
Pengawal itu turun dari mobil. Dia menuju warung yang dekat dengan rumah yang sedang mereka perhatikan
Sedangkan yang di atas mobil terus mengamati rumah tersebut dengan saksama. Mata mereka tidak lepas dari rumah sederhana tersebut.
"Ada siapa ya Bun di rumah itu?" tanya Argha kepada Gina.
Pengawal tersebut telah lebih dari satu jam pergi mencari informasi. Tapi masih belun terlihat tanda tanda kalau dia akan kembali.
"Bun, lama banget dia pergi. Apa dia berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan?" tanya Argha.
Gina diam saja tidak bergeming. Dia terus mengamati rumah kontrakan kecil itu.
"Tenang saja Tuan Muda. Pengawal yang tadi salah satu yang terbaik yang kita miliki dalam melakukan pencarian informasi yang Tuan Muda harapkan. Malahan dia bisa membawa lebih dari yang diharapkan." jawab Jero yang sangat yakin dengan kemampuan salah satu anak buah terbaiknya itu.
"Oh baiklah. Maaf telah meragukan salah satu dari anggota terbaik Paman Jero." ujar Argha sambil tersenyum tulus meminta maaf.
Jero merasa bahagia saat Argha menatap dirinya dan meminta maaf dengan begitu tulusnya. Ini adalah salah satu kelebihan dari seorang Argha Wijaya Soepomo. Dia akan memberikan senyuman tulus meminta maaf saat dia tau kalau dia salah. Tetapi akan menatap penuh kebencian dan senyuman penuh aura membunuh apa bila dia di khiananti.
"Setelah menunggu selama satu setengah jam, dari ujung jalan terlihat pengawal berjalan dengan santainya.
Pengawal yang diminta Argha untuk pergi mencari informasi ke beberapa warung yang ada di sana telah kembali. Dia mengetuk pintu kaca mobil bagian belakang. Alex membukakan pintu tersebut.
Dia masuk dan duduk di kursi belakang dengan Alex dan Jero.
"Apa hasilnya?" tanya Argha langsung ke inti permasalahan.
"Seorang wanita yang seusia Nyonya yang tinggal di sana Tuan Muda." jawab Pengawal tersebut.
"Apa hanya itu saja?" tanya Argha menatap menyelidik ke pengawal.
Pengawal menggeleng, ada sesuatu yang aneh yang di dapatkannya dari informasi warung penjual nasi goreng di ujung jalan.
"Dari hadil cerita pemilik warung nasi goreng itu. Wanita yang sekarang sedang dikunjungi oleh Nyonya adalah seorang korban kecelakaan beberapa puluh tahun yang silam." ujar Pengawal.
"Kata penjual warung itu lagi, wanita itu adalah istri dari seorang pengusaha yang baru saja naik daun." lanjut Pengawal menceritakan apa yang diceritakan oleh pemilik warung.
"Bagian ini yang paling membuat saya syok Tuan Muda." ujar pengawal menggantung ucapannya.
"Apa?" tanya Argha yang sangat penasaran.
"Katanya dia istri dari Tuan Besar Andra Soepomo" ujar Pengawal sambil menatap meyakinkan Argha.
"Apa kamu tidak salah mendengar?" tanya Ghina yang syok mendengar apa yang dikatakan oleh Pengawal tersebut.
"Maaf Nona, saya berani bersumoah atas nama agama dan ibu saya. Saya mengatakan apa yang saya dapatkan informasinya dari penjual nasi goreng itu." lanjut Pengawal meyakinkan Gina.
Mereka semua terdiam mendengar apa yang diceritakan oleh pengawal tersebut. Sebuah informasi yang membuat Ghina dan Argha menjadi pusing. Mereka berdua sama sekali tidak tau kalau Mami yang selama ini mereka kenal adalah istri kedua.
Lebih membuat mereka berdua heran adalah, Papi dan Aris tidak pernah menceritakan hal ini. Ntah apa motivasi mereka untuk tidak menceritakan hal itu kepada Ghina dan Argha.
"Maaf Nona dan Tuan muda. Saya menaruh curiga kepada Nyonya Besar." jawab pengawal.
__ADS_1
"Menaruh curiga bagaimana?" tanya Ghina.
"Maaf Nona, bagaimana kalau kita membicarakan masalah ini di markas?" ujar Pengawal memberikan usul.
"Kenapa?" tanya Gina yang tidak paham dengan maksud pengawal tersebut.
"Begini Nona, saat kita berdiskusi di markas, kita bisa langsung cek kebenaran datanya dengan bantuan teknologi yang kita punya. Jadi setelah itu kita bisa langsung mengambil tindakan." ujar Pengawal memberitahukan langkah langkah yang akan mereka lakukan.
"Oke baiklah kita kembali ke markas. Tapi tarok beberapa rekan kamu untuk terus memperhatikan rumah ini." ujar Gina memberikan instruksi.
Beberapa pengawal menyebar untuk melakukan pengintaian kepada rumah kontrakan itu. Sedangkan Gina dan yang lainnya berangkat menuju markas. Mereka akan mendiskusikan perihal temuan yang di dapat oleh pengawal.
Ghina melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Argha yang berada di sampingnya tersenyum bahagia melihat laju mobil yang begitu cepat.
"Yiha hajar Bun. Argha suka." ujar Argha memberikan semangat kepada Ghina.
Ghina yang mendapat semangat dari Argha menambah kecepatan laju mobilnya. Tiba tiba ponsel Ghina berdering.
"Hallo Lex." ujar Ghina.
"Nona jangan ngebut seperti itu." ujar Alex mengingatkan.
"Ya Alex dak asik." jawab Argha.
Gina kemudian memelankan laju mobilnya. Argha hanya bisa tersenyum saja.
"Bun. Argha bener bener pengen tau cerita sebenarnya. Apa kita telpon Daddy aja?" tanya Argha yang tidak bisa menahan perasaannya.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang markas. Dua mobil hitam mewah tersebut masuk ke dalam gerbang markas.
Mereka semua turun dengan tergesa dari mobil dan langsung menuju ruangan tempat mereka biasa mencari semua informasi tentang semua hal.
"Gimana Nona?" tanya Jero.
"Coba cari profil tentang pernikahan Tuan Andra Soepomo." ujar Ghina memerintahkan Jero.
Jero mulai mencari berita tentang pernikahan Tuan Muda Soepomo. Berbagai berita tentang pernikahan tersebut keluar semuanya. Mereka membaca semua berita tersebut.
Tiba tiba sebuah artikel menarik perhatian mereka semua. Berita tentang kecelakaan yang menimpa keluarga Andra Soepomo.
Mereka membaca semua berita tentang kecelakaan tersebut. Ghina menganga mereka sama sekali tidak mengetahui tentang kejadian tersebut.
"Jadi memang benar istri pertama Papi kecelakaan. Tapi kenapa ada di rumah yang didatangi oleh Mami tadi?" tanya Ghina.
Mereka menjadi berpikir semua. Berpikir tentang semua kejadian yang saling berkaitan.
"Bun, jangan jangan." ujar Argha.
"Jangan jangan apa?" tanya Ghina.
Sedangkan di perusahaan Jaya Grub. Papi yang sedang melihat pesan chat di ponselnya melihat salah satu chat yang ada video di dalamnya.
__ADS_1
Papi memutar video tersebut, Papi melihat video tersebut dengan sangat berkonsentrasI. Papi menatap video tersebut dalam dalam, Papi sangat penasaran dengan orang yang berada dalam video. Papi merasa kalau wajah di dalam video itu sangat familiar dengan kehidupannya.
Papi mengulang kembali memutar video yang dari tadi sudah dilihatnya. Asisten Hendri yang baru masuk ke dalam ruangan kaget melihat Tuan Besarnya begitu instens memerhatikan ponsel yang sedang di pegangnya.
"Ada apa Tuan?" tanya Hendri.
"Hendri, coba kamu lihat video ini. Apakah kamu kenal dengan wanita di dalam video ini." ujar Papi kepada Asistrn Hendri.
Asisten Hendri melihat video yang tadi dihadapkan oleh Papi kepada dirinya. Asisten Hendri memutar video tersebut, betapa terkejutnya Asisten Hendri melihat siapa yang berada di dalam video itu.
Asisten Hendri memutar kembali video tersebut. Dia ingin meyakinkan penglihatannya kalau di dalam video itu memang benar siapa yang ada di dalam hati dan pikirannya sekarang ini.
"Gimana Hen?" tanya Papi.
"Kok bisa gini Tuan. Kita sudah melakukan autopsi kemaren semua bukti memang kuat mengarah kepada Nyonya besar. Kenapa video ini ada sekarang?" ujar Hendri.
"Atau jangan jangan ada yang ingin bermain dengan kita Tuan?" ujar Hendri kepada Papi.
"Bisa jadi." jawab Papi.
Mereka berdua terdiam cukup lama. Tiba tiba Hendri teringat dengan Aris.
"Tuan, apakah Tuan Aris juga menerika video ini?" tanya Hendri.
"Saya belum sempat bertanya Hen. Saya saja baru tau tadi ada kiriman video itu." jawab Papi.
"Tuan apakah saya boleh meminta nomor pengirimnya? Saya akan minta tenaga IT kita untuk melacak kartu itu terdaftar atas nama siapa." ujar Asisten Hendri.
Papi memberikan nomor pengirim video tadi. Asisten Hendri langsung menuju ruangan bagian IT. Dia meminta salah satu sahabatnya yang bekerja di sana untuk melacak siapa pemilik kartu tersebut.
Setelah menunggu selama tiga puluh menit. Hasil dari pelacakan itu keluar.
"Maaf Asisten Hendri sepertinya kartu ini adalah kartu sekali pakai. Sekarang sudah tidak aktif lagi." jawab orang yang memeriksa kartu tersebut.
"Oh baiklah terimakasih." ujsr Hendri.
Asisten Hendri kembali menuju ruangan Tuan Besar. Dia berjalan sambil berpikir apa maksud dari orang tersebut mengirimkan video itu.
"Gimana Hen?" tanya Papi.
"Nihil Tuan. Nomor itu adalah nomor sekali pakai." jawab Hendri.
Mereka berdua kembali terdiam. Satu satunya penunjuk sudah terkubur dan gagal.
"Apa maksud mereka ya Hen." ujar Papi.
"Ntahlah Tuan. Semoga maksud mereka tidak jahat." jawab Hendri yang asal comot bahasa saja.
"Nggak jahat gimana Hen. Jelas jelas mereka sudah mengirim video yang aneh seperti itu. Nggak jahat apalagi." jawab Papi.
Hendri hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Papi sudah memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Aris dan Bram serta Ghina dan Argha. Cukup sudah semua ini di tutupi Papi selama ini.
__ADS_1