar kacang hijau pindah ke meja. Nah, setelah diberi pengertian Arga baru mau berusaha. Tapi tetap dengan emosi yang tinggi." papar Rani.


"Saat itu dia sangat ingin bermain mainan yang sedang dimainkannya itu." kata Rani sambil menunjuk mainan yang sedang dimainkan Arga.


"Aku bilang aja, kalau mau main itu, Arga harus bisa memindahkan lima biji kacang hijau. Akhirnya dengan sedikit pemaksaan dia bisa memindahkan biji kacang hijau dalam waktu tiga puluh menit." kata Rani sambil memberikan jempolnya kepada Arga.


Arga berusaha memberikan jempolnya kepada Rani. Tapi dia tidak bisa. Rani berjalan ke arah Arga dan mengajarkan caranya memberikan jempol.


Rani mengajarkan selama sepuluh menit akhirnya berkat perjuangan Arga sendiri, dia bisa memberikan jempolnya kepada Rani dan Daniel.


"Sepertinya udah sore, kami permisi pulang dulu Ran." ujar Daniel yang melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Sip. Besok datang lagi ya." ujar Rani.


"Oke. Aku akan terus bawa Arga untuk terapi dengan dirimu." ujar Daniel.


"Arga sini duduk di kursi nya lagi. Kita akan berdoa di akhir pelajaran." ujar Rani.


Arga duduk kembali di kursinya. Rani mengangkat ke dua tangannya ke depan mukanya. Arga melakukan hal yang sama. Sedangkan Daniel yang hanya melihat saja membuat Arga emosi. Arga kembali berdiri. Dia menuju arah Daniel. Arga mengangkat kedua tangan Daniel menyuruh Daniel juga berdoa.


Setelah Daniel mengangkat kedua tangannya. Arga kembali duduk di kursinya. Dia kembali mengakat tangannya. Rani memimpin membacakan doa penutup pelajaran. Diakhir doa Rani mengucapkan kata Aamiin. Arga spontan mengulangi.


"Min" ucap Arga sambil mengusapkan kedua tangannya ke mukanya sendiri.


Rani dan Daniel yang mendengar Arga mengucap kata Aamiin memberikan kedua jempol mereka untuk Arga. Arga langsung bertepuk.tangan bahagia karena dapat empat buah jempol.


Selesai berdoa mereka bertiga langsung berjalan bersama menuju mobil. Arga berjalan ditengah tengah antara Daniel dan Rani. Mereka seperti satu keluarga yang berbahagia


"Jadi itu calon istri dokter Daniel. Cantiknya." uajr salah seorang pengunjung.


"Pantesan dokter Daniel tidak melirik dokter lain. Ternyata calon istrinya cantik sekali." ujar yang lain.


Dokter Rani langsung malu mendengar apa yang dikatakan pengunjung. Dia kemudian memperlambat jalannya agar tidak sejajar dengan Daniel dan Arga.

__ADS_1


Daniel yang melihat itu langsung kembali menuju dokter Rani. Dia menggandeng tangan dokter Rani.


"Jangan dengarkan mereka. Berjalan saja terus disisiku." ucap Daniel.


Mereka kembali berjalan bertiga. Dokter Rani harus membiasakan dirinya mulai saat ini. Membiasakan dirinya dengan tatapan tajam para dokter dan suster serta pengunjung rumah sakit.


"Wah belum lagi aku kasih pengumuman siapa kamu mereka sudah natap seperti itu. Apalagi kalau udah aku kasih ya. Mereka pasti akan lebih mengerikan Menatap kamu." kata Daniel.


"Maksud kamu?" tanya Rani yang penasaran dengan kata kata yang diucapkan Daniel.


"Nggak pikir sendiri aja." jawan Daniel sambil tersenyum.


Tak terasa mereka sudah sampai di parkiran. Mereka berpisah di sana. Daniel menujur parkiran ditektur yang berbeda letak dengan parkiran dokter biasa.


Rani masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobil itu, Daniel dan Arga mengiringi mobil Rani. Mereka berdua mengantarkan Rani sampai ke rumahnya. Rani yang melihat mobilnya diikuti oleh Daniel merasa sangat senang, karena Daniel mengantarkannya pulang. Hati Rani terasa terbang melayang.


"Hay hati jangan berharap lebih. Kalian sangat jauh berbeda." ujar Rani sambil menentramkan kembali perasaannya.


Setelah memastikan mobil Rani masuk kedalam perkarangan rumahnya, barulah Daniel mengambil jalan pulang. Arga jangan ditanya dia sudah tertidur akibat lelah berkonsentrasi saat terapi tadi.


.


.


.


Mereka akhirnya sampai di rumah utama. Gina dan Frenya sudah duduk di kursi teras. Daniel kemudian menggendong Arga.


"Tumben?" tanya Gina.


"Kelelahan Bun" jawab Daniel sambil memberikan Arga kepada pengawalnya untuk membawa Arga ke kamar.


"Gimana tadi Niel?" tanya Gina yang sudah penasaran.


"Ternyata Arga menderita autis Bun. Tapi kata dokret Rani itu bisa diobati dengan cara terapi dan tidak memakan jenis jenis makanan tertentu." ujar Daniel sambil memberikan kertas yang diberikan dokter Rani.


Gina membaca kertas tersebut. Dia dalam sekejap dapat mengambil kesimpulan mana yang boleh dan tidak.


"Baiklah mulai sekarang bunda akan menjaga makanannya. Terus tadi dia ngapain aja?" tanya Gina yang sangat luar biasa kepo.


Daniel menceritakan semua yang diceritakan oleh dokter Rani tentang Arga.


"Hahahaha. Jadi dia akhirnya mau juga uda mindahan kacang hijaunya?"


"Mau tapi dengan wajah cemberut dan marah. Sama taulah kan ya siapa Arga." ujar Daniel.


"Yup, semoga Arga semangat terapinya dan dia kembali menjadi anak anak seperti yang lain" kata Gina.


"Aamiin. Kapan oma pulang Bun?" tanya Daniel yang sudah kangen oma dan atuknya.


"Hari ini. Sopir sedang menjemput ke bandara." ujar Gina.


"Syukurlah kita kembali rame." jawab Daniel yang diangguki Frenya.


Mereka kemudian mengobrol sambil menunggu Aris dan Bram pulang dari kantor. Setelah menunggu selama satu jam, terlihat mobil mewah beriringan dua mobil masuk ke dalam pekarangan rumah. Ternyata yang turun adalah Oma Mami dan Atuk seta Aris dan Bram.


"Mana Arga Gin?" tanya Papi.


"Di kamar Pi sedang tidur." jawab Gina.


Papi dan Mami yang sudah sangat kangen dengan Arga langsung masuk dan menuju kamar Arga. Mereka melihat cucunya yang sedang tertidur nyenyak membatalkan niat mereka untuk membangunkan Arga. Mereka kasian melihat Arga yang tidur begitu nyenyak.


"Pas makan malam aja Mi. Kasian." ujar Papi yang melihat Arga tertidur sambil memeluk guling dan masih memakai sepatu.


Papi dan Mami memilih untuk ke kamar mereka beristirahat. Aris dan Gina sudah menunggu di depan pintu kamar Arga.


"Kenapa Mi?" tanya Aris.


"Kasian banguninnya Ris. Dia pulas banget." jawab Mami.


"Kami istirahat dulu. Kamu juga istirahat." kata Mami kepada Aris.


Mami dan Papi menuju kamar mereka. Begitu juga dengan Aris dan Gina yang langsung masuk ke dalam kamar mereka.


Gina membantu Aris membuka pakaian kantornya. Mereka berdua mandi bersama. Salah satu hal yang rutin mereka lakukan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Semalam malam hari Gina akan tetap menemani Aris mandi.


Selesai mandi Gina dan Aris berpakaian. Terdengar dari kamar sebelah kalau Arga sudah bangun dan sedikit menangis memberitahukan kalau dia sudah bangun tidur. Aris langsung menuju kamar anaknya. Sedangkan Gina kebawah untuk memanaskan masakan yang tadi sore dibuatnya untuk makan malam.


Aris bermain dengan Arga sampai waktu maghrib tiba. Saat maghrib Aris memilih sholat di kamar Arga, sekalian mengajarkan Arga cara sholat. Tetapi Arga tidak mau mengikuti Aris. Selesai sholat Aris dan Arga langsung turun kebawah untuk makan malam.


"Cucu oma." teriak Oma sambil berlari ka arah Arga.


"Nyenyek." ucap Arga.


Oma dan yang lain menjadi heran. Arga bisa memanggil nenek. Tapi saat mengulang lagi Arga tidak mau.


Selesai makan malam oma dan atuk memberikan hadiah yang mereka bawa untuk penghuni rumah. Mereka bercerita semua hal apa yang terjadi di rumah dan di luar.

__ADS_1


__ADS_2