
"Salah sendiri. Bego muncul di saat yang tidak tepat." ujar Bayu menjawab apa yang dikatakan Aris.
Jero dan Bimo memilih duduk di balkon ruang kerja Bayu. Sedangkan Aris dan Bayu duduk di sofa sambil melihat tranding hari ini. Entah sejak kapan kedua sahabat itu ikut ikutan bermain di tranding.
"Gimana Bim, mau mulai dari mana?" ujar Jero.
"Bentar Bang, Gue instal bentar aplikasinya." ujar Bimo sambil menginstal sebuah aplikasi di laptop milik Jero. Sebenarnya kalau Bimo memakai laptop miliknya, maka dia tidak perlu menginstal aplikasi tersebut.
Bimo mulai bekerja, sedangkan Jero memerhatikan ponselnya. Ada pesan chat yang masuk kedalam ponsel miliknya.
'Semua berkumpul nanti di markas jam lima sore' bunyi pesan chat tersebut.
'Oke' balas pesan chat.
"Jero kita nanti ke markas."
"Ada apa Bang?" ujar Bimo
"Nggak tau juga." jawab Jero.
Bimo kemudian memasukkan hasil sidik jari yang diambilnya dari dinding ruangan kerja Bayu.
Dia kemudian menjebol salah satu akun perekam sidik jari milik negara. Ternyata akun itu sama sekali tidak terlindungi dengan baik. Bimo dengan mudahnya menjebol.
"Bang, ini data murah banget di jebol. Boleh gue tolongin nanti untuk mengamankannya?" tanya Bimo kepada Jero. Bimo walaupun dia sudah bisa mengambil keputusan sendiri, tetapi saat dengan Jero atau senior dia tetap harus meminta masukan.
"Kerjakan aja selagi itu bermanfaat untuk orang ramai." ujar Jero.
Bimo kembali serius bekerja. Sedangkan Jero mengamati semua yang dikerjakan oleh Bimo. Dia sama sekali tidak mau mengganggu Bimo.
"Hahahahahaha. Bang Bang, malingnya nggak kreatif." ujar Bimo sambil menatap Jero.
"Maksud loe?" Jero tidak paham dengan yang dikatakan oleh Bimo.
"Tengok sini Bang." ujar Bimo.
Jero berjalan kearah Bimo. Dia melihat apa yang dikatakan oleh Bimo.
"Kok dua dua telapak tangannya Bim?"
"Apa maksud mereka ingin mengelabui polisi dengan menimpa setiap telapak tangan yang menyentuh dinding. Tapi melesetkan ya." ujar Jero yang paham dengan maksud orang orang yang membuat telapak tangan itu menjadi dua.
"Sepertinya Bang. Tapi ini akan lebih menarik lagi, jadi kita bisa menarek semua pelakunya ke depan Tuan Bayu."
__ADS_1
"Lanjutkan dulu. Hasilnya harus sekarang, kita sepertinya akan mengambil cuti melihat instruksi yang dikirim oleh Alex di grub." ujar Jero.
Bimo melanjutkan pekerjaannya. Dia mengambil semua sidik jari seluruh karyawan di kafe. Setelah itu barulah dia mencocokkan dengan sidik jari yang ditemukan di dinding ruangan Bayu.
"Yes berhasil. Satu baru." ujar Bimo.
Bimo mencatat nama yang ditemukannya. Bimo melanjutkan kembali pencariannya. Dia fokus selama satu jam. Pas tepat pukul dua belas siang, semua pelaku pencurian sudah ada di tangan Bimo. Mereka tidak akan bisa mengelak lagi.
"Selesai Bang. Tapi seperti biasanya, gue kalau udah fokus akan laper bang." ujar Bimo.
"Gue paham. Tadi gue udah ngirim pesan chat kepada Tuan Aris." ujar Jero yang memang sudah memberitahukan kepada Tuan Aris untuk menyiapkan makan siang untuk Bimo.
Setelah selesai, Jero dan Bimo pergi menemui Aris dan Bayu yang berada di dalam ruangan.
"Gimana Bim?" tanya Bayu tidak sabaran.
"Aman Tuan. Kalau masalah gini mah geleng." jawab Bimo dengan pongah dan poaknya.
"Tapi Tuan apa boleh saya meminta sesuatu?" tanya Bimo.
"Makan siang kan? Sudah saya pesankan khusus untuk kamu. Caviar." ujar Bayu.
"Wow enak banget caviar. Aku suka itu." ujar Bimo sangat senang karena bisa makan caviar lagi.
Aris menatap tajam Bimo. Bimo cuek saja, toh seminggu besok dia tidak akan berada di dekat Tuannya itu.
"Sebutkan selagi bisa." jawab Bayu.
"Kasih namanya setelah makan Tuan." ujar Bimo.
"Huft gue kira loe mau minta mobil termahal di dunia." ujar Bayu.
"Hahahahaha. Tidak Tuan, saya tidak suka mobil. Saya sukanya sepeda." ujar Bimo.
Para pelayan masuk ke dalam ruangan Bayu, mereka menghidangkan semua makanan yang sudah dipesan. Bimo melihat makanan yang terhidang dengan air liur yang menetes. Dia tidak menyangka kalau Bayu memesan makanan yang mewah mewah.
"Tuan Bayu, kalau hidangan setelah memecahkan kasus seperti ini. Aku mau banyak lah. Tiap hari aja kasusnya." ujar Bimo dengan santai sambil memasukkan sebuah daging kerang ke dalam mulutnya.
"Hahahahaha. Enak di elu ndak enak di Tuan Bayu." ujar Jero sambil menoyor kepala Bimo.
Mereka kemudian melanjutkan makan siangnya.
"Jadi gimana Bay, mau loe apain mereka nanti?" tanya Aris.
__ADS_1
"Itulah gue juga belum tau. Gue tengok dulu siapa aja orang orangnya." ujar Bayu.
"Tuan Aris, saya mau bicara penting. Apa bisa?" tanya Jero yang teringat dengan pesan chat di grub mereka.
"Bisa. Ngomong aja." ujar Aris.
"Kami berdua mohon izin satu minggu ini untuk pergi mencari dalang di balik kecelakaan Nyonya Sari Tuan. Sepertinya Alex dan yang lain sudah menemukan. Tinggal eksekusinya saja lagi. Jadi dia butuh bantuan kami." kata Jero menjelaskan.
"Oh baiklah. Tapi apakah bisa cari pengganti untuk menemani Ghina?"
"Untuk menemani Nyonya akan kami carikan Tuan." jawab Jero.
"Baiklah. Kalian hati hati."
Ternyata meminta izin kepada Aris tidak serumit yang dibayangkan oleh Jero tadi. Aris dengan mudah mengerti maksud dan tujuan mereka untuk meminta izin.
"Mana nama nama orangnya Bim?" tanya Bayu.
Bimo memberikan secarik kertas kepada Bayu. Bayu membuka kertas itu dan membaca nama nama yang terlibat dalam pencurian di dalam ruangannya. Bayu terlihat mengerenyitkan keningnya.
"Ada apa?" tanya Aris yang melihat raut wajah Bayu berubah.
"Ternyata memang mereka. Aku sudah menduga." ujar Bayu.
"Maksud loe gimana?" tanya Aris tidak mengerti.
"Mereka ini dari dulu meminta aku untuk menyimpan semua file dan keuangan kafe di sini. Alasan mereka apabila suatu saat dibutuhkan akan cepat didapat. Eeee ternyata memang gampang didapat oleh mereka. Mereka benar benar keren. Gue nggak menyangka sama sekali." ujar Bayu.
"Apa dari mereka bertiga ini ada orang kepercayaan loe?"
"Loe nggak tau. Salah satu dari mereka adalah manager kepercayaan gue." ujar Bayu sambil menatap ke arah Aris.
"Serius loe?" ujar Aris dengan nada kaget.
"Serius. Ngapain boong. Noh kalau loe nggak percaya." ujar Bayu memperlihatkan ketiga nama yang ada di dalam list yang dicatat oleh Bimo tadi.
Aria ternganga tidak percaya. Semua nama yang ada di dalam list adalah orang orang kepercayaan Bayu semuanya.
"Ini bener bener gila. Apa yang mereka mau? Gaji gede. Tunjangan gede. Bener bener lah mereka. Kamaruk tingkat dewa." ujar Aris dengan kesal.
"Itulah gue juga nggak habis pikir dengan mereka." jawab Bayu.
"Sekarang apa yang mau loe lakuin?"
__ADS_1
"Gue akan panggil mereka kemari." ujar Bayu