Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Bram Mengetahui Semuanya


__ADS_3

FlasOn


Bram yang mengingat apa yang dikatakan oleh Ayah tadi menjadi bahan pemikiran bagi Bram. Bagaimana caranya dia mencari tau tentang permasalan Arga yang sebenarnya. Apakah dia harus mengatakan kepada Aris atau tidak. Bram benar benar pusing dibuatnya.


"Haduh pusing." ujar Bram diruangannya.


"Apakah aku harus memberitahu Sari dan bertanya kepadanya tentang masalah yang sedang aku hadapi ini?" ujar Bram bermonolog sendirian.


Bram kembali memikirkannya masak masak. Tetapi setelah kembali berpikir dan mengakibatkan kerjaannya tidak selesai. Bram akhirnya meraih ponselnya, dia sudah memutuskan untuk menghubungi Sari meminta solusi yang terbaik.


Bram tidak sadar kalau di belahan dunia sana hari masih tengah malam. Karena tergesa gesa Bram memutuskan menghubungi Sari saat itu juga.


Sari yang sedang menikmati tidurnya menjadi terbangun karena bunyi ponselnya yang sangat keras itu. Sari mengambil ponsel tersebut tanpa melihat apakah panggilan biasa atau panggilan video.


Sari melekatkan ponselnya ke telinganya. Bram yang melihat telinga Sari hanya bisa tertawa saja.


"Sayang sayang, kenapa harus telinga coba yang diperlihatkan." ujar Bram dengan keras agar Sari bisa mendengarnya.


Sari yang mendengar dengan sempurna apa yang dikatakan oleh Bram langsung menghidupkan lampu kamarnya agar menjadi terang. Ternyata panggilan tadi adalah panggilan video. Sari hanya bisa manyun kepada Bram.


"Hay itu mulut biasa ajam mau di cium apa?" tanya Bram.


"Hay Tuan Bram nggak tau apa sekarang jam berapa?" tanya Sari yang kesal tidurnya yang baru sebentar sudah di ganggu oleh Bram.


"Jam sepuluh pagi." ujar Bram sengaja menggoda Sari.


"Haduh di sana memang jam sepuluh pagi. Di sini tengah malam. Aku baru tidur satu jam." ujar Sari sambi memonyongkan kembali mulutnya.


Bram kemudian mencium bibir Sari. Sari hanya bisa melongo melihat kelakuan Bram yang berumah manis itu akhir akhir ini. Bram tidak membahas lagi kepulangan Sari. Tetapi Bram merubah sikapnya dengan kembali membangun hubungan yang mesra dan romantis dengan Sari.


Sekarang Bram sering mengirim hadiah hadiah kecil untuk Sari. Malahan bulan kemaren Bram sengaja terbang kesana selama satu hari karena kangen dengan kekasihnya itu. Bagi Bram sekarang tak oenting Sari berada dimana. Bagi Bram yang penting Sari masih berada di dalam genggamannya. Cukup itu saja.


"Pasti ada sesuatukan yang? Ngaku aja deh. Nggak usah belit belit. Wajah kusutmu mrngumumkan sesuatu kepada diriku." ujar Sari yang sudah kehilangan rasa kantuknya.


"Emang kelihatan apa?"


"Kelihatan sayang. Emangnya kita hubungan baru seminggu?" ujar Sari menggoda Bram.


"Cerita aja sayang. Telinga, Pikiran ku siap menampung semua keluh kesahmu." ujar Sari kembali menggoda Bram.


"Muach" ujar Bram mendadak.


"Wow malam malam cium anak gadis orang. Mana boleh sayang"


"Udah pagi sayang" jawab Bram.


"Sayang kembali ke topik utama. Ada apa." ujar Sari yang menghentikan goda menggoda antara dirinya dengan Bram. Semakin lama nanti Bram akan semakin ngaco nggak jelas. Jadi lebih baik cepat dihentikan.


"Begini sayang, langsung ke intinya saja ya. Aku nggak bisa merangkai kata kata yang tepat." ujar Bram.


Sari mengangguk dengan pasti.


"Arga seperti memiliki sesuatu kekurangan yang ditutupi oleh Gina dari Aris. Semua orang sudah tau apa yang terjadi dengan Arga. Kecuali aku dan Aris. Sekarang yang aku pusingkan bagaimana cara aku mencari tau. Kamu tau sendirikan sahabat kamu itu." ujar Bram kepada Sari mengeluarkan semua beban pikirannya.


"Taulah. Sayang kalau sesuatu dengan Arga itu, aku memang tidak tau. Gina tidak ada cerita apapun kepadaku. Tetapi kalau kamu ingin tau. Silahkan temui dokter Rani kalau tidak salah di rumah sakit Harapan." ujar Sari.


"dokter Rani di rumah sakit Harapan?" tanya balik Bram.


"Yup. Gina pernah bertanya tentang dokter Rani kepada aku. Aku rasa Gina melakukan kontrol Arga dengan dokter Rani." ujar Sari memberitahukan masalah dokter Rani.


"Menurut kamu apa dokter Rani mau berbicara dengan aku?" Bram sangat pesimis dengan hal itu.


"Sepertinya kalau dengan mudahnya tidak. Tetapi kamu tau kan siapa aku di rumah sakit itu." ujar Sari sambil menanik naikan alisnya.


"Hahahahahaha. Mana bisa aku lupa sayang, siapa dan bagaimana kamu yang sebenarnya." ujar Bram yang sangat sempurna mengingat siapa ketiga sahabat itu.


"Serahkan kepadaku. Besok aku pastikan kamu bisa berbicara dengan dokter Rani." ujar Sari sambil tersenyum cantik.

__ADS_1


Bram menatap lama kekasihnya itu. Kekasih yang teramat dicintainya dan teramat mencintainya.


"Sayang, aku tidur duluan ya. Asli aku beneran mengantuk." ujar Sari yang sudah tidak bisa menahan kantuknya lagi.


"Ya udah tidur lagi sana. Selamat tidur cintaku. Muach." ucap Bram menutup panggilan telponnya.


"Muach" balas Sari.


Sari kemudian kembali tidur. Bram sukses mengganggu tidurnya. Sedangkan Bram kembali bekerja. Dia sudah bisa mengembalikan konsentrasinya kembali walaupun tidak sesempurna seperti biasanya.


.


.


.


Saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang, ponsel Bram kembali berdering. Sari melakukan panggilan video dengan dirinya. Bram langsung mengangkat panggilan itu.


"Kenapa sayang kangen lagi?" tanya Bram.


"Nggak ah mana ada. Kata dokter Rani, dia bisa bertemu dengan kamu sekarang juga sayang. Tetapi di kantor Tuan Afdhal." ujar Sari memberitahukan kepada Gina.


"Loh kok ke sana?" tanya Bram yang tidak mengerti.


"Aku nggak tau sayang. Kamu ikuti ajalah."


"Baiklah sayang. Malahan bagus jadi tidak ada fitnah lagi terhadap diriku." ujar Bram yang mengingat kepindahan Sari keluar negeri adalah perkara Bram bertemu dengan teman lamanya di luar.


"Hahahahaha. Masa lalu." ujar Sari.


"Pelajaran." jawab Bram.


Mereka kemudian memutuskan panggilan bersamaan. Ntah apa gayanya tetapi akan selalu begitu.


Bram mengambil jas dan kunci mobilnya. Dia sengaja tidak berpamitan dengan Aris. Takutnya nanti Aris akan banyak tanya dan mengakibatkan dia tidak jadi pergi ke kantor Afdhal.


Bram melajukan mobilnya menuju kantor Bramantya grub. Bram sama sekali melupakan kalau kemaren baru acara pernikahan Afdhal dengan Anggel. Sekarang hanya karena obsesi Bram. Afdhal terpaksa masuk kantor. Begitu juga dengan Anggel yang semalam baru habis digempur Afdhal semalaman.


Bram keluar dari dalam lift. Dia sudah ditunggu oleh Budi asisten Afdhal.


"Apa bos kamu ada di dalam?"


"Silahkan masuk Tuan Bram sudsh ditunggu oleh Tuan Afdhal dan Nona Anggel di dalam."


Budi mencoba memberikan Bram klue tetapi dasar Bram yang sedang terobsesi tidak memerhatikan klue yang diberikan oleh seorang Budi. Budi hanya bisa geleng geleng kepala.


Bram membuka pintu dengan tidak sabaran. Terlihat di sofa Afdhal duduk dengan baju santainya tidam stelan kantor seperti Bram dan Budi. Bram juga melihat Anggel yang memakai pakaian santai. Barulah Bram konec dengan semuanya.


"Apa loe baru sadar udah ganggunpengantin baru." ujar Afdhal langsung menyemprot Bram yang baru tersadar dengan semua ulahnya.


"Hehehehe. Sorry teman gue lupa. Maklum lah ya. Kelamaan ditinggal karyawan loe yang loe suruh kerja di perusaahan luar." ujar Bram yang kembali menyalahkan Afdhal.


Afdhal melempar bantalan sofa ke muka Bram. Bram dengan sigap menangkap bantal tersebut. Anggel hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan dua pria di depannya.


Bram duduk di sofa ruangan Afdhal. Dia melihat ke sekeliling, Bram sama sekali tidak menemukan orang lain di sana.


"Dokter Rani sedang dalam perjalanan. Loe nya aja yang datang kecepatan. Harusnya tadi gue berencana mau ngambil seronde. Eeee loe keburuan datang."


"Ampun aku sayang. Semalaman kamu ngegpur aku sekarang mau lagi. Nggak nggak bisa badan aku masih remuk." ujar Anggel yang ketakutan mendengar ucapan Afdhal.


"Hahahahahahaha. Jadi kamu nggak ngasih napas Anggel?"


"Adalah masak nggak" jawab Afdhal sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nggak ada. Boong kamu. Awas aja nanti malam kamu tidur di sofa." ujar Anggel lagi.


"Waduah baru semalam loe udah diusir dari kasur. Apalagi malam malam berikutnya." ujar Bram memanasi Afdhal.

__ADS_1


"Sayang jangan di depan ini makhluk ngomong sayang. Dia nggak akan lupa sepanjang umurnya." ujar Afdhal yang memelas.


"Biarin aku sengaja juga" jawab Anggel yang sengaja menggoda Bram.


Tok tok tok. Bunyi pintu yang diketuk dari luar.


"Masuk" jawab Afdhal.


Terlihat seorang dokter muda masuk ke dalam ruangan Afdhal. Dia tersenyum menyapa dokter Anggel, Afdhal dan Bram.


"Nah dokter Rani, yang mau bertemu itu adalah bujang lapuk ini. Hati hati jangan terlalu dekat, dia menggigit. Tu buktinya Sari kabur ke luar negeri karena sering digigit dia." ujar Afdhal yang memiliki kesempatan untuk membully Bram.


"Serahlo deh Afdhal gue mah nurut aja. Tapi saatnya tiba bles loe pasti mendapatkan balasannya." ujar Bram sambil tersenyum ke arah Rani.


"Tenang aja dokter. Gue udah disuntik sama bis gue. Kalau dia memang belum. Makanya leher dokter Anggel banyak merah merahnya." ujar Bram.


Anggel yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram langsung mengambil ponselnya dan mengaktifkan fitur kamera ternyata memang benar leher Anggel terdapat banyak hasil maha karya mulut Afdhal. Anggel membesarkan matanya kepada Afdhal. Afdhal hanya membalas dengan senyuman terbaiknya. Dia tau sebentar lagi singa betinanya akan mengamuk.


"Kami paham kok dokter." jawab dokter Rani sambil tersenyum simpul.


"Hahahahahaha" Bram tertawa bahagia. Dia bisa membalas langsung ucapan Afdhal dengan sangat telak.


"Udah jangan bahas gue. Silahkan loe tanyakan apa yang mau loe tanyakan kepada dokter Rani." ujar Afdhal yang tidak mau dia semakin malu di depan istrinya itu.


"Dokter sebenarnya ada apa dengan Arga?" tanya Bram main langsung ke inti masalah.


Dokter Rani menatap dokter Anggel. Dokter Anggel mengangguk membolehkan dokter Rani untuk menceritakan semuanya.


Dokter Rani kemudian menceritakan semuanya kepada Bram. Apapun itu semua perkembangan Arga di sampaikan oleh dokter Rani kepada Bram. Tidak satupun yang ditutupi oleh dokter Rani.


"Aku paham, tetapi kenapa Gina menutupi dari Aris?" ujar Bram.


Semua orang mengangkat bahu.


"Sekarang giliran gue Bram." ujar Anggel.


Anggel menceritakan semua kelebihan dan kekurangan Arga. Anggel juga sama dengan Rani, dia tidak menutupi apapun dari Bram.


"Sepintar itu Arga. Kenapa Gina harus menutupi dari Aris. Makin pusing gue." ujar Bram.


"Sekarang yang harus loe pikirkan gimana cara membuat Mami tidak lagi memusuhi Arga." ujar Anggel.


"Maksud loe?" ujar Bram.


"Loe cari tau sendiri aja. Loe kan bosnya di rumah besar itu. Kalau loe nggak bisa menentramkan Mami, gue yakin Gina tidak berapa lama lagi pasti akan keluar dari rumah itu." ujar Anggel memberikan gambaran kepada Bram.


"Kalau keluar dari rumah gue rasa nggak akan mungkin. Karena antara Aris dan Gina tidak ada masalah." jawab Bram dengan penuh keyakinan.


"Bram. Hewan saja akan mati matian dan rela meninggalkan kawanan demi anaknya.


Apa lagi seorang ibu Bram." jawab Anggel.


Bram kembali termenung. Satu masalah sudah diketahuinya. Sekarang datang masalah baru lagi.


"Sepertinya gue harus ambil cuti dulu baru menyelesaikan masalah ini. Gue lelah." ujar Bram.


Bram kemudian menghubungi pilot pesawat pribadi keluarga Soepomo.


"Juan antarkan gue ke negara J. Gue mau ambil liburan. Sekarang juga. Gue akan langsung ke bandara." ujar Bram.


Ketiga orang yang berada di depan Bram kaget mendengar Bram akan pergi. Mereka tidak menyangka Bram beneran mau mengambil cutinya. Mereka menyangka Bram akan membantu memperbaiki hubungan Mami dengan Arga.


"Bram?" ujar Afdhal.


"Maaf Afdhal bukan gue nggak mau bantu. Loe tau kan gue siapa di keluarga itu??? Dan gue juga tau Mami seperti apa. Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Gue juga mau menyelesaikan masalah gue sendiri. Sekali lagi gue minta maaf. Tapi gue yakinkan gue nggak akan kabur. Gue akan memangau terus. Saatnya tepat gue akan pulang dan menyelesaikan seluruh masalah ini."


"Gue pamit ya. Makasih atas cerita kedua dokter cantik ini. Makasi banyak." ujar Bram.

__ADS_1


Bram kemudian keluar dan melajukan mobilnya menuju bandara.


"Sayang tunggu aku. Aku butuh masukan dari kamu sayang." ujar Bram sambil mengusap muka Sari yang menjadi walpaper ponselnya


__ADS_2