Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Waktu untuk Argha


__ADS_3

"Daddy, kita makan dimana Daddy?" tanya Argha yang memang sudah lapar.


"Argha mau dimana?" Aris balik bertanya kepada Argha.


"Om Ivan mau makan dimana?" Argha melemparkan pertanyaan yang sama kepada Ivan.


"Terserah Tuan Muda." jawab Ivan.


"Sekarang Argha minta Om Ivan memilih tempat makannya." ujar Argha sambil menatap Ivan dengan tatapan dingin.


"Ke restoran Jepang aja Tuan Muda." jawab Ivan yang tau kalau Argha sangat suka masakan Jepang.


"Oh oke makanan Jepang. Ayo Daddy kita ke restoran Jepang." ujar Argha.


Argha menarik tangan Ivan. Mereka berdua bergandengan tangan menuju restoran Jepang yang ada di mall.


"Semoga Ivan bisa selalu menjaga Argha ya sayang." kata Aris sambil menggandeng tangan istrinya.


"Aku yakin Ivan akan selalu menjaga Argha sayang. Aku juga yakin kalau Ivan menyayangi Argha." jawab Ghina sambil menatap penuh cinta ke wajah suaminya.


Tatapan suami istri itu membuat iri setiap orang yang menatap mereka. Mereka berdua tidak segan segan menunjukkan keromantisan masing masing walaupun di tengah keramaian. Bagi mereka hidup adalah hidup mereka. Jadi mereka tidak memikirkan orang lain. Kalau ada yang iri itu adalah hak mereka untuk iri yang jelas bagi mereka berdua, mereka nyaman dengan apa yang mereka lakukan. Hal lain bodo amat, tidak akan mereka pikirkan.


Rombongan pemilik mall masuk ke dalam restoran Jepang.


"Daddy sama Bunda, duduk aja berdua. Argha akan duduk dengan om Ivan, om Jero, dan om Bimo." kata Argha memberikan perintah kepada kedua orang tuanya.


"Kok nggak sama Daddy?" tanya Aris penasaran dengan alasan anaknya itu.


"Argha nggak kuat harus melihat keromantisan Daddy dan Bunda, jadi lebih baik Argha duduk dengan om bertiga yang wajahnya datar aja." jawab Argha menskakmat Aris dan Ghina.


"Oh oke kalau begitu. Kami berdua duduk di situ ya." jawab Aris sambil menunjuk kursi yang akan mereka tempati.


"Oke Daddy. Selamat makan, tapi sayangnya makanan untuk Daddy dan Bunda belum Argha pesan." kata Argha sambil menahan senyumnya.


"Dasar bocah kecil." kata Aris yang berniat ingin mengacak acak rambut Argha.


"No Daddy Stop. Ini rambut susah dibikin." sambar Argha dengan cepat saat melihat apa yang akan dilakukan oleh Daddy nya itu.


"Hahahahahaha. Jadi rambut. Oke rambut." kata Aris sambil tersenyum senang dan menatap Argha.

__ADS_1


"Dasar Daddy resek." ujar Argha.


Semua pesanan Argha dihidangkan pelayan di atas meja. Argha dan ketiga asistennya melahap makanan itu. Mereka terlihat tertawa dan bercanda bersama. Aris dan Ghina melihat semua itu merasa iri dengan Argha.


"Sayang, kita pindah duduk ke dekat mereka aja gimana?" tanya Aris kepada Ghina.


"Kenapa?" tanya balik Ghina.


"Iri aja sayang. Mereka tertawa berempat, sedangkan kita hanya duduk berdua aja." jawab Aris sambil menatap iri ke arah empat orang yang sedang tertawa itu.


"Ya udah ayuk kita pindah ke sana." Ghina akhirnya setuju dengan ajakan Aris.


Mereka berdua pindah dengan membawa makanan yang sudah di pesan tadi.


"Kok pindah Bun?" tanya Argha yang heran melihat Aris dan Ghina pindah ke meja mereka berempat.


"Daddy kamu mintak pindah. Katanya iri melihat kamu tertawa dengan ketiga asisten kesayangan kamu itu." ujar Ghina menjawab pertanyaan Argha.


"Hahahahahaha, makanya Daddy jangan mulu menganggap dunia milik berdua, kami berempat juga ada di dunia yang sama dengan Daddy." kata Argha menyindir Daddynya.


"Yelah maaf." jawab Aris yang nggak tau mau jawab apa lagi.


"Asiap Tuan Muda Soepomo." jawab Aris yang bener bener mati gaya dan mati kutu dibuat Argha.


Mereka berenam kemudian melanjutkan makan siang yang sempat tertunda karena Argha menceramahi Daddynya terlebih dahulu.


"Daddy, ayuk lanjut main." ajak Argha yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan permainannya dengan Aris.


"Sip. Kita sekarang lomba mengambil snack." ujar Aris.


"Daddy, Daddy bener bener ngadi ngadi. Jelas Argha yang kalah." jawab Argha menatap Daddynya dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa lagi?" tanya Aris.


"Lah iyalah Dad. Tangan Argha panjang ini, tangan Daddy tengok tuh, ya banyakan Daddylah yang bisa ngambil snacknya. Daddy bener bener ngadi ngadi." ujar Argha.


"Kamu minta wakilin aja dengan Ivan atau yang lainnya." Aris menawarkan solusi kepada Argha.


"Bener juga ya Dad. Oke oke." kata Argha dengan bahagianya.

__ADS_1


"Om Bimo tolong lawan Daddy ya. Om Bimo jadi Argha kali ini." ujar Argha kepada Bimo yang tak lain tak bukan adalah asisten Aris.


"Kenapa harus saya, Tuan Muda?" tanya Bimo kepada Argha.


"Karena yang om lawan adalah Daddy. Kalau Bunda maka Om Jero yang akan maju." jawab Argha dengan nada liciknya.


"Baiklah Tuan Muda." jawab Bimo.


"Jangan sampai kalah ya Om. Posisi sekarang Argha kalah lawan Daddy loh. Tiga lawan Satu. Kalau bisa jangan jadi empat lawan satu ya." ujar Argha berpesan kepada Bimo.


"Siap Tuan Muda." jawab Bimo.


Bimo maju dan berdiri di samping Aris.


"Maaf Tuan Besar." ujar Bimo kepada Aris.


"Tidak masalah Bim. Kamu seperti tidak tau Argha saja." kata Aris menjawab permintaan maaf Bimo.


"Oke, karena kedua pemain sudah ada di sini, kita akan memulai permainan. Peserta yang dalam posisi kalah silahkan untuk maju menjadi pemain pertama." ujar Jero meminta Bimo untuk menjadi yang pertama mengambil snack.


Bimo maju ke tempat pemasangan hernes. Bimo bersiap siap menunggu aba aba dari Jero. Di hadapan Bimo sekarang sudah ada lautan berbagai macam merk snack dari berbagai ukuran.


"Siap Bim?" tanya Jero.


"Siap Jer" jawab Bimo.


"Oke sekarang." ujar Jero.


Bimo terjun ke dalam lautan snack. Dia berusaha mengambil banyak snack mengganakan tangan dan kakinya. Setelah berusaha dengan maksimal, snack yang terbawa oleh Bimo sangatlah banyak. Argha yang melihat bertepuk tangan karena bahagia.


"Yey kita berhasil om Bimo." teriak Argha.


"Semoga aja Tuan Muda." jawab Bimo.


Aris kemudian pergi ke tempat pemasangan hernes. Dia akan menjadi giliran kedua untuk mengambil snack.


Setelah semua terpasang dengan bagus. Aris mulai masuk kedalam kolam snack. Dia berusaha mengambil snack lebih banyak dari Bimo. Tetapi sayangnya kali ini Argha yang menang. Setelah semua snack dihitung oleh Jero, snack yang diambil oleh Aris ternyata jauh lebih sedikit dari yang diambil Bimo.


"Yey akhirnya kita menang." ujar Argha dengan semangat.

__ADS_1


Bimo dan Ivan membawa semua snack yang telah di dapatkan oleh Aris dan Bimo tadi. Mereka mengumpulkan semua pada satu tempat. Jadi nanti saat pulang mereka hanya tinggal membawa semuanya.


__ADS_2